Mafia And Me

Mafia And Me
Perhatian Berta



Dua hari sudah peristiwa penembakan tersebut. Alea yang dibebas tugaskan selama dua hari itu untuk masa pemulihan dengan tidak diganggu oleh para wanita jalang.


Dua hari sudah Alea hanya duduk manis di jendela kacanya. Jendela yang cukup lebar yang bisa siapa saja putus asa terjun bebas dari atas sana. Bunuh diri.


Namun tidak untuk Alea. Ia masih memiliki pikiran jernih tidak ingin bunuh diri dengan sia-sia.


Di kesendirian Alea hanya bisa terdiam dengan pikiran akan devil itu yang tidak memiliki hati, memingat kembali akan peristiwa penembakan itu.


Sudah matikah hatinya? Itu yang jadi pertanyaan Alea hingga saat ini.


‘Apakah devil seperti Evans tidak mempunyai perasaan? Bahkan pria itu sama sekali tidak menolongku. Apa benar hatinya mati?


'Apa bisa aku menyentuh hatinya agar devil seperti dia mempunya hati nurani?’ perkataan itu yang selalu menyelimuti pikiran Alea.


Bahkan Alea masih ingat akan mata sendunya melihat dirinya tergeletak terluka akan tembak, namun devil itu tidak ada pergerakan sama sekali.


Diam hanya menatap.


“Aku bawakan kamu makan siang Ale, makanlah yang banyak agar kamu lekas sembuh," ujar Berta memberikan makan siang untuk Alea.


Wanita paru baya itu meletakan makan siangnya di atas nakas.


Sejak Alea diistirahatkan untuk kesembuhanya, Bertalah yang menggantikan tugas Alea untuk sementara waktu hingga wanita malang sembuh.


Sampai detik ini pun, Alea belum keluar dari kamarnya setelah sadar dari peristiwa tersebut.


Alea menoleh ke depan melihat wanita paru baya itu yang tengah meletakan makanan di nakasnya.


“Terima kasih Berta. Kau tidak usah repot membawakanku makanan ke sini, aku bisa mengambil sendiri di dapur!”


Berta menghampiri Alea yang selalu duduk di sana.


“Kau sudah dua hari ini tidak turun dari kamarmu, bahkan sudah dua hari pula kau tidak menginjakkan kaki ke dapur untuk makan. Aku mencemaskanmu Alea. Makanya aku sekalian membawakan makanan untukmu!”


Alea berdiri memeluk Berta secara tiba-tiba. Berta pun melingkarkan tanganya memeluk tubuh Alea yang kurus.


Sejak pertama kali datang wanita malang dengan tubuh kurus dan saat ini tubuhnya terlihat semakin kurus.


Berta kasihan kepada wanita malang itu, meski mereka dekat. Alea tidak pernah sekali pun cerita akan kesusahan mengurusi kelima peliharaan Tuannya yang terlihat oleh Berta jika wanita malang itu selalu terluka akibat kelima wanita jalang itu.


“Terima kasih Berta. Kau selalu mencemaskanku.”


pelukan Alea dengan tetesan air mata Ale membuat Berta di depanya pun ikut merasakan kesedihan wanita malang itu.


“Jangan berterima kasih Ale.”


“Tidak Berta! Aku akan tetap mengucapkan terima kasih kepadamu. Kau selalu mencemaskanku. Terima kasih untuk kebaikanmu kepadaku.


"Aku tak merasa asing di mansion ini dan tak merasa sendiri. Karena ada banyak orang yang sayang kepadaku.”


Berta menempuk punggung Alea masih berpelukan. Bagaikan seorang ibu dan Anak. Keduanya berpelukan dengan bebas.


“Kau sudah aku anggap keluargaku Ale. Jadi jangan terus kau berterima kasih kepadaku. Aku wanita jahat, dan tidak pantas mendapatkan pelukan dan prilaku sopan serta kebaikmu Ale dan aku merasa dihargai ketika kau datang ke mansion ini.”


Berta memegang baru Alea dan berhadapan.


“Kau adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk kami." Berta menatap nanar.


"Makanlah agar kau lekas sembuh, karena besok Tuan sudah memintamu untuk melanjutkan kembali tugasmu.”


Alea mengangguk setelah Berta melepaskan pelukanya itu dan pergi meninggalkan Alea sendiri di kamar.


***


Alea kembali bekerja, walau tidak bisa dipungkiri keadanya belum cukup baik dan masih merasa luka itu berdenyut nyeri jika banyak bergerak.


Tetapi Ale tidak bisa bermanja-manja diri dengan luka itu, yang mana devil itu hanya memberikan kebijaksana hanya dua hari bebas tugas selanjutnya Ale harus kembali mengerjakan tugasnya.


