
“Aku ingin menukarkan kebebasanku, Evans!”
“What?” Evans tercengang diiringi mata yang menatap wanita bodoh dengan tatapan tak percaya.
“Aku ingin menukar kebebasanku!” ulang Alea lagi.
“Are you crazy, hah? Menukarkan kebebasanmu, hmm?” seru Evans, masih dengan pandangan yang sama.
Pria berwajah tampan rupawan itu masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.
Sementara Alea di depan sana berikan anggukan, meyakinkan Evans kalau perkataan itu benar.
“Ya, Evans. Kali ini aku ingin menukarnya. Tetapi, dengan satu permintaan, Evans!” kata Alea seraya menekan kalimat permintaan.
Evans yang tadinya berpikir kalau wanita itu bodoh, ternyata dibalik wanita itu ingin menukarkan kebebasannya ternyata ada sesuatu hal lain.
Evans berdecak lidah, dengan wajah yang menoleh ke belakang sejenak di mana Mika berdiri tidak jauh darinya dengan mata yang menatap padanya dan juga pada Alea.
“Apa permintaanmu, Alea!” Kedua tangan Evans masuk ke dalam saku celana nya, seperti bisa wajah Evans selalu sama datar dan juga tegas.
“Sampai kau menukar kebebasanmu.” Evans pandangi wanita itu dengan tatapan remeh. “Karena kesempatan itu tidak akan datang dua kali, Alea. Maka—”
Satu kaki Evans melangkah lebih dekat lagi pada wanita bodoh di hadapannya ini. “Berpikirlah baik-baik, karena kebebasanmu tidak akan datang dua kali!” tegasnya.
“Aku tahu itu. Aku sudah memikirkannya. Aku ingin menukarnya karena aku ingin menebus semua dosaku.”
Evans tertawa hambar dengan pandangan yang semakin menajam.
“Kau benar-benar wanita bodoh, ternyata Alea!” Evans masih dengan wajah yang sama, datar dan tanpa senyuman. Tak ingin berbasa basi dengan wanita bodoh Evans pun kembali bersuara.
“Sebutkanlah apa permintaanmu padaku sehingga kau menukar tiket emas mu itu!”
“A-aku…”
Alea menarik napas dalam-dalam sebelum dia mengungkapkan perminatanya pada pria kejam itu.
“Baiklah. Aku meminta padamu untuk sudi menanggung semua biaya hidup adik begitu juga dengan ibunya Ryander yang saat ini tengah menderita.”
Evans sukses tercengang dengan permintaan wanita bodoh itu.
Alea dengan berani meraih tangan iblis yang telah banyak membunuh orang itu. Dengan beraninya Alea menggenggam erat.
“Aku meminta tolong padamu, carikanlah donor jantung agar adiknya Ryander bisa terselamatkan dan juga aku meminta padamu tolong keluarkan ibunya Ryander dari penjara berikut juga biaya perawatan untuk kekasih Ryander yang mengalami gangguan jiwa.”
Evans melotot marah pada Alea. Apa wanita itu pikir dirinya panti sosial harus menuruti keinginan wanita bodoh yang membuatnya marah.
“Dan satu hal lagi, Evans. Tolong, berikan Ibunya Ryander pekerjaan agar mereka bisa melanjutkan hidupnya,” ungkap Alea pada iblis kejam yang menggertakkan giginya.
“Sebagai gantinya. Aku akan kembali ikut denganmu ke Napoli!”
Alea menatap penuh pada Evans yang masih diam tanpa beraksi apapun atas permintaanya itu. Alea tahu dengan jelas akan apa yang sedang dipikirkan devil itu.
“Kau—”
Evans dengan rahang yang mengetata dan juga tatapannya yang semakin tajam membuatnya ingin mengumpat keras akan permintaan Alea.
Lagi lagi, wanita bodoh itu berkorban demi teman-temannya yang jelas-jelas semua teman-teman Alea memanfaatkannya.
“Kau sadar dengan apa yang sudah kau katakan barusan?”
Alea melepaskan genggamannya lalu mendengus pelan.
“Tentu. Aku sadar!”
“Lalu apa yang membuatmu yakin kalau aku akan mengabulkan permintaanmu itu, hmm?”
