Mafia And Me

Mafia And Me
Aku Iri!



“Apa aku boleh memulainya?”


 Ruby berikan senyuman terbaiknya untuk pria yang dicintainya itu.


Wajahnya cantiknya mendekat, lalu berbisik di telinga Evans.


“Aku ingin menari di atas pangkuan anda. Apa, anda setuju?” tanya Ruby.


Sekalipun Evans tidak melihatnya namun lagi lagi wanita itu tersenyum manis.


Tidak ada jawaban dan tidak ada persetujuan. Ruby hanya bisa diam dan kembali mengecup tubuh kekar sang mafia dengan gerakan sensual. Tubuh seksinya kini berada di pangkuan Evans.


Dalam pandangannya yang gelap, Evans melihat ekspresi wajah yang tersenyum ceria dan bahagia. Bahkan tawanya lepas.


Senyuman dan tawa itu bahkan belum pernah dia lihat sebelumnya. Dia benar-benar belum pernah melihat raut wajah bahagia itu.


Senyumnya yang melengkung dan tawa yang lepas, seolah menunjukkan tidak ada beban sama sekali membuat hatinya menghangat.


Jiwanya bergejolak, dia ingin kembali memeluk wanita itu dan membawanya pergi untuk dirinya sendiri.


Dia mencoba untuk menggapai wanita itu. Namun, wanita itu malah semakin menjauh. Yang bisa Evans lihat wanita itu menggenggam tangan seseorang. Seseorang yang tidak lain pria lain.


Wanita itu sama sekali tidak menghiraukannya ketika dia memanggilnya. Bahkan, ketika berbalik pun wanita yang diam dan lalu pergi begitu saja.


Itu rasanya sakit, sesuatu yang menyakitkan begitu saja menggores hatinya tanpa ampun. Perih yang tidak menimbulkan darah, tetapi mampu membuat tubuhnya mati rasa.


Evans tidak rela, bila wanita itu tidak bisa dia dapatkan untuk menjadikan miliknya seorang.


Tanpa sadar, Evans mendorong tubuh Rubby untuk menjauh dari tubuhnya hingga wanita itu terjatuh di lantai.


Ruby terkesiap, kedua matanya memandang penuh akan sikap Evans yang berbeda.


“Tuan…” panggilnya pilu.


Ruby terlihat terluka. Terluka karena penolakan.


Tapi pria di depannya itu sama sekali tidak memperdulikan sekalipun pria itu bangun dan berdiri seraya merapikan jubah mandinya yang sedikit terbuka memperlihatkan bidang dadanya.


“Aku sedang tidak berselera,” kata Evans berlalu pergi begitu saja tanpa mau menunggu jawaban dari wanita itu.


Ruby hanya terdiam membeku di lantai. Air matanya begitu saja berderai.


Sikap Evans memang aneh dan keanehan itu sudah Ruby rasa semenjak kedatangan pelayan itu. Dan lebih parahnya ketika sepulangnya Evans dari Madrid, pria itu sudah tidak seperti dulu lagi.


Evans keluar dari ruang bermainnya. Wajahnya tampak terlihat kusut. Kakinya mengayuh menelusuri Lorong yang gelap dan menuju ruangan pribadinya.


Tetapi, kenapa langkahnya nya justru membawanya ke kamar seseorang.


Kamar, Alea yang sudah lama tidak di tempatnya.


Aroma wanginya masih tercium sama. Evans berjalan masuk lebih dalam lagi. pria itu tersenyum ketika melihat beberapa foto-foto masih terpasang rapi di meja riasnya. Foto yang selalu berada di tempatnya.


Ketika dia hendak mengambil satu bingkai foto Alea bersama dengan wanita tua. Bola mata Evans membulat, sebelumnya dia tidak pernah melihat lukisan itu sembulnya.


Lukisan Alea berlatang belakang laut dan juga siluet yang membuatnya terkesan eksotis.


“Pada akhirnya anda kini merindukan nya.” Seseorang itu berdiri di depan pintu kamar Alea.


“Saya tidak pernah menyangka akan melihat anda dalam keadaan seperti ini.”


Evans berbalik badan menatap Ruby dengan tatapan bengis. Wanita itu masih berdiri diambang pintu yang terbuka.


“Apa maksudmu, hmm?” desis Evans.


Ruby mengulas senyuman manis, sekalipun wajahnya terlihat sendu. Dengan berat hati, wanita itu pun berjalan masuk dan menghampiri Evans.


