Mafia And Me

Mafia And Me
Cemburu?



“Lebih tepatnya lagi aku takut diambil orang, Mr. Lengah sedikit nanti keburu disambar pria lain!” jawab Marvio dengan kekehan.


Pria senja itu pun ikut tertawa dengan perkataan Marvio.


“Tolong doakan saja kami, Mr. Semoga Nona cantik ini bisa menjadi belahan jiwaku di masa depan.”


“Amin, semoga Nak,” ucap Richard tulus mendoakan putra dari sahabatnya.


Alea mengerjapkan lambat seraya pandangi sang pangeran menyebalkan. Seantusias inikah dua pria itu ingin melihat harapan kecil itu?


Alea tidak yakin sama sekali, bukan mendapatkan harapan kecil namun mereka akan membangunkan iblis yang bersemayam di tubuh pria dingin itu yang sejak lama bersemayam.


“Kamu sungguh menyebalkan, Mar,” kata Alea seraya berbisik pelan.


Manik mata Alea menoleh, pandangan nya ke depan di mana bola matanya pun saling bersitatap dengan manik mata indah hijau keemasan milik Evans.


Sekalipun pembawaanya Evans selalu santai, tetapi ketahuilah pria yang menyesap wine itu berbahaya. Evans bisa meledak kapanpun amarahnya tersulut.


“Pesta ini begitu meriah dan juga membuatku senang. Tidak salah aku datang kesana dan bertemu denganmu.


“Apa lagi, Evans Colliettie pun turut datang ke pesta ini bersama dengan kekasih barunya.”


Veronica mengulum senyum cantik seraya mengapit tangan Evans.


“Kamu hebat sekali Veronica bisa mendapatkan hati seorang Evans Colliettie, mafia terkenal seantero Italia.”


Veronica berikan senyuman manis untuk pria senja itu, tetapi tidak dengan Evans yang hanya diam dan tidak memusingkan akan pembicaraan mereka perihal tentangnya.


“Kami sudah lama menjalin hubungan, Mr Burg.”


“Oh ya.”


Pria senja itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan pada Veronica.


“Selamat atas hubungan kalian. Saya senang mendengarkannya kabar bahagia ini, semoga hubungan langgeng dan menuju pelaminan,” ucap Mr Burg tulus.


Alea memalingkan pandangannya seraya bergerutu di dalam hati, sementara Evans menarik nafas pelan dan menatap tajam pada sang pangeran yang berdiri tidak jauh darinya.


“Nyalimu cukup besar juga, pangeran.”


Marvio menarik sudut bibirnya ke samping lalu menyesap wine dengan pelan.


“Apa aku melakukan kesalahan sampai aku harus takut, terutama padamu The Black Rose?”


“Ck! Sekalipun kau menyandang gelar bangsawan dan juga seorang pangeran di sini. Bagiku membunuh pangeran sepertimu hal yang mudah!”


Bola mata Marvio mendelik seolah terkejut dengan bentuk perkataan yang mengisyaratkan sebuah ancaman.


“Ya Tuhan. Apa aku sendang diancam oleh seorang Evans Colliettie sang penguasa Italia ini?” kata Marvio pelan, tidak membuat beberapa orang di depannya terkejut.


Marvio berikan senyuman manis untuk sang Mafia yang selalu menjaga masyarakat di Italia ini dari ancaman para mafia lain dan juga para pelaku kejahatan.


“Apa kamu sedang cemburu padaku? Ketika aku menemukan wanita cantik seperti pelayanmu?”


Marvio begitu puas melihat bagaimana ekspresi seorang Evans Colliettie, sekalipun pembawaannya selalu santai dia tahu pria itu pastinya geram.


Bukan, Marvio punya cadangan stok nyawa banyak. Tidak sama sekali, tetapi dia memang tidak takut dengan bentuk ancaman Evans padanya dimana pria itu melihat kobaran api menyala di dua bola matanya.


“Jujur, aku menyukai pelayanmu,” bisik Marvio diiringi senyuman sinis pada Evans.


“Bolehkah aku membawanya dan menukar apa yang kamu inginkan demi wanita itu?” kata Marvio pelan.


Rahang Evans mengetat. Marvio membuang napas pelan. “Apa diammu ini setuju hm?”


Evans bergeming di tempat seraya tak lepas menghunus tajam lalu sekian detiknya menatap pada Alea lekat di mana wanita bodoh itu masih mendengarkan pembicaraan Richard.


“Baiklah.” Marvio menarik napas sejenak. “Sepertinya aku butuh ruang untuk bermesraan dengan wanitaku.”


Marvio mengalungkan lengannya di leher Alea lalu berikan kecupan di puncak kepala Alea.


“Apa kamu sudah selesai mengobrol dengan Mrs Burg, sweetheart?” bisik Marvio pelan dengan kembali memberikan kecupan di ubun-ubun wanita itu.


“Hm, sudah,” jawab Alea. Kedua matanya kembali menangkap pria dingin itu.


“Bagaimana kalau kita duduk di sana. Apa kamu tahu kalau aku ingin sekali berduaan dan membicarakan banyak hal? Ayo,” ajak Marvio.


Tak lupa sebelum Marvio membawa Alea pergi pria itu pamit undur diri dari Richard dan juga Evans yang kembali bungkam dan mengacuhkan kepergian mereka.


Tak lama Marvio dan Alea pergi pria itu pun ikut pergi dan tidak ingin melihat dua orang itu lagi.


Beberapa menit kemudian Alea yang nampak berdiri tidak jauh dari stand makanan pun menghentikan kegiatannya.


