
Byur….
Alea gelapan dan langsung tersadar ketika merasakan seseorang menyiram wajahnya.
Nafasnya yang memburu dengan degupan jantung yang sontak berdetak cepat. Air yang menerpa wajahnya membuat dia langsung terbangun dari alam mimpinya.
“Aw—” Alea merintih, sakit.
Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri dengan perlahan. Ketika kedua matanya terbuka, samar-samar dia melihat seseorang di depannya.
Kening Alea mengernyit, pundaknya sakit akibat pukulan keras dari—
“Bryan,” gumam Alea dalam hati.
Terakhir kali sebelum dia pingsan, pria itulah yang memukulnya dan…
“Apa ini?” gumam Alea.
Ketika Alea mencoba mengingat, kedua matanya mengedip agar air yang membasahi wajahnya segera pergi agar dia bisa melihat dengan jelas siapa orang yang sudah menyiramnya dan juga menertawakannya dengan keras.
Itu bukan suara lagi, namun terdengar suara itu ejekan keras yang terdengar menggema.
“Tanganku?” gumamnya pelan, pandangannya beralih ke atas dimana kedua tangannya diikat dengan besi yang melilit kedua tangan dan juga kakinya dengan posis Alea duduk di alas lantai dingin.
“Wake up, jallang!” serunya.
Kepala Alea sontak mendongak, rambutnya dijambak dengan keras.
Kini kedua matanya terlihat begitu jelas, seringaian dari wajah seseorang di depannya pertanda murka.
Tapi, apa yang sudah ia lakukan sampai seseorang itu menatapnya penuh kebencian.
Orang itu mencengkram dagunya, menyentakan kepalanya agar kedua matanya bertemu dengan jarak yang dekat.
Ketika, melihat siapa orang itu. Alea sontak kaget. Wanita itu mengabaikan rasa sakit di dagunya yang dicengkeram keras.
“Ka-mu—” ucap Alea terbata, wajahnya seseorang di depannya terlihat senang.
“Yeah. It's me, Alea.” Seseorang itu tertawa keras.
“Kenapa kau terlihat terkejut seperti melihat hantu, hm?” tanyanya seraya mengeratkan cengkramannya.
Alea meringis kesakitan, dia masih bingung dengan semua ini.
“Kau pastinya tidak menyangka bukan kalau kita akhirnya akan bertemu lagi di sini?”
Satu hal yang menjadi pertanyaan utama di dalam pikiran Alea.
Apa sekarang ini, dia tertangkap oleh Evans dan pria itu mengurungnya di penjara bawah tanah dengan—kedua tangan dan kaki di rantai besi seperti ini?
Hh—Alea terlupa seseorang. ‘Di mana Bryan?’
‘Kemana perginya pria itu. apa Bryan ditangkap juga oleh Evans dan sama dikurung seperti dirinya?’ batin Alea.
“Kelly,” panggil Alea pelan.
Perlahan rasa sakit itu pun timbul di beberapa bagian tubuhnya. Terutama tangannya yang terikat kencang. Namun, pikirannya tak lepas dari wanita itu.
Kenapa Kelly berada di ruangan ini dan juga berada di depannya?
“Apa aku tertangkap dan dibawa ke ruang bawah tangah mansion, Tuan?” tanya Alea.
Kelly berdecak seraya menarik rambut Alea keras.
“Ck! Kau masih berharap, hm?”
“Aw… Kell, sakit…”
“Untuk apa tuan membawamu kembali ke mansion, hmm? Ck! Aku tidak percaya kalau kau sebegitunya percaya diri, Alea!”
Alea mengerti, dia benar-benar bingung. kepalanya pun penuh dengan banyaknya pertanyaan.
Tetapi, mana dulu yang harus dilontarkan pada wanita peliharaan Evans?
Dan di mana kini dia berada?
“Lalu, aku ada dimana?” tanya Alea seraya mengedarkan pandangannya, sekalipun kesusahan karena Kelly tak melonggarkan cengkraman.
Alea hanya bisa melihat apa sekitarnya yang dekat. Ini seperti sebuah Gudang tua.
Di samping kanan ruangan ini terdapat sebuah anak tangga di mana ujung sana terdapat sebuah pintu besi yang terlihat berkarat namun masih cukup kokoh dan kuat.
Dari ruangan di mana dia berada saat ini, jalan satu-satunya keluar itu adalah menuju ke atas, mungkin disanalah pintu keluarnya.
“Ya Tuhan,” batin Alea dalam hati, ketika dia melihat penuh keadaanya yang menyedihkan. Kedua tangannya terikat kuat oleh rantai besi besar yang menempel di tembok.
“Sebenarnya apa kesalah—Ahhh…”
Belum selesai bertanya, wanita itu mencengkram keras dagunya hingga menyentakan wajahnya untuk kembali saling bersitatap.
Alea bisa menangkap sorot mata yang menghunus di depannya itu terpancar kebencian yang berkobar.
“Sekalipun ini balasan setimpal yang harus kau dapatkan. Kematianmu lah, yang akan membuat semua dendam ini, SELESAI!”
Alea bingung, dendam apa lagi yang wanita itu maksud?
