Mafia And Me

Mafia And Me
Akhir Dari Eksitensi Evans Colliettie



“Kau memiliki hidup yang mengerikan,” lirih Alea.


 


 


Evans tersenyum miring menatap lurus ke depan dan melakukan maneuver banting setir di persimpangan hingga Alea reflek mengalungkan lenganya di leher Evans agar tidak terhempas.


 


 


“Kau tidak akan pernah bisa membayangkan, aku mengalami hal yang jauh lebih mengerikan dari pada ini.”


 


 


Alea terdiam dan tampak bodoh di depan Evans, yang membuat Evans kesal jika Alea sudah lambat berpikir.


 


 


“Apa kau akan terus duduk di pangkuanku hah? Minggirlah!”


 


“Ohh astaga, Maafkan aku…”


 


Alea dengan tergesa-gesa kembali ke kursi sebelah dengan susah payah karena gaun yang di kenakannya tertarik ke atas, mengekspos pahanya di bawah tatapan Evans membuat Evans melotot.


 


 


"Kau mulai menggodaku hmm?" sorot mata Evans tajam menatap Alea.


 


 


"Astaga! Dalam masalah genting seperti ini mana mungkin aku menggodamu? Maaf, aku bukan Carla dan juga Ariana," decak Alea memutar bola mata kesal.


 


 


Evan bergeming dan malam meladeni wanita bodoh di sampingnya dan ia kemballi terfokus kepada jalanan di depanya.


 


“Saatnya mengakhiri permain mereka, dua tikus kembar yang bodoh!” desis Evans dengan tatapan menyala, auranya begitu mencengkram dan siap membunuh siapapun yang sudah menghalanginya.


 


 


“Pasang seatbeltmu, berpeganganlah yang kuat!”


 


 


“Apa kau benar-benar akan membunuh mereka?”


 


 


“Diamlah atau aku lempar kau dari mobil ini,” decak Evans.


 


 


Brukkk!!!


 


 


 


Mobil Erwin menabrak belakang mobile Evans dan menyeret mereka maju. Evans banting setir menghidar dan menabrak sisi mobilnya ke mobil Erwin yang terhempas minggir namun masih bisa kembali ke jalanan dan melaju kencang mengikuti.


 


 


Dengan cepat, Evans menginjak pedal rem hingga mobil berdecit mundur dengan kecepatan tinggi mejauh dari mobil lawan berhasil menghindar melewati dan banting stir hingga berhenti dalam posisi berhadapan.


 


 


Kedua mobil yang saling berhadapan pun saling menyorotkan lampu. Evans memindahkan persneling, menginjak gas dan rem bersamaan menimbulkan suara meraung sangar dan siap melesat jika rem dilepaskan.


 


 


“Apa yang kau lakukan Evans? Kita bisa mati!”


 


 


“Diamlah!!!” ucapnya.


 


 


“Kau harus tahu dan melihat sendiri jika di dunia ini tidak hanya ada kehidupan yang datar seperti apa yang kau jalani sebelum bertemu denganku.


 


"Inilah duniaku, dunia yang mana banyak akan kematian, keras dan kejam. Bukannya kau penasaran bukan dengan kehidupan devil seperti ku hmm?”


 


 


Alea menutup rapat bibirnya melihat ekspresi bengis seorang devil membuktikan jika inilah kehidupan The Black Rose yang berbahaya dan kejam.


 


 


“Inilah realitanya, Alea Anjanie. Inilah kehidupanku seorang Evans Colliettie yang nyata!"


 


 


Bersamaan dengan itu, Evan tancap gas hingga mobilnya melaju kencang begitu juga mobil Erwin di depan sana. Alea mencengkram seatbeltnya dengan erat.


 


 


Kedua matanya membelalak, terkejut saat merasakan tubuhnya yang terlempar ke depan karena Evans menginjak rem secara mendadak, dan langsung berbelok hingga mobil di samping luar sana, mobil Erwin terpanting hingga menabrak sebuah mobil di depanya cukup keras.


