Mafia And Me

Mafia And Me
Hari Kematian



Bandar Udara Heathrow, London.


 


Ryander dan Tiara sudah berada di dalam bandara,  keduanya mengantarkan Alea hingga Alea sudah chek in di Bandara. Tiara dan juga Ryander akan tenang jika Alea sudah berada di dalam dan selanjutnya ia akan pergi ke tempat pesawat itu berada sesuai dengan Gate yang tertera di tiketnya.


“Terima kasih kalian sudah menolongku dan mengantarkanku,” ucap Alea memeluk Tiara dengan mata berkaca-kaca mereka saling berpelukan.


“Sama-sama Ale, jika kau sudah sampai jangan lupa mengabariku yah?” pinta Tiara. Alea mengangguk dan tak lama Alea memeluk Ryander dan menitipkan sesuatu untuk disampaikan kepada sesorang.


“Jangan khawatir aku akan menyampaikannya, berhati-hatilah,” pinta Ryander.


“Kabari aku tentang Mike aku butuh kabar akan Mike saat ini.”


“Devil seperti dia pasti akan baik-baik saja Ale. Kau jangan mencemaskanya, kau harus menyelamatkan nyawamu terlebih dahulu, suatu saat pun Mike pasti akan mencarimu ke sana, hati-hati Ale.”


Tiara mengangguk setuju jika Mike pasti akan mencarinya Alea yang sudah tidak ada di sini pun.


Alea melambaikan sebelah tangannya untuk masuk ke dalam, melambaikan kembali melihat kedua orang itu yang sudah banyak membantunya.


Ia berjalan menuju gate yang akan jadi tujuan pulang ke Singapore menjalani kehidupan normal seperti dahulu.


'Apa aku bisa melupakan semua hal yang terjadi secara tiba-tiba ini, begitu mengerikan dan menakutkan,' lirih Ale menghembuskan nafas panjangnya berjalan menuju gate dengan memberikan tiket dan pasportnya kepada penjaga di depanya.


Alea duduk di salah satu kursi di samping dengan beberapa orang di depannya yang hendak pulang dengan tujuan yang sama.


"Kenapa aku tidak pulang ke Indonesia saja, bersama dengan keluargaku tetapi…” lirih Ale terhenti ketika mengingat perkataan Mike yang terakhir kalinya, meminta dirinya untuk pulang ke Singapore untuk sementara waktu karena Jeon akan menjagamu di sana, ucapan itu yang teringat di kepala Alea.


Alea mengaikat handsfree ke telinganya mendengarkan lagu dari ponselnya sambil bertukar pesan dengan Tiara jika dirinya sudah berada di gate dengan aman.


“Nona, bisa kau ikut denganku sebentar?”


 


 


Alea menoleh ke samping, melihat pria di sampingnya menakan pinggangnya dengan senjata api yang ia arahkan ke pinggangnya.


“Kenapa ada orang ini lagi berada di sini,” lirih Ale merasakan senjata di pingganya semakin menekan.


“Kau ikut atau aku bunuh di sini?” tanya dengan kedua matanya melihat kondisi di depanya.


“Baiklah,” ucapnya pelan dan pasrah.


Alea berdiri bersamaan dengan pria tersebut dan ada satu orang lagi di sampingnya yang sudah siap membawa kopernya mengikuti langkah kaki bersama dengan pria yang kini merangkul bahunya.


“Hallo bos, wanita itu sudah berada bersama kami. Baik.”


Hanya itu yang Ale dengar dari panggilan telpone yang entah siapa yang akan membawa dirinya kembali. Ginakah atau pria berhoddie itu?


Mereka tiba di pintu keluar, mencengkram tangannya lalu memasukan Alea ke dalam mobil yang berada di sampingnya.


"Haii babby, akhirnya aku menemukamu kembali milikku yang hilang," ucap seseorang yang Alea yakin pria ini pasti pria tua bangka yang diceritakan Ryander dan William.


“Ck…milikmu,” lirih Ale tak sudi.


Alea di paksa untuk duduk dengan pintu yang ditutup keras mobil pun melaju pergi dari bandara. Di dalam sana Ale menatapnya jijik, pria sudah berumur tetapi tingkahnya amat memalukan, mengusap pahanya dan menyandarkan wajahnya di bahunya.