Wajahnya yang masih terlihat pucat dengan lukanya yang masih basah, amat disayangkan oleh Berta kepada Tuannya yang benar tidak mempunyai perasaan sama sekali.


Wanita itu masih butuh istirahat karena bukan luka biasa yang dialami oleh Alea, namun luka dalam yang masih basah.


“Aleeee….” Pekik Carla yang terbangun di pagi hari.


Berteriak keras dengan melihat ke bawah. Keempat wanita jalangnya lainnya sedang duduk di meja makanya untuk menikmati sarapan paginya, dengan Alea yang tengah menuangkan tea herbal untuk keempat wanita jalang di depanya.


Hanya Carla yang bertingkah bak Nyonya Colliettie, yang selalu ingin diperhatikan khusus oleh pelayan seperti Alea.


“Iyah Carla.”


Alea menoleh ke atas sejenak, melihat Carla berdiri di atas sana.


“Siapakan aku air panas untuk aku berendam. Jangan lupa kau beri bunga segar di dalamnya. Karena aku ingin mandi bunga hari ini!” perintah Carla.


Alea mengangguk di bawah sana dengan bergegas membawakan bunga segar yang sudah tersedia oleh pelayan lain dan Alea hanya menuangkan ke dalam bathtub saja.


Juliana yang duduk di kursi bundar bersama keempat wanita itu hanya menyunggingkan senyuman. Ketika menikmati sarapan yang Alea sudah siapkan untuknya.


“Ck. Carla selalu bertingkah layaknya Nyonya Colliettie saja, sungguh menjijikan!” gerutu Juliana.


“Iyah. Kenapa Tuan selalu memanggil Carla dari pada kita?” tanya Ariana menatap ketiga wanita yang tengah duduk santai menikmati sarapannya.


“Bukanya Mika sudah katakan. Jika kalian ingin protes kenapa tidak menemui Tuan saja sendiri?” Kelly yang tak pernah berkomentar akhirnya ia mengeluarkan suara emasnya. Muak!


“Kau tidak merasa irikah kepada Carla?”


Ariana menatap Kelly di depan sana. Wanita cantik itu memang tidak pernah mengeluarkan suara, bahkan Kelly sudah lama tidak pernah di sentuh oleh Tuannya dan wanita itu selalu bungkam ketika sudah bercinta dengan Tuannya.


Kelly mendengus lirih, meletakan cangkir tea herbal yang ia pegang dengan tersenyum. Sudah sebulan lebih Alea di sini.


Ia baru melihat wanita cantik itu tersenyum dan mengeluarkan suaranya, apa lagi wanita berambut pirang itu selalu diam seribu bahasa.


“Sayangnya, Aku tidak tertarik sama sekali ingin menjadi Nyonya Colliettie!” desis Kelly.


"Begitukah? Bagus jika begitu. Aku tidak harus memiliki banyak saingan di sini!” decak Ariana.


‘Astaga! Begitukah para kelima wanita jalang itu merebutkan Tuannnya. Dan Kelly wanita cantik itu tidak pernah tertarik sama sekali menjadi Nyonya Colliettie Devil keji itu?


'Dan kenapa dari kelima wanita jalang ini tidak adakah yang mampu menyentuh hati devil seperti Evans?’ lirih Alea melihat Kelly yang kini masuk ke dalam kamarnya.


Selesai mengantarkan sarapan pagi Ale duduk di kursi kayu di dapur.


“Kau sudah baikan Ale?” tanya Joe memberikan secangkir susu hangat kesukaan Ale.


“Aku sudah baikan Joe. Terima kasih susunya,” jawab Alea mengulum senyum pada Joe dengan menyesap secangkir susu hangat buatan Joe dan tak lupa cake yang Joe berikan kepadanya.


“Aku pikir kau akan seminggu bebas tugas, tetepi kenapa dua hari saja? Bahkan sepagi ini kau sudah mulai bekerja?” tanya Joe terlihat bingung.


Alea di depanya hanya menggedikan bahu. Tidak tahu!


“Tidak apa Joe, kelamaan juga aku malas berdiam diri di kamar saja. Terima kasih atas susu dan cakenya. Aku akan kembali bekerja. Bye Joe?”


Alea bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Joe di depan sana dengan menggeleng kepala, bahkan cakenya saja tidak habis wanita itu makan.


Apa wanita kurus itu sedang berdiet?


***


Di raihlah troli, dengan mentata perlatan makan di dekat sana, menunggu Joe yang sedang menyiapkan makan siang untuk para wanita jalang itu.