 


 


Mobil lawannya tersebut pun kehilangan keseimbangan hingga terbalik beberapa kali sementar di depan sana, mobil Evans berputar-putra menabrak banyak mobil di pinggiran jalan yang terparkir rapih, menyentak keduanya dan berhenti sempurna.


 


 


Masih dengan cengkraman kuat. Alea bernapas tersenggal-senggal dengan tubuh yang kaku dan jantung yang masih berdetak kencang akan aksi devil itu.


 


 


Evans membuka pintu mobilnya bergegas mengambil sesuatu di kursi penumpang. Kepala Alea berdenyut nyeri, bayangan-bayangan kejadian tadi masih berputra di kepalanya, sejenak melirik ke arah Evans yang kini sedang mengambil senjata api yang berukuran besar.


 


Sungguh menakutkan senjata laras pajang dan besar tersebut yang Evans bawa keluar bersamaan pria iblis itu berjalan ke tengah jalanan.


Evans mengarahkan senjata lurus ke depan dan meloloskan pelurunya yang berdesing keras hingga terdengar ledakan besar di depan matanya. Kumpalan asap yang melambung tinggi membuat Alea terbelalak.


 


 


“Oh my Godl!!!” gumam Alea terkejut.


 


“Kau Benar-benar devil!”


 


 


Evans menghadap ke arahnya dengan senyuam devil penuh kemenangan dan berjalan kembali ka mobil seraya membawa senjata besar itu dan menyimpanya kembali.


 


 


“Game over,” ucapnya setelah masuk mobil.


 


 


“Sungguh kau benar-benar devil Evans kau Mengerikan!! Untuk apa kau membunuhnya seperti itu? Bukannya kalungmu sudah kembali?”


 


 


Evans mengabaikan pertanyaan wanita bodoh di sampinganya, ia tancap gas pergi saat mendengar bunyi suara sirene dari kejauhan.


 


 


“Lebih baik menghabisi sekalian dari pada melakukan setengah-setengah.”


 


 


“Itu akan menimbukan dendam bagi orang lain dan tidak akan ada habisnya,” decaknya dengan tatapanya terfokus pada jalanan.


 


 


“Bukannya di dunia ini memang dipenuhi dengan dengan manusia pendendam? Yang tidak ada habisnya?”


 


 


“Kau benar tetapi tidak seperti itu...”


 


 


Alea kehabisan kata-kata untuk mengatakan pada Evans. Devil itu memang sunggung mengerikan dan kejam seharunya Alea paham itu.


 


 


 


 


 


“Aman Tuan,” jawab seseorang di seberang sana yang jelas Alea mengenalnya.


 


 


“Bagaimana dengan Erick?” tanya Evans kembali.


 


 


 


“Game over Tuan. Aku sudah membereskan semua termasuk cctv tempat kejadian itu dan kita bisa pergi.”


 


 


“Bagus Raider, kita kembali pagi ini ke Napoli dan siapkan semuanya,” pinta Evans.


 


 


“Bagaiman dengan Ryander Evans, Mika?” tanya Alea menatap Evans dan bergantian ke depan mengabaikan tatapan tajam Evans yang jelas Alea tidak peduli.


 


 


“Aku sama sekali tidak melihatnya...“


 


 


Braakkkkkk!!!!


 


 


Mobil Evans tertabrak truk besar yang entah datang dari mana hingga mobilnya terbalik berkali-kalii menyentak Alea kesana kemari bersamaan dengan Evans dan merasakan semua tubuhnya sakit tidak terkira. Mobil Evans terhenti di tengah-tengah jalan dalam posisi terbalik.


 


 


Alea merasakan pandanganya mangabur dan kepalanya sangat sakit dengan darah yang menetes dari kepala, tangan dan kakinya. Evans terjatuh ke bawah karena tidak memakai seatbelt mengerang dengan kondisi yang lebih parah.


 


 


“Kal-lung ini...“ ucapnya terbata, berdesis di sela rasa sakitnya. Alea tidak menjawab namun mendengar suara Evans.


