Mafia And Me

Mafia And Me
Malaikat Pencabut Nyawa!



“Predikat sebagai kekasih The Black Rose pasti akan membuatku untung besar.


“Anggap saja ini sebagai bonus karena aku tidak akan membunuhmu Nona. Tetapi dia—" tunjuk Bobby pada Evans.


Alea hanya bisa menangis dalam diam, kedua matanya menatap Bobby yang begitu sengit menatap dirinya.


"Harus mati di tanganku!


Dor!


Pertarungan keduanya pun dimulai, keduanya saling baku tembak.


Dor!


Dor!


Pertarungan keduanya tidak bisa dihindarkan. Masing-masing anak buah mereka saling menembak dan melumpuhkan beberapa orang di sana.


Bobby yang membidik Evans, namun Evans dengan menghindar. Beberapa anak buah Evans dengan cepat bisa diatasi dengan yang tersisa hanya Evans seorang diri. Evans berkelahi dengan anak buah Bobby.


“Lemahkan dia!” seru Bobby pada kelima anak buahnya yang masih tersisa.


Mereka maju melawan Evans yang hanya seorang diri, sementara Bobby mundur dari medan perang dan menunggu dengan tangan bersedekap.


“Kenapa kau tidak maju saja dan melakukan sendiri, hah?”


Evans masih terlihat begitu kuat, bahkan berani menantang Bobby padahal dia hanya seorang diri kali ini.


Alea hanya diam tak lepas kedua matanya menatap Evans dan anak buah Bobby berkelahi dengan bibir yang ia gigit untuk mengatasi rasa takutnya sendiri.


“Ck! Untuk apa aku memiliki anak buah yang terlatih di sini. Jika aku harus mengotori tanganku sendiri.


“Tenang saja, nanti kita akan bertemu sebentar lagi,” kata Bobby, penuh percaya diri yang diiringi seringaian.


“Di ujung nyawamu, The Black Rose,” sambungnya dengan tawa.


“Pengecut,” decak Evan sebelum menghajar dua pria berjubah yang bergerak mendekat.


Gerakan kaki dan tangannya begitu selaras, betapa lincah pria itu menghindar dan memberikan pukulan pada kedua pria di depannya.


Alea yang melihatnya pun dilanda kecemasan yang mendalam pada Evans.


Pria itu Evans hanya seorang diri tidak ada salah satu anak buahnya yang masih bisa bertahan dan membantunya, semuanya mati.


Yang bisa Alea hanya satu, dia cepat merapal doa di dalam hatinya semoga Evans bisa bertahan karena dilihatnya, luka tembak di bahunya terus mengeluarkan darah seiring gerakan tanganya menghabisi kedua anak buah Bobby. Namun ekspresi Evans tetap tidak menunjukkan kesakitan.


Kedua pria itu terlihat kuat tetapi bukan tandingan Evans dan terlihat keduanya yang sudah mulai melemah mendapatkan serangan brutalnya.


Evans mengalungkan tangannya di leher salah satu pria tersebut dengan kuat hingga terlihat pria itu kesulitan bernapas, menariknya kencang ke dinding dengan menghantam keras kepala pria itu.


Evans hantaman siku tangan nya, di bagian dada hingga melemparkan pria itu di lantai dengan mati seketika.


Bug!”


“Aaahhh….”


Alea berteriak kencang ketika melihat pria satunya muncul dari belakang dan memukul pundak Evans dengan besi.


Tubuh Evans terhuyung ke depan. Pria itu terlihat kesakitan, tetapi dengan cepat Evans berbalik melihat penyerangan dengan mata menatap bengis dan penuh ancaman. Dia bergerak maju meski kepalanya sudah mengeluarkan darah.


Evans dengan sigap menghindar serangan besi yang dilayangkan berkali-kali, sampai pada akhirnya Evans bisa mencekal tangan sang lawan dan memberikan tendangan ke wajah pria itu yang terhuyung mundur dan menjatuhkan besinya ke bawah.


Gerak cepat Evans mengambil alih besi itu, pria itu memegang nya dengan kuat lalu bergerak cepat menuburuk pria itu dengan kepala tersungkur di lantai. Dengan keras Evans menancapkan besi tepat di jantungnya dengan berakhir mati begitu saja.


Alea menutup matanya dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Tubuhnya yang bergemetar melihat pembunuhan sadis di depan matanya.


