Mafia And Me

Mafia And Me
Bryan Mati!



“Bagaimana dengan nasib Carla di bawah sana?”


“Sudahlah sebaiknya jangan bicarakan hal itu,” sela Kelly pada temannya.


Wanita berambut bolde itu menarik napas sejenak.


“Sudah tiga hari wanita sombong itu masih dikurung di bawah sana. Aku hanya kasihan saja,” ucap Juliana seraya menatap Alea tajam.


Wanita bodoh itu berdiri di sampingnya, setelah kejadian itu kini semua kembali tenang dan Alea pun sudah tidak akan bertindak bodoh lagi. Dia pun sudah tidak ingin membuat Evans marah.


Seperti inilah keadaan, dia harus terima dengan cibiran yang diberikan oleh peliharan Evans yang lainnya.


Yang Alea bingungkan di sini adalah sikap Ruby yang kembali pada mode awal. Wanita itu seperti tidak mengenalnya.


“Tidak ada Carla itu setidaknya menguntungkan bagi kita bukan, sekarang tuan jadi sering memanggil kita secara bergantian,


"bukannya dulu wanita sombong itulah yang sering melayani, tuan?” ujar Ariana yang dianggukan temannya. Tetapi, tidak dengan Ruby yang masih terfokus pada kertas gambarnya.


“Huuhh, rasanya ruangan ini damai tanpa ada wanita itu. Telingaku adem sekali tidak mendengarkan ocehan yang tidak enak di dengar bukan?” kata Kelly yang dianggukan kedua wanita tersebut.


“Nyaman rasanya hidup ini tanpa Carla,” sahut Ariana.


“Eh, eh, aku dengar tuan sedang mencari pelaku perusak mawa kesayangannya.


"Padahal ya, bukti satu-satunya itu adalah cctv dan si pelaku sepertinya sudah handal dengan hal itu sehingga aksinya tidak diketahui,” ujar Ariana. Ketiga wanita itu langsung menatap tajam Alea.


“Seharusnya tuan tidak usah repot mencari pelakunya lagi karena sudah jelas bukan siapa pelakunya?” sambungnya lagi dengan menatap benci pada Alea.


Alea menulikan telinganya untuk tidak mendengarkan ocehan mereka.


“Oh, astaga. Aku sangat merindukan chef ku. Bagaimana nasibnya pria itu di penjara bawah tanah yang gelap dan juga menakutkan,” tanya Kelly pada dua temannya.


“Apa Bryan akan mati di tangan tuan?”


“Entahlah, aku tidak tahu bagaimana nasib pria muda nan tampan itu,” sambung Juliana merasa iba dengan chef di mansionnya.


‘Bryan tidak akan mati, aku akan memohon bila suatu hari Evans membunuh pria itu.


Bunyi suara pintu membungkam keempat wanita itu dari obrolannya. Alea menoleh sejenak ketika pintu tersebut di bukan dan muncul Mika yang kini berjalan mendekatinya.


“Ada apa Mika, apa Tuan memanggilku?” tanya Kelly berdiri dengan wajah senang.


Wanita berkepang itu berharap tuannya akan memanggilnya dan meminta disenangkan.


“Ya. Tuan memanggilmu, Kelly.”


Wajah Kelly berseri senang, dia menatap ketiga wanita itu seolah mengatakan kalau dia akan memenangkan hati tuannya.


“Dan kalian semua tentunya di panggil tuan,” sambung Mika.


Senyum Kelly lenyap dan diganti dengan bibir yang mengerucut sementara ketiga wanita itu cukup berikan tawa pada Kelly yang terlalu percaya diri.


“Jika kalian sudah selesai makan, kalian semua ke ruangan kerja tuan.”


“Ruangan kerja, untuk apa?”


“Astaga. Aku pikir kita semua akan dibawa ke ruang bermain. Mungkin tuan butuh kita berempat gitu,” kata Arianna pada Mika.


Mika tak menanggapi ocehan wanita tersebut. “Sekarang ikut aku, kita kesana sekarang.”


“Baiklah, aku bersedia, Mika,” ucap Juliana, senang.


Tentu, bertemu dengan tuan tampan seperti Evans membuat dirinya senang walau hanya melihatnya saja.


Alea merapikan piring dan gelas yang kotor. “Kau juga ikut, Alea.”


“Aku?”


“Ya, kamu. Ikutlah dan biarkan saja itu. Sudah tidak ada waktu lagi, tuan ini bertemu dengan kalian semua,” ucap Mika yang dianggukan Alea.


Sejenak, Alea menghela nafas pelan dan mengikuti langkah mereka menuju area pribadi Evans.


