Mafia And Me

Mafia And Me
Secuil Kebenaran



Sosok pria berjaket kulit berdiri di depan pintu besi, melemparkan dua buah koper yang berisi uang dollar yang mana sudah di minta oleh pria di depanya yang kini tersenyum simpul kepadanya.


 


Mike Shander datang seorang diri tampa ada pengawal menyelamatkan kekasihnya. Cukup berani aksi Mike Shander yang mana pria arrogant itu menyelamatkan nyawa kekasihnya tampa takut kehilangan nyawanya sendiri.


 


Ale di depanya pun menatap kedatangan kekasihnya dengan kedua bola matanya sedikit basah, pria yang seperti iblis itu kini menyelamatkan dirinya seorang diri. Meskipun Ale mengetahui keberengsekan Mike namun pria itu tak pernah sama sekali di perlakukan kasar oleh Mike Shander.


 


Mike selalu baik kepadanya dan amat menjaga dirinya tak pernah Mike melakukan hal seperti apa yang sudah Mike lakukan pada Gina. Ale yakin kekasihnya pasti butuh waktu untuk menjelaskanya dan menceritaka kepadanya apa yang sudah terjadi antar Mike dan Gina. Ya, pasti Mike akan menceritakan semuanya.


 


"Lepaskan dia,” pinta Mike.


 


"Buka dulu kopernya baru aku akan lepaskan kekasihmu itu,” pintanya.


 


Mike membukakan dua buah koper yang ia bawa yang mana uang dollar yang William inginkan darinya.


 


“Bagus Mike Shander,” ucap William.


 


Mike menghampiri Ale dengan keduanya yang berpapasan William ke arah koper dan Mike ke arah Ale. Tak lama William mencengkram tangan Mike dengan keduanya tak saling melirik satu sama lain.


 


"Tunggu, tak semudah itu aku memberikan Ale padamu.”


 


“Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau William.”


 


William menghela. “Aku sudah menceritakan semua kebusukan mu dengan sahabatmu Gina pada kekasihmu dan satu lagi akan kehamilan Gina yang mana anak kandungmu,” ucap william.


 


Mike tak peduli William sudah menceritakan semua kepada Ale tentang hubunganya tentang kebusukan dirinya. Ia pun sudah tahu resiko akan dirinya yang sudah menghinati kekasihnya dan masalah itu tak penting untuk Mike karena ada yang jauh lebih penting yah itu menyelamatkan Ale terlebih dahulu setelah aman Ia akan menceritakan yang sebenarnya kepada Ale.


 


"Tak masalah, ia juga harus tau meskipun dari mulutmu." Mike kembali menghampiri Ale memeluk dengan erat.


 


"Maafkan aku Bee, kau pasti saat ini sangat membenciku,” ucap Mike melepas ikatanya.


 


Namun Ale di depanya menggeleng kepala ia sama sekali tak membenci Mike meski ia sudah menghinati cintanya. Ia hanya kecewa akan Mike yang sudah berselingkuh dengan Gina.


 


“Maafkan aku, nanti akan aku jelaskan semuanya setelah kita keluar dari sini Bee. Aku hanya cinta padamu.”


 


Mike mengenggam jemari Ale dengan keduanya yang mengulum senyum. Mike mengajak Ale untuk pergi dari markas William namun langkah Mike untuk keluar pun tiba-tiba terhenti saat timah panas menembus kakinya dan William pun sama tertembak di kaki sebelah kirinya saat ia akan pergi dari tempat persembunyianya.


 


“Mike…” Pekiki Ale terkesiap dengan tubuhnya kecilnya yang menunduk.


 


“Berlindunglah Bee,” pinta Mike dengan kedua tanganya mengambil dua buah senjata yang berada Mike di belakang pingganya.


 


"Dasar berengsek kalian. Kau William pria berengsek yang sudah berani-beraninya mengambil wanita jalang itu dari tangan Santhos kau pantas matii William," teriak Gina menggema dengan satu senjata yang ia kini ada tanganya melepaskan pelatuknya dan menembak tempat di dada William.


