Mafia And Me

Mafia And Me
Tugas Hari Ini!



Tidak percaya dengan perkataan Alea. Evans pun mencari tahu kebenarannya, dia kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya duduk di kursi kebesarannya seraya menatap layar cctv.


Dari layar besar yang Alea katakan itu memang benar adanya, layar monitor cctvnya begitu besar bak seperti layar bioskop.


Semua sudut ruangan di dalam mansion Colliettie pun semua terlihat begitu jelas, dari ruang utama, dapur, ruangan peliharaan, ruang pribadinya sendiri bahkan juga kamar Alea, terlihat jelas di layar tersebut.


“Semua tidak ada yang mencurigakan. Tapi—”


Evans membesar salah satu ruangan dimana dai melihat Alea yang tengah merapikan pakaiannya di dalam walk ini closet. Di sana, Alea terlihat tidak bisa.


Entah apa yang dipikirkan pria itu, tetapi sikap Alea membuatnya semakin yakin kalau wanita bodoh itu memang bersekongkol dengan Bryan untuk membunuhnya.


“Lihatlah ulahmu sendiri. Aku tahu kamu menaruh racun di dalam minuman itu,” kata Evans, curiga.


Evans pandangi Alea sejenak, wajah cantik itu terlihat pucat.


“Kenapa dia memegangi perut, beraksikah racun itu, hmm?”


“Dasar pendusta. Kau sudah berbohong padaku, kau menaruh racun itu masih saha bisa mengelak, rasakan akibatnya kalau kau bermain denganku, Ale!” gerutu Evans, murka.


Tentu, melihat Alea yang terlihat kesakitan dengan memegangi perut. Pria itu sudah menduganya. Namun, berbeda dengan Alea yang ingin menangis keras.


Perutnya sakit, seperti di remas keras. ‘Pekerjaanmu belum selesai, Alea. Bertahanlah kamu pasti bisa,’ batin Alea seraya memecut dirinya sendiri agar tidak jadi wanita lemah.


Alea menghapus air matanya yang kembali ini, sekalipun dia mengalihkan rasa sakit itu, tetapi ini sangat menyiksa.


“Tu-Tuan…” gumam Alea ketika mendapati Evans yang berada di depannya.


Sebisa mungkin dia tersenyum ramah pada iblis di depannya. “Apa ada lagi yang harus saya kerjakan?” tanyanya.


Evans menatap dari kepala hingga ujung kaki. “Beraksikah racunnya hmm? Aku lihat kamu kesakitan dan juga wajahmu itu pucat!”


“Ya, kalau saya benar keracunan saya sudah mati seketika di tempat dan disaksikan oleh anda. Tidak harus berlama seperti ini bukan? Karena kerja racun itu begitu cepat?” balas Alea.


Dirasa tidak ada lagi yang harus dibahas di tengahnya malam, Alea lebih baik pergi dari kamar Evans dan bergegas menuju ke kamarnya.


Keesokan paginya, mungkin Evans pikir wanita bodoh itu sudah mati dengan racun yang ditujukannya itu. Tapi, melihat semua peralatan mandi dan air hangat yang tersedia sepertinya tuduhannya salah.


‘Dia masih hidup?’ batin Evans seraya menatap keberadaan Alea di dalam kamarnya.


Wanita itu tengah merapikan kamarnya.


Alea mendengus pelan. Dia kesal dengan kebiasaan Evans setelah habis mandi.


“Apa anda bisa memakai kimono anda untuk menutupi tubuh anda, Tuan?” protes Alea seraya menutup rapat kedua matanya.


Evans tersenyum miring, sekaligus heran. Biasanya, wanita jallangnya begitu suka dengan bentuk tubuhnya yang atletis ini. Tetapi, wanita bodoh itu…


“Kau siapa, hm? Berani mengaturku. Apa lagi pada tubuhku sendiri!”


Mendengar Alea yang sudah protes, wanita itu sepertinya memang baik-baik saja.


“Tubuh-tubuhku. Mau aku telanjjang pun kau tidak boleh protes bukan? Aku bebas melakukan apapun,” decak Evans.


Alea diam enggan membalas, sepertinya akan menguras tenaga bila dia harus meladeni. Alea pun kembali berbalik badan dan sebisa mungkin mengerjakan tanpa melihat pria itu membuka handuknya.


“Sudahlah, kemari. Merapikan pakaianku dan juga pasangkan dasi untukku!” titahnya.


Alea mengangguk cepat di belakang sana. Dia pun lekas mendekat dan seperti bisa merapikan pakaian Evans dan juga mengenakan dasi pada pria tersebut.


“Hari ini ada tugas untukmu!” kata Evans seraya menatap wajah pucat Alea.


Namun, si lawan hanya menunduk.


“Apa itu? Asal jangan mempermainkanku untuk mencari peluru kesayanganmu. Aku tidak mau,” kata Alea bentuk protes.


Namun, tidak mengurangi kedua tangannya yang mengancingkan kancing lengan kemeja Evans lalu memasangkan jam tangan.


