Mafia And Me

Mafia And Me
Dipeluk Kesakitan!



“Kau benar wanita bodoh! Sudah lama ini aku menyadari kalau di dalam tubuhku ini adanya monster yang menakutkan.


“Aku menyadari hal itu, Alea. Apa kau ingin tahu. Sejak aku tidak pernah merasakan kehangatan yang memeluk diriku, dan itu semenjak kematian ibuku!” batin Evans.


Pandangan Evans masih tertuju bahkan tak pernah teralihkan pada apapun menatap Alea yang sudah tidak melihatnya lagi.


“Kau tidak pernah tahu bagaimana aku begitu sulit mengendalikan diriku sendiri dari kepurukan ini.


“Selama ini aku berteman dengan sepi dan dingin yang membekukan hatiku, hingga akhirnya aku tidak punya belas kasih,” gumamnya dalam hati.


Evans menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, kali ini dia akan bertekad akan membuktikan kalau dia tidak akan lagi seperti ini. LEMAH.


Evans tidak ingin ada orang lagi yang menyakiti hatinya di masa depan.


“Ya. aku selalu menjadi orang yang berkuasa dan kuat agar tidak ada lagi orang yang bisa meremehkanku, lagi.”


Tetapi, Evans akui kalau perkataan yang dikatakan secara frontal dari mulut wanita bodoh itu semuanya berbeda. Seperti syok terapi untuknya.


Evans memejamkan kedua matanya dengan satu tangan kanannya diletakan di dada, tepat di jantungnya.


Tangan satunya terkepal kuat serasa rongga dadanya begitu saja menyempit. Sesak, sakit yang amat dalam.


Hatinya kembali sakit itu yang kini dirasakan oleh Evans.


Alea tidak tahu itu.


“Tuan….”


Panggilan Mika membuat pria itu membuka kedua matanya.


Dia membalikan badanya dan kembali melihat tiga orang itu yang belum jauh. Evans bergerak cepat dan langsung menyusul ketiga orang itu.


“Kau urus Bobby, Mika,” perintah Evans yang dianggukan Mika, paham.


Wanita itu pun sama bergerak cepat, namun Evans lebih cepat memukul punggung Bryan dengan keras hingga keduanya terhempas jatuh ke rerumputan.


Bryan tak sadarkan diri dengan luka di lehernya sementara Bobby berbalik dengan sigap mengeluarkan senjata yang langsung di tending oleh Mika dan terjatuh.


Tapi, Bobby tidak menyerah hingga pada akhirnya Mika dan Bobby pun berkelahi.


Evans berjalan mendekati Alea dengan sorot mata yang menakutkan. Pria itu terlihat jelas murka padanya.


Wajah tampan rupawan devil itu berjongkok dengan satu tangannya kembali mencengkram leher Alea dan kembali menghantamkan tubuh kecil itu ke rerumputan dengan posisi terlentang menahan kedua tangan Evans.


Evans mencondongkan tubuhnya berada di atas Alea dengan wajah keduanya yang kini begitu dekat.


Alea nampak terlihat pasrah. Dia tahu dari kilatan mata yang menghunus itu pria itu tengah dikuasai amarah.


“Apa hakmu untuk memakiku seperti tadi, hah?”


“Kenapa kau begitu berani mengatakannya dengan lantang padaku. Kau tidak tahu aku, Alea…”


“Kau tidak pernah tahu kehidupan apa yang selama ini aku jalani sampai aku sekarang di titik seperti sekarang ini!”


“Manusia sepertimu hidup dengan sempurna, bahkan kamu tidak pernah mengerti bagaimana rasanya tumbuh tanpa orang tua.


“Orang tua yang saing membunuh tepat di depan matamu sendiri hah, hanya untuk mempertahankan keegoisannya yang sudah merusak segalanya ini, sekalipun Alberto Colliettie masih hidup?” seru Evans.


Tangan Evans yang mencengkeram terasa bergetar di tubuh Alea. Wanita itu hanya diam seraya menatap Evans di depannya yang terlihat bila pria itu tengah membuka lukanya.


“Apa kau tidak membayangkan, seorang anak laki-laki yang begitu merindukan ibunya di mana ibunya tidak pernah peduli.


Seorang ibu yang tega meninggalkannya demi anak haramnya, sampai dia memilih mati hanya untuk melindungi anak haram itu, hah….”


“Seorang ibu yang rela menembak darah dagingnya sendiri demi membela anak haramnya…”


"Kau tidak tahu semuanya bukan? Apa yang aku rasakan ini begitu menyakitkan. Kau tidak pernah mengerti Alea.”


“Di saat aku membunuh anak haram itu, ibuku lah yang akhirnya membunuhku. Dia menembakku tepat di jantungku!” seru Evans keras di wajah Alea/


“Apa kau aneh, kenapa kau masih bisa hidup seperti sekarang ini, hmm?”


Mereka saling bersitatap, tangisan Alea semakin deras akan apa yang baru saja dia dengar.


Perkataan itu seolah Alea merasakan luka hati seorang Evans Colliettie yang sebenarnya.


“Jadi—” batin Alea.


“Evans ditembak oleh ibunya sendiri, demi melindungi anak yang lain?” gumam Alea pelan.


Evans tertawa sarkas penuh penderitaan. “Kau tahu dia.” Evans menunjuk Mika.


“Dia mesin pembunuh yang setia pada seseorang yang sejak kecil membesarkannya dengan kuat, hingga dia menjadi alat untuk menghasilkan banyak uang demi memenuhi ego nya untuk mencapai tujuannya.


“Setelah dia tidak berdaya, orang itu membuangnya begitu saja tanpa belas kasih. Apa kau mengerti perasaanku?”


“Kau sama sekali tidak tahu bukan kenapa aku menjadi seperti ini? Apa kau biasa membayangkan keadaan aku ketika menemukannya?”


Pria itu menarik sudut bibirnya ke samping dan memberikan sharingan devil. “MENGENASKAN!”


“Dan kau benar. Aku memang monster yang mengerikan Alea dan sejak awal harusnya kau sudah tahu akan hal itu!” desis Evans.


“Tidak ada yang bisa mengubah takdir yang serupa iblis, ini. Jika aku lemah, maka aku lah yang akan mati.


“Orang-orang dengan senang mengincarku ketika mereka tahu kelemahanku.


“Hati nurani hanya akan membuat rasa sakit hati dan aku sudah menguburnya sejak lama!”


Evans terlihat terengah, Alea hanya bisa diam mendengarkan semuanya. Semua isi hati yang kesakitan itu diungkapkan langsung dari seorang, The Black Rose.


Tiba-tiba Evans menurunkan kepalanya dan berbisik di telinga Alea.


“Dan kau tidak pernah akan merasakan, bagaimana kamu dipeluk oleh kesakitan selama bertahun-tahun kau tumbuh!”


Kasih Thor coment, Like dan hadiahnya sekebon dong. Thor update satu lagi deh, hehehe...Terima kasih