Wanita itu segera menyusul dan mengayunkan langkahnya dimana pria itu tadi melintas.


“Ev…” panggil Alea pelan, ketika Evans melintas begitu saja.


Pria itu tidak berhenti melainkan benar-benar mengacuhkannya.


Evans seolah tidak mengenalnya, tetapi Alea ingin memastikan akan firasat yang tidak enak.


“Minumannya Nona….”


“Ah, maaf. Tidak,” ucap Alea seraya berjalan kembali mengejar Evans.


Dia tahu itu wine dan Alea tidak mau mati konyol menenggak wine lagi.


“Alea…”


“Ada apa?”


“Ehm—”


“Kenapa kamu sendirian Alea?”


Leo menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan sahabatnya yang mendadak meninggalkan Alea.


“Dimana Marvio?” tanya Leo, lagi.


“Tadi dia pamit sebentar di sapa oleh rekannya.”


Leo menarik nafas pelan. “Lalu kenapa kamu tidak menemaninya, Alea?”


“Ah, itu—aku tadi lapar dan aku minta izin pada Marvio berada di stand makanan.”


Leo membuang napas pelan, jangan sampai wanita ini hilang. Bisa-bisa Evans akan mengamuk dan benar akan membunuhnya.


“Leo.”


Panggilan itu membuat Leo kembali menoleh dan menatap Alea.


“Sepertinya saudaramu marah padaku. Tadi aku memanggilnya dan dia mengacuhkanku, Leo.”


Ya, bila mereka berduaan seperti ini Leo tidak ingin Alea memanggil dengan embel-embe Tuan.


“Tidak usah memusingkan saudaraku, Alea. Kamu juga harus mengacuhkan dia juga. Beres bukan?”


“Beres apanya, Leo? Apa kamu tidak tahu bagaimana saudaramu itu?”


Leo menatap penuh menyelidik pada Alea. “Bila Evans seperti itu dia marah dan aku takutnya.


“Lucas, Bobby dan Bryan akan ikut terancam dengan kemurkaan nya. Tentunya mereka yang dekat denganku akan ikut kena batunya karena aku berada di sini dan tidak mengikuti keinginan dia,” ungkap Alea panjang lebar.


Leo berikan senyuman seraya menepuk punggung tangan Alea.


Wanita ini memang berhati baik, dia selalu memikirkan orang di sekitarnya. Leo tahu bagaimana pria itu bila marah.


“Aku akan mengejar Evans dan aku akan meminta maaf terus aku akan pulang.


“Maafkan aku tidak bisa lama berada di sini, Leo. Aku tidak mau teman-temanku yang lain ikut kena batunya. Maafkan, aku.”


Leo paham, dia pun berikan anggukan dan melepaskan tangan Alea. Dari tempatnya dia berdiri, Leo menatap punggung Alea yang pergi meninggalkannya untuk mencari saudaranya.


Terlihat begitu cemas kalau orang yang dia kenal terluka olehnya.


Alea mengedarkan pandangannya untuk mencari Evans. Sialnya, kedua matanya menangkap sepasang kekasih yang berdiri di atas lantai tempat di mana Alea berpijak.


Dari posisi Alea berada di bawah, dia hanya diam ketika melihat wanita itu mencium leher Evans dengan agresif sedangkan si pria hanya diam dan menatap kehadiran dirinya dengan sorot mata yang tidak bisa Alea jabarkan.


Lelaki itu menarik bawah tengkuk Veronica lalu memberikan kecupan di belakang telinga di mana kedua matanya tak lepas menatap pada wanita yang tak lepas memandangnya.


Alea hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan pantas bukan dia dijuluki wanita bodoh karena Alea hanya berdiri di tempat yang sama dan memandangi pria itu yang Alea anggap Evans, sengaja.


“Minuman nona.”


Alea menyambar gelas yang di sodorkan di nampan perak tersebut, pandangannya masih tetap sama tak lepas menatap sang devil bersama dengan Veronica.


“Alea…” seru Massimo seraya mengambil paksa minuman yang hampir saja wanita itu teguk.


Alea gelalapan dan pandangannya kini terlepas dimana seseorang mendekatnya.


“Massimo…”


Pria itu membuang napas lega. “Ini wine, Alea.


“Apa kamu sudah meminumnya?” tanya Massimo terlihat panik.


Alea menggeleng pelan, ia memang belum sempat meminumannya karena pria itu dengan cepat menyambarnya.


“Kamu di sini?”


“Yaelah, Alea. Tentu aku diundang di pesta ini. Leo juga masih saudaraku, Alea.”


“Ya Tuhan, Mass. Maafkan aku terlupa,” kata Alea.


Gara-gara pria itu dia jadi lupa kalau Massimo dan Leo pastinya saudaraan.


“Kenapa kamu di sini? Leo kemana?”


Alea menengok ke kanan dan kekiri mencari keberadaan pria itu, tetapi tidak ada.


“Sepertinya dia sudah bertemu dengan rekan bisnisnya. Tadi sih sekitar sini,” kata Alea.


“Ya, sudah. tetaplah bersamaku. Jangan pergi kemana-mana.


“Ayo, kita cari Leo bersama Alea setelah itu aku akan akan mengantarkan kamu ke mansion Evans.”


Alea mengangguk setuju, dia memang ingin pulang.


Massimo mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan Alea agar tidak terlepas lagi, hatinya sungguh tidak enak ketika seseorang itu memberikan minuman pada Alea.


Alea tidak kuat dengan wine dan hampir saja wanita itu akan tidur lagi yang entah akan bangun atau tidak.


“Sial! Rencana kita gagal, hah!”