Mafia And Me

Mafia And Me
Terlalu Meremehkan Wanita



Keduanya berlari saling bergandengan tanganmenyelusuri lorong yang gelap dengan keduanya yang menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.


Namun seketika...


Brugg!!!


 


 


“Arrrggghhh,” pekik Alea tubuhnya terlepar akan pukulan yang menerpanya dengan keras dan keduanya yang terhempas berjauhan.


 


“Aleaaaaa—“


 


“Ryander..."


Tubuhnya terasa remuk sekali yang dirasa oleh Alea dengan diri ia sedikit kesusahan untuk bangkit.


Di samping sana sudah nampak Ryander yang sudah bangkit terlebih dulu dan menghajar sesorang berbadan besar tidak jauh darinya.


“Ikut denganku!"


“Tidak! Lepaskan aku!"


Alea diseret paksa oleh pria yang serupa. Ia mengigit keras tangan pria besar itu yang berujung perkelahian.


 


Jangan meremehkan wanita yang dianggap bodoh dan lemah oleh devil seperti The Black Rose dan si kembar pembunuh bayaran itu jika ia tidak bisa apa-apa.


Alea bisa bela diri walau kadang nyalinya menciut jika berhadapan dengan lawan yang bertubuh besar empat bahkan lima kali lipat dari tubuh kecilnya.


Pria itu tumbang dan tersungkur di lantai tidak sadarkan diri. Seketika hendak membantu Ryander beberapa pria serupa kembali datang untuk membawa paksa Alea.


Namun Alea tetap membela diri dan mulai berkelahi kembali dengan tiga pria besar yang saat ini berada di hadapanya.


Gerakan lincah Alea berkelahi dengan ketiga pria itu pun serasa bukan tandinganya, bahkan pria bertubuh besar tersebut berhasil mengunci tubuh kecilnya, mendesak hingga menghantam pada dinding tembok.


 


Tangan besarnya itu begitu saja terulur mencengkram lehernya dengan erat hinggat tubuh kecilnya tidak menjejak bumi.


Napasnya tersenggal dengan darah yang keluar banyak di lehernya dengan kepalanya terasa berdenyut hebat, tidak mendapatkan asupan udara.


Dor!!!


Dor!!!


Dor!!!!


Dua tembakan yang terdengar cukup keras pun baru  menumbangkan pria yg tidak jauh dari si pria yang mencengkeram leher Alea hingga tergeletak tidak bernyawa.


 


Dan satu timah panas pun menembus kepala pria yang mencengkeram lehernya dengan si pria bertubuh besar itu tergeletak bersamaan dengan Alea terjatuh dan batuk-batuk dan memegangi lehernya.


“Lariii, Aleaaa!!!” pekik Ryander disela berkelahi dengan beberapa orang di sampingnya setelah membantunya menembak pria yang menyerang Alea.


“Selamatkalah dirimu Alea!" teriak Ryander kembali.


Alea mengangguk meski Ryander tidak melihatnya, dengan sisa tenaganya Alea berlari di antara kerumunan orang-orang yang tengah menyakisaakan perlekahiannya.


Orang-orang itu tidak membantunya sama sekali dan hanya menonton, berpangku tangan bagaikan sedang menonton pertunjukan film action.


 


Sial!! umpat Alea


Saat ia salah berlari dan masuk ke dalam ruangan yang begitu ramai setelah ia membuka handle pintu dan masuk.


Alea saat ini berada di sebuah club yang sama dan masih dipadati oleh orang-orang yang di dalam sana tengah berdansa.


 


Napas tersenggal-senggal, tubuhnya membungkuk dengan kedua tanganya di atas lutut, seraya mengatur napas.


 


Baru saja menarik napas lega karena ia berhasil lolos, Alea tersentak saat seseorang mencekal lenganya membuat Alea terkejut mendapati Evans yang menariknya pergi.


“Aku harus menghabisi Erwin di luar!"


