
Jantung Alea berdegup kencang, ketika suara tembakan terdengar bersahutan.
Entah dari mana asal suara tembakan itu namun yang jelas Alea kaget, lebih kagetnya lagi ketika melihat segerombolan pria bersenjata masuk ke dalam.
Beberapa pria itu menyebar di sekitar ruangan tersebut dengan sikap penuh siaga hingga akhirnya Bryan sendiri berdiri dengan tegak sembari membawa senjata di tangannya dan berjalan mendekat.
“Ck! Evans pasti akan menyesal seumur hidupnya atas kematianmu ini, Alea!” decak Bryan terdengar menakutkan.
Terlebih lagi ketika melihat senjata yang dipegangnya itu diacungkan ke arahnya membuat tubuh Alea hanya bisa membeku dengan bola mata menatap Bryan penuh kebencian.
“Seharusnya kau sudah mati sejak lama!”
Alea memalingkan wajahnya menuju anak tangga, suara itu terdengar dari atas membuat Bryan pun sama mengalihkan pandangannya menuju arah tangga.
Muncullah Mika di sana. Wanita dingin itu menatapnya bengis.
“Apa kau akan berpikir kalau Tuan Evans akan datang kemari hmm?”
“Ck! Buang-buang waktu saja. Apa lagi hanya untuk menyelamatkan—dia!” tunjuk Mika dengan dagunya pada Alea yang tertunduk sedih.
Ya, seharusnya dia tidak harus diselamatkan. Alea sadar diri.
Bryan berkacak pinggang dengan menghunuskan tatapan pada Mika.
“Kau tidak akan pernah tahu bukan setelah Evans melihat mayat wanita ini?
“Sebagai pria, tentunya aku tidak salah mengartikan sikap tuanmu pada wanita bodoh ini!” tunjuk Bryan dengan senjata apinya.
“Pria sombong dengan ego yang tinggi itu akan sulit untuk mengakui semuanya ini.”
Mika tersenyum miring seraya menatap Alea yang berada di balik pagar besi. Tatapnya wanita itu tampak tidak peduli sama sekali.
“Baiklah, bila begitu. Maka lakukanlah sekarang juga sebelum aku lebih dulu membunuhmu untuk membebaskan dari belenggu keluarga Colliettie seperti apa yang kau inginkan untuk bertemu dengan kekasih tercinta mu, Juliana!”
Gigi Bryan bergeretak. “Ayo, tunggu apa lagi, Bryan. Bunuh dia sekarang juga,” seru Mika.
Kelly masuk ke dalam, dan wanita itu berdiri di belakang Bryang dengan tatapan bengis.
“Jika kau tidak bisa melakukanya Bryan, maka aku yang akan melakukanya,” ujar Kelly.
Mika tersenyum miring menatap kedua penghinata di depan matanya itu.
Ah, dia sudah tidak sabar ingin mencabik-cabik dua orang itu.
“Aku tidak menyangka kalau kalian begitu dendam pada wanita asing itu.”
Ya, Alea adalah wanita asing yang terjebak di dunia gelap yang menakutkan.
“The Black Rose pasti akan sangat menyesalinya,” ucap Bryan penuh penekanan.
Pria itu membuka kuncian senjata api yang dipegangnya lalu menghunuskan tepat pada wanita dengan keadaan yang mengenaskan, sementara Alea hanya menunduk pasrah mati di tangan Bryan hari ini.
BOOMMMM!!!
Ledakan bom terdengar begitu nyari dan dahsyat menembus dan juga merobohkan pintu besi membuat seisi ruangan itu pun bergetar.
Beberapa orang yang berada di dalam pun ikut terhempas seiringi ledakan besar itu begitu saja menerpanya.
Suara keras tersebut memekikan telinganya hingga berdengung di kepalanya berserat debu-debu yang bertebangan di ryangan yang kini mendadak gelap.
Sudah jangan di tanya lagi bagiamana nasib Alea. Wanita itu merasakan kesakitan yang luar biasa yang tidak bisa dielakan lagi.
belum lagi, kedua tangan dan kaki yang merantainya.
Alea berusaha untuk melihat ke depan untuk melihat apa yang sudah terjadi.
Ledakan begitu besar sehingga mampu membuat beberapa orang di dalamnya pun ikut tumbang.
Alea terkesiap kaget, ketika melihat pintu besi yang berada di sudut sana pun terlepas begitu saja sampai menindihi tubuh Kelly di mana wanita itu mengerang kesakitan.
Beberapa anak buah Bryan yang kebetulan berada tidak jauh dari sana pun terlihat sudah tidak bernyawa lagi. Mereka mati mengenaskan.
Dada Alea sesak, ketika matanya menatap penjuru ruangannya ini.
Mika pun ikut terhempas namun, wanita itu sempat loncat dan bangkit dari atas untuk sampai ke bawah dan mendekati Bryan yang tergeletak begitu saja.
Dengan kakinya, wanita itu menekan kepala Bryan, pria itu terlihat sudah tidak berdaya. Dari kejadian yang menggelegarkan hingga membuat banyak nyawa hilang.
Sosok Evans Colliettie muncul di ujung ruangan. Sang Devil mengenakan coat coklat, topi hitam yang melingkar di kepalanya dan juga memakai kaca mata hitam.
Tak lupa senjata laras besar berada di punggungnya. Sang devil datang bersama dengan anak buahnya dan langsung menyebar. Tentu ini seperti sebuah kejutan yang membuat Alea tercengang.
Ketika melihat sosok devil kini datang, Alea langsung menundukan wajahnya, diam tidak berani melihat apa lagi menatap pria itu.
“Semua sudah terkendali, Tuan,” ucap Mika, seraya menghampiri Evans.