“Aku yakin padamu Evans, kalau kamu akan mengabulkan permintaanku. Kau hutang nyawa padamu, tentu dengan hutang budi kamu akan melakukannya bukan!”
Dengan tak gentar dan mengusir rasa takut yang menyelimutinya, Alea tak gentar terus maju sekalipun dia tahu resikonya.
Evans menarik napas dengan satu tarikan. “Ck! Kau sungguh cerdik, Alea!”
Alea berikan senyum lebar, tentunya dengan cara itu Alea yakin kalau Evans akan mengabulkan keinginannya.
Evans selangkah lebih dekat lagi hingga menghapus jarak diantara mereka.
“Please, Evans. Kabulkanlah permintaanku. Aku rela mengabdi sampai ajal menjemputku kembali ke mansion!
Evans mendekatkan wajahnya untuk bertemu lebih dekat lagi. “Sekalipun aku membawamu ke nerakaku, hmm? Menjadi budakku?”
Hembusan nafas dengan aroma mint membuat konsentrasi Alea bubar jalan. Wajah tampan dengan hidung mancungnya bak mantra yang membuat Alea luluh lalu mengangguk.
“Lalu bagaimana bila kau menjadi wanita jallangku? Menghangatkan malamku.
"Apa kau yakin akan masih mau menukar tiket emas mu itu, hmm?” bisik Evans dengan seringaian devilnya.
Namun, perkataan itu sukses membuat wanita bodoh itu mendelik dengan ekspresi terkejut.
‘Apa wanita jallaang? A-apa a-aku harus?’ batin Alea tak lepas menatap manik mata indah Evans.
“Kau tidak ingin menjadi wanita jallangku, bukan. Alea? Maka jangan sok pahlawan untuk menukarkan tiket emas mu padaku!” tegas Evans kembali merubah posisinya dan bersiap pergi.
Tetapi, menjadi wanita jallang Evans pun bukannya hal yang sama saja, melakukan dosa?
“Huuhh. Sama-sama saja ternyata!” batin Alea.
“Aku ingin tahu alasanmu.”
Evans berbalik badan dan bertanya kembali pada wanita bodoh itu akan kegusaraanya ini. Tetapi, pertanyaan itu membuat Alea tersadar dari lamunannya.
“Alasan apa maksudmu?”
“Kenapa kau menyelamatkan iblis mengerikan sepertiku yang sudah menawanmu di sangkar emas. Hidup bagaikan di dalam neraka dan begitu juga dengan peraturanku!”
Alea diam. “Jika kau membiarkan aku terbunuh dan mati. Kau sudah berada di dalam pesawat satu itu dan hidup bebas tanpa kejaranku!” kata Evans seraya menunjuk pesawat satunya.
“Kau bisa berkumpul dengan keluargamu dan kau pun bisa mengunjungi makam ibumu. Bukan seperti ini menyedihkan—” Evans menunjuk penampilan Alea.
“Penampilanmu seperti ini dengan tubuh yang terluka apa kau tidak menghargai tubuhmu sendiri hmm? Memohon padaku untuk menjamin hidup mereka setelah apa yang sudah mereka lakukan padamu?!”
Evans yakin perkataan ini mampu menggoyahkan hati Alea agar wanita itu bisa berpikir lebih jernih lagi dengan permintaannya itu.
“Sebaiknya kau tidak harus menyia-nyiakan kesempatan langka ini, Alea karena aku tidak akan mengambil keputusan yang sama untuk kedua kalinya.
"Aku tidak ingin melihat penampakan wajahmu lagi di hadapanku. Jadi, pergilah dan hapus semua jiwa sosialmu karena kamu pun butuh kebebasaan!” ungkap Evans lagi.
Alea bungkam seraya mencermati perkataan Evans, meski itu benar. Tetapi, keinginan Alea itu tidak bisa dibantah lagi.
“Bahkan kau pun tidak sanggup bukan untuk menjadi budak penghangat ranjangku, Alea?!”
Alea tahu kalau perkataan Evans ini agar dia menarik semua permintaanya itu. Tetapi, tekad Alea sudah bulat untuk menebus kesalahannya.
“Kata siapa aku tidak sanggup, hmm?” Alea berikan senyuman lebar pada devil tampan itu.
