
Flashback On.
23.40 Napoli, Italia.
Malam yang begitu sunyi tidak ada aktifitas kembali di mension megah saat ini.
Malam yang dingin ini hanya ada suara desiran ombak yang terdengar. Namun wanita itu tetapi betah duduk di jendela kacanya, memandang langit yang indah di atas sana dengan bintang-bintang yang menghiasinya di langit.
Diam di malam sedingin ini jauh lebih baik dari pada meruntuki nasibnya saat ini. Malang nasibnya saat ini, bahkan keinginan Alea melupakan sesuatu jejak merah di dadanya pun tidak bisa.
Alea selalu teringat dengan jejak merah ini yang entah siapa yang melakukanya. Kenyataan untuk mengelak pun ternyata tidak bisa. Alea tidak bisa melupakan dengan semudah itu.
Bahkan Alea selalu berpikir sendiri, betapa kotornya tubuhnya, ketika melihat jejak itu berada di tubuhnya. Kecewa sangat. Alea kecewa dan entah siapa yang melakukanya Alea pun tidak tahu dan tidak ingat.
Diusapnya jejak itu oleh tangan kananya, begitu terlihat masih kental warnanya walau sedikit memudar.
“Siapa sebenarnya yang memberiku jejak sialan ini!” Alea melihat cermin yang memantulkan dirinya dengan atas tubuh Alea yang sedikit terbuka memperlihatkan jejak itu di depan sana.
“Sungguh aku terlalu bodoh tidak bisa menjaga diri!”
Alea memejamkan kedua matanya Alea. Keingin untuk pergi sejenak menghirup udara bebas di luar sana. Bukan udara yang besar ini karena angin laut terlihat sedang kecang.
Alea dengan diam-diam menyelinap keluar dari kamarnya, membuka pintu besar itu dengan perlahan lalu lekas menguncinya kembali.
Alea tidak ingin mendapatkan masalah karena kelima peliharan itu kabur karena aksinya ini. Alea berjalan yang mana tadinya ia ingin menuju dapur.
Namun entah kenapa langkah kakinya mengarah ke sebuah taman yang sudah dijelaskan oleh Mika untuk tidak ke sana dan itu dilarang keras!
Tetapi langkah kakinya itu ingin sekali menghampiri taman yang dilarang itu. Kini kedua kakinya berada di depan taman, dengan terkejut Alea menatap taman hijau yang tinggi yang Alea lihat tadi siang, rasa penasaranya menjalar dipikiranya yang ingin mencoba masuk ke dalam sana dan…
Alea terkesiap mengatup rapat-rapat bibirnya ketika melihat mawar hitam yang tumbuh sumbur di depan matanya, sama persis akan cerita Ryander jika Evans Colliettie The Black Rose memiliki mawar hitam di mansionya.
Alea terkagum melihat mawar hitam di depan matanya.
"Mawar hitam ini menandakan sang pemilik yang gelap dan kejam, tetapi kenapa ada mawar putih juga? Apa Maksud dia? Bersih seperti terlahir kembali? tidak mungkin secara dia sangat…"
Alea berhenti berbicara sendiri, yang mana ia tidak ingin mengatakan semua kegelapan dari Devil itu.
“Ah sudahlah tak penting juga untuk aku mengungkapkan sang pemiliknya yang sudah dilambangkan oleh bunga mawar hitam ini,” ujar Alea.
Ia melihat keindahan taman mawar hitam dan mawar putih yang mana ada sebuah patung wanita bersayap di tengah-tengah mawar tersebut.
Alea menatap mawar hitam itu dengan lekat seolah ia merenungi kesalahan dan kebodohanya yang sudah membawa dirinya sejauh ini. Berada di mansion seorang mafia kejam. Ingin sekali pikiran Alea tak mengingat akan Devil itu.
Alea ingin mencoba merilekskan pikiranya dengan hal-hal yang baik dengan dibentangkan kedua tanganya, menghirup udara yang sejuk serta dinginnya udara di malam hari ini.
Melupakan sejenak dan mengabaikan peraturan yang sudah wanita cantik dingin seperti tuanya itu akan larangan untuk berada di taman telarang ini.
‘Sebentar saja Mika. Aku berada di sini dan aku tidak akan lagi kemari. Aku Hanya sebentar saja berada di sini hingga detik-detik pergantian tahun baru yang akan tiba sebentar lagi,’ lirih Alea yang menyepelekan akan sebuat peraturan.
