
"BERHENTI!!!!"
Lea benar benar terkaget bukan kepalang, dengan gemetaran ia menoleh ke asal suara, dan ternyata dia adalah...
" Dia,,," Edward, suara yang bergelegar itu adalah suara Edward sampai sampai memekakan telinga.
Ketiga pria itu juga terkaget, mereka benar benar tidak menyangka bahwa sosok Master Mafia yang paling di takuti ternyata datang ke pulau terpencil ini.
" Edward,,,," pria itu menatap tajam kepada Edward, begitu juga sebaliknya tatapan Edward lebih menyeramkan dari yang di bayangkan.
' Mengapa dia bisa disini? padahal aku tidak memberitahu siapa pun kalau aku berada disini. Tatapannya itu,,, itu adalah tatapan paling menyeramkan yang pernah aku lihat. ' Batin Lea.
" Liox,,,, anda begitu licik," Edward menekanan kata katanya penuh kemarahan yang berapi api.
Aura kemafiaan nya seakan hendak terlampiaskan saat itu juga. Sedangkan Liox, ia memberi kode kepada dua orang anggota nya.
" Mengapa kau menyia nyiakan waktumu hanya untuk menemui wanita bodoh ini?" Liox menarik Lea dan mengunci pergerakannya, pistol tepat ia tujuan di kepala Lea.
Edward semakin terpancing emosinya menyaksikan semuanya itu, sungguh menguji kesabarannya untuk saat ini.
" Liox, jangan membuat saya marah. Cepat lepaskan dia, atau anda akan tahu akibatnya," Edward menekankan kata kata seraya mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
" Berani melangkah sekali saja, jangan harap nyawanya masih selamat." Ancam Liox penuh kemenangan.
Wajah Edward tampak memerah mengepal tangan penuh emosi yang meluap luap.
" Kurang ajar!!!" Maki Edward, ia tidak peduli akan ancaman Liox. Tetap melanjutkan langkahnya mendekat pada Liox.
" Jangan! ku mohon jangan mendekat." Kata Lea penuh isak tangis, " aku mohon jangan melangkah lagi, pergi lah. Aku tidak mau menjadi pengacau segalanya, sebelum waktunya aku pergi nanti. Aku ingin minta maaf terlebih dahulu karena membawa Hansel tanpa sepengetahuan mu. Jagalah dia, pergilah, besarkan dia dengan penuh kasih sayang. Aku yang salah disini, kamu lihat Ibu itu? dia yang menggantikan posisi ku. Namun aku terlalu bodoh sehingga aku harus menanggung semuanya ini. Jangan mencoba untuk menolongku, sekalipun kamu menolongku itu mustahil terjadi selamat. Takdir ku memang sudah terjadi, pergilah," seru Lea dengan getir, tubuhnya semakin gemetaran dengan hebat.
" Bodoh! kamu pikir aku akan membiarkan mu habis di tangan dia? lebih baik aku yang mati daripada dirimu. Kamu lebih berarti bagi Hansel daripada aku, jadi berhenti mengucapkan kata kata bodoh itu!" Tegas Edward, ia tidak akan bisa bayangkan bagaimana jadinya nanti reaksi Hansel jika yang di ucapkan Lea itu malah terjadi. Ia akan di hantui rasa penyesalan dan kebohongan seumur hidupnya.
" Sekalipun kamu menolongku, rasa benci dan luka yang ada dalam hatiku tidak akan pernah tersembuhkan. Kamu tetaplah pria brengsek yang telah menghancurkan hidupku, tapi kali ini aku ingin kamu yang menggantikan posisiku untuk menjaga dan membesarkan anakku. Jika pun suatu hari nanti kamu memiliki seorang istri dan memiliki seorang anak lagi, setidaknya jangan membedakan kasih sayang mu pada anakku." Suar Lea dengan suara yang serak, air matanya sampai kering di pipi nya.
Mendengar hal itu seakan membuat perasaan Edward begitu sakit sekali. Ternyata begitu pahitnya rasa benci dan luka yang yang Lea simpan baginya, bahkan dalam keadaan darurat seperti ini pun Lea masih tega mengucapkan kata kata itu.
" Apa anda tidak dengar Edward? wanita ini bahkan tidak menginginkan kehadiranmu. Sekarang pergilah karena aku harus menyelesaikan semuanya ini," Liox tersenyum miring penuh kebanggaan.
" TIDAK AKAN!!" Bantah Edward dengan tegas, Edward sengaja mengahlikan perhatian Liox dengan menembakkan peluru di rumah itu. Tanpa menunggu lama, ia langsung bertindak menarik kasar tangan Lea dan membawanya lari. Liox yang baru saja sadar telah di kelabui oleh Edward, menjadi marah dan ikut berlari mengikuti Edward yang membawa Lea.
Sedikit ada perasaan bersyukur dalam benak Lea karena ia bisa selamat juga, namun disisi lain ia harus terus di hantui oleh kejadian malam itu.
" Cepat lari!!!" Bentak Edward agar segera sampai kedalam mobil.
Lea tidak menjawab, mencoba menepis perasaan takutnya karena trauma akan sentuhan Edward padanya.