“Aku akan mengikuti apa maumu, Evans. Asal kamu mau mengikuti semua permintaanku!” tegas Alea seolah permintaanya ini sudah tidak bisa dibantah lagi sekalipun devil itu mempengaruhinya.
“Kau yakin? Ck! Tubuhmu saja bergetar seperti itu.
"Aku tidak yakin kalau kau mau jadi budakku! Kembalilah ke Singapore untuk bertemu dengan keluargamu dan juga orang yang menyayangimu itu lebih baik dari pada kau berada di dalam nerakaku!”
Keinginan terbesar Alea tentunya dia ingin bertemu dengan keluarganya, tetapi saat ini ada prioritas yang lebih diutamakan.
Ada ketiga wanita yang hidup menderita setelah kematian tulang punggung keluarganya, dengan kenyataan yang menyakitkan dialah yang membunuh temannya sendiri tulang punggung dari ketiga wanita tersebut.
“Tidak masalah Evans. Aku hanya bisa ber semoga Tuhan mengampuniku dan memberikan satu kali keberuntungan bagiku lagi. Yang sekarang aku harus lakukan hanyalah untuk mereka.
“Karena aku tidak ingin sepanjang hidupku dihantui rasa berdosa yang tidak bisa dihapuskan kalau aku seorang pembunuh. Sekalipun Pembunuh teman baikku sendiri!”
“Kau—" decak Evans dengan tatapan nyalang. Wanita bodoh itu keras kepala.
“Sungguh wanita bodoh!”
Alea mendengus pelan. “Terserah apa yang ingin kamu katakana Evans. Aku sama sekali tidak peduli!”
“Ck! Sok berlagak seperti malaikat bersayap putih, hmm?” geram Evans karena Alea bersikeras ingin menukarkan kebebasaan dan itu tanda nya…
“Aku bukan malaikat seperti apapun yang kamu katakana Evans! Aku kini seorang pembunuh. Aku tidak akan hidup tenang bila aku membiarkan keluarga Ryander menderita karenaku.”
“Kau akan menyesalinya, Alea! Camkan itu!”
“Ya. Aku tahu. Tetapi, bisakah kamu tidak banyak bicara, Evans dan terus menyudutkanku agar aku menyerah.
"Tidak! Tekadmu sudah bulat! Dan tolong mulai detik ini kabulkan permintaanku dengan bebaskan ibunya Ryander lebih dulu!” pinta Alea setengah memerintah pada Evans yang langsung dibalas dengan pelototan.
“Kau memerintahku, hah?”
“Ayolah, Evans. Sudah tidak ada waktu lagi untuk berdebat denganku. Ini masalahnya genting.
"Tidak ada waktu lagi untuk segera menjamin kebebasan ibunya Ryander, Evans! Please, Evans cepatlah!” perintah Alea seraya menarik lengan kekarnya agar pria itu bertindak.
“Phlaeas ini tidak ada waktu lagi. Kamu pun harus mencarikan donor jantung yang cocok, keadaan adiknya Ryander tengah kritis, Evans dan harus lekas mendapatkan donor tersebut. Jadi—” Alea menghela nafas pelan.
“Lakukanlah sesuatu, Evans sekarang. Jangan diam saja!” seru Area.
Evans menatap nyalang dengan bibir yang berdecak. Dia tidak suka dengan wanita itu yang terus memerintahnya. Sejak kapan, seorang Evans Collliettie diperintah seenak udelnya seperti ini.
Apa wanita bodoh itu tidak takut mati. Alea bersemoga kalau dia tidak akan terlambat sekalipun dia kesusahan untuk meyakinkan Evans yang hanya diam dan menatapnya tajam.
Alea bergumam di dalam hati kejadian ini tidak akan terulang lagi dirinya yang memerintah dengan keras dan tegas pada seorang The Black Rose.
“Evans Colliettie, please sekarang!”
Alea terkesiap ketika Evans mencengkram lehernya dengan erat. Pria itu kembali mengabaikan luka perban yang melingkar di leher Alea.
Cairan kental berwarna merah itu pun merembes hingga membasahi satu tangan Evans yang masih melemparkan tatapanya nyalangnya.
Alea memegang kepalanya yang berdenyut hebat dan satunya memegangi pergelangan tangan Evans agar pria itu melepaskannya.
“Kau akan menyesali semua ini Alea. Camkan itu!”