Adanya, Bryan dan juga Carla di dalam sana. Ah, tidak hanya dua orang yang ditahan di bawah penjara itu melainkan ada Berta, Anthony, Joe dan juga Romeo yang berdiri tepat di depan meja kerja Evans.


“Bryan,” ucap Alea pelan. Kedua matanya yang menatap seolah isyarat rindu pada pria itu begitu juga Bryan, sama.


Pria itu tersenyum manis menatap Alea. “Kamu baik-baik saja kan?” ucap Alea dengan Bahasa bibir.


Bryan berikan anggukan pelan. “I’m ok,” ucapnya Bryan pelan.


Mata elang itu menatap lekat dua orang di depannya, sepasang kekasih yang sudah dipisahkan pun masih saja bisa berinteraksi.


Namun, Evans membiarkan kedua orang itu seraya dia mengusap senjata kesayangannya yang sudah lama tidak pernah dipakai.


“Semua sudah berkumpul, Tuan.”


Mika memecahkan keheningan di ruangan kerja Evans, pandangan Alea sontak pada sosok yang duduk di depannya itu.


‘Sejak kapan dia ada di sana?’ batin Alea.


Dada Alea berdebar pandangi Evans. Kenapa wajah yang rupawan itu sangat mengerikan, ini lebih mengerikan seperti yang biasa Alea lihat.


“Apa kau cukup menikmati masa hukumanmu di bawah sana, hmm?”


“Ya, Tuan.”


“Apa kamu siap kembali ke tempat tidur denganku?”


Astaga, pertanyaan apa ini. Bila Evans ingin bernostalgia dengan wanita kesayangan itu bisakah cukup dia memanggilnya saja tidak harus di pertunjukan di sini?


‘Sepertinya Carla lah yang akan menjadi Nyonya Colliettie,’ batin Alea.


Carla tersenyum bahagia. “Saya sangat siap, Tuan. Kapanpun anda inginkan saya bersedia.”


Alea rasanya ingin muntah mendengarkan pembicaraan mereka, tentunya pembahasan mereka pada ranjang lagi, bukan?


“Jika kau melakukan hal yang aku benci seperti kemarin. Aku tidak akan segan menghukummu yang lebih berat lagi. Kau paham?”


Carla mengangguk cepat, tentu dia tidak akan bersikap bar bar seperti kemarin sekalipun dia ingin memberikan perhitungan pada pelayan menyebalkan itu.


Pandangan Evans kini beralih pada sepasang kekasih di depannya.


“Dan kalian berdua. Masalah kita belum selesai di sini, kalian masih menjadi tersangka utama di sini sampai aku menemukan pelaku yang sebenarnya dan juga barang bukti.”


Alea dan Bryan hanya bisa diam, sekalipun keduanya memang tidak pernah melakukan apapun. Bryan cukup santai menanggapi berbagai ancaman Evans sementara Alea hanya bisa pasrah.


“Tuan punya pengumuman di sini untuk kalian,” ucap Mika setelah pembahasan perihal dua orang itu selesai dibahas.


Alea kembali menaikan pandangannya lalu menatap Evans kembali sementara pria itu masih sibuk dengan benda kesayangannya itu.


“Aku sangat jatuh cinta pada senjata ini, meski kelihatan kuno tetapi ini lebih mematikan daripada yang aku punya.”


Evans menjeda, pandangannya pun beralih pada semua orang yang berdiri di depannya.


Evans menarik sudut bibirnya ke samping. “Bahkan aku lupa sudah berapa banyak nyawa yang sudah melayang karena benda cantik ini,” sambungnya seraya menghunuskan senjata tersebut.


Tidak ada yang berani menyela pembicaraan sang devil, semua tunduk takut bila Evans sudah memegang senjata api.


“Aku ingin tahu, apa benda ini masih berfungsi dengan baik setelah sekian lama aku simpan. Satu peluru saja sudah cukup untuk menguji bila benda ini masih berfungsi.”


Bola mata Alea membulat, di saat ketegangan seperti ini di mana Evans menghunuskan senjatanya ke arahnya, mendadak hanya menelan salivanya saja begitu susah.


“Akhir-akhir ini mansion ku terlihat kacau. Aku akan menegaskan kembali pada kalian semua, bila kalian masih ingin hidup di sini—” ada kalimat yang terjeda. Sorot mata Evans begitu tajam menatap Alea.


“Jangan pernah membuat masalah, kalian harus tunduk dan patuh dengan peraturanku di sini. Apa kalian paham?” tanya Evans pada beberapa orang di depan yang langsung mengangguk paham.


“Mulai detik ini, aku akan memberikan tugas baru untuk Alea.”


“Tugas baru? Apa itu Tuan?”