
Hari demi hari keadaan Alea berangsur membaik, selang infus yang sejak beberapa hari terpasang pun kini sudah dilepaskan.
Sekalipun keadaan Alea sudah membaik dan terlihat sehat, namun hatinya tidak baik-baik saja semenjak kedatangan Evans.
Alea duduk di jendela kaca besar seraya menatap pemandangan kota Napoli. Beberapa menit lalu, keluarga Leo datang termasuk tunangan Leo, Cassandra datang menjenguknya.
Wanita paruh baya itu pun sama, semenjak Alea siuman.
Nyonya Jovitalah yang rajin mendatanginya bersama dengan Olivia, walau hanya sekedar menemaninya. Namun, semua itu sangat berarti oleh Alea.
‘Aku berharap kamu bisa menjadi teman hidup keponakanku, Alea. Hanya kamu wanita yang selama ini dekat dengan Evans tidak ada yang lain.
‘Bila boleh aku meminta padamu. Aku ingin bisa berdamai dengan keponakanku sendiri. Aku ingin bisa merangkul dan memeluk dia seperti halnya dua putra dan putriku?’ –Nyonya Jovita.
Alea menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Kepalanya mendadak penuh dengan permintaan Nyonya Jovita kepadanya. Sebuah permintaan yang tentunya tidaklah mungkin. Alea tidak bisa melakukannya.
‘Maafkan aku, Nyonya. Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya bisa mendoakan anda dan juga Tuan Evans.’
Bila di luaran sana, Alea akan tetap memanggilnya Tuan Evans karena dia seorang pelayan pribadinya.
‘Aku tidak bisa menyentuh hati pria itu, tidak akan pernah bisa karena keponakan anda sudah lama diselimuti oleh kebencian selama ini di dalam hidupnya.
'Kebencian itulah yang selama ini menemaninaya, kesepian dan juga kehidupannya yang gelap sudah menjadi teman sejatinya.’
Memohon sebagaimana pun, tentunya dia tidak bisa mengabulkan permintaan wanita paruh baya itu, bahkan lagi Alea sudah tidak mau membuat Evans untuk kesekian kalinya murka dan muak padanya.
Ancaman Evans waktu itu membuat Alea sudah tidak bisa berkutik lagi.
‘Hanya Tuhan yang maha pemilik hati. Tuhanlah yang bisa membolak-balikan hati manusia. Kebencian apapun akan lenyap bila Tuhan sudah menghendakinya.’
‘Saya hanya bisa ber semoga Nyonya dan Tuan Evans bisa berdamai dan tidak ada lagi kebencian.’
Itulah pembicaraan Alea dan Nyonya Jovita, Bibi Evans Colliettie.
Semua keluarga besar Evans baik Colliettie dan Martinez berharap besar mereka bisa berdamai dan mengubur masa lalu yang penuh luka dan kesedihan.
Namun, sayangnya si pelaku yang sejak kemarin di tunggu untuk membicarakan hal ini pun, mendadak menghilang seperti biasa.
Alea sudah paham dengan sifat Evans yang mendadak pergi dan tidak ada yang tahu keberadaan pria itu. Bahkan sudah tiga hari ini pun semenjak dia siuman, Evans tidak pernah datang lagi untuk menjenguknya.
Kadang Alea pikir, dia selalu munafik ingin pria itu menjenguknya karena dia ingin berbicara dengan Evans sebelum pria itu membunuhnya atau menjualnya pada orang lain.
“Hai….”
Alea menoleh pada sumber suara yang memanggilnya. Bibirnya mengulum senyum ketika menangkap kedatangan Massimo ke dalam ruangan inapnya.
“Kenapa duduk di situ hmm? Apa kamu bosan di dalam ruangan terus?”
Alea tidak mau menjawab sekalipun ingin sekali dia mengatakan ya.
Dia bosan berada di dalam ruangan ini, namun perkataan Evans yang menyakitkan itu membuat Alea hanya bisa diam.
Massimo membantu Alea untuk berdiri dan membawa wanita itu untuk duduk di sofa panjang.
“Aku ingin memeriksa keadaanmu.”
Massimo dengan sneli putih dan stetoskop yang menggantung di lehernya pun langsung memeriksa keadaan Alea.
