
Pekerjan demi pekerjaan telah Alea selesaikan, hingga Alea menunggu waktu jam makan siangnya di mini kebun binatang milik Evans.
Kakinya mengayun di udara dengan tubuh kecil itu duduk di bangku kayu dekat binatang peliharan Evans.
Alea melihat para harimau yang berjalan lalu lalang, ke sana kemari dengan menujukan taringanya yang pajang kepada wajah Alea, namun tidak sedikit pun Alea takut ditikam oleh binatang buas itu.
Romeo mengamati wanita malang itu dari jarak yang lumayan jauh, sudah dua hari ini tepatnya Romeo kehilangan senyuman wanita polos itu yang membuat hari-hari pria paru baya itu serasa berarti akan kedatang Alea yang mengubah hidupnya perlahan.
Romeo menghampiri wanita malang yang duduk di bangku tampa rasa takut. Ia menepuk pundak Alea yang terlihat murung dengan tatapan kosong di depanya.
Ada apa sebenarnya dengan wanita malang ini?
karena tidak pernah sedikit pun wanita itu bercerita kepadanya jika mendapat masalah. Alea hanya diam dengan Romeo yang sudah tahu dari tangan dan kaki Alea yang selalu terdapat luka.
Apa wanita itu akan menyerah begitu saja?
“Kau kenapa melamun di sini? Apa kau tak takut harimau Tuan Evans memangsamu?”
Alea menggelengkan kepalanya pelan ia terlihat tidak bersemangat, Romeo tahu itu.
“Kenapa kau cemberut seperti itu Ale? Jika kau ada masalah dengan para wanita jalang Tuan itu kenapa tidak kau ceritakan kepadaku.
"Berbagi cerita bukanya akan membuat terasa lega, meski aku tidak bisa membantumu?” tanya Romeo pada Alea.
Alea terlihat menghela napas sejenak, dengan posisi yang sama sejak tadi tampa menoleh pria paru baya itu duduk di sampingnya.
“Aku hanya rindu pada keluargaku, ayahku, adik-adiku dan sahabat-sahabatku saja paman pasti mereka di sana sedang mengkhawatirkan aku yang tak ada kabar saat ini!” ucap Alea pelan.
Namun Romeo bisa mendengar perkataan Alea itu, yang tengah merindukan keluarganya.
Dengan anggukan pelan Romeo paham dengan Alea yang tengah merindukan keluarganya di sana, karena wanita malang itu hampir satu bulan berada di mension Evans Colliettie, The Black Rose.
“Kau telephone saja keluargamu dan mengatakan jika kau baik-baik saja?!” usul Romeo pada Alea yang sangat mustahil itu.
Alea mendengus nafas panjang. Bagaimana caranya Ia bisa menelepone pada keluarganya?
Ponselnya saja pun berada di tangan Tuannya.
“Sudahlah paman itu tak mungkin terjadi karena ponselku berada di tangan Tuan. Baiklah aku akan menyiapkan makan siang untuk para wanita jalang Tuan. Aku duluan paman.”
Alea melambaikan tangan ke udara dan meninggalkan kebun binatang milik Evans.
‘Dasar gadis malang terlalu lugu dan terlalu polos, tetapi hanya gadis itulah yang selalu bersikap sopan kepadaku,’ lirih Romeo menatap punggung Alea yang sudah berada jauh dan melewati ambang pintu.
***
Alea yang sedari tadi berubah diam membuat Berta, Bryan dan juga Jonathan menatapnya heran.
Wanita cantik yang terlihat pendiam namun senyumanya yang selalu melengkung indah membuat ketiganya berkerut dahi.
“Kau sedang sedih yah? Aku bawakan segelas susu hangat untukmu?!” tanya Jonathan meletakan secangkir susu putih hangat.
Namun Alea masih saja diam dan sibuk menaruh perlatan makanan yang ia letakan di dalam trolinya.
“Kau sedang pms yah?” tanya Antony melihat Alea yang tidak biasa.
Kedua pria itu menatap Alea dengan heran.
Alea menoleh sebentar pada Antony dan juga Joe dengan memonyongkan bibirnya.
Alea baru tahu jika Antony pun sama seperti dia sebagai pelayan yang khusus untuk memberikan makanan kepada para semua penjaga di mension ini, dan pria paru baya itu yang tak lain suami dari wanita paru baya yang selalu baik kepadanya, Berta.
Kedua pria yang melihatnya pun hanya bisa tertawa akan bibir Alea yang meruncing.
“Kamu ini!” sela Berta menepuk tangan Antony yang menjahili wanita malang itu.
“Makan dulu sebelum kau bekerja, karena tadi pagi sarapanmu sudah keluarkan lagi karena ulah Mikaela,” pinta Berta.
Wanita paru baya itu selalu mengingatkan Alea.
“Aku belum lapar Berta nanti saja, jadi nama wanita tangguh itu Mikaela?” tanya Alea.
Semua orang mengangguk, wanita kejam itu memang bernama Mikaela Martine.
“Kalian sedang membicarakan aku hah?” tanya wanita di ambang pintu dengan tatapan tajam pada para pria di dalam sana.