Alea teringat akan sebuah rencana kedatangannya ke London yang mana sudah Alea bayangkan merayakan pergantian tahun bersama dengan kekasihnya Mike Shander dengan cake dan ucapan dari sang kekasih.
Namun semuanya sirna akan kenyaatan pahitnya yang saat ini ia harus merayakan seorang diri di tempat yang cukup jauh dan asing baginya, terpenjara di sebuah mansion megah milik seorang mafia berbahaya yang tak lain Evans Colliettie.
Dwarrr!!!
Dwarrr!!!
Suara kembang api yang terdengar begitu menggelgar, seseorang di atas sana pun melihat kembang api di atas sana yang tampak indah.
Dengan menyungingkan senyuman seseorang di atas pun memanjatkan doa.
“Selamat ulang tahun anak kesayangku! Kau adalah hidupku nak!” ucapan-ucapan itu masih teringat di pikiranya hingga usianya saat ini dua puluh delapan tahun.
Bisikan suara lembut nan mengecewakan membuat dirinya geram dengan tidak ingin mengingat hari kelahiranya.
Ia menatap kesebuah taman mawar hitam dan putih itu yang mana ada sebuah patung wanita yang ia ibaratkan adalah malaikat pelindungnya yang dulu sangat mencintainya.
Pandanganya kini teralihkan oleh sosok seorang wanita yang berdiri di depan patung yang sedang memejamkan kedua matanya dengan ukiran senyumana manisnya di wajahnya dengan menggenggam kedua tanganya seraya sedang berdoa.
Ya, pria itu melihat wanita itu. Wanita yang sudah berani mendatangi tempat yang terlarang bagi siapa, bahkan tidak ada orang yang berani datang ketaman itu selain tukang kebun yang sudah ditugaskan untuk menjaga taman mawar hitam dan putih kesayanganya.
Dengusan dengan lirikan mata tajamnya menatap wanita itu penuh membunuh.
“Kenapa wanita itu berada di sana? Apa Mika tidak menjelaskan kepada wanita itu jika tempat itu dilarang?”
Ia menuruni anak tangga dengan jubbah tidur berwarna hitam yang menyapu lantai dan bidang dadanya yang terbuka dan tidak mengenakan sehelai pakain punhanya celana katun berwarna hitam yang ia kenalkan malam ini.
‘Selamat tahun baru dan selama ulang tahun Alea Anjanie,’ lirih Ale mengucap syukur akan Tuhan masih memberikan Alea umur sampai saat ini.
Digenggamnya kedua tangan Alea berdoa di depan kebun mawar hitam dan mawar putih yang tumbuh subur berdampingan yang mana ada sebuah patung wanita bersayap di tengah-tengah tubuh suburnya mawar hitam dan putih tersebut.
“Semoga tahun baru ini, aku bisa terlepas dari masalah besar yang sudah aku perbuat ini. Semoga Tuhan mengirimkan malaikat untuk menyelamatkanku dari neraka ini!” gumam Alea, berdoa kepada Tuhan dengan harapan dirinya bisa keluar dari Mansion megah milik devil berbahaya seperti Evans Colliettie.
Alea menginginkan kehidupan norma seperti dulu kala, bebas ke.mana ia pergi. Tidak seperti saat ini, dirinya terkurung dan terpenjara bersama devil, yang entah sampai kapan.
“Malaikat itu tidak akan bisa datang untuk menyelamatkanmu dari devil sepertiku!”
Tubuh Alea menegang, dengan kedua tanganya sudah bergetar.
“Apa kau setakut itu berada di dekatku hmm? bahkan kau terlihat tegar dan kaut tetapi….”
Pria itu mendekat tubuh Alea.
“Kau hanya wanita lemah dan bodoh!” terasa helaan nafas dari belakang tubuh Alea dan ia masih terdiam takut akan sosok di belakangnya.
“Dan selamat tahu baru dan Kau akan terpenjara di mansionku selama-lamanyai, Alea Anjanie.”
Rasanya sekujur tubuhnya melemas di tempatnya. Namun rasa pensaran siapa sosok itu, Alea sedikit memberanikan diri, berbalik dari posisinya.
Kedua matanya tersentak dengan refleks kedua tangan Alea sudah menutup bibirnya rapat-rapat. Alea melihat pemilik mansion ini berada di depan matanya.