Alea melepaskan sandaranya karena risih namun Santhos menariknya kembali memeluk Alea dengan paksa.


Betapa cantiknya wanita ini yang amat menggoda dirinya, aroma tubuhnya yang harum seolah menggoda dan mampu membangkitkan gariah yang menggebu-gebu.


 


“Lepaksan Tuan…” Alea mencoba melepaskan pelukan pria tua itu.


“Aku menginginkanmu di sini saat ini dan sekarang babby…”


“Cihh…aku tak sudi,” ujar Alea melepaskan cengkraman pria tua tersebut.


 


Alea menyepelekan tenaga pria tua bangka itu yang kini sudah mengkungkunganya dengan sekali tarik kancing-kancing baju kemaja Alea pun berjatuhan dengan memperlihatkan bra berwarna merah yang ia kenakan.  


Menghisap paksa akan sesuatu yang begitu indah di dada ranumnya, walau hanya sebelah pria tua itu sudah ingin mencengkramnya, paksan, ciuman dan tamparan di layangkan begitu saja oleh pria tua itu di wajah Alea karena selalu menolah sehingga membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.


 


Ale mendang pria tua itu hingga tersungkur di bawah sana. Kegaduhan akan Santhos yang sedang bercumbu di belakang sana pun tak bisa dielakan sopir dan anak buahnya sudah tahu akan sikap pria itu dan mereka hanya bisa berkonsentrasi dengan baik mengendari mobilnya untuk lekas menuju mansionya.


“Dasar jalang…”


Plak!!!


Santhos memukul kembali wajahnya dengan Ale yang membalasnya dengan menendangnya, ia harus bisa mempertahankan tubuhnya tak disentuh oleh pria tua Bangka ini.


Santhos menyodorkan pisau di depan wanita itu membrogol tangan Alea di sebuah pegangan mobilnya dengan bagian tubuh yang sudah terbuka. Santosh terseyum miring karena ia bisa melakukan aksi bejadnya pada wanita di depanya kali ini.


“Kau miliku babby aku sudah membayarmu dengan mahal puluhan Miliar yang mana wanita jalang itu menjualmu.”


“Cih…aku tak sudii…”


Santhos mendekat memaksa mencium bibir merah muda milik Alea yang menggodanya dengan penuh paksaan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


“Aku harus mendapatkanmu hari ini juga…apa lagi kau masih perawan aku akan memberikan kenikmatan tiada tara untukmu babby…”


“Ck…lepaskan aku,” pekik Alea.


 


Brugg!!!!!


Sebuah hantaman yang keras menerpa mobilnya dengan sekali hantaman mampu menyeret mobil itu jauh dan terguling di depanya.


Argghh!!! Rintih Alea tersadar dengan luka di tubuh dan wajahnya, tangannya yang di brogol dengan tubuh Alea yang terasa remuk akibat hantaman yang keras menerpa mobil yang di tumpanginya.


Siall!!! Pekik Santhos yang terjatuh dengan darah yang mengucur di pelipisnya berjalan merangkak dengan senjata di tanganya menyelamatkan diri, namun aksi penyelamatannya tertangkap basah oleh pria di depan sana yang sudah berdiri dengan gagahnya yang sudah mengacungkan senjatanya.


"Siall!!! Mafia brengsek itu sudah bergerak cepat,” lirih Santhos mengacungkan senjatanya tepat di depanya pria itu.


 


“Kau mafia berengsek The Black Rose.”


“Ck…tua bangka kau selalu merusak rencanakku kau harus mati di tanganku saat ini juga.”


“Kau terlalu percaya diri The Black Rose.”


Santhos tersenyum menyeringai menatap tajam The Black Rose.


Mereka sama-sama mengacungkan senjata dengan keduanya terlihat berani.


“Kau meremahkan aku Santhos dan kau sudah membawa miliku!” decaknya.


“Milikmu?”


“Ucapkanlah selamat tinggal The Black Rose karena hari ini, hari kematianmu,” ucap Santhos.


 


Dorr!!!


 


Gerak cepat The Black Rose membidik sasaran tepat di jantungnya, pria tua itu tersungkur di asapal yang panas.


