Mafia And Me

Mafia And Me
KEPERGIAN PRADMA DAN SARA



" Tinnnnnnnnn!!!"


" Bughhhh......." Dan itu lah akibat dari ego yang di pertahankan, kini Sara dan Pradma tergeletak di jalanan.


" IBU....... AYAH........" Anyer dan Key berteriak histeris, tanpa pikir panjang, mereka berdua langsung berlari dengan gemetaran, dan begitu juga dengan Ria yang ikut berlari di belakang Anyer dan Key.


" Brummm....." Mobil yang menabrak Sara dan Pradma langsung melaju dengan cepat meninggalkan korban.


" Ibu..." Key sudah berderai air mata, ia tak kuat lagi untuk menopang tubuh nya sendiri, ia dapat menyaksikan dengan jelas bahwa Sara sudah berlumuran darah dari sekujur tubuh nya.


" Ayah...hiksss....hiks..." Anyer juga tak kuasa menyaksikan semua nya itu di depan mata nya sendiri, seorang Ayah yang sudah membesarkan nya meski tidak dengan kasih sayang, kini sudah tergeletak tak berdaya.


" Halllo.. terjadi kecelakan di jalan xx segera datang kemari!" Ria menelpon pihak rumah sakit.


"............"


" Tutt... " Ria mengakhiri sambungan telfon.


" Ibu....hikss...hikss.. hiksss" Key menggoncang goncangkan badan Sara.


" Ayah.... " Key juga menangisi Pradma.


" Anyer.... jangan begitu ayo berdiri, sebentar lagi ambulans akan datang." Ria memabantu Anyer untuk berdiri.


" Hikss...hikss...hikss... Ayah... Ri, Ayah...." Anyer menjadi bersandar di bahu Ria.


" Tenang lah, kamu tenang saja ya!" Ria memeluk sahabat nya itu.


Tidak lama kemudian, terdengar suara sirine ambulans, dan tampaklah ada dua ambulans yang datang.


Petugas tersebut langsung mengangkat Sara dan Pradma masuk ke dalam ambulans.


" Kami menyusul pak!"Ucap Ria.


****


***Di rumah sakit***


Kini Anyer tengah duduk di kursi ruang tunggu bersama Key dan juga Ria, dan seorang lagi yaitu pak Ren yang membawa mereka ke rumah sakit.


Sudah satu jam lebih mereka menunggu, namun dokter tak kunjung juga keluar dari dalam ruangan.


" Hikss...hikss... Ibu... Ayah.."Key terus menangis sedari tadi, hingga kini posisi Ria duduk di pertengahan antara Key dan Anyer, ia lah yang kini menguatkan mereka berdua.


"Niye...." Tampaklah sosok Evans yang baru datang dan menghampiri Anyer.


Anyer melirik ke asal suara, dan itu adalah sang suami. "Hubby.." Anyer langsung berlari dan langsung memeluk Evans dengan erat.


" Hikss...hikss... Hubby... Ayah... Hubby..." Anyer terus menangis dalam dekapan Evans.


" Sayang... tenang lah, jangan seperti ini, jika kamu seperti ini, itu sama saja kamu ingin aku mati! kau tau, setiap melihat air mata mu, aku seakan kehilangan semua kekuatan ku, jadi ku mohon jangan menangis lagi!" Evans menyeka air mata Anyer dan mengecup kening Anyer.


" Tadi itu...." Anyer hendak menjelaskan kejadian tadi pada Evans, namun dengan sigap Evans menggelengkan kepala nya.


" Tidak perlu kamu jelaskan sayang, aku sudah tau semua nya!"


" Darimana kamu tau Hubby?" Anyer masih tak percaya.


" Setiap sudut rumah kita di lengkapi oleh CCTV, jadi aku sudah melihat semua nya!"


" Jadi... tadi itu kamu sudah..."


" Jangan bilang bahwa kamu..."


" Tidak perlu di bahas!" Sela Evans dengan cepat.


Sementara Erdo dan Ria, mereka berdua berdiri bersampingan, kini mereka sudah sangat dekat, bahkan Erdo sedang menggenggam tangan Ria dengan erat.


" Kamu pasti ikut bersedih kan?" Bisik Erdo pada Ria, dan di balas anggukan oleh Ria.


" Tenang lah, kita menunggu dokter dulu!" Kini Ria bersandar di bahu Erdo.


Sedangkan Key? dia hanya bisa diam saja dalam tangis nya.


Beberapa menit kemudian dokter keluar dari dalam ruangan tersebut.


" Dokter...bagaimana keadaan Ayah dan Ibu saya?" Tanya Key dengan tidak sabaran lagi.


" Benar dok, bagaimana keadaan mereka? mereka baik baik saja kan?" Anyer juga ikut bertanya.


"Sebelum nya saya minta maaf, saya dan tim sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tuhan berkehendak lain, sehingga...."


" Apa maksud anda Dok?" Key seakan tidak terima.


" Maaf.... tapi itulah kebenaran nya, bahwa Ayah dan Ibu anda telah pergi untuk selama lama nya!"Ucap Dokter itu dengan berat hati.


Mereka semua hanya bisa diam dengan mulut menganga.


"Apa????" Key langsung berlari masuk ke dalam ruangan tersebut, dan benar saja Sara dan Pradma telah di tutupi oleh kain putih.


" Ayah....hikss...Ibu...hikss..." Key terus berteriak frustasi.


Dan entah dari mana, kabar telah sampai kepada Iras dan juga Pram, mereka juga datang ke rumah sakit tersebut, bukan hanya mereka berdua saja, tapi satu makhluk lain juga ikut datang, dia adalah Endra.


" Hiks....hiks.... Ayah.... Ibu..."Anyer menangis dalam dekapan Evans, bagaimna pun kelakuan Pradma dan Sara selama ini, namun rasa sedih tetap lah ada pada dirinya, rasanya berat untuk menerima kenyataan itu, di tambah lagi adik nya Key, yang telah kehilangan sosok dan juga Ibu, padahal Key baru saja tamat SMA, lalu dengan siapa ia seterusnya?itulah yang kini dalam pikiran Anyer.


" Anyer... maaf kan Mommy dan Daddy nak, kami datang terlambat!" Ucap Iras yang merasa bersalah.


" Hikss... tidak! Mommy dan Daddy tidak lah bersalah, ini sudah takdir!" Jawab Anyer yang masih menangis.


" Yang sabar ya nak!" Ucap Pram.


Anyer hanya bisa mengangguk saja.


" Sabar ya Mbak!"Ujar Endra juga.


Kemudian, keluar lah Key yang ikut mendorong tempat jenazah Pradma dan juga Sara.


" Ayah....." Anyer seakan kehilangan keseimbangan tubuh nya, dan saat itu juga.


" Sayang...."


Anyer pingsan dan untung nya ia masih dalam pelukan Evans, dengan segera Evans langsung menggendong Anyer dan membawa masuk ke dalam ruangan rawat lain.


***


LIKE,KOMEN,DAN VOTE^^


SALAM ^^