Manik matanya terkunci akan sosok mata hijau keemasan di depan dengan wajah yang sialan Devil itu terlihat sangat tampan.
Evans mencoba mendekati Alea. Tubuh Evans sangat dekat dengan sedikit menyondongkan wajahnya mendekat manik mata Alea yang masih menatap dirinya.
Gerakan dada Alea yang naik turun dengan debaran jantungnya berdetak cepat pun terasa oleh Evans yang masih menatap wajah pucat milik Alea.
Evans dengan sadar menyapu bibir merah muda Ale dengan lembut. Evans memejamkan kedua bola matanya menghayati dan menikmati bibir ranum wanita di depanya walau Evans rasa wanita itu tidak meresponya.
Evans memperdalam ciumanya, dengan tangan kekar itu menarik pinggang wanita itu hingga menempel di tubuh kekarnya.
Aroma masukin yang masuk dalam indra penciuman Alea pun seolah dibuat memabukan, Alea seolah tersihir dengan aroma tubuh sanga Devil.
Alea diam dengan kedua matanya yang masih menatap wajah Devil itu yang mencium bibirnya dengan lembut.
Evans mengeratkan ciumanya dengan kedua tangan kecil itu berada di dada bidang sang Devil. Sedikit mendorong tubuh kekar milik sang Devil dengan kiss the Devil yang memabukan.
“Kau tidak menikmati ciumanku hm?”
Evans melepaskan panggutanya menatap manik mata hitam itu yang masih setia menatapnya.
Evans memiringkan kepalanya, menghirup aroma tubuh Alea yang menegang di depanya, dengan Evans yang sudah menjatuhkan ciuman di leher jenjang Alea dengan kecupan di setiap inci kulitnya.
Ciuman demi ciuman Evans di setiap incinya membawa bibir itu berada di dada ranumnya yang sedikit terbuka.
‘Ale bangunlah…bangunlah dari kenyataan!’ teriak batin Alea akan sentuhan Devil yang sudah berada di depan dadanya menikmati tubuh Alea.
Di dorongnya tubuh kekar milik Evans untuk menjauh dan melepaskan panggutan Evans yang berada di depan dadanya dengan kaki kananya melangkah ke belakang.
“Arg…” rintih Alea.
Ia terkejut dirinya akan terjatuh dengan baju tidur yang ia kenakan terobek karena Evans menarik pakainya bukan tubuh Alea, dan memperlihatkan dada putih mulis milik Alea yang terekspos bra hitam yang Alea kenalkan.
Evans menopang tubuh Alea agar tidak terjatuh dari mawar hitamnya yang penuh duri. Kedua manik itu bertemu kembali.
Nafas Alea yang terlihat tersenggal-senggal dengan debaran jantung yang masih berdetak cepat.
“Sepertinya, aku akan mencabut perkataanku. Kau tidak akan menjadi pelayankku. Bagaiman jika kali ini aku menginginkan tubuhmu, Alea Anjanie?” ucap Evans dengan seringai Devilnya menatap wajah pucat Alea.
“A-Apah?”
Alea terbata-bata menatap Evans di depanya yang terdengar tidak biasa.
“Aku menginginkan tubuhmu Ale! Aku ingin kau berada di bawahku menghangatkan ranjangku setiap malamnya? Bagaimana?”
Denyutan kerasa menarik kepalanya. Benturan kepala yang Alea alami terasa masih sakit walau sudah beberapa hari peristiwa itu berlalu.
Bahkan Evans di depanya yang sudah mengatakan perkataan kepadanya pun tidak bisa Alea dengar dengan baik.
Alea mengerjapkan matanya menatap Evans seketika padangannya mulai buram, beberapa kali Alea mencoba mengerjapkan kedua matanya menatap mata indah itu.
Lagi lagi tatapan kosong Alea yang menatap wajah devil itu dengan tidak mendengarkan Evans di depanya yang memanggil namanya dan menepuk pipi Alea.
Tak lama pandanga Alea berubah menjadi gelap, pingsan.
Evans menopang tubuh kecil itu dengan melihat dada ranum itu yang memperlihatkan jejak merah.
“Tanda sialan itu!” gumam Evans melihat jejak pria tua Bangka brengsek itu memberikan jejak merah di tubuh Alea.
Evans lekas meraih ponsel di saku celananya dan menelpone seseorang.
“Mika, lekaslah ke taman sekarang juga!”
Flashback Off.
Bersambung...