“Serang dia kembali…”


Suara Bobby membuat Alea kembali membuka mata. Dia terkejut ketika melihat Evans dicekal di masing-masing tangannya oleh dua anak buah Robby yang lain dan satu orang yang berada tidak jauh di depan Evans bersiap menyerang dari depan.


“Evans…” gumam Alea dalam hatinya.


Bagaimana caranya Evans bisa menang bila dia dikeroyok seperti itu? Pasti dia akan kalah dan mati.


Alea menggerakan-gerakan kedua tangannya yang diikat oleh besi yang begitu sulit dilepaskan. Ingin sekali ia membantu Evans yang dikeroyok di depannya.


Bug!


Bug!


Bug!


Beberapa Kali tendangan dilayangkan pada tubuh Evans. Pria itu langsung terlihat tidak berdaya dengan kedua tanganya yang dipegang erat oleh kedua anak buah Bobby.


Bug!


Satu tendangan lagi diarahkan pada tubuh Evans dan langsung membuat tubuh pria itu terhempas ke belakang menabrak dinding dengan keras dan tergeletak kesakitan.


Evans terlentang di bawah sana, pria menahan sakit ditubuhnya.


 Pria terlihat sudah tidak berdaya, kedua matanya memandangi Alea yang berada tidak jauh dari hadapannya. Wanita itu tak berhenti menangis dan menatap dirinya.


“Aku mohon padamu, Ev. Bangunlah,” ucap Alea, lemah.


Dia ikut merasakan kesakitan melihat luka yang didapatkan Evans.


Evans mendengarkannya, pria itu pun diam dan hanya menatap Alea.


“Please… bangun, Ev,” kata Alea lagi.


“Ck! segituhkan nyalimu, hmm?”


Bobby meludah ke samping dengan mata menatap nyalang.


“Seginikan nyali seorang Evans Colliettie, hmm?”


“Apa dengan ini kau pikir akan bisa membunuhku dengan mudah?”


Alea berderai air mata.


“Ev…” Alea terisak. Pria itu sama sekali tidak menjawab dan hanya diam menatap.


“Aku mohon, bangunlah,” kata Alea lagi.


Akhirnya, Evans bangkit dengan sekuat tenaga. Pria itu meludahkan darah dari mulutnya ke lantai dan menatap Bobby dengan bengis yang berdiri santai menyandar di dinding tembok.


“Jika kau merasa yakin, majulah sekarang juga.”


“Kau begitu tidak sabar sekali menunggu kematianmu, Evans,” ucap Bobby dengan santai.


“Hadapilah dulu anak buahku.”


Evans menggeram, ketiga anak buah bobby maju secara bersamaan. Evans mencoba menghindar dari pukulan ketiga anak buah Bobby dan balik memukul ketiga orang tersebut.


Namun, tenaganya kembali melemah. Evans kembali di keroyok oleh ketiga orang itu.


Mungkin bila keadaanya vit, ini akan mudah untuk menghabisi ketiga orang di depannya. Tetapi, sekarang…


Berapa kali Evans mendapatkan hantaman hingga terhempas namun selalu saja pria itu bisa bangun dan kembali memukul mereka.


“Cepatkan lemahkanlah dia, serang terus hingga tidak berdaya,” perintah Bobby.


Alea kini mengerti kenapa Bobby sejak tadi hanya berdiam diri.


 Ternyata jika Evans sudah tidak sanggup membalas lagi, dan lemah tidak berdaya.


Maka itulah waktunya untuk bobby memberikan pukulan terakhir, yaitu membunuh Evans.


“Pergilah ke neraka,” desis Evans.


Evans maju menyerang yang paling dekat, dengan sisa-sisa tenaganya ia menghindar serangan lawan yang memegangi pisau hingga melihat sebuah tembakan yang tergeletak di antara mereka.


Dengan gerakan cepat dia maju tanpa gentar. Begitu juga penyerangan yang mengacungkan pisau.


Kini berakhir saling bertabrakan hingga Evans terhempas ke belakang bersama pria di atasnya.


Mulut Alea terbuka lebar, derai air matanya pun kembali mengalir deras. Entah di depan sana siapa yang berakhir tertusuk karena kedua matanya tidak bisa melihat dengan jelas.


Namun, darah segar mengalir dari lantai itu pun membuat Alea dilanda cemas dan ketakutan.


Bahkan pria itu pun ikut berdiri tegak untuk memperlihatkan seksama. Kedua pria yang tergeletak itu sama sekali belum bergerak.