Antony dan Joe pun langsung menunduk dan pergi ke tempatnya masing-masing sedangkan Berta menempuk tanganya wanita dingin tersebut agar wajahnya yang terlihat kejam itu tolong di sembunyikan dulu.
“Sudahlah mereka hanya mengangguk karena memanggil namamu Mikaela.”
“Oh, Ale ke mana?”
***
Prank!!!
Alea tampak menghela napas melihat tingkah laku wanita jalang Evans itu yang selalu menguji di setiap harinya.
Dengan terpaksa Alea berjongkok untuk membersihkan pecahan gelas yang terruai di lantai. Kenapa wanita jalang Evans itu selalu bersikap bar-bar kepadanya.
“Arghhh!” rintih Alea menahan sakit di jari tanganya.
Karena injak hills oleh wanita jalangnya Evans dengan sengaja.
Terlihat tidak puas dengan itu, Carla mengguyurkan orang jus ke atas kepala Alea yang sedang berjongkok di depanya.
“Apa-apan Carla? Apa salahku?” tanya Alea mengengadahkan wajahnya menatap Carla.
“Cih! Kau tak tahukah apa salahmu hah?” tanya Carla dengan tangan kananya menjambak rambut panjang Alea.
Namun injakan kaki itu belum terlepas dan masih menekan keras tangan Alea di bawah sana yang sudah terdapat darah segar mengalir.
Keempat wanita jalang lainya tidak ada yang menolong kekejaman Carla.
Mereka telihat cuek dan tidak mempedulikan akan kelakuan Carla yang seperti itu.
“Kau itu adalah srigala berbulu domba. Wanita sok polos, namun penuh licik?”
“Apa maksudmu?” tanya Alea.
Ia tak mengerti akan ucapan Carla yang menuduhnya seperti itu, dengan Alea menahan tangan Carla dan mencoba melepaskan tangan Carla yang menjambak rambutnya.
Tangan kirinya yang masih bisa mencapai tangan Carla walau di rasa sakit yang amat nyeri akan injakan kaki Carla yang belum melepaskan tanganya.
“Aku tahu rencanamu hah? Jangan sok polos kau?” decak Carla terlihat murka kepada Alea.
Bahkan Alea sendiri tidak tahu menahu apa salah dirinya pada Carla. Dan apa maksud srigala berbulu domba?
“Lepaskan dia Calra?!” ucap wanita di depan sana terlihat tajam dengan sorotan mata yang membunuh ya, wanita itu yang tak lain Mika.
“Ohh wanita tangguhku apa Tuan memanggilku saat ini?” tanya Calra.
Ia pun melepaskan cengkramanya dan beranjak mendekati Mika yang di samping pintu.
Mika terlihat murka pada Carla dengan sikapnya yang selalu melukai Alea.
“Ck…apa Tuan sesiang bolong ginih dengan terik panas yang menyengat sepert ini butuh sex darimu?”
Keempat temanyapun tertawa terbahak-bahak akan jawaba Mika yang benar adanya.
Di cuaca panas seperti ini mana mungkin seorang Evans Colliettie membutuhkan kehangatan.
“Barangkali saja!” ucap Carla kembali duduk di kursinya dengan anggun.
Mika melihat Alea di bawah sana yang sedang membersikan ulah wanita jalang itu.
Dengan penampilan Alea yang terlihat kacau, rambuk acak-acakan dengan tangan yang berdarah kembali.
Tetapi Mika tidak menunjukan wajah pedulinya kepada Alea, apa lagi siapapun saat ini. Entah kenapa Mika merasa hari ini tidak merasa baik.
“Ale kau di panggil Tuan sekarang?”
Calra terbelalak mendengarkan wanita tangguh yang sering Carla panggil itu. Carla mencoba mengerjapkan mata bahwa pendengaranya masih normal dan terdengar jelas.
Jika serigala berbulu domba itulah yang di panggil Tuan siang bolong seperti ini.
Carla mendengus kesal menatap tajam Ale yang langsung berdiri dan meninggalkan mereka ketika makan siangnya.
“Awas kau Ale,” lirih Calra mengepal tanganya dengan erat.
Alea berjalan di belakang Mika, setelah wanita cantik itu meminta Ale untuk merapihkan rambutnya yang kusut dengan penampilan yang berantakan akibat ulah Carla.
Bahkan dirinya belum sempat mengobati tangan kanannya yang terdapat darah akibat pecahan kaca yang di sengaja oleh Carla.
Alea melihat punggung wanita cantik itu, kenapa wanita cantik itu kini berubah dingin kembali, tidak ada senyuma ketika Mika selalu menjahilinya yang ada saat ini hanya wajah Mika yang datar seperti pertama kali Alea bertemu dengan Mika.
Mika dan Alea berjalan ke ruang utama. Dengan Alea menoleh ke depan dari jarak yang jauh, melihat seseorang yang terhalang oleh tubuh Mika di depanya.
“Siapa orang itu?” gumam Alea, penasaran dengan wajah seseorang di depan sana.
“Apa orang itu malaikat yang Tuhan kirim untuk menolongnya?’ tanya Alea dalam hati.
Langkah kaki Alea terhenti melihat sosok orang yang tentu Alea kenal di depan matannya, yang menatap Alea dengan lekat.
"Kau akan membebaskanku?"
Bersambung...