
Happy Reading :)
Bentuk tubuh proporsional, dengan jambang tipis di wajahnya tak luput akan potongan rambut undercutnya membuat penampilan pria bertubuh tinggi itu terlihat sempurna.
Dengan pakain formalnya ia berjalan sendiri untuk melihat-lihat binatang kesayanganya.
Pria yang tidak lain mafia kejam itu, Evans Colliettie berjalan seorang diri tampa ada pengawal dan juga orang kepercayaanya yang selalu mengikutinya.
Dengan langkah gontai, Evans menghampiri pintu kayu bercat merah di depan matanya. Namun langkahnya terhenti ketika ia sudah berada di depan pintu tersebut dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mini kebun binatangnya.
Seketika ia mendengar suara teriakan seseorang di dalam sana.
“Haii kamu ke mana Ale, belum beres pekerjaan kita?” teriak Romeo pada wanita itu yang sudah berada di depan pintu.
Alea menoleh ke arah Romeo dengan bibirnya mengerucut menujukan dirinya marah.
“Paman menyebalkan!” teriak Alea tak kalah keras lalu melanjutkan kembali hingga keluar dari kebun binatang mini milik Evans.
Romeo menggeleng dengan tersenyum simpul.
“Ale… Ale. Tuan Evans itu tampan, kenapa kau tidak tertarik kepada Tuanmu itu?” decak Romeo kembali setelah menatap Alea yang sudah keluar dari pintu besar bercat merah tersebut.
Ia pun kembali melanjutkan pekerjaanya menuju ruangan bawah tanah.
Alea membanting pintu besar itu dengan keras, raut wajahnya terlihat kesal dengan dadanya naik turun bergemuruh.
Kedua kakinya di hentakan dengan keras sorot matanya yang tajam. Kenapa dirinya selalu dikaitkan dengan wanita jalang Tuannya, sama sekali ia tidak ingin menjadi wanita jalang seorang Evans Colliettie.
“Tampan saja tidak cukup! Kalau tidak punya hati percuma buat apa! Apa lagi orang itu kejam, dan…”
Alea terhenti sejenak dengan pikiran yang masih di penuhi akan sosok devil seperti Evans Colliettie.
“Dan apa?”
“Hmm!”
Sontak suara itu membuat kedua matanya terbuka lebar, jelas Alea mengenali suara berington itu.
“Kenapa kau tidak melanjutkan kembali?”
‘Sial!’ umpat Alea, kenapa ia bisa mengumpat ke kesalahannya.
Seharusnya ia tidak sembarang mengumpat di tempat yang jelas adalah kekuasaannya.
Alea memberanikan diri memutar tubuhnya ke belakang dengan helaan napas berat Alea sudah yakin akan suara itu adalah milik mafia kejam.
Bukannya Alea takut melihat sosok mafia kejam itu, tetapi Alea seolah tersihir dengan wajah tampan rupawan milik The Black Rose di hadapanya ini yang menatap dingin padanya.
“Kau tadi sedang mengumpat tentang diriku bukan?”
Alea terdiam masih mematung menatap wajah devil yang begitu tampan, mata indahnya begitu menyihir membuat dirinya tidak mendengarkan ucapan yang Evans lontarkan padanya.
Devil itu tersenyum miring, namun ketampannya tidak berkurang sedikit pun, hingga Alea tidak tersadar Evans kini sudah berada di depannya dengan jarak yang begitu dekat.
Detak jantungnya berdetak kencang, dadanya naik turun dan terasa sesak hingga rasanya ia tidak bisa bernafas dengan normal.
Oh astaga seakan-akan jantung akan lepas ketika Evans menarik tubuhnya merapat, hingga kini kedua tubuhnya menempel.
Alea tidak bekedip melihat ketampanan seorang Evans Colliettie, The Black Rose dari dekat.
‘Sungguh sial kali aku ini, melihat devil yang sangat tampan di hadapanku dan menyihiriku seperti wanita bodoh. Bahkan tubuhku saja menolak untuk pergi dari hadapanya,’ batin Alea.
“Kau tak akan melanjutkan kembali, hmm?”
Evans memajukan wajahnya hingga kedua hidungnya saling bertemu. Hembusan nafas hangat dan aroma mint membuat Alea seperti terkena serang jantung.
Diam dengan dadanya yang mulai sesak, bahkan aroma mint yang keluar dari mulut Evans seolah menggodanya.
“Aku ingin mendengarkan umpatanmu kembali,” bisik Evans di dekat telinganya membuat Alea memejamkan matanya.
“Apa kau ingin menggodaku? Menginginkan ciumanku kembali, hmm?” bisik Evans kembali melihat wajah bodoh Alea yang terpejam di depan matanya.
Alea membulatkan kedua matanya lebar-lebar ketika tersadar dan lalu menggeleng cepat. Jelas-jelas dirinya bukan menggoda apa lagi menginginkan ciuman dari devil itu.
