
‘Pria itu akan datang juga bukan ke pesta itu?’ batin Alea.
Tak bisa di pungkiri kalau Alea berharap bertemu dengan pria itu, hatinya penasaran bagaimana keadaan Evans ketika semuanya terungkap.
Aspri Leo membukakan pintu mobilnya, Alea pun turun dan berjalan masuk menuju lobby hotel mewah berbintang lima.
“Hai, Alea…”
Pria tampan itu mengulurkan tangan ala kerajaan. Alea tersenyum tipis namun tak dipungkiri dia pun menjawab uluran tangan tersebut.
“Welcome to Roma,” ucap Leo seraya meletakan tangan Alea di lengannya.
Alea menatap pria tampan itu dengan tatapan tak percaya.
Bagaimana bisa seorang pelayan sepertinya diperlakukan begitu istimewanya sampai sejauh ini, bahkan Alea disambut langsung oleh Leo sang empu pemilik pesta.
“Terima kasih, Tuan.”
“Call me Leo,” pinta Leo seraya menunjukan wajahnya yang tegas bahwa pria itu tidak mau di bantah.
Alea menarik napas panjang, paham. “Anda terlalu berlebihan menyambut saya, Leo.”
“Oh ya? Menurutku tidak sama sekali,” jawab Leo santai yang diiringi senyuman.
“Bay the way, bagaimana perjalananmu hmm?”
“Cemas dan juga penuh ketakutan,” jawab Alea jujur.
Dibawa secara diam-diam seperti ini tanpa sepengetahuan Evans jelas membuat Alea cemas Lucas akan dibunuh oleh pria itu.
Alea pun takut akan kekejaman Evans yang nyata dan pria itu akan murka bila mengetahui dan melihatnya ada di pesta yang sama di Roma.
“Kamu tidak perlu mencemaskan dan takut seperti itu dengan saudaraku, Alea. Lucas pasti akan aman begitu juga dengan kamu.
“Aku akan melindungimu bila saudaraku itu kelewat membatu itu mengamuk bila bertemu denganku.”
Lucas menepuk punggung tangan Alea di mana keduanya berjalan menuju suatu tempat.
“Sekalipun Evans kejam, dia tidak mungkin melukaiku, Alea. Jadi jangan khawatirkan hal itu,” sambung Leo.
“Seharusnya anda tidak perlu berlebihan seperti ini, menjemput saya untuk datang ke pesta anda.
“Pelayan seperti saya ini tidaklah pantas datang ke pesta mewah seperti ini.”
Alea menoleh sekilas pandangi Leo. “Jujur. Sebenarnya saya malu,” ucap Alea menunduk.
Leo berhenti berjalan, begitu pun dengan Alea karena tangannya sejak tadi digandeng oleh pria tersebut. Pria itu merubah gestur tubuhnya dan menatapnya.
Leo menunjukkan wajah sedih pada Alea. “Ya, Tuhan. Alea.”
Alea menatap bingung pada pria tampan persis seperti bangsawan di film-film.
“Tentu itu jadi masalah untukku bila kamu tidak datang.”
Alea mengernyit bingung. “Apa kamu tidak tahu betapa sedihnya aku ketika saudaraku itu mengabariku kalau kamu tidak akan datang?”
Alea teringat sesuatu. “Maafkan aku, Tuan. Gaun anda itu—”
“Gaun?” sela Leo cepat seraya mengernyit.
Alea manggut manggut.
“Ada apa dengan gaunnya. Apa gaun yang aku belikan kurang bagus atau tidak cocok dengan seleramu? Atau norak?” sambung Leo seraya menatap Alea.
“Hmm, bukan begitu Tuan. Tetapi hanya saja gaun itu…”
Leo tertawa kecil melihat ekspresi Alea. “Sudahlah. Lupakan gaun itu. Kamu itu terlihat lucu ketika panik seperti ini.
“Ayo, aku sudah punya banyak gaun cantik dan istimewa tentunya untukmu di sini,” ujar Leo seraya mengerlingkan sebelah matanya.
