
“Selanjutnya jangan harap yang lebih. Bagus kalau kamu besok masih hidup, kalau besok sudah tidak bernafas bagaimana, hah?”
Cassandra tertawa pelan melihat dua pria itu sementara Alea hanya diam dan paham maksud apa yang dikatakan Leo.
“Bersiap-siaplah. Dia sudah datang….”
Olivia berseru dengan berjalan tergesa-gesa setelah mendorong pintu besar itu dan menggandeng salah satu tangan pria.
Dua pria itu tertawa melihat pria yang dibawa oleh Olivia, sepertinya dari wajah si pria muda yang nampak cemas.
Sudah di pastikan kalau adiknya itu memaksa pria tampan itu untuk menjadi pendampingnya di pestanya.
“Benarkah?”
Olivia berikan anggukan. “Dia ada di hall,” jawab Olivia.
Alea pandangi dua orang-orang di depannya, yang dimaksud mereka itu pastinya Evans bukan?
“Apa dia datang sendiri?”
“Sendiri?” ulang Olivia.
Gadis itu berdecak lidah seraya pandangi dua pria tampan di depannya.
“Mana ada seorang Evans Colliettie datang seorang diri di pesta mewah seperti ini.
“Pastinya dia akan datang dengan wanita. Sudah tahu bukan dia datang dengan siapa?”
Leo dan Marvio mengangguk pelan, tahu.
Gadis itu masih bersungut kesa pada saudaranya itu. “Wanita gila seperti itu tidak ada bagusnya.”
Olivia pandangi wajah cantik wanita bergaun merah.
Tidak salah ibunya begitu jatuh hati ketika melihat wajah cantik Alea. Olivia tersenyum.
“Aku yakin dia akan menyesal ketika melihat kamu, Ka,” ucap Olivia.
Alea hanya diam dan hela nafas pelan. Entahlah semua keluarga Evans sepertinya berniat akan menumbalkan dirinya kalia ini untuk menggoda sang devil yang menakutkan itu.
“Tidak ada niat sedikitpun untuk menggoda devil itu. Tidak sekalipun aku tidak tahu tujuan kalian,” batin Alea.
“Baiklah, ini akan semakin sempurna.”
Pria itu mengapitkan tangan sang wanita. “Ayo kita mulai pesta ini.
“Sudah saatnya kita menyambut para tamu undangan yang sudah berkenan hadir,” ucap Loe seraya menggenggam tangan Casandra.
Semua orang pun mengulas senyum, tetapi tidak dengan Alea. Baru saja dia melihat punggung Leo dan Cassandra sudah mulai berjalan lebih dulu dan paling depan.
Alea sudah dibuat jantungan, entah bagaimana jantungnya nanti bila dia bertemu dengan Evans Colliettie di dalam pesta nanti.
Alea meremas kedua tangannya dengan dada yang membusung ke depan seraya wanita itu menarik nafasnya.
Di Tengah ketegangan yang melanda, tangannya pun digenggam oleh sang pangeran tampan yang mengulas senyuman tampan padanya.
“Releksnya, jangan tegang kayak gitu. Santai,” ujar Marvio.
Pangeran tampan itu meletakan tangan Alea di lengannya dan kini keduanya mulai berjalan seirama untuk ikut melangkah dengan sang pemilik pesta.
“Apa kamu tahu, Alea?”
“Hm, tidak,” jawab Alea seraya menoleh sedikit pada Marvio. Namun dibalas dengan dengusan pelan oleh sang pangeran.
Dia tidak menyangka wanita itu membalasnya dengan cepat. Padahal Alea bisa basa basi kan dengannya?
“Kamu wanita yang paling beruntung bisa menjadi pasangan seorang pangeran seperti ku.”
Alea terkekeh pelan. “Benarkah?”
“Ya, sebelumnya tidak ada wanita yang bergandeng tangan semesra dan seromantis ini di pesta denganku, bahkan aku sering menolak tawaran wanita lain. Tapi, tidak ketika melihatmu—”
“Aku tidak bisa menolaknya,” ucap Marvio.
Alea tergelak tawa, namun seketika langsung mengatup mulutnya rapat-rapat.
“Pengeran sepertimu ternyata bisa menggombal.”
Marvio tertawa pelan. “Tentunya tidak. Hai, aku sungguhan seorang pangeran Alea. Keluarga ku bangsawan terkenal di kota Italia, Alea.”
Bola mata Alea mendelik menoleh ke samping dengan tatapan terkejut. Alea langsung berakting di depan Marvio
“Oh yang mulia mohon ampun hamba tidak mengetahui kalau anda seorang bangsawan,” ucap Alea, detik berikutnya tertawa.
Marvio pun ikut tertawa, bila seperti ini wanita cantik di sampingkan tidak setegang seperti tadi. “
Jangan gugup dan panik, oke.”
Alea mengangguk pelan sekalipun dia tidak bisa pungkiri kalau dia tidak bisa meredam degupan jantung yang berdetak berkali lipat.
Alea mengangguk pelan. “Ah, aku terlupa sesuatu.”
Leo berhenti sejenak di depan sana pintu yang menjulang tinggi di mana para crew sudah bersiap di depan pintu dan menunggu aba-aba untuk membukakan pintu hall tersebut.
Melihat semua mata tertuju padanya, Alea pun bertanya, “Ada apa kalian melihatku seperti itu?”
“Aku terlupa kalau gaun yang kamu kenaikan itu pilihan tuan mu Alea. Evans Colliettie.”
Alea mengerjapkan bola matanya lambat. “Cantik bukan gaun yang dipilihkan oleh seorang Evans Collietttie, bahkan gaun hitam yang aku kirim sepertinya tidak ada apa-apanya.”
