
“Kenapa kamu berkata seperti itu?”
“Karena aku tahu gaun cantikmu itu hancur kan?”
Bola mata Alea mendelik seraya menatap Bryan.
“Kamu tahu dari mana, Bry?”
Pria muda itu menarik napas sejenak dengan sudut bibirnya yang tertarik ke samping memberikan senyuman tampannya pada wanita cantik di depannya.
“Aku mendengar kamu menangis ketika aku mencarimu dan kamu berada di dalam kamar.”
“Dan aku melihat beberapa helai gaun hitam yang tercecer di lantai.”
Alea lekat pandangi Bryan. “Aku ingin mengajakmu makan malam, tapi itu semua…”
Alea membuang napas berat. “Sudahlah, mungkin itu bukan rezekiku mendapatkan gaun cantik itu.”
Bryan mengangkat satu tangan Aretha dan meletakkannya di bahunya sementara satu tanganya sendiri menarik pinggang Alea agar tubuh mereka lebih dekat lagi.
“Kamu sedih karena itu bukan?”
Alea diam dengan helaan napas sementara Bryan berikan senyuman lagi pada Alea.
“Aku janji padamu. Aku akan membelikan gaun yang cantik untukmu.”
Alea tersenyum tipis. “Jangan membual, Bryan. Kamu tidak bisa keluar dari sini untuk membeli sesuatu.”
“Ya. Tapi aku akan meminta tolong dengan orang Gudang yang sering mengantarkan bahan makanan pada kita,” ucap Bryan diiringi senyuman.
“Ah… Bryan,” seru Alea. Tubuhnya dipaksa secara serentak untuk berputar. Alea pun menepuk lengan Bryan diiringi pelototan.
“Kamu yah….”
“Oh. Astaga, Bry. Kita terlihat kayak orang gila berdansa malam hari seperti ini tanpa music lagi.”
“Lebih asik senyap begini Alea. Kita menari di atas cahaya rembulan. Anggaplah suara deburan ombak itu sebagai music kita,” jawab Bryan diiringi senyuman.
Dan Alea pun ikut tersenyum. “Jangan memusingkan apapun, anggap saja kita seperti orang sedang jatuh cinta.”
Senyuman cantik Alea langsung lenyap berganti dengan dengusan dan juga pelototan tajam.
“Kamu melakukannya lagi, Bryan.”
Bryan tertawa. Dia memang kembali membawa tubuh kecil itu untuk berputar dengan gemulai, bergerak pelan dimana Alea kini meletakan kepalanya di dada bidang Bryan.
Sementara kedua kakinya ikut bergerak seirama dengan Bryan. Alea mencoba menyamankan dirinya dengan menerima sebuah perhatian dan juga kehadiran pria lain di hadapannya ini.
Tanpa sadar setetes air mata pun jatuh di pelupuk matanya. Alea masih teringat dengan perkataan Evans yang masih membuat dadanya sesak.
Bryan tersentak kaget dan mengurai dekapan Alea.
“Hai…”
Alea memalingkan wajahnya, ke samping. Dia tidak ingin Bryan melihat kalau dirinya menangis.
“Kau baik-baik saja, kan?”
Alea menyeka air matanya. “i'm oke, Bry.”
Bryan menarik dagu Alea agar wanita itu mendongak dan mau menatapnya.
“Katakan padaku, ada apa?”
Alea memeluk erat. “Bry…”
“Ya, katakana Alea.”
“Seharusnya aku sadar diri bukan? Aku adalah pelayan di sini, kenapa aku begitu bahagia dan bersemangat ingin datang ke pesta mewah Tuan Leo.”
Bryan mengusap rambut panjang Alea lalu mencium puncak rambutnya. Pria muda itu mencoba menenangkan Alea yang tengah bersedih.
“Jangan menangis, Alea….”
Bryan mengurai pelukannya dan menangkupkan wajah cantik Alea.
“Jangan pernah menangisi hal yang sudah terjadi.”
Pria itu menghapus air matanya dengan kedua ibu jarinya.
“Kamu tidak salah.”
“Kita lupakan, yuk. Berdansalah denganku, lagi. Alea.”
Alea akhirnya tersenyum, dia pun menerima uluran tangan Bryan dan berdansa bersama. Mungkin dengan cara ini sedikitnya hati Alea terobati.
“Ya Tuhan, kamu Bry….”