“Kau duduk saja di sini Ale. Biar aku yang membawa makan siang untuk para wanita jalang itu,” pinta Berta kepada Alea.


Entah sejak kapan Berta sangat sayang kepadanya, bahkan Alea yang terluka pun, Bertalah yang setiap hari menunggunya dan merawatnya.


Tangan kecil itu memegang tangan wanita paru baya, wajah pucatnya itu masih saja mengulum senyum kepada banyak orang di dalam sana.


“Tidak apa Berta. Aku masih kuat!”


“Tidak! Kau jangan membatah kali ini kepadaku. Aku hanya ingin kau duduk di sini, makanlah biar aku menyiapkan makanan untuk mereka.”


“Tetapi Berta.”


Alea melihat wanita paru baya itu sudah mendorong trolinya berjalan menuju ruangan kelima peliharaan Tuan.


“Sudahlah Ale. Tidak apa, Berta memang seperti itu dan kau makanlah.


“Terima kasih Bryan. Masakanmu selalu lezat aku sangat suka!” decak Alea kagum kepada pria muda itu, mungkin pria bermata brown itu umurnya di bawah dirinya.


“Jadi makanlah yang banyak, jika masakanku lezat.” Alea mengangguk pasti.


“Oh iyah Bryan. Apa kau tahu bagaiman nasib wanita hamil itu dan anaknya?” tanya Alea menyuapkan soup ke dalam mulutnya dengan lahap ia memakan.


"Wanita hamil itu meninggal dan anaknya pun sama menyusul ibunya,?" ucap Bryan memberikan air mineal dan obat untuk Alea.


Alea terdiam sejenak, menghela napas.


“Kau tidak usah sedih seperti itu Ale? bukanya wanita itu sudah menembakmu dan menjualmu?”


Bryan melihat wanita itu seperti merasa bersalah, hatinya memang baik dan beruntung pria yang bisa memiliki wanita setulus Alea.


Alea melanjutkan makannya kembali, memasukan soup ke dalam mulutnya dengan pikiran yang tersirat rasa kekecewaan kepada diri sendiri.


Gina memang berbuat jahat kepadanya menjualnya dan menembaknya. Tetapi bukan kematianlah membalas orang yang sudah jahat kepadanya.


Bryan menggerakan tangan kananya keudara tepat di depan Alea yang masih memandang dengan pandangan kosong, mulutnya memang bekerja mengunyah makanan dan tanganya pun bekerja dengan baik menyuapkan soup itu ke dalam mulutnya.


Tetapi pikiranlah Alelah yang masih entah berada di mana.


“Ale…kau melamun?” Bryan menggoyangkan tangan Alea.


“Hmmm!...Tidak Bryan, hanya berpikir saja!” dengus Alea pilu.


“Apa mayat Gina dikasih kepada binatang peliharan Tuan?" tanya Alea.


"Sedengarku tidak. Aku mendengarkan pembicaraan Mika dan Romeo. Jika mereka membuangnya ke tebing belakang.”


Alea terdiam kembali mengingat tebing belakang yang pernah Romeo ceritakan.


"Tebing belakang?” gumamnya yang terdengar oleh Bryan dan di anggukan oleh Bryan pula.


“Apa kau bisa membantuku?”


“Bantuan Apa?”


“Aku ingin sekali pergi ketebing itu Bryan, untuk terakhir kalinya. Bagaimana?” pinta Alea menatap Bryan.


Kedua tangan kecil itu memegang tangan Bryan seolah dirinya butuh bantuanya.


Bryan mengangguk setuju ia akan membantu Alea untuk mengantarkanya ketebing tempat biasa membuang mayat.


“Terima kasih Bryan.”


“Tetapi tidak sekarang Ale. Kita harus mencari waktu yang tepat untuk ke sana, karena kau tahu sendiri bukan?


"Penjagaan di mansion ini sangat ketat dan aku tidak mau kau mendapatkan masalah kembali,” bisik Bryan di telinga Alea.


Bryan tidak mau ada salah satu orang yang mendengar akan dirinya yang membantu Alea ketebing itu. karena tempat itu sangat dilarang.


“Oke. Aku paham Bryan!”


**


Alea mulai membawa sapu, membersihkan setiap sudut mini kebun binatang itu tampa lelah, membantu memberikan makanan kepada buaya dan harimau itu bersama dengan Romeo yang melihat wanita malang itu masih terlihat pucat.


“Sebaiknya kau istirahat jangan di forsir tenagamu yang masih lemah itu. Duduk sajalah aku sudah terbiasa melakukanya sendiri,” gumam Romeo melihat Alea.


“Aku tidak apa paman,” hardik Alea selalu meyakinikan dirinya baik-baik saja, walau Alea saat ini ia merasa lukanya berdenyut nyeri.