 


 


“Ta-tapi Mike.” Ale ragu untuk meninggalkan Mike sendirian menangani Gina yang mana William sudah tak berdaya di depan sana.


 


“Percayalah aku akan baik-baik saja dan Bee aku tidak menghamili wanita jalang itu. Ia hamil oleh salah satu rekan judinya,” ungkap Mike sedikit menjelaskan kepada Ale.


 


"Kita akan keluar bersama-sama dan aku akan membantumu,” pinta Ale.


 


“Tidak Bee. Kau harus keluar dari sini karena Gina benar-benar menginginkanmu untuk pria tua Bangka itu agar hutangnya lunas. Lekaslah pergi aku sudah menitipkan semuanya pada Tiara. Kau harus selamat dan pulanglah ke negaramu karena di sana ada Jeon yang akan menjagamu,” pinta Mike kembali.


 


Mike melepaskan tangan Ale, ia tak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya kepada Ale.


 


Dengan berat hati Ale meninggalkan Mike sendiri di sana bersama dengan anak buah William yang masih menembaki orang-orang Gina.


 


Ale berlari sejauh mungkin dari bangunan tua tersebut agar orang-orang Gina yang kini mengejarnya tak bisa menangkapnya. Ia berlari tampa memperhatikan langkah kakinya yang sejak tadi terus menghidar. Sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan orang itu sudah lelah mengejarnya namun salah, orang-orang itu masih mengejarnya.


 


"Ya Tuhan, tolong aku...." lirihnya terus berlari sejauh mungkin agar ia bisa lolos dari kejaran orang-orang itu.


 


Serasa cukup jauh Ale berlari dari bangunan tua tempat ia di sekap, dengan sedikit menoleh ke belakang yang mana sudah tak ada yang mengejarnya. Ia merasa aman duduk di rerumputan dengan nafas yang masih tersenggal-senggal ia memberanikan diri untuk beristirahat sejenak di dekat sungai yang mengalir jernih.


 


Ia meraih sebuah botol bekas yang tak jauh dari tempatnya duduk mengambil air tersebut hingga penuh lalu meneguk sampai dahaganya hilang tampa banyak pikirana di kepalanya.


 


Nafasnya yang tersenggal-senggal sejak tadi, kini sudah bisa kembali bernafas dengan baik duduk merentangkan kakinya sejenak untuk perjalan selanjutnya hingga ia menemukan keramain tempat ini sebelum gelap.


 


Suara teriakan di seberang sana, sebuah gudang tua membuat Ale penasaran untuk mengetahuinya. Ia berjalan menghampiri gudang tua dan menemukan satu celah lubang di sana.


 


Mengintip di celah lubang itu, Ale terkesiap dengan kedua bola matanya terbuka lebar dengan menutup rapat bibirnya melihat di depan sana. Bodohnya ia masih berdiri di sana bukan berlari untuk melindungi dirinya namun jiwa keinginan tahunya semakin dalam.


 


Dorrr!!!!


 


Suara peluru terlepas mengenai sasaran terakhri semua orang yang di dalam gedung tua itu mati tampa ada sisa, hanya ada beberapa anak buahnya yang berada di sana.


 


Ale terkejut sehingga botol yang ia genggam terjatuh sehingga pria berhoody hitam di dalam sana melihat seseorang di ujung sana yan sedang mengintip akan perbuatanya.


 


Kedua mata mereka bersitatap, Ale merasa kali ini dirinya dalam masalah besar. Memundurkan tubuhnya dan kembali berlari kembali yang mana dalam pikiranya pasti pria berhody memakai sarung tangan hitam itu akan menyuruh anak buahnya untuk menangkapnya.


 


Hufffttt!!!


 


Ale membuang nafas dalam-dalam melihat ada lima pria bertubuh besar di belakangnya yang kini mengejarnya kembali. Lelah namun Ale harus belari sekencang mungkin agar keenam pria itu tak menangkapnya. Alih-alih ingin mendapatkan pertolongan namun Ale kini terjebak kembali dalam masalah besar.


 


Bersambung...