Ia berjalan mendekat menghampiri pria tua Bangka itu dan memastikan jika bidikannya tepat di jantungnya.


Evans tersenyum penuh kemenangan mengangkat sebelah kakinya pada dada pria tua Bangka itu, menembaknya sekali lagi dari arah dekat tapat di jantungnya kembali.


“Beristirahatlah dengan tenang pria tua Bangka di alam baka,” desis Evans.


Evans menghampir mobil yang terbalik yang pria tua bangka itu tumpangi.


Ia berjongkok di mobil itu tersenyum smirik menatap wanita yang sudah tak berdaya di depan matanya tubuh yang dipenuhi luka-luka, tangan terbrogol dengan pakaian yang sobek memperlihatkan kaitan merah di depanya, satu lagi jejak pria tua bangka itu berada di dadanya.


 


“K-au…”


“Yah aku,” ucapnya tersenyum mengejek melihat nasib wanita lemah di depan matanya yang saat ini hanya menatapnya dengan kedua matanya yang basah.


“Ucapkanlah selamat tinggal Alea, karena hari ini hari kematianmu…”


 


Dorr!!!


 


 


Bandar Udara Heathrow, Inggris.


 


Pria bermata hijau keemasan berjalan menghampiri private jatnya untuk kepulanyanya ke tempat kelahirannya.


Pria itu menaiki anak tangga dan berjalan ke tempat  duduk di kursi kerajaanya bersama dengan kaki tanganya serta para pengawalnya. Arah matanya melihat ke bawah para awak yang sedang mengatur penerbangan private jat miliknya.


Hatinya begitu senang karena ia sudah membunuh pria tua bangka yang selalu mengacaukan rencananya semasa ia berada di Inggris, namun kenapa ia merasa begitu resah akan sesuatu yang sifatnya bukan menjadi urusan dirinya.


Ada satu kecewa yang ia tahan dalam dirinya saat ini, entah apa itu tetapi ia merasa kecewa. “Bagimana dengannya?”


“Seperti yang sudah saya jelaskan kepada Tuan sebelumnya. Apa Tuan tidak meninggalkanya di sini dan kenapa Tuan membawanya? Apa tidak akan menjadi masalah nantinya?”


 


Pria itu terdiam dengan segelas wine yang berada di tanganya, ia tahu maksud dari pertanyaan orang kepercayaanya yang setia itu.


“Tidak akan,” ucapnya terlihat santai namun terdengar tegas.


“Lalu kenapa Tuan menolong dan membawanya?” tanya seorang kepercayaanya yang tidak lain seorang wanita.


"Salah dia, saat aku akan menghabisi Santhos dia ada bersamanya dia akan dijadikan palacur di rumah bordirnya!”


“Kenapa Tuan peduli?” tanyanya kembali.


 


Pria itu menatap wanita itu dengan bengis serasa ia sedang di interogasi oleh anak buahnya sendiri, ia tidak suka dengan orang yang selalu ikut campur akan masalahnya, terserah dia akan membawanya atau tidak, membiarkan wanita itu hidup atau mati yang jelas kematian wanita itu kini berada di tangannya.


 


Wanita yang kini berdiri di depanya pun penuh tanda tanya akan sifat tak biasa dari Tuanya. Karena tidak biasa Tuannya membawa seorang wanita di dalam pesawat peribadinya.


Pria bermata hijau itu menghela menatap tajam wanita di depanya itu, dengan senyuman misteriusnya.


“Dia ada urusan denganku yang belum terselesaikan, jadi kau tidak berhak menanyakan padaku kenapa aku membawanya," jawabnya dengan raut wajah yang terlihat dingin.


 


"Baik Tuan maaff kan saya,” ucapnya menunduk lalu kembali ke kursi belakangnya.


Pria itu dengan sendirinya berdiam diri di keheningan yang menyelimuti dirinya berada di private jatnya menuju tempat kelahirannya. 


Semua anak buahnya pun tahu jika Tuannya tidak suka akan kebisingan dan keramaian meskipun hidupnya selalu berada di keramaian akan baku hantam dan baku tembak selama hidupnya.


 


“Alea…aku kecewa padamu,” lirih seseorang.


 


“Alea…”


 


“Alea…”


 


Bersambung...