“Evans—aku?!“


Alea menggaruk belakang lehernya, wajahnya mengarah ke pintu masuk tadi menunggu Ryander yang akan menyusul dan sialnya kenapa harus bertemu kembali dengan Evans lagi?


“Tapi Ryander?”


“Pikir dirimu sendiri, Alea!!“


 


Evans membawanya keluar dengan mata elangnya melihat kesepenjuru ruangan tersebut seraya waspada.


“Di sini terlalu banyak orang dan kita harus keluar,” gumanya.


Evans sama sekali tak menoleh ke belakang di mana Alea masih bingung akan Ryander. Digenggam paksa seraya menarik paksa Alea seperti seekor kambing.


 


Setelah menggapai pintu Evans memekik kencang, menarik erat lengan Alea sampai tubuh kurus Alea membentur keras pada dada bidang Evans.


“Merundukk Alea!!!”


Alea dengan reflek memegangi kepala, merunduk bersamaan dengan terkejut saat tembakan dibidikan ke arah mereka.


Evans melepaskan cengkeramanya, bangun dari merunduk dan berbalik badan menjadi temeng di belakang Alea.


Sebelah tangannya menembakan pelurunya, menarik Alea kembali untuk berjalan keluar.


 


Evans yang tanpa henti terus mengarahkan peluru tepat pada anak buah Erick Bruno.


Mereka berlindung di balik mobil  di dalam area parkiran belakang yang nampak gelap.


 


Alea menyusut air matanya dengan kasar, setelah air matanya lolos jatuh dari pipinya.


Malam ini Alea enar-benar sedang bermimpi buruk dengan dirinya sedang bertarung nyawa, mengabaikan luka di lehernya yang masih terasa perih dengan darah yang menetes.


“Kau tidak boleh cengeng Alea! Ayo selamatkan nyawamu dari kejaran pembunuh bayaran itu!” batin Alea.


"Apa kau menangis wanita bodoh?" tanya Evan sekilas menoleh pada Alea yang tengah menyusut air matanya.


Alea bergeming tidak menanggapi pertanyaan Evans yang tengah fokus di samping tengah menembaki anak buah Erwin.


"Bahkan tadinya aku terlalu meremehkan wanita bodoh sepertimu yang bisa bela diri!" desah Evans yang lagi-lagi


Alea hanya diam.


“Ambillah ini!"


Alea menatap sebuah benda kecil berwarna hitam dan silver.


Ia masih tidak paham maksudnya apa? Karena Evans menyerahkan kunci mobil kepadanya.


“Aku akan menahan mereka dan kau lekas mengambil mobilku!"


“Kenapa harus aku?" tanya Alea seperti wanita bodoh yang tidak tahu akan keadaan yang tengah genting.


"Lalu Mika?”


“Dia sedang sibuk membereskan Erick saat ini. Aku harus menghabisi Erwin yang lebih berbahaya dari saudaranya. Anak buahku jelas udah di habisi lebih dulu oleh pembunuh bayaran itu. Cepat Alea!” pinta Evans.


Dor!!!


 


Dor!!!


“Sial!!!” umpat Evans.


 


 “Lekaslah wanita bodoh, kenapa kau diam saja!” pekik Evans.


Alea bangkit dari merunduknya, berjalan mununduk setengah belari mencari mobil Evans yang terpakir di antara puluhan mobil lain yang terpakir rapih.


 


Alea kembali menunduk saat ada peluru yang mengenai tepian mobil yang ia lewatinya.


Alea masuk ke dalam sebuah mobil Porche hitam pekat di depan matanya yang berkedip setelah dirinya menekan kuncinya ketika mencarinya.


Ia masuk ke dalam mobil itu dengan cepat lalu menghela napas panjang. Dengan kedua tangan yang bergetar hebat  Alea menghidupkan mesin mobil membuat lampu menyala terang.


 


Ia lansung menginjak pedal gas hingga melaju cepat, sampai ia menuburuk seseorang di depan sana dan seseorang itu terpelanting.