 


 


“Bukti kalu dia perah hidup di duniaku."


 


 


Dia? Maksunya apa Ibunya?


 


 


 


 


Evans membuka pintu, merangkak keluar dari sana dengan susah payah saat seseorang datang dan menyeretnya paksa agar menjauh dari mobil. Di tengah pandanganya yang mengabur, dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa lelaki itu.


 


 


Evans terlegetak di jalan, di tendangi beberapa kali hingga terbatuk darah. Mencoba melawan dan berdiri tapi pria itu menghajarnya berkali lipat hingga Evans babak belur.


 


 


Dor!!


 


 


Satu tembakan tepat mengenai lengan Evans. “Siall!!”


 


 


 


Alea melepaskan seatbeltnya hingga tubuhnya terjatuh ke bawah, mencoba menahan nyeri saat berusaha merangkak keluar mengabaikan pecahan mobil yang menembus kulit tubuhnya, mendekati pintu di kursi kemudi.


 


 


Alea terdiam seketika melihat pria berpakaian serba hitam itu tengah berjongkok di samping Evans yang terlihat menujuk-nujuk kepalanya dengan senjata api di tanganya.


 


 


“Jika kau bertemu dengan Mike Shander dan Gina di neraka, tolong sampaikan salamku kepadaya,” ucapnya dengan tangan kananya yang memegang senjata menekan kepala Evans keras.


 


 


“Cihh…bahkan aku sama sekali tidak tahu menahu akan Mike Shander, apa lagi wanita jalang itu,” decak Evans masih sombong walau senjata sudah berada di kepalanya.


 


 


“Apa kau serius tidak mengenal Mike Shander? Aku pikir kau tahu siapa Mike Shander sebenarnya makanya kau menahan kekasihnya di mansionmu?”


 


 


“Apa maksudmu?”


 


 


“Temuilah di neraka sana, dan tanyakan kepadanya langsung siapa dirinya, bilang padanya, terima kasih karena kekasihnya sudah memberiku kesempatan untuk membalas dendamku kepadanya dan menukar kepalamu ini dengan uang puluhan milyar dollar!”


 


 


“Kedua pembunuh bersaudara itu tidak bisa diandalkan hingga aku sendiri yang harus tangan.” Alea tercengang mendengarnya.


 


 


 


“Ucapkan selamat tinggal untuk dunia. Akhirnya eksistensi The Black Rose mati di tanganku, setelah itu Alea akan menyusulmu ke neraka dan kalian bertiga akan bertemu langsung dengan Mike Shander!” tegasnya pria itu berdiri mengarahkan senjatanya siap membunuh The Black Rose.


 


 


Dor!!!


 


 


Dor!!!


 


 


Dorr!!!


 


 


 


Alea tercengang dengan tubuh bergetar hebat. Kedua matanya sudah membasahi pipinya tidak henti dengan perih yang makin menyengatnya.


 


 


Setelah niat awalanya berharap bisa lepas dari cengkraman Evans. Alea sendirilah yang mengacaukannya dengan menembak Ryander dengan senjata kecil milik Evans dari dalam mobilnya.


 


 


Menyisakan air mata dan luka di dalam tubuhnya hingga ambruk tidak bergerak dengan senjata api nya terjatuh begitu saja.


 


 


Evans terbatuk-batuk di aspal dengan tubuhnya yang masih terlentang, menoleh ke arahnya tanpa daya dengan memegangi tangan yang tertembak dan menatapnya di depan sana yang berderai air mata.


 


 


“Maafkan aku Ryander…” ucap Alea sebelum kesadaranya menghilang.


 


 


 


“Aleaaa…”


 


 


 


Setelah aksi baku hantam dan baku tembak yang sudah di rencakan Evans untuk mengambil kalung itu dengan melumpuhkan musuh-mushnya yang menginginkan kepala dirinya.Pada Akhirnya wanita bodoh dan lemah itu yang menolongnya dari kematian.


 


 


 


Bersambung...