Mafia And Me

Mafia And Me
Ungkapan Hati!



“Apa menurutmu begitu?”


“Apa aku salah?” tanya Alea dengan seulas senyuman misterius pandangi Ruby.


“Tidak!” jawab Ruby seraya merubah posisi duduknya lalu menatap Alea.


“Itu memang benar adanya. Tapi, satu-satunya yang membedakan aku dan dia itu cuman satu—”


“Pengakuan tuan pada kami yang berbeda!”


Alea manggut-manggut paham. “Ya. Aku sudah tahu akan hal itu, Ruby.


“Kau lah salah satu wanita jallang yang diperlakukan berbeda dari yang lain!


“Maka dari itu kamu bersikeras berada di sisinya sekalipun kamu tidak dianggap ada!”


‘Astaga. Aku heran kenapa dia begitu bangga sekali hanya diperlakukan sebagai wanita jallang,’ batin Alea.


Bila Alea jadi Ruby, tentunya dia akan menolak keras. Lebih baik menjadi pelayan seumur hidupnya daripada harus menjadi partner ranjangnya.


Senyuman wanita itu, kembali membuat Alea semakin yakin kalau Ruby memang jatuh cinta pada Evans.


Senyumnya yang cantik itu pertanda wanita itu bahagia dengan keadaan tanpa status pasti.


“Ya. Aku aku salah satunya.” Alea tak lepas pandangi wajah Ruby berbinar senang.


“Apa kamu ingin tahu Alea. Di saat suasana hati tuan tengah dalam keadaan buruk.


“Dia akan selalu menggunakan Carla untuk menjadi pelampiasannya sementara aku—”


“Tuan memanggilku di mana dalam keadaan biasa. Percintaan kami pun tidak sekaras dan seberutal ketika tuan bersama dengan Carla.


“Bahkan tuan beberapa kali memanggilku dengan panggilan honey. Ya, sekalipun pandangannya kosong dan dingin.”


Ruby tersenyum senang dengan wajah yang berbinar menatap Alea. Tetapi, kenapa Alea merasa jijik mendengarkan percintaan Evans dan kelima wanita jallangnya?


“Itu saja sudah cukup bagiku, Alea.”


Alea paham dengan perasaan salah satu wanita spesialnya Evans.


Alea hanya menarik napas dan sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika melihat senyuman wanita itu yang nampak berbeda, sekalipun wanita itu di perlakukan menyakitkan dan tidak dicintai.


Tapi, dia terlihat senang hanya dengan bentuk yang diterimanya dari Evans.


“Lalu bagaimana dengan ketiganya dan dia—” tunjuk Alea pada Kelly.


Wanita itu langsung mendengus pelan. Ruby tersenyum-senyum senang.


“Tentu mereka sama seperti Carla, hanya untuk jadi mainannya.”


“Sial! Kenapa kamu harus menceritakan bagian itu juga pada pelayan ini, Ruby?! Dasar kamu memang srigala berbulu domba!!”


Ruby hanya berikan senyuman miring dan bangun dari duduknya sementara Kelly yang sakit hati akan rahasianya yang Ruby bongkar walau sebagian kecil.


Kelly lebih memilih pergi dari kamar Ruby sebelum wanita itu membongkarkan semua rahasianya.


“Ini. Ambilah!” Ruby menyentakan lukisan yang dibuatnya pada Alea.


“Simpanlah sebagai kenang-kenangan dariku.”


Alea mengernyit kening dalam sementara Ruby terlihat tengah berbahagia yang entah apa maksud semua yang dikatakan Ruby.


Wajah cantiknya pun semakin bersinar seolah wanita itu mengungkapkan perasaanya kalau Ruby benar adanya jatuh cinta pada Evans.


“Tidak salah kalau aku memanggilmu datang ke sini, selain aku senang bisa banyak berbicara denganmu.


“Tapi satu hal yang aku tahu darimu Alea—”


Ruby berikan senyuman lagi, wanita itu mala mini banyak tersenyum.


“Aku baru sadar kalau kamu bukanlah wanita bodoh seperti apa yang ada di dalam pikiranku!”


Lagi dan lagi senyuman itu. Alea menjadi semakin penasaran dan ingin tahu lebih banyak lagi dengan sosok wanita jallang yang diperlakukan khusus oleh Evans.


Dari cara Ruby menatapnya pun Alea tahu selain wanita itu cemburu padanya, Ruby banyak menyimpan sesuatu yang tidak akan segampang itu dia bisa mengoreknya.


Alea menarik napas sejenak. “Baiklah kalau begitu. Terima kasih,” ucap Alea seraya menundukan pandangannya.