Satu hal yang baru saja Alea ketahui, selain Massimo seorang Ceo di salah satu perusahan keluarganya.
Pria tampan berwajah timur tengah itu adalah seorang dokter di rumah sakit yang Alea berada saat ini.
Massimo seolah dokter pribadinya di sini yang selalu rutin memeriksa keadaanya.
Dan rumah sakit yang dia tempat ini adalah rumah sakit milik keluarga Massimo dan pria itu adalah dokter di sini, terbukti bukan bagaimana sigapnya pria itu ketika menolongnya saat dia keracunan.
“Kapan aku pulang?” tanya Alea.
Dia sudah tidak betah berada di rumah sakit sekalipun ya, mansion Evans bukan jawaban yang tepat.
Tetapi dia harus pulang ke neraka Evans Colliettie tempat beberapa bulan ini dia berada.
“Dari hasil pemeriksaan dan juga hasil lab, semuanya oke. Tidak ada kendala dan hal yang dikhawatirkan. Kamu sudah sehat dan boleh pulang.”
Alea berseru lega, wanita itu pun menarik napas panjang. “Ah, akhirnya. Aku bisa pulang.”
“Ya, tapi kamu akan pulang kemana?”
Alea mengeryit kening bingung, tentunya pulang ke mansion Evans Collliettie bukan.
“Evans tidak bisa dihubungi, bagaimana kalau untuk sementara kamu tinggal bersamaku sebelum manusia kutub itu muncul dan menjemputmu.”
“Apa dia akan mengizinkan?”
Alea bertanya balik, karena dia mau Evans kembali murka seperti kemarin siang.
“Aku pun bingung harus mengantarkan kamu kemana, Al. Evans susah dihubungi begitu juga Mika.
"Mau mengantarkan kamu ke mansion tanpa Evans tahu, takutnya ada apa-apa di sana.
“Jadi, sudahlah untuk sementara waktu juga bukan, dan aku akan mengirimkan pesan pada manusia kutub itu kalau kamu berada di rumahku,” kata Massimo.
Tentunya, dengan pengawasan ketat. Sekalipun dia ingin sekali membawa Alea pergi.
Namun, waktunya belum tepat. Dia harus menunggu waktu di mana Evans benar-benar lengah baru dia bisa membawa Alea pergi sekalipun ya.
Massimo harus pergi menjauh dari jangkauan sahabatnya yang pastinya akan mengejar kemana Alea pergi.
“Ah, baiklah. Aku akan menurut dan tidak akan membuatmu susah.”
“Bagus sekali itu. Oh, ya. Apa mau aku kupuas kan buah-buahan untuk cemilan siang ini?”
Alea menggeleng pelan. “Aku tidak suka buah-buahan. Aku ingin coklat yang dibelikan oleh sang pangeran kodok.”
Alea hanya mengangguk pelan dan membiarkan pria itu membawanya.
Tak lama, setelah keduanya berbincang. Alea yang masih memikirkan hal itu pun kembali duduk seorang diri menunggu Massimo akan menjemputnya nanti sore setelah pria itu selesai praktek di rumah sakit.
Krek!
Alea buru-buru menoleh mendengar suara pintu, bola matanya melebar.
Alea terkejut ketika siapa yang kini berdiri dan memberikan senyuman hangat padanya.
“Alea, kamu baik-baik saja?”
“Bry….” Teriak Alea, senang.
Ah, sudah lama ini dia jarang melihat Bryan dan kini pria itu datang menjenguknya?
Dipeluknya tubuh Alea, erat. “Kamu sudah baikan kan, Al?”
Alea manggut-manggut cepat. “Aku kaget ketika mendengarkan kabar kalau kamu masuk ke rumah sakit,” kata Bryan.
Alea diam dan hanya menghela napas pelan, lalu di detik kemudian dia berikan Bryan senyuman kecil.
Alea mengernyit bingung ketika dia teringat sesuatu. “Kenapa kamu bisa datang ke sini, Bry?”
“Ah. Aku nekat pergi dari mansion tuan untuk bisa bertemu denganmu. Aku cemas, Al. Aku mengkhawatirkanmu makanya aku datang ke sini jauh-jauh.”