Nafas Alea naik turun dan tidak beraturan, Alea ketakutan melihatnya.


‘Apa Evans kali ini benar-benar kalah dan mati?’ batin Alea menatap kedua pria itu sama sekali masih berada di posisinya.


“Periksa dia!!!" Perintah Bobby pada dua anak buahnya yang tersisa.


Kedua anak buahnya pun kini mendekat, mencoba untuk memisahkan keduanya.


Namun, tanpa terduga, Evans menarik tangannya keluar dan menembak kedua pria itu bergantian tepat di wajah hingga mati begitu saja.


Evans mendorong tubuh pria itu di atas tubuhnya yang sudah mati, ke samping.


Dia berdiri dengan susah payah sembari mencabut pisau yang menancap di pahanya hingga berjalan dengan terhuyung.


“Kekuatan dari seorang The Black Rose sungguh tidak bisa diremehkan begitu saja!” decak Bobby.


Akhirnya, pria itu kini maju dengan memegang besi di tangan nya dan berjalan mendekati Evans yang memberikan jarak.


“Aku akan merasa terhormat jika bisa membunuhmu dengan tanganku sendiri.”


“Kau hanya membual saja dari tadi, dasar brengsek!!!”


Bobby tersenyum miring, mengacungkan besinya dan maju menyerang Evans.


Dengan sigap, Evans menghindar hingga pria itu berhasil menjatuhkan Evans dan berkelahi di lantai.


Bobby mengunci pergerakannya dan memukul luka tembak di bahu Evans dengan kuat hingga terdengar pria itu mengerrang kesakitan.


Bug!!


Tendangan kaki Evans yang dilayangkan membuat Bobby terhempas ke depan.


Dengan cepat ia bangun sembari mengambil pisau yang tergeletak di lantai dan menyerang Bobby yang menghindari dengan cepat meski Evans akhirnya bisa melukai lengannya.


 “Shitt,” umpat Bobby.


Pria itu kembali memukul bahu Evans dengan besi hingga Evans kembali berbalik menyerang.


Alea cemas melihat perkelahian sengit di depanya. Dia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah ketika Evans kembali di hajar oleh Bobby.


Perkelahian yang terjadi hingga ke lantai atas membuat Alea tidak bisa melihat apa-apa, hanya bunyi pukulan dan desisan mereka yang terdengar di atas sana sampai akhirnya seseorang terlempar ke bawah dan terjatuh dengan keras.


Bug!


Bobby mengerang kesakitan seketika sebuah besi yang menancap tubuh bagian pahanya.


Pria itu tergeletak terlentang dengan darah yang keluar dari mulutnya dan terbatuk darah.


Evans yang melihat dari atas sana menatap bengis dan menakutkan. Tatapannya seperti sosok malaikat pencabut nyawa yang siap mengambil nyawa Bobby detik itu juga tanpa ampun.


“Detik ini juga aku akan mencabut nyawamu dengan senang hati.”


Alea sontak terkejut mendengarkannya. Apa lagi Evans naik ke pagar pembatas lalu loncat begitu saja menuju tubuh Bobby yang terlentang tidak berdaya tepat di bawahnya.


Siku tangannya menghantam dada Bobby dengan kerasnya hingga mulutnya menyemburkan darah hingga membasahi wajahnya yang diiringi suara tulang yang terdengar patah dan berakhir kematian Bobby yang mengenaskan.


Ekspresi Alea syok melihat kejadian semua ini.


Mendadak, semuanya hening. Tubuh Evans yang berada di depannya tubuh Bobby pun pria itu ikut terlentang di samping Bobby. Evans terlihat kesakitan dengan deru nafas yang naik turun terdengar di telinga Alea.


“Apa kamu baik-baik saja, Ev”


Alea nekat bertanya pada Evans tepat di depannya yang terbaring dengan mayat Bobby.


Suara Alea bertanya, membuat Evans menoleh ke arahnya.


Alea memundurkan tubuhnya. Ekspresi Alea berubah takut ketika manik matanya menangkap tatapan Evans yang menusuk membuat dia mati rasa.


Namun, dia tidak bisa mengalihkan tatapan Evans, dimana pria itu bangkit dan berdiri mengambil senjata apinya.


Alea membeku di depanya dan bergumam di dalam hatinya.


‘Apa sekarang giliranku? Hari kematianku di tangan sang devil?’