Alea hanya menarik napas pasrah yang entah apa maksud pria tampan itu, bolehkah Alea menebak kalau kini pria tampan itu pun sama ikut memanfaatkan sesuatu yang belum bisa Alea tebak itu?
Alea kembali berjalan bersama dengan Leo. “Ah. Aku terlupa Alea.”
“Aku lupa menculik Bryan teman untukmu berdansa di pestaku,” kata Leo dengan ceringran.
Namun, dari ekspresi wajahnya seakan pria itu memang senja tidak melakukan hal itu. Alea menarik napas pelan, kini pikirannya kembali teringat dengan Bryan.
Seminggu ini Bryan pun bersikap aneh, Alea rasa ada sesuatu hal yang tidak beres dengan Bryan.
Tidak mungkin pria itu mendadak amnesia karena pukulan Evans?
“Pukulan di punggung tidak akan membuatnya amnesia. Tapi, kenapa Bryan kini sering marah-marah padaku tidak jelas?
“Seolah pria itu punya dendam yang tersembunyi. Cara Bryan menatapku pun tidak seperti dulu yang penuh perhatian,” gumam Alea dalam hati.
“Aku sengaja tidak melakukannya karena aku sendiri punya pasangan yang cocok untuk mu mala mini di pestaku.
“Dia sangat serasi denganmu, tidak kalah tampan dari—” wajah Leo menunduk ke bawah menjejerkan dengan wajah Alea.
“Evans Colliettie, tentunya,” bisik Leo diiringi senyuman.
“Anda tidak berniat akan menjodohkan saya kan?”
Leo tertawa pelan. “Apa kamu ingin aku jodohkan? Bersama Evans Colliettie atau pasanganmu nanti hmm?”
Alea mendengus pelan. Apa semua saudara Evans Colliettie, dari Massimo dan kini Leo sama-sama pria yang menyebalkan.
“Tidak dengan dua-duanya.”
“Hai, lihatlah dulu nanti, Alea. Aku bersumpah kalau pria yang tidak lain sahabatku itu sangat tampan melebihi saudaraku.”
Alea memutarkan bola matanya, terserah. Tetapi, bila di perhatikan pria itu terlihat begitu bahagia dan bersemangat.
“Anda selalu berlebihan padaku. Padahal tanpa pasangan pun saya bisa menikmati pesta mewah anda seorang diri,” kata Alea.
“Apah? Sendiri?” seru Leo menoleh.
Pria itu berikan gelengan tidak setuju. “Aku tidak akan mengizinkan hal itu, Alea.
“Terlalu berbahaya bila wanita secantik kamu itu tidak ada pria yang menjagamu.
“Malam nanti pastinya akan banyak pria hidung belang dan berbahaya yang akan menarikmu ke ranjang mereka apa kamu mau?”
“Serba salah,” batin Alea.
“Sudahlah. Ikuti saja keinginan, oke?” kata Leo.
Alea berikan anggukan pelan, dia tidak punya pilihan lain bukan?
“Good Alea karena aku ingin kamu pun merasa bebas dan senang menikmati pesta mewah.”
“Terima kasih banyak, Leo.”
“Your welcome, Alea.”
Alea penasaran, apa dia harus bertanya perihal sesuatu yang beberapa hari ini membuat hatinya tidak beres ini?
“Leo…”
“Hmm,” jawab Leo seraya menoleh lagi ke samping.
“Apa anda sudah bertemu dengan saudara anda?” tanya Alea seraya meremas kedua tanganya berharap-harap cemas dengan jawaban dari pria itu.
Alea penasaran dengan keberadaan Evans saat ini. “Maksudmu, Evans?”
“Ya,” jawab Alea pendek.”
“Sure. I’m meet him yesterday.” Ada perasaan lega kini yang menyusup hati Alea. Wanita itu pun menarik nafas pelan.
“Tapi, sepertinya tuanmu itu saat ini sedang sibuk dengan wanita gila yang aku dengar akan menjadi pasangannya nanti malam.”
“Wanita gila?”