 


“Ohh my God!!” gumam Alea sudah frustrasi, karena saking paniknya membuat ia tidak fokus dan menabrak seseorang di depannya.


 


Gara-gara kejaran orang-orang si kembar Bruno yang masih terus menembak mobil yang ia kemudikan.


“Shitt!!!” umpay Evans, seraya ia membuka pintu.


 


“Apa kau tidak bisa menyetir hah?” umpat Evans sembari membanting pintu mobil dengan kasar.


“A-Aku—“ suara Alea gemetaran, napasnya seolah memburu karena ternyata yang ia tabrak adalah Evans Colliettie.


 


“Apa kau sengaja hah?”


 


“Tidak! Aku hanya panik!!” teriak Alea.


 


“Lekaslah jalan!!!” desis Evans.


Alea langsung menginjak pedal gas dan menjalankan mobilnya untuk pergi. Namun baru saja juga ia memajukan mobilnya ia sudah menghentikan ketika Alea melihat mobil di arah yang sama dan saling berhadapan.


 


Mobil hitam pekat berjenis sedan di depanya saat ini, adalah mobil anak buah dari si kembar Bruno, yang sudah mengulurkan senjata laras panjang dan siap untuk melesatkan peluru ke arah mobilnya.


“Bagaiman ini Evans?!” tanya Alea, tangannya semakin bergetar melihat mobil di depanya yang sudah menyerang terlebih dulu membanjiri peluru ke arah mobilnya, Evans masih diam belum ada pergerakan.


“Jalan mundur!”


“Apaaah??”


“Jalan mundur Alea, lekasss!!”


 


Alea memindahkan persneling ke arah belakang melajukan mobilnya mundur dengan kepalanya menoleh ke belakang.


Evans di sampingnya pun sudah siap membidikan senjatanya menembaki mobil di depanya yang terus bergerak ke arahnya.


 


Mobil di depannya pun tak henti terus menerus menembaki mobil lawananya, hingga beberapa peluru mengenai body mobilnya berkali-kali hingga kaca depanya pun mulai retak.


 


"Shitt!!" umpat Evans, membuat senjata apinya yang sudah habis.


 


Ia pun bergegas membalikan tubuhnya untuk kembali mengambil senjata lain yang sudah ia siapkan untuk pertarungan yang sengit ini.


 


 


Sedangkan Alea di sampingnya berkonsentrasi penuh di sela dirinya yang begitu cemas dan panik akan situasi yang berbahaya saat ini.


 


'Ya Tuhan ini benar-benar seperti mimpi buruk, tolong selamatkan kami semua.' Doa Alea di sela dalam keadaan berbahaya.


Evans mengeluarkan separuh tubuhnya berserta senjata laras panjangnya melalui atap dan menembakkan serangan membalas ke mobil depan yang sigap menghidar.


 


Evans terhuyung hendak jatuh ke bawah seketika Alea membelokan mobil ke kanan secara tiba-tiba dan tidak memberi aba-aba kepadanya terlebih dulu.


 


"Shitt!!! bisakah kau memberikan aba-aba untukku? Jika kau akan berbelok hah?" seru Evans sarkas.


"Maafkan aku Evans," guman Alea.


“Evans ada persimpangan!!! Bagaimana ini?" seru Alea saat ia melihat ke arah spion dengan matanya mendelik.


 


Evans diam, terfokus di atas sana mungkin suara bising peluru tidak membuat seruanya terdengar.


 


Alea mengulurkan tangan, menarik celana yang Evans kenakan hingga pria itu langsung merunduk melihat Alea.


 


"Mobil kita bisa menabrak bangunan kalau kita terus berjalan mundur seperti ini?" seru Alea kembali dengan sebelah tangannya menujuk ke depan.


 


"Beloklah ke arah kanan dan kau mencari jalan agar aku bisa melumpuhkan mobil lawan kita. Lalu tancap gas!" intruksinya.