Kadang, Evans memberikan tugas diluar ekspeastinya. Dia harus mencari peluru seperti kejadian di ruangan kerja beberapa hari lalu.


“Aku tidak kidal. Kenapa kamu selalu memasangkan jam tangan di sebelah kanan, hmm?”


“Sebenarnya apa tugasku hari ini?” sela Alea mengalihkan pembicaraan Evans.


“Jawab!”


Alea mendengus pelan seraya menatap penampilan Evans yang sudah rapih. Malas berdebat dia pun meriah tangan Evans dan membuka jam tangan tersebut. Sayang, langsung ditahan.


“Aku butuh jawaban bukan kau malah memberikan aku pertanyaan, hm!”


Alea menatap wajah tampan sang devil. “Maaf, aku tidak tahu kalau kamu memakainya di sebelah kiri, aku terbiasa memakai jam di sebelah kanan!”


Alea menarik nafas sejenak. “Ya, sudah sini aku pindahka—"


“Lalu apa tugasku hari ini, Tuan? Apa anda akan memintaku untuk menggoda pria lagi?” sindir Alea.


Terakhir Evans memberikan tugas untuk menggoda pria pembunuh bayaran hingga pada akhirnya dia mendapatkan luka yang cukup serius.


“Suatu tugas penting. Tugas yang akan menguras tenagamu!” kata Evans berjalan menuju cermin.


Tapi jawaban Evans membuat Alea semakin berpikir meski lagi, wanita itu dengan sigap membawakan jas yang senada dengan celana itupun dan membantunya untuk memasangkannya.


“Maksud anda, apa Tuan?”


“Apa saya harus seperti wanita peliharaanmu? Memuaskan pria lagi?”


Bola mata Alea membulat diiringi menatap pria tersebut, kalau itu benar. Dia akan membangkang lagi.


“Jangan banyak tanya nanti juga kamu tahu apa maksudku!” ujar Evans, santai.


‘Ah, sialan apa lagi coba maksud pria itu!’ gerutu Alea dalam hati.


Alea diam seraya berpikir, entahlah apa tugas itu. Evans memang kendang sulit untuk di tebak. Biarkan saja seperti yang pria itu katakana, dia akan mengetahuinya sendiri.


“Tuan.”


Panggil Mika membuat kedua orang yang baru saja keluar dari dalam kamar pun, tersentak kaget.


“Maaf, Tuan. Saya mau melapor,” ucap Mika yang langsung dianggukan Evans, paham.


Alea pandangi dua pria itu, melihat Mika yang mendekat dia pun kembali pada tugasnya untuk membersihkan kamar Evans lalu membersihkan kamar mandi bekas pria itu mandi.


‘Sampai kapan aku kayak gini,’ batin Alea seraya membersihkan bathtub bekas Evans pakai, lalu menyikatnya.


“Kau di sini?”


“Astaga,” seru Alea seraya memegangi dadanya, terkejut.


“Lekas ganti pakaianmu. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat!”


Alea meletakan sikat yang dipegangnya. “Maaf, Tuan. Mau kemana?”


“Ada. Kau nggak usah banyak tanya!”


“Tapi kenapa tidak membawa Mika saja seperti biasa?” tanya Alea, curiga.


“Apa kau sudah berani membantahku, hmm?”


Haruskan mereka berdebat di dalam kamar mandi dengan perdebatan yang tidak penting itu.


Evans mendengus kesal. “Apa kau tidak ingat kalau kau itu pelayan pribadiku?


"Tidak hanya bekerja di mansionku saja. Tapi, kemana aku pergi kau harus ikut dan patuh pada perintahku!”


“Haish, menyebalkan sekali. Kalau sudah ada Mika, tercium aroma tidak beres. Entah kemana lagi pria itu akan membawaku. Et, tunggu sebentar—’


‘Bukannya kalung yang hilang itu sudah kembali bukan? Lalu sekarang apa lagi?’


Sayangnya, Alea hanya bisa berkerut di dalam hati. Dia tidak bisa mengeluarkan isi suara hatinya yang menolak dengan ajakan Evans.


Evans mendekat dan menepuk wanita bodoh yang sepagi ini bukan bergegas pergi malah asik melamun di dalam kamar mandi.


“Apa perlu aku mandikan kau di sini lalu aku gantikan juga pakaianmu, hm?”


Alea melotot. Evans mengendurkan dasinya seraya bergegas melakukan apa yang baru saja dikatakan.


“Tunggu—”


Evans berhenti. Alea dengan nafas yang memburu pun menghalangi langkah Evans yang mendekat.


“Oke. Aku akan bergegas mengganti pakaianku.”


Alea keluar dari dalam bathup dan segera berjalan menuju pintu keluar.


“Sepuluh menit kau harus siap!” seru Evans.


“Apaah?” protes Alea.


“Mana bisa aku siap dalam waktu sepuluh menit, Tuan?!”


“Terserah, aku akan menyeret kau bila dalam waktu sepuluh menit belum siap. Kau paham!”


Alea mendengus kasar, Evans selalu membuatnya darah tinggi.


“Haish. Anda menyebalkan, Tuan!”