Alea mengatupkan mulutnya menatap terkejut pada Bryan. Samping ruangan dapur yang biasa sering dipakai menyimpan troli makanan kini di sulap menjadi tempat yang cantik.
Meka kecil dengan berisi banyak makanan dan tak ketinggalan lampu lampu kecil membuat Alea tersenyum lebar.
“Kapan kamu menyiapkan hal ini, Bry?”
“Sudah cukup lama dan aku dibantu oleh Joe, tentunya.”
Bryan mengajak Alea ke meja tersebut dimana pemandangan gelap dengan ujung sana terlihat lampu kelap kelip rumah penduduk.
Pemuda itu menarik kursi dan mempersilahkan Alea untuk duduk.
“Terima kasih untuk makan malam yang indah dan cantik ini.”
“Sama-sama. Aku menyiapkan daging terbaik untuk jadi hidang makan malam kita.”
“Apa kamu mencurinya karena tentunya itu hanya untuk tuan?”
Bryan berikan cengiran. “Tentu aku memintanya pada Mika sekalipun aku harus beradu mulut dengan wanita dingin itu.”
Alea tertawa pelan, tentunya itu tidak mungkin bukan?
Semua makanan di sini boleh di makan kecuali kualitas terbaik yang sudah dikhususkan untuk sang empu pemilik mansion, Evans Colliettie.
Alea tertawa riang makan bersama dengan Bryan hingga tak terasa waktu semakin menggelap dan jam sudah menunjukan angka satu.
Alea pamit untuk kembali ke kamar setelah mengucapkan terima kasih dengan kejutan kecil yang diberikan oleh pemuda itu.
‘Ada rasa lega kali ini yang Alea rasakan ketika sejak pulang dari pabrik dia menangis karena mendapati gaun cantiknya yang rusak.
‘Siapa itu?’ kata Alea dalam hati.
Sepintas bayangan seseorang berjubah merah berjalan tidak jauh dari dimana Lorong yang Alea lewati. Alea mempercepat langkahnya dan mengikuti seseorang tersebut.
“Mencurigakan sekali tengah malam berkeliaran sendiri di belakang mansion.”
Alea mengernyit kening ketika seseorang itu seolah membawanya ke tebing curam tempat di mana dulu Alea pernah datang ke sini bersama dengan Bryan.
Tempat di mana Evans membuang mayat, begitu juga maya Gina selingkuhan Mike.
“Aku harus melapor pada tuan. Ya, harus. Gerak geriknya mencurigakan sekali. Tetapi—”
Alea terdiam namun tak mengurangi langkah dan pandangannya menatap seseorang tersebut.
“Kalau aku lapor takutnya itu jubah merah menghilang nanti ujung-ujungnya aku dikatain tengah membual tengah malam lagi,” gerutu Alea di dalam hati.
Mencoba mencari bukti, barangkali orang itu adalah orang yang meresahkan dan meneror dirinya selama ini. Alea memutuskan untuk mengikutinya seraya membawa barang buktinya nanti.
“Dia mau apa berdiri di pinggir tebing curam itu. Apa dia akan bunuh diri?” batin Alea lagi.
Kedua tangan Alea terkepal erat, berjaga-jaga orang takutnya orang itu tiba-tiba berbalik dan menyerangnya. Jadi sebelumnya Alea sudah waspada.
“Hai, siapa kamu….” Seru Alea seraya berjalan mendekati seseorang tersebut.
Orang berjubah merah itu diam. Alea menyentuh punggungnya dan tak lama bola matanya terkejut ketika melihat seseorang itu menodongkan pisau di lehernya membuat Alea tidak bisa bergerak.
Lebih terkejutnya lagi bahkan dia tidak percaya akan siapa yang saat ini berada di depan matanya dengan pandangan marah.
“Kamu….”
Orang itu tersenyum miring, tanpa lepas bola matanya menatap Alea dan tak lepas pisau itu di tunjukan tepat di depannya.
“Apa kamu terkejut hmm?” jawabnya dengan seringaian.
“Kamu terkejut bukan kenapa aku ada disini, hmm?”
Entah sejak kapan posisinya kini berubah berbalik?
Dan sejak kapan orang itu bergerak dengan cepat hingga kini Alea seperti seorang Sandra.
“Apa itu kamu yang sudah berulah selama ini di mansion ini?”