 


Alea mengangguk, meski devil itu tidak melihatnya karena kembali fokus menyerang lawannya. Dicengkramnya kemudi setelah ia mendapatkan instruksi dari Evans setelah pria iblis itu membuka pintu mobilnya lebar-lebar. Satu


tangan Evans berpegangan erat pada pegangan tangan mobil mengeluarkan separuh tubuhnya miring.


 


Evans mulai menembakkan pelurunya tanpa henti sampai, Alea menghentikan mobilnya seketika, kembali memutar persneling bersamaan membanting stirnya dengan kembali pada posisi lurus .


 


Evans pun kembali duduk di kursi sampingnya setelah pria iblis itu sudah membidikan senjatanya dengan si pria yang sejak awal menyerangnya mati seketika.


Alea kembali memindahkan persneling dan menekan pedal gas hingga mobil melaju pergi meninggalkan tempat itu.


 


"Haaah, syukurlah kita terbebas dari mereka," gumam Alea sembari mengusap dada, sementara Evans


yang masih di tempatnya pun mengatakan hal yang berbeda.


 


"Kata siapa kita terbebas dari mereka? Kali ini Erwinlah yang tengah mengejar mobil kita!" decak Evans kembali masuk dan menutup kembali pintu mobilnya dengan melihat amunisi senjatanya dan melirik ke sepion dengan seringaian.


 


"Apaahh???" Alea  terkesiap mendengar penuturan Evans.


“Waktunya untuk mengakhir acara ini.”


“Are you crazy?” ucap Alea menenoleh ke samping Evans dengan tetap focus pada jalanan yang lenggang.


“Yeah! Seperti inilah hidupku Alea,” ucapnya dingin.


Evans menarik tangan Alea yang terdapat kalungnya yang masih Ale genggam dan berdarah karena mencengkramnya terlalu erat. Evans seolah tidak peduli dan memasangkan kalung itu kembali di lehernya.


 


“Kenapa demi kalung itu kau melakukan hal gila seperti ini? Hingga bertaruh nyawa!” Alea monoleh sekilas ke samping dengan ditatap tajam oleh Evans.


 


“Kenapa kau ingin tahu?” desisnya.


“Aku ingin kejelasan akan kegilaanmu ini Evans biar semua terasa masuk akal bagiku. Karena bagiku semua yang kau lakukan itu sungguh bodoh bertarung nyawa hanya demi kalung itu.


 


"Jika kalung itu tidak berharga untukmu mungkin kau tidak akan segila ini?!


 


"Apa itu peninggalan ibumu? Kata Bryan bukanya kau sangat membenci ibumu yang sudah menghinati kau dan juga ayahmu?”


“Kalian bedebah yang memperbincangkanku, hmm?!” desisnya terdengar marah menatap Alea penuh murka.


 


Mobil Erwin dan anak buahnya pun masih mengejar mereka di belakang sana, mengikuti ke mana mereka pergi.


 


Alea yang tengah fokus dengan beberapa kali menekan klakson mobil agar mobil di depanya minggir dan jalurnya.


 


“Kami hanya mengobrol saja dengan aku ingin tahu kenapa kau sekejam ini.”


 


“Kau terlalu banyak ingin tahu Alea! Bahkan aku sudah memperingatimu akan rasa ingin tahumu itu. Kau jangan penasaran dengan hidupku!


 


"Pikirkanlah keselamatanmu sendiri yang sudah mempercayakannya pada orang-orang yang salah. Apa kau pikir temanmu itu tidak mempunyai maksud yang tersembunyi dan mengabil adil dari rencana ini?”


Alea menoleh kembali. “Maksudmu Ryander menipuku? Itu tidak mungkin!” desisnya.


 


“Kau memang wanita bodoh yang mudah percaya kepada orang lain. Kau akan sakit hati jika sudah mengetahuinya!"


“Dan kenapa aku harus percaya pada perkataanmu?!!!” tanya Alea mendengus.