Dengan tersenyuma manis yang selalu Alea tunjukan membuat pria paru baya itu sedikit tenang dan tidak menanyakan luka tembak ini. Alea tidak ingin merepotkan orang lain.


Romeo berkacak pinggang di depan wanita malang itu yang tidak mendengarkan perintahnya. Bandel dasar! Disuruh berhenti untuk mengangkat-angkat namun wanita itu menghiraukanya.


“Ale simpanlah! Sudah kau berhenti. Aku tidak mau melihatmu pingsan kembali, karena wajahmu sudah begitu pucat.


"Kau temani aku saja di sini tidak usah repot untuk membantu membersikan. Lukamu masih basah Ale!”


Alea mengangguk dengan tanganya menyimbolkan ‘Oke’ duduk sejenak dengan menatap kesekeliling mini kebun binatang itu membuat Alea tersenyum sendiri. Sudah bersih semua.


“Apa wanita jalang itu selalu mengganggumu Ale?”


Alea duduk di kursi itu dengan kedua kaki yang diayun perlahan.


“Hanya sedikit paman. Hanya saja mereka sangat menyebalkan itu saja! Bertingkah seperti layaknya Nyonya Colliettie saja!” gumam Alea di depan Romeo.


“Tetapi aku merasa aneh dengan salah satu wanita jalang Tuan yang selalu bersikap santai?”


“Maksudmu Kelly?”


Romeo yang sedang memberikan makan kepada buaya pun menjawab.


“Pamana tau wanita jalang Tuan Evans?”


Romeo membasuh tanganya berjalan mendekati Alea yang duduk di depan sana.


“Kelly sama dia wanita jalan Tuan dan sama dengan keempat wanita jalanganya yang lain, hanya satu yang aku dengar dari kelimanya seorang tahanan dan entah siapa-siapanya aku tidak tahu.


"Sama-sama memuaskan Tuannya. Hanya saja ada salah satu wanita yang Tuannya belum tersentuh oleh Tuannya.”


“Hmm…siapa?” tanya Alea dengan memiringkan kepalanya berpikir.


“Kau!”


Alea membulatkan kedua matanya pada Romeo yang tertawa kecil di depan Alea.


“Hanya kau yang belum tersentuh oleh Tuan.”


Alea menggedikan bahunya dengan wajah kesalnya, karena tidak Romeo dan tidak juga Mika.


Mereka berdua selalu berkata hal yang menjijikan seperti itu.


‘Ngomong-omong ke mana perginya Mika? Aku sudah lama tidak melihat wanita dingin itu lagi. Apa wanita itu sedang sibuk?


'Ah entahlah kemana perginya Mika saat ini, wanita itu sudah seperti hantu selalu datang tiba-tiba.’ Batin Alea.


“Paman sama seperti Mika. Sama-sama menyebalkan. Aku bukan wanita jalang Tuan paman dan aku tidak mau!”


“Tuan bukanya tampan Ale? Kenapa kau tidak suka? Heran!”


Alea di sampingnya pun bergeming, lebih baik pergi meninggalkan Romeo yang bertanya yang tidak-tidak dan pria paru baya itu masih saja mempertawakan dirinya.


Alea malas untuk menjawab hal-hal seperti itu, sangat menjijikan bagi Alea.


Jika kelima wanita jalang yang terlihat cantik dan sempurna itu tidak bisa menyentuh hati devil seperti Evans Colliettie.


Apa lagi dirinya yang hanya wanita biasa dan bodoh. Alea tidak kuat bersaing dengan kelima wanita secantik penghangat ranjang Evans.


“Haii Kamu ke mana Ale, belum beres pekerjaan kita?” teriak Romeo pada wanita itu yang sudah berada di depan pintu.


Alea menoleh ke Romeo dengan bibirnya mengerucut menujukan dirinya marah.


“Paman menyebalkan!” teriak Alea tak kalah keras lalu melanjutkan kembali hingga keluar dari kebun binatang mini milik Evans.


Romeo menggeleng dengan tersenyum simpul.


“Ale… Ale. Tuan Evans itu tampan. Kenapa kau tidak tertarik kepada Tuanmu itu?” decak Romeo kembali melanjutkan pekerjaanya menuju ruangan bawah tanah.


Alea keluar dari pintu besar itu. Ia menghentakan kakinya kesal, dengan sorot matanya yang menyepit.


Kekesalan di hatinya yang selalu dijadikan wanita jalang Tuannya.


“Tampan saja tidak cukup! Kalo tidak punya hati percuma! Apa lagi kejam, dan…”


Alea menghentikan langkahnya kesal.


“Dan apa?”


Bersambung...