 Kedua mata Alea tertuju pada lukisan yang dibuat Ruby.


 “Ya, Tuhan. Apa seperti inilah ekspresiku ketika kamu melukisku?”


“Ya. Aku melukismu seperti itu, seperti apa yang tengah tadi kamu pikirkan. Begitulah hasilnya, kamu mengekspresikannya di wajahmu!”


Alea tak lepas pandangi kertas kanvas tersebut, dia melihat sendiri bagaimana dia menatapnya penuh emosi sekalipun bibirnya tersenyum.


“Sesi melukisku dan juga bicara aku sudah selesai. Kamu bisa keluar dari dalam kamarku, Alea. Aku mau istirahat.”


Alea yang masih menggenggam lukisanya pun mengalihkan pandanganya pada wanita cantik itu yang kini sudah kembali pada mode awal.


Tidak ada raut wajah ceria, senang dan berbahagia yang terpancar seperti tadi.


Senyuman yang sejak tadi melengkung pun kini lenyap tergantikan dengan Ruby yang sebenarnya.


“Baiklah. Terima kasih banyak kamu sudah melukisku. Aku keluar,” ucap Alea seraya berjalan di mana pintu keluar berada.


Pikiran Alea kini mendadak kusut dan hati pun tidak tenang ketika melihat lukisan tersebut.


Baru saja Alea menggapai pintu, Ruby kembali memanggilnya.


“Ada apa?”


“Berhati-hatilah! Jangan mudah percaya pada orang lain!”


Alea mengernyit dalam pandangi Ruby.


“Maksudmu?”


“Tutup kembalilah lah pintunya aku ingin istirahat.”


Alea hanya mengangguk dan keluar dari dalam kamar Ruby, seperti biasanya dia berhati-hati keluar dari sana karena tidak mau ada orang yang melihatnya berkeliaran tengah malam.


 Apa lagi ketahuan dia berada di pavilion wanita peliharaanya.


Sebenarnya dia ingin bertanya banyak tentang lukisannya ini, tetapi melihat Ruby yang sepertinya sudah kembali mode awal, Alea akhirnya mengurungkan niatnya.


“Entah apa maksud wanita itu,” gumamnya dalam hati seraya berjalan di lorong yang menghubungan pavilion dengan pavilion lain.


Posisi kamar Alea berada di satu mansion pribadi Evans, tentunya jauh dari ruangan-ruangan pribadi Evans Colliettie.


Alea menarik napas dengan satu tarikan, otaknya tak henti berpikir.


“Apa sebenarnya Ruby tahu, siapa pembunuh Carla?” gumam Alea seraya meletakan lukisan tersebut.


Alea mengambil buku jurnal pribadinya lalu duduk di dekat jendela besar.


Dibukanya satu persatu halaman di buku tebal itu. Alea tertawa ketika dia melihat kenangan bersama dengan teman-temannya.


Jeon, Jessi dan Yhang di mana foto tersebut menunjukkan kesibukan mereka ketika mereka ingin memenangkan tender besar begitu juga foto keakraban Alea bersama dengan para asisten pribadi yang tengah tertawa ceria.


“Kapan aku bisa seperti ini lagi. Bekerja gila-gilaan dengan kalian, liburan kesana kemari dengan kalian.


“Tertawa bahkan menangis bersama pun sudah pernah mereka alami.


“Aku rindu kamu Ka,” ucap Alea lirih seraya mengusap foto Jeon.


“Maafkan adikmu yang bandel ini tidak mendengarkan nasehatmu.”


Alea menyusut sudut matanya, air mata pun berderai ketika melihat kenangan tersebut.


Alea membuka lembar demi lembar lagi. Air matanya kembali berderai ketika melihat foto kebersamaanya dengan Mike Shander.


“Apa kamu baik-baik saja, Mike? Apa kamu masih hidup Mike?”


Alea memeluk buku jurnal pribadinya lalu memeluk kedua lututnya dan menangis tersedu ketika bayangan kebersamaan Alea dan Mike begitu saja menari-nari di kepalanya.


“Semoga Tuhan masih mengizinkan kamu untuk bernafas, Mike. Aku tahu kamu pasti akan mencariku,” gumam Alea dalam hati.


Alea menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, kepalanya menoleh dan kembali menangkap lukisan Ruby.


Alea mencoba mengingat kembali, ketika Ruby melukisnya. Siapa lah yang dipikirkannya. Mike Shander jelas tidak, Bryan kah atau….


Evans Colliettie?


Bulan ini aku usahkan buat tamat ya.