“Itu terserah padamu!!!”


Mereka jalan lurus di kota Madrid yang tidak terlalu padat saat tengah malam seperti ini membuat mobil bisa melaju cepat dan kencang meski harus berbelok-belok.


 


Tidak tahu akan ke mana arah dan tujuan mereka karena saat ini mereka berada di daerah pinggiran yang sepi.


 


Keheningan di antara mereka pun begitu terasa dengan keduanya yang saling diam dengan pikiran masing-masing.


 


“Awaaasss ada mobil besar,” teriak Evans menujuk mobil besar di hadapanya.


Alea sama sekali tidak mempedulikan teriakan Evans yang membuat terlinganya berdentum karena teriakan Evans yang begitu kencang.


 


Alea melirik dengan ekspresi wajah yang kesal pada Evans dan acuh.


 


“Apa kau gila tidak memberhentikan mobil ini, hah?” tanya Evans menatap Alea tajam.


 


Namun sekali lagi Alea tidak menanggapinya dan terlihat santai dengan pertanyaan Evans.


“Apa kau takut mati, hmm?” tanya Alea balik, membuat Evans langsung membulatkan mata tidak percaya.


 


Apa wanita bodoh ini akan menabrakan mobilnya?


 


Bukan berhenti atau berputar arah, namun Alea malah menginjak pedal gasnya dengan kecepatan tinggi.


 


“Apa kau gila Alea?” teriak Evans, dengan sorot mata membunuh karena wanita bodoh itu tidak mendengarkan apa perintahnya sama sekali.


 


Alea hanya tersenyum miring, setelah menoleh sejenak pada Evans yang terlihat takut, bahkan pria yang tidak takut mati itu, kini terlihat dia ketakutan akan aksinya.


 


Woussshhh….


 


Mobil yang di kemudikan Alea pun masuk ke bawah celah mobil container yang menghalangi jalanya dengan kecepatan kencang, menginjak rem dengan maneuver banting setir ke arah kanan hingga terdengar bunyi decitan mobil itu terdengar.


Citttt!!!


Suara nafas terdengar memburu, keduanya saling besitatap dengan diam.


 


“Kau gila!”


Alea tidak mendengarkan ucapan Evans dan kembali melajukan mobilnya dan kembali di kejar oleh dua mobil Erwin.


Suasana di dalam pun hening, keduanya yang masih mengatur napasnya dan saling terfokus dengan pandanganya masing-masing.


 


“Kita tukar tempat!!!”


“Hahh!!!” jawab Alea menatap Evans.


Evans dengan cepat meletakan senjata apinya di atas dasbord, bergerak ke posisi Alea. Alea menatap Evans dan kembali focus pada jalanan dengan memajukan tubuhnya menahan setir dan pedal gas saat Evans sudah berada di belakang punggungnya.


 


Mengurung tubuh kecil itu dengan kedua lenganya mengambil alih kemudi dan berganti Evans menginjak pedal gas hingga mobil menabrak mobil lain yang terpakir dan membuat Alea jatuh ke dalam pelukan Evans ketika mobil bergerak tidak beraturan.


 


Sesaat Evans menatap ke depan dengan bisa menontrol laju mobil dengan benar. Keduanya dengan reflek saling


bersitatap.


“Kau memiliki hidup yang mengerikan,” lirih Alea.


Evans tersenyum miring menatap lurus ke depan dan melakukan maneuver banting setir di persimpangan hingga Alea reflek mengalungkan lenganya di leher Evans agar tidak terhempas.


“Kau tidak akan pernah bisa membayangkan, aku mengalami hal yang jauh lebih mengerikan dari pada ini.”


Alea terdiam dan tampak bodoh di depan Evans, yang membuat Evans kesal jika Alea sudah lambat berpikir.


 


“Apa kau akan terus duduk di pangkuanku hah? Minggirlah!”


“Ohh astaga, Maafkan aku…”


 


 


Bersambung...