Tanpa di minta, Ruby mengambil lukisan Alea yang sedang Evans pandangi sejak keluar dari tempat bermain.


“Saya hanya melihat anda.” Ruby menarik nafas sejenak


“Melihat anda begitu terpaku menatap seorang wanita walau hanya melalui lukisan saja.”


Evans menggeram, wajahnya tampak kesal apalagi pada wanita di depannya itu.


“Mungkin aku akan mengumumkan kalimat ‘Iri’ dan hati yang sakit.”


Ruby kini tidak berucap secara formal tadi. Ini menyangkut hatinya dan juga cinta yang besar pada pria di depannya itu yang selama ini tidak ada balasanya.


“Akhirnya seorang Evans Colliettie bisa mencintai seseorang wanita dengan begitu dalamnya,” sambung Ruby.


“Lancang sekali kau, hah!” bentak Evans.


“Atas dasar apa aku mengatakan hal yang tidak-tidak seperti itu, hah?” decak Evans marah.


“Dengan kamu tidak menggumamkan namanya saja. Aku sudah melihatnya, Evans!”


Ruby memanggil namanya. “Walau di dalam hatimu berkata lain. Aku tahu kamu sudah mencintainya!


Evans terdiam membeku, bahkan sama sekali tidak melihat bagaimana wajah Ruby yang sedih dan mata yang basah menatap Evans.


“Apa kamu pikir aku salah? Bahkan selama ini aku berharap aku salah mendengar dan berharap seperti yang aku inginkan. Tapi, nyatanya—”


“Semua yang aku lihat dan aku dengar ini bukanlah halusinasiku. Kamu memikirkannya, kamu menggumamkan namanya bahkan tanpa kamu sadari, Evans!”


Evans diam tidak menjawab semua perkataan Ruby. Namun, dia mencoba mengingat kembali. Apa dia memang pernah melakukannya?


“Apa kamu masih tidak menyadari kalau kamu sudah jatuh cinta padanya?”


Pertanyaan bernada tuduhan dari wanita itu terasa menembus jantungnya tanpa ampun. Lidah Evans kelu untuk menyanggah semua tuduhan yang terus dilayankan wanita jallangnya.


‘Apa benar begitu?’ batinnya.


Ruby menaikan dagunya, wanita itu tersenyum miris.


“Aku pikir dengan kesabaranku, kamu akan melihatku sebagai wanita yang bisa dicintai.


"Ternyata aku salah karena sebuah pengharapan yang sama sekali tidak pernah ada.


“Bahkan aku sudah mengatakan pada Alea, kalau aku tidak bisa memenangkan hatimu. Namun—”


Ruby maju perlahan, wanita itu memandangi Evans penuh rasa cinta yang selama ini dia miliki.


Bibirnya mengulas senyuman tulus sembari meletakan kembali lukisan Alea dari tangannya.


“Kamu akan terus menderita dalam kebimbangan bila kamu tidak bisa melihat hatimu sendiri dengan jelas.”


“Aku—”


Wanita itu menangis tanpa suara. Hancur sudah hatinya tak berbentuk lagi.


“Aku akan mendoakanmu agar kamu bahagia dengannya.”


Evans berdiri bagai patung. Pria itu hanya diam bahkan sampai wanita itu pun pergi yang diiringi tangisan.


Wanita itu kembali ke kamarnya meninggalkan Evans dan juga lukisan Alea.


Evans menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan. kakinya kembali melangkah dan mengambil kembali lukisan itu.


Senyumannya tercetak ketika melihat lukisan itu. Tatapan matanya yang berbinar seakan sedang memandangi seseorang yang dicintainya.


Lukisanya terasa hidup sekalipun lukisan Alea lebih nampak jelas hingga membuat Evans speerti bisa melihat sosoknya kembali.


‘Sebenarnya siapa yang Lea pandangi ketika sedang dilukis saat itu?’ batin Evans.


Dia berlalu pergi sembari memegang erat lukisan itu untuk dibawanya ke kamar.


Evans masuk ke dalam kamar mandi, dia ingin menjernihkan pikirannya dengan mengguyur tubuhnya di bawah air shower, namun otaknya mengingatkan sesuatu yang menghangat dan menggebu di dalam hatinya.


Ciuman lembut mereka dan eranggan suara merdu Alea membuat Alea membeku.


Suara seksi Alea seolah berada di dekatnya, ******* bibirnya dimana wanita itu terpengaruh obat sialan itu.


Evans menghela nafas kasar dan lekas pergi ke kamar seperti orang gila.