Sampai akhirnya mereka sampai di depan mobil dan segera masuk kedalam, dengan terburu buru Edward langsung menyetir mobil. Di dalam mobil, Lea baru teringat akan Hansel yang masih berada dirumah.
" Hansel! Hansel masih di rumah itu," teriak Lea histeris, ia mencoba membuka pintu mobil namun tidak dapat terbuka.
" Ayo putar balik, anakku masih disana." Kata Lea tanpa pikir panjang lagi bahwa musuh telah berada di belakang mengikuti mereka.
" Bodoh! Hansel sudah di bawa oleh Eder, semuanya sudah tersusun oleh strategi. Jadi kamu diam dan jangan banyak bicara," ucap Edward kembali focus menyetir.
Setelah mendengar itu, perasaan Lea kembali tenang dan berusaha untuk menahan rasa takutnya.
Ketika laju mobil mereka semakin cepat, dan sudah menembus jalanan perkotaan tiba tiba mobil mereka terasa guncang. Edward melirik dari kaca ternyata ban mobil nya sudah penuh dengan letupan peluru yang berasal dari Liox dan anggotanya.
Dengan kasar Edward memberhentikan mobil dan langsung menarik kasar tangan Lea turun dari mobil.
" Ayo cepat," nafas Lea sudah tersenggal senggal, ia tidak punya kekuatan lagi untuk melangkah apalagi berlari, sementara Liox dan anggotanya sudah turun dari mobil.
" Dorr!!!" Edward menancapkan pelurunya tepat di kaki Liox sehingga langkah mereka terhenti. Edward langsung mengambil kesempatan membawa Lea lebih jauh lagi.
" Aku tidak kuat lagi, pergilah. Biarkan aku disini," ucap Lea frustasi. Ia tidak kuat lagi untuk menopang tubuh nya.
"Bodoh! ayo," tidak ada pilihan lain Edward langsung menggendong Lea di punggung nya dan berlari semana yang ia mampu.
" Dorrr!!!" Berulang kali Edward menyempatkan diri menancapkan peluru dengan asal supaya Liox dan yang lain sedikit terahlikan perhatiannya.
Begitu juga sebaiknya, Liox dan anggotanya terus menancapkan peluru mereka, namun tidak ada yanng terkena sasaran.
Lea hanya bisa pasrah dan mencoba untuk tidak mengingat kejadian itu lagi, baginya yang terpenting saat ini adalah ketenangan pada jiwanya. Rasa luka dan sakit hati itu harus ia buang untuk saat ini.
Edward terus berlari kemudian mendapati sebuah tangga menuju ke genteng, dengan nyali yang besar ia menaiki tangga tersebut. Lea sangat ketakutan sekali, air matanya terus mengalir. Itu adalah pegalaman pertamanya seumur hidupnya pernah dalam posisi saat ini. Dimana Edward terus menaiki tangga sampai di atas genteng rumah, baginya hal seperti itu sudah lumrah baginya.
Menapaki genteng rumah dari rumah ke rumah sampai titik dimana hanya ada selembar kayu untuk melewati genteng rumah ke genteng yang lain.
" Turunkan aku, aku tidak mau melewati itu," pinta Lea gemetar.
" Tenanglah, ini adalah jalan satu satunya. Setelah ini kita akan turun karena Eder dan Hansel sudah berada disana." Kata Edward meyakinkan Lea.
" Tidak, aku tidak ingin,"
Edward tidak menjawab lagi, ia melihat kebawah ternyata Liox dan lainnya sudah ikut menyusul mereka.
" Dorrr!!" Berulang kali Edward mengelak dari sasaran peluru yang hampir saja mengenainya.
" Tahan nafasmu, anggap saja kita melewati jalanan penuh bunga bunga. Jangan bergerak ke kiri atau ke kanan, jangan bersuara sebelum kamu merasakan bahwa kita telah melewati jalanan bunga bunga itu. Paham?"
Lea mengangguk, hanya bisa yakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik baik saja.
Dengan menarik nafas dalam dalam, Edward mulai melangkahkan kakinya melewati selembar kayu tersebut, sampai langkah ketiga dengan cekatan Edward menjatuhkan Lea di atas genteng rumah lainnya, sementara Edward?
" Apa sudah sampai?" Lea membuka matanya dengan pelan, dan ketika ia melihat..
" Pergilah!" kata yang Edward ucapkan, ternyata kayu tersebut sudah rapuh.
" DORRR!!"
" DORRR!!"
" DORRR!!"
Tiga kali letupan peluru Edward layangkan tepat pada Liox dan anggotanya langsung menancap dengan sempurna sehingga mereka tergeletak dan sudah tiada. Dan saat bersamaan juga,,,
" *Krekkk,,,,"
" Pergilah Lea!"
"EDWARD*!!!!"
Nasi sudah menjadi bubur, semuanya telah terjadi. Untuk pertama kalinya Lea menyemburkan nama Edward dengan air mata dan histeris.
_______
TETAP DUKUNG AUTHOR:) MAMPIR YA DI KARYA AUTHOR SEBELAH.
" Early Marriage "
" Kisah cinta Aurora "
LIKE KOMEN DAN VOTE
salam^^