Alea masih diam dengan ekspresi yang terkejut, pikirannya mendadak penuh dengan banyaknya pertanyaan.
“Sepertinya tuanmu itu paham betul lekuk tubuhmu karena gaun yang melekat itu begitu pas dan juga cocok di kenaikan oleh mu.”
Leo tersenyum simpul, begitu juga yang lain ikut tersenyum menatap Alea.
“Aku tidak menyangka kalau ternyata saudaraku itu begitu pandai memilih gaun untuk wanita,” sambungnya diiringi tawa pelan.
Marvio mengusap punggung ALea lembut agar wanita itu tidak terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan Leo itu memang benar adanya.
“Ayo kita sambut semua para tamuku. Sungguh Alea, aku tidak sabar ingin melihat bagaimana ekspresi Evans Colliettie malam ini,” ujar Leo berikan Alea kerlingan mata.
Pintu besar itu pun terbuka lebar-lebar, ketiga pasangan yang berjalan itu pun masuk yang diiringi dengan lantunan suara piano dan dua orang MC yang sudah berkoar-koar yang disambut tepukan meriah dari para tamu undangan yang hadir malam ini.
“Jangan tegang, rileks lah.” Marvio mengapit tangan Alea.
Alea mengatur nafasnya sebaik mungkin, dia pun tidak ingin memalukan diri di depan banyaknya tamu yang datang.
“Tersenyumlah yang cantik karena tentunya kamu adalah pusat dunia malam ini, dimana sang pangeran kerajaan yang tampan ini berjalan menunjukan seorang ratunya.”
Alea mendengus pelan, bisa bisanya pria itu di tengah deru nafasnya yang tidak teratur Marvio masih saja bercanda.
Tapi Marvio memang begitu bangganya ingin mengenalkan pada dunia siapa pasangannya malam ini di pesta sahabatnya itu.
“Sudah aku tebak besok pasti akan ramai dengan gosip yang beredar.”
Marvio memang mempunyai gelar pangeran keluarga besar Marvio adalah seorang bangsawan yang berpengaruh di negaranya ini.
Alea hanya diam melihat langkah di depan, dia takut salah menginjak dan membuat malu nantinya.
“Selamat malam semuanya,” sambut Leo berjalan menuju tempat dimana semestinya sang empu pesta yang sudah disiapkan.
Dua di belakangnya pun ikut berhenti menggandeng pasangan masing-masing.
“Anak tangga. Dan jangan gugup oke,” kata Marvio seraya mengusap lengan Alea.
Alea berikan anggukan yang diiringi senyuman manis, namun tangan yang tadinya berada di lengan si pria kini berganti digenggam hangat membuat Alea di sampingnya.
Baru saja Alea memberanikan diri untuk mengangkat pandangannya menatap sepenjuru ruangan hall ini, pandangannya langsung beradu dengan manik mata elang yang seolah akan mengulitinya hidup-hidup.
Pria itu berdiri dengan gagah dengan wajah yang begitu rupawan sekalipun auranya gelap dan mematikan.
Evans Colliettie menatapnya tajam dalam diam. Alea menarik napas cepat seraya mengalihkan tatapannya.
Namun, bila begitu dari ekor matanya pun Alea tahu kalau manik mata elang itu masih menatapnya.
Ada sesuatu hal yang Alea tahu dari pria itu. Evans mengabaikan wanita cantik di sampingnya yang mengapit lengan nya dengan erat.
“Kita mulai permainannya, Alea,” bisik Marvio pelan di telinga Alea.
Tapi, siapa sangka kalau bisikan itu mengejutkan Alea. Marvio mencium pipi Alea tanpa aba-aba apa lagi tanpa berdiskusi terlebih dulu.
Ah, tidak hanya itu saja yang dilakukan oleh sang pangeran yang punya banyak stok nyawa.
Marvio bergerak cepat menghalangi pandangan dimana Evans masih menatap Alea.
“Maukah kau berdansa denganku, Nona,” ucap Marvio seraya berbungkung dengan tangan yang terulur.
Pria itu seperti mengikut gerakan di film bangsawan, sama persisi.
Alea meraih tangan Marvio lalu digenggam erat. Baik Leo dan Olivia kini sudah mulai berdansa lebih dulu ketika sang empu sudah memberikan sambutan dan memulai pestanya dengan berdansa.
“Kenapa tidak berdiskusi dulu.”
Alea melotot kesal. “Apanya?”
“Tadi kamu menciumku.”
“Maafkan aku, Alea. Refleks begitu saja,” jawab Marvio bohong.
Padahal dialah yang mencuri kesempatan di dalam kesempitan.
Tubuh Alea tersentak, ketika pria itu menarik paksa lengannya untuk bergabung, sayangnya tubuhnya oleng hingga Alea hampir saja terjatuh di mana posisi Evans berdiri.
Pria itu masih sama dengan rahang yang mengetat memandangnya. Evans hanya diam di mana wanita bernama Veronica itu seperti merengek ingin berdansa dengan Evans.
Alea mencuri-curi pandang, anak matanya seolah tahu dimana posisi Evans berada dan begitu pun sama, Evans pun menatap Alea lekat.
Satu tangan Alea terulur ke depan, ingin hati dia menggapai Evans yang masih berdiri mematung.
Sialnya, Marvio menariknya hingga tubuh kecil itu berputra dan terjatuh di dalam pelukan Marvio.
“Mar…”
“Ya, sweetheart.” Jawaban Marvio membuat Alea mendengus sebal.
“Sebenarnya apa yang kalian rencanakan ini? Permainan apa yang sedang kalian lakukan pada mafia itu?” tanya Alea penasaran.
Ini seperti sebuah permainan Leo. Pria itu bukan menjawab, Marvio malah memberikan senyuman terbaiknya.
“Ah—just a little game!”