Tetapi kenapa tubuhnya seolah berhianat menginginkan semua sentuhan dari sang devil itu?
Alea mendorong tubuh kekar Evans ketika kedua tubuhnya sangat dekat dengan Evans. Ia memilih untuk pergi dari pada ia harus menjawab semua pertanyaan Evans yang masih menatapnya lekat, namun sorot matanya begitu dingin.
“Setakut itukah wanita bodoh itu padaku?” gumam Evans, menatap punggung Alea yang berjalan terbirit-birit dengan langkah kakinya yang terlihat cepat.
Alea langsung berlari ketika sepintas menengok ke belakang melihat Evans yang masih menatapnya tajam.
“Sepertinya wanita bodoh itu sudah sangat akrab dengan para pelayan lainya,” gumam Evans, mengingat suara teriakan di balik pintu besar bercat merah tersebut.
**
Degupan jantung terasa kencang Alea terdiam sejenak di dekat dapur untuk mengantur tubuhnya yang terlihat seperti berlari maraton dengan keringat yang telihat di keningnya.
“Ale? Kau kenapa terlihat seperti itu?” tanya Joe mendapati Alea yang terlihat kelelahan.
“Apa kau sudah berlari maraton, hingga terlihat kelelahan?” tanya Joe kembali.
Alea melambaikan tangannya yang diiringi gelengan kepala, namun Joe yang tidak percaya pun langsung menarik lengan Alea dan membawanya ke suatu tempat yang tidak lain menuju dapur.
“Minumlah, kau pasti haus setelah berlari kencang?”
“Tidak! Aku tidak berlari!”
“Apaaahh? Kau berlari?” tanya Berta yang baru saja kembali dari tugasnya.
Wanita itu mendengarkan obrolan Joe dan Alea yang terlihat mengatur nafasnya yang masih tersenggal-senggal.
“Lukamu masih basah Alea, kenapa tidak ada kerjaan kau berlari seperti itu, hah?” ucap Berta terlihat marah pada Alea.
Bagaimana Berta tidak marah melihat wajah pucat itu terlihat jelas, bahkan nafas Alea masih memburu dengan keringat yang mengucur di wajahnya, mempertandakan bahwa Alea benar-benar berlarian.
“Tidak Berta. Hanya saja…jalanku sangat kencang.”
***
Ruangan kerja Evans, Mansio, Napoli.
“Apa kau sudah menemukan apa yang aku minta?”
Evans duduk di kursi kebesaranya tepat di ruang kerjanya dengan pakaian formal berwarna navi. Kini ia sudah mengganti pakaianya setelah kembali dari binatang kesayanganya.
“Sudah Tuan, dan ini data akan wanita itu dan pria bernama Mike Shander.”
Mika meletakan map biru di meja Tuannya dan berlalu pergi ketika Evans menghentakan tangannya agar Mika keluar dari ruangan kerjanya.
Evans mengambil map biru yang berada di atas menjanya, membuka perlahan dengan sorot mata yang tajam menatap lembar demi lembar data akan Alea, Mike Shander dan juga wanita hamil yang datang ke mansionnya.
Sejak peristiwa itu, Evans penasaran akan keberanian wanita yang bermana Gina Robert untuk meminta mengembalikan wanita bodoh itu dari tangannya.
Usaha Gina terbilang bunuh diri, karena tidak akan mudah apa yang sudah ia genggam diambil paksa oleh seseorang dengan hasil wanita hamil itu mati di kediamannya.
Evans mengeryit menatap sebuah foto yang ia pegang, foto sepasang kekasih yang tengah memeluk kekasihnya dengan erat di tubuh kecil milik wanita bodoh itu yang terlihat bahagia.
“Mike Shander?” gumam Evans mengingat-ingat nama Mike Shander dengan jari-jarinya mengetuk meja kerjanya.
“Cihh! Pria yang sudah berselingkuh selama setahun bersama dengan wanita jalang itu, dan mempunyai hubungan lebih lama bersama dengan Alea Anjanie wanita berwarga negara Siangpore?” lirih Evans.
Namun tatapan Evans yang tajam menuju akan sosok pria Mike Shander.
Evan merasa tidak asing dengan wajah pria itu. Namum siapa sebenarnya Mike Shander?
Tidak lama, ia bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan kerjanya dengan memakai coat berwarna abu-abu yang sudah pelayan siapakan untuknya dan mengenakanya.
Wanita paruh baya yang tidak lain Berta selalu melayani kebutuhan Evans semenjak kecil.
Langkah kakinya membawa pria bertubuh kekar itu menuju ruang utama, untuk pergi keluar mengurus bisnisnya.
Mika terlihat berdiri di ambang pintu, membukukan tubuhnya seraya memberi hormat lalu berjalan di belakang Tuannya hingga sampai di depan sebuah mobil hitam pekat yang sudah menantinya.