“Apa kau tahu betapa ingin sekali aku membunuhmu detik ini juga. Tapi—”
Anda kata yang terjeda, wanita itu menarik napas dalam. Jauh di dalam sana, hatinya begitu puas dengan keadaan Alea.
“Mengetahui kalau Mika akan melakukannya nanti, sebaiknya aku ingin membuatmu lebih menderita lagi sebelum pada akhirnya kau mati!”
“Sejak awal kau datang, kau adalah ancaman yang berbahaya yang muncul datang di kehidupan kami, Alea!”
“Sebenarnya apa yang kamu bicarakan, Kell. Sungguh aku tidak paham,” balas Alea.
Plak!
Satu tamparan keras menerpa pipi Alea dengan keras sampai kepala Alea terhempas ke samping dengan darah segar keluar dari sudut bibir Alea yang langsung sobek.
Alea tidak bisa mengabaikan bagaimana pipinya berdenyut nyeri dan perih bersamaan.
Kepalanya pun mulai terasa pusing belum lagi pergelangan tangannya terasa sakit akibat gesekan kulit dengan besi bila dia bergerak.
Tanpa sadar, air matanya mulai membasahi pipinya begitu saja.
“Kenapa kamu begitu kejam padaku, Kell? Sebenarnya apa kesalahanku? Di mana Bryan? Kemana pria itu?” cecar Alea.
Plak!
Kelly kembali melayangkan satu tamparan di pipi satunya. Wanita itu tertawa senang bahkan terbahak melihat bagaimana wajah Alea yang memerah dan terdapat darah.
Alea menundukan wajahnya, entah dosa apa sebenarnya yang tak sengaja dia lakukan sampai membuat para wanita peliharaan Evans menyiksanya.
Belum puas dengan dua tamparan di pipi kanan dan kiri, Alea. Wanita itu kembali mencengkram keras dagu Alea, lagi.
“Sakit, hmm?”
Wanita itu tertawa, puas. “Selama menunggu hari kematianmu tiba. Aku ingin kau menderita.
“Aku akan menyiksamu seperti janjiku pada Juliana yang mati dibunuh oleh Tuan Evans. Apa kau tidak tahu bagaimana pria itu marah karena dia mati-matian menggodanya.
“Dan semua itu adalah setelah kedatangan mu membuat kami menjadi seperti ini.”
Alea meredam tangisannya. “Melihat satu persatu temanku mati karena, kau! Membuat aku pergi meninggalkan mansion dan mengikuti kalian sampai ke sini.”
Kelly menarik sudut bibirnya ke samping. “Aku hanya ingin memberimu rasa sakit sebelum kematianmu tiba, Alea.”
Hati Alea sudah lebih dulu menangis. Sesak sekali dadanya mendengarkan tudingan Kelly padanya.
Alea tidak bisa bisa menjawab semua perkataan Kelly, yang bisa Alea lakukan hanya diam dengan air mata yang terus berderai.
“Kau harus tahu, Alea. Kalau aku begitu membencimu! Aku sangat membencimu.”
“Ahhhh….”
Alea menggigit bibirnya, Kelly kembali melayangkan pukulan. Tidak hanya wajah, tetapi wanita itu memukul tubuhnya yang terikat.
Dia hanya bisa menangis dan lagi dia mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Alea tidak bisa membela dirinya sendiri, menepis semua pukulan yang terus dilayangkan padanya.
Seandainya kedua tangan dan kakinya tidak diikat, dia pasti akan membalasnya.
Yang Alea bisa lakukan hanya pasrah menunggu ajal itu tiba.
‘Mana Bryan? Mana pria itu?’ batin Alea. Dia hanya bisa bertanya di dalam hati dengan mata yang terpejam, Kelly masih senang membuat luka di tubuhnya.
‘Kemana pria itu tidak datang untuk menolongku? Mana pria yang ingin melindunginya dan membelanya.
‘Pria itu sama sekali tidak menampakan diri sama sekali ketika Kelly masih senang menyiksaku?’ batin Alea.
Alea tidak bisa menahan sengatan rasa sakit yang terus dilayangkan, mungkin hari ini benar-benar akhir dari hidupnya.
Mungkin kematiannya inilah yang akhirnya menyelamatkannya dari kebencian para peliharaan Evans.
‘Bila akhirnya seperti ini. Aku lebih baik mati langsung di tangan Evans dan menerima hukuman sekalipun berat. Bodohnya.
‘Aku mudah tergiur dengan sebuah harapan palsu dari seseorang. Ya, sejak awal seharusnya aku tidak percaya pada orang lain,’ batin Alea diiringi tangisan.
“Aku mohon, su—dah—”
“Ck! Aku belum puas menyiksamu, Alea!”
Kelly menggerakan tubuhnya dengan nafas yang memburu. Wanita itu belum puas.
Sekali lagi, wanita itu mengambil tongkat panjang dan langsung memukul kepala Alea cukup keras.
Nafas Alea mulai pendek, darah sudah merambas dan membasahi wajahnya. Bayangan Kelly yang berdiri di depannya pun sudah berkabut.
Sebelum ini hari terakhirnya, Alea mengucapkan kata, ‘Maafkan aku, Ev…’