Alea mengurai pelukan Bryan dan menjauh dari pria itu.
“Kamu ini cari gara-gara terus, Bry. Jangan sampai tuan murka lagi padamu.”
“Semua ini juga untukmu, Al. Aku rindu padamu,” ucap Bryan.
Alea mendengus pelan. “Mana yang terluka? Kamu sakit apa? Kata dokter apa?” borondong Bryan bertanya.
“Aku nggak kenapa-napa kok. Nggak usah berlebihan aku tidak suka.
Bryan menatap lega, bila Alea baik-baik saja.
“Syukurlah kalau kamu sudah membaik. Kalau begitu, bersiaplah. Kita akan pergi.”
Kening Alea langsung mengernyit.
“Pergi?”
“Ya, pergi,” jawab Bryan diiringi anggukan dan tatkala pria itu menoleh ke arah pintu keluar.
“Kemana, Bry?”
“Tentunya pergi dari jangkauan Evans Colliettie, bukannya selama ini itu yang kita inginkan?
"Pergi menjauh—bebas dan hidup bahagia dari Evans Colliettie?”
Alea terdiam sesaat seraya berpikir. Bryan menggenggam kedua tangan Alea.
“Dengarkan aku, Al. mumpung kita berada di luar seperti ini. Tidak salahnya kita melarikan diri dari cengkeraman Evans Colliettie.
“Cepat atau lambat Evans pasti punya pikiran untuk membunuh kita termasuk kamu, sekalipun kita tidak tahu akan mati kapan.
"Bila menunggu hari yang mungkin besok adalah hari kematian kita.
"Kamu pun sudah tahu bagaimana kejamnya iblis itu yang tak punya hati dan juga belas kasih pada kita, tidak salahnya bukan kalau kita keluar dari sini dan pergi jauh.”
Bryan mencoba membujuk Alea untuk keluar dari lingkaran sang devil yang selama ini membuatnya ketakutan.
Namun, wanita itu hanya diam seraya berpikir dan Alea pun tidak langsung menjawab.
Lebih tepatnya lagi, Alea lebih memiliki konsekuensi bila dia melarikan diri tentunya akan berujung kematian.
‘Tidak jauh beda, Alea. Bukannya kamu pun sudah diancam akan dibunuh oleh pria itu?’ kata hati Alea.
“Dengarkan aku, Alea.”
Alea tersadar dari lamunannya dan kembali menatap Bryan.
“Ini kesempatan kita untuk pergi dari sini, Al. Aku sudah berjanji akan membawamu ke tempat yang aman.
"Aku ingin hidup bebas dan bahagia di luar sana, tentunya aku ingin hidup bersama denganmu, Al.
“Bila situasi sudah aman, aku akan mengantarkan kamu pulang ke negaramu.”
“Bry, kita tidak bisa semudah itu melarikan diri dari cengkeraman Tuan Evans. Apa kamu lupa dengan semua konsekuensinya ini?” Alea mencoba menyadarkan Bryan.
Tidak ada keberhasilan bila dia pergi dari cengkeraman iblis seperti Evans.
“Ini sangat berbahaya, Bry. Kabur dari Evans itu sama saja kita mati secara langsung di tempat!”
Bryan berjongkok di depan Alea. “Percayalah padaku. Aku bisa membawamu ke tempat yang aman pergi dari iblis silan itu.”
Alea kembali diam, kali ini dia di serang dengan perkataan Bryan dan bujukan Bryan yang memberikan harapan besar untuk terbebas.
‘Ya, Tuhan. Apa aku harus ikut bersama dengan Bryan untuk pergi dari cengkeraman Evans yang penuh dengan tipuan yang tidak bisa diprediksi bagaimana pria itu seperti apa?
‘Evans pria yang penuh kebencian dan juga membuatku tertekan?’ batinnya.
“Pilih salah satu. Membunuhmu atau menjualmu, hmm?”—Evans.
“Bagaimana Alea? Apa kamu mau ikut denganku? Pergi bersama denganku dan menata kehidupan kita ke depan?”
Bryan mengecup punggung tangan Alea.
“Aku bersumpah akan membahagiakanmu, Alea. Ikutlah pergi denganku!”