
" EDWARD!!!!!"
Lea berlari dengan cekatan penuh dengan ketakutan setelah turun dari genteng ternyata apa yang ia dapati?
Ternyata semua telah di rencanakan, bahkan Edward tengah duduk santai di atas ranjang empuk. Lea sangat keheranan akan hal itu, ia mendekat pada Edward. Dan benar saja, Edward bahkan tidak ada tergores sedikit pun, Lea masih tampak kebingungan. Namun saat ia melihat Edward yang tersenyum miring ke arahnya, sontak menambah keterkejutan padanya apalagi saat melihat Eder dan Hansel yang baru saja datang mendekat kepada Lea.
" Apa ini? mengapa bisa terjadi?" Lea masih di hantui rasa penasaran, Edward berdiri lalu melangkah mendekat pada Lea.
" Aku tidak mungkin sebodoh itu sampai rela menjatuhkan diriku kebawah hanya karena kayuh yang sudah rapuh. Itu sangatlah konyol dalam kamus ku, pasti kamu begitu keheranan kan?" kata Edward penuh rasa bahagia melihat reaksi Lea.
Lea menoleh kepada Eder, namun Eder bersikap biasa saja seakan tidak peduli.
" Jadi semua ini sudah kalian rencanakan?" Tanya Lea masih kurang yakin.
Menurutnya itu adalah suatu hal yang mustahil, begitu hebatnya strategi rencana yang sudah Edward susun sampai membuat Lea hiteris.
" Ckk, masih tidak percaya?" Edward memicingkan matanya seolah olah tidak suka akan sikap Lea yang meragukannya.
" Aku,, aku masih sedikit ragu," ucap Lea dengan sendu, kemudian perhatiannya tertuju pada Hansel. Dengan mata berbinar penuh kebahagian, ia berlari memeluk anaknya itu dengan hangat.
" Hansel,,," Lea menghujani wajah Hansel dengan banyak kecupan karena rasa bahagianya dan bersyukur.
" Mokmy, Hans jadi bau jigong nanti," cebik Hansel dengan manyun, Lea terkekeh kecil sambil mencubit gemas pipi Hansel.
" Mommy minta maaf ya nak, Mommy memang bodoh sampai membahayakan Hansel karena keegoisan Mommy," seru Lea kembali memeluk tubuh Hansel.
" Mommy, berhenti mengucapkan kata maaf. Uncle itu telah menyelamatkan Hans, dia sangat baik." Puji Hansel seraya menujuk Eder.
Eder mengangguk sambil tersenyum canggung kepada Lea, hal itu seakan terasa aneh bagi Lea. Ia juga tersenyum kepada Eder.
" Terima kasih karena sudah menyelamatkan anakku," ujar Lea dengan tulus, rasa syukurnya saat ini tidak dapat ia lukiskan lagi dalam bentuk apapun selain rasa terima kasih dan kebahagiaan.
" Itu sudah pasti Nona, sudah kewajiban saya menjaga tuan kecil," balas Eder sambil tersenyum kecil.
Sangat canggung baginya ketika Lea memperlihatkan ekspresi kesedihan dan ketulusan padanya tanpa tersirat ada keterpaksaan.
Sedangkan Lea, ia menjadi merasa sedikit nyaman akan sikap Eder, bagaimana datarnya dan kecanggungan dari diri Eder saat berucap padanya.
Edward menjadi terasa tersingkirkan diantara mereka, ia bahkan tidak di pedulikan sedari tadi. Sedikit ada rasa kejengkelan pada dirinya menyaksikan Eder dan Lea yang saling bertatap. Mencoba untuk mengahlikan perhatian mereka, dengan mencoba menapak kasar tanah.
Sontak perhatian Lea dan Eder terahli menatap kepada Edward, mukanya tampak di tekuk dengan rasa kesal. Tatapan membunuh terlayangkan kepada Eder.
' Gleg' Eder menelah salivanya dengan kasar.
Lea hanya tersenyum paksa kepada Edward, karena bagaimna pun Edward adalah orang yang telah menyelamatkannya.
" Thanks, terima kasih karena sudah menolong saya," kata kaya yang dapar Lea ungkapan pada Edward.
' Hanya itu? tersenyum juga hanya seperti itu? ckk, sungguh tidak adil.' Batin Edward.
" Emm, Tuan,,, apa saya bisa meminta bantuan anda?" Tanya Lea kepada Eder.
Tuan? Eder terkaget bukan main mendengar sebutan yang Lea ucapkan padanya.
" Maaf Nona, saya hanyalah,,,,"
" Mommy, Hans mengantuk," Hansel mengoam karena kantuk yang menyerang.
' Kurang ajar!! dia bahkan mengatakan bahwa Eder adalah Tuan? dia begitu menghargainya? brengsek!' Batin Edward.
Eder melirik kepada Edward meminta jawaban apakah ia akan menurut atau tidak.
" Kita satu mobil!" Edward benar benar penuh dengan kekesalan, dengan kasar ia menutup pintu mobil setelah masuk.
" Mari Nona,,," Eder hanya bisa bersikap biasa saja agar tidak kelihatan takut di depan Lea.
" Iya,," Lea menggendong Hansel dan membawanya masuk ke dalam mobil.
' *Sudahlah, membantah juga tidak ada artinya, jika bos besar sudah marah maka tiada artinya untuk tawar menawar.' Batin Eder.
Di dalam* mobil suasana begitu canggung, tidak ada yang membuka suara. Eder fokus menyetir karena jalanan sudah sepi.
Sedangkan Lea jadi ikut tertidur dengan Hansel yang tidur di pangkuannya.
Edward tampak malas menatap Eder, ia menatap kosong kearah jalanan.
Ya, begitulah suasana begitu sepi hanya deruan mesin saja yang kedengaran.
_____
Like komen dan vote
SALAM^^