Bryan bergerak-gerak di bawah kaki Mika mencoba melepaskan diri. Sayangnya, pijakan kaki Mika begitu keras membuat Bryan hanya bisa berdesis.
“Kau sialan Evans Colliettie! Ck!” Bryan meludah.
“Kau pria brengsek yang menyedihkan.
namun sayang pijakan kaki Mika begitu kencang membuat Bryan berdesis, “Sial, kau Evans Colliettie. Cih. Kau pria brengsek yang menyedihkan,” ucap Bryan.
Evans tersenyum miring. Dia melemparkan senjata yang di pegangnya ke salah satu anak buahnya lalu mendekati Bryan tanpa sekalipun pria itu menatapnya.
Evans menendang wajah Bryan, hingga membuat tubuh pria itu terlentang. Dengan cepatnya, Evans kembali menginjak dadanya seraya merapikan coat yang di kenaikannya.
Bola mata Bryan membulat penuh dengan ekspresi penuh dendam pada Evans.
“Kau sudah tahu bukan bila aku selalu bisa membaca gerak gerikmu, hmm? Bodohnya kau nekat untuk melakukan semua ini dan sampai harus melarikan diri sejauh ini!”
“Sialan kau, Evans!”
Evans menatap bengis. “Kemana kau pergi, kau tidak akan lepas dari jangkauanku!”
Evans menekan dada Bryan dengan kuat. “Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku masih sudi memeliharamu di mansionku.
“Memberikan kau kehidupan yang baik bahkan aku menghadirkan kekasihmu di sana!”
“Kau sungguh tidak tahu caranya berterima kasih kepadaku! Kau sama seperti kedua orang tuamu yang sudah berkhianat kepada keluargaku!”
“Kau besengek Evans!!!” teriaknya.
Bryan berusaha menyingkirkan kaki Evans namun tubuhnya tidak sekuat itu.
Ledakan bom yang Evans lemparkan itu membuat tubuhnya terpental dan tertimbun reruntuhan begitu pun besi yang melukai kakinya.
Bryan salah memilih lawan, Evans sudah duluan yang mengejarnya tanpa ampun.
“Aku datang sendiri kesini untuk memberikanmu kebebasan, seperti apa yang kau mau!
“Sudah cukup kau hidup di dunia ini dengan hati yang penuh dendam, padahal kau tahu betapa kejamnya dunia kita ini.
“Seharusnya keluargamu berhati-hati dan tahu bagaimana caranya hidup di dunia hitam di atas kesetian!”
Alea cukup mendengarkan sekalipun sesekali menatap lurus pada dua pria itu.
Alea menggigit bibir bawahnya ketika Evans memukul Bryan tanpa ampun hingga wajah Bryan penuh darah.
“Sekarang aku datang kemari dengan senang hati. Aku akan mencabut eksistensimu di dunia hitam karena kau sudah berani main- mani dengan The Black Rose!”
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan yang terdengar dari arah luar pun membuat Evans menoleh pada Mika.
Paham dengan tatapan Evans, Mika pun keluar untuk memeriksanya.
“Ah—Rupanya ada tamu tak diundang yang datang kemari.”
Bryan berdecak, “Ck! Apa kau takut Evans Colliettie?”
Evans menarik sudut bibirnya ke samping.“Aku tidak pernah takut akan apapun.”
“Simpan saja alibimu karena aku tahu kedatanganmu kemari untuk membunuhku karena aku sudah membuat wanita yang kau cintai tersiksa?”
Bug!
Itulah jawaban Evans, memukul keras kepala Bryan. Ditariknya kerah baju pria itu hingga tubuhnya terangkat dan berdiri dari posisi Bryan yang terlentang.
Evans kemudian menghajar Bryan sampai pria itu benar-benar tidak berdaya dengan bersimbah darah.
Dikeluarkanya senjata apinya dari balik jaket lalu menghunuskan ka arah Bryan.
“Seharusnya sejak lama aku sudah membunuhmu, Bryan,” desis Evans dengan aura kegelapan dan kekejamanya.
“Bergabunglah dengan, kekasihmu dan juga keluargamu di neraka!”
Dor!!!
“Aaaahhh…” jerit Alea keras setelah timah panas menembus kepala Bryan.
Bola matanya melebar ketika melihat kematian Bryan, namun ketika manik mata itu menatapnya.
Alea menundukan kepalanya tidak berani menatap Evans.
Kesedihan dan bercampur rasa takut begitu saja menjalar. Dia tahu kalau Evans sama sekali tidak mencintainya seperti apa yang dikatakan oleh Bryan.
Pria itu terlalu percaya diri menyimpulkan semua ini. Dan sekarang setelah Bryan mati, sasaran Evans selanjutnya adalah dia sendiri.
Alea memberanikan diri mengangkat kepala lalu bola matanya menangkap Evans yang berdiri tepat di depannya dengan tangan yang masih memegang senjata api.
Manik mata sapphire dan hijau keemasan itu pun bertemu, keduanya saling bersitatap dalam diam membuat Evans mengayunkan langkahnya berjalan mendekati Alea tanpa memutuskan kontak matanya.
Tatapan tak bisa itu membuat Alea sulit mengartikannya, apa.
Alea menahan napas ketika Evans menghunuskan senjata apinya ke arahnya.
Air matanya berlinang begitu saja, dia tahu konsekuensi yang harus diterimanya yang tidak lain, MATI.
“Ka-kamu—"
Alea menelan salivanya dalam-dalam sebelum Evans membunuhnya, Alea berucap.
“Duniamu begitu menakutkan, Evans!” gumam Alea pelan seraya memejamkan kedua matanya, pasrah.
Dor!