Pria itu terlihat begitu tegas, kejam dan tidak berperasaan, auranya kembali seperti dulu kala ketika kemarin-marin ia menembak akan hati Tuannya.
“Apa kau sudah menemukan di mana saat ini keberadaan Mike Shander?” tanya Evans pada Mika yang duduk di depan bersama dengan supir.
“Sejauh ini belum Tuan. Saya belum menemukan keberadaan Mike Shander setelah penculikan Alea oleh William Brug!”
Evans menghela napas lirih, setelah mendengar jawaban dari Mika akan keberadaan Mike Shander, entah kenapa ia menjadi penasaran akan sosok pria yang sejak tadi menyita pikiranya itu.
‘Sepertinya pria itu bukan pria biasa,’ ucap Evans dalam hatinya.
“Terus kau cari pria bernama Mike Shander, sepertinya pria itu tak asing bagiku?” gumam Evans yang dianggukan Mika di depan sana.
Mika yang duduk di kursi depan pun berpikir dalam diam, akan Tuannya yang meminta untuk mencari siapa sebenarnya kekasih, Alea yang tidak lain Mike Shander.
Kenapa kali ini Tuannya begitu ingin tahu akan masalah wanita malang itu?
Masihkah bisa Mika berpikir jika kali ini pikirannya salah akan The Black Rose?
***
“Ale kau terlihat berbeda siang ini?” ungkap Bryan di depan meja kitchennya mengedipkan sebelah matanya.
Bryan terlihat menggombal di depan semua orang yang tengah sibuk untuk menyiapkan makan siang, jelas orang yang di sana pun mendengar dan melihat tingkah Bryan yang tidak biasa itu.
Alea diam tidak menanggapi gombalan Bryan di depannya, terlihat tersenyum menggodanya.
“Kau terlihat begitu cantik siang ini, Alea,” ungkap Bryan kembali.
Ungkapan itu adalah kejujuran dari hati Bryan dan tidak menggombal, Alea memang selalu terlihat cantik meski tidak bermake up sekalipun. Alea cantik alami luar dalam.
“Apaah?” tanya Alea dengan dengusan lirih.
“Sayang. Kau cantik namun tuli!”
Bryan terkekeh, menatap Alea yang terlihat mendengus kesal kepadanya, meruncingkan bibirnya dengan sorot matanya yang tajam, meski tatapanya seolah membunuh hatiya, namun Alea benar-benar cantik.
“Pujianmu itu berujung menghinaku Bryan!”
Alea membuang muka dengan Bryan tertawa geli menatap Alea.
Sejujurnya kedatangan Alea ke mansion ini membuat Bryan merasa berbeda, seolah ia memiliki semangat baru.
“Maafkan aku jika seperti itu!”
Bryan tersenyum menujukan giginya yang rapih dan putih di depan Alea yang terlihat kesal.
Bryan menghampiri Alea dan menyandarkan tubuh atletisnya di meja kitchenya dan berada di samping Alea.
Bryan menyondongkan wajahnya tepat di wajah Alea dengan reflex Alea langsung mudur karena takut Bryan akan menciumnya, seperti…
Evans.
Ya, dia pernah seperti ini ketika devil itu datang menghampirinya sewaktu di taman terlarang itu.
“Kau tegang begitu? aku tidak akan menciummu Ale,” ucap Bryan kembali tertawa.
“Apa kau mau? Jika mau, aku tidak akan menolaknya Ale!”
“Ihh apaan sih Bryan.”
Alea mendorong tubuh kekar Bryan dengan Bryan sedikit mendekat kembali dan berbisik di telinga Alea.
“Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu Ale, jadi kau tenang dulu. Aku tidak ingin mereka mencurigai kita!”
Bryan menarik napas dalam dan kembali membisik di telinga Alea.
“Alea aku dengar Tuan Evans malam nanti akan pergi bersama dengan Mika kesalah satu pertemuan. Kita ada waktu kurang lebih satu jam, bagaimana?”
Alea melihat situasi di sekitarnya yang terlihat sibuk meletakan makanan ke dalam trolinya untuk para wanita jalang Evans.
“Baiklah Bryan, tidak apa,” gumam Alea pelan yang dianggukan oleh Bryan di samping kirinya.
Mereka kembali acting di depan sana, senyuman manis dan tertawa kecil Alea disaksikan oleh Berta dan Antony, bahkan Joe yang berada di kitchen melihat Bryan yang terlihat seperti penggoda ulung.
Joe mengumpat kesal, karena Bryan tidak melanjutkan kembali memasak namun terlihat senang menggoda Alea.
“Kau tidak akan membantuku, Bryan?” tanya Joe di depan sana.
“Paman seperti tidak pernah melihat orang senang saja. Sebantar saja paman,” ujar Joe melihat Joe dengan kedipan mata meminta pria paruh baya itu memahaminya.
“Kau lekaslah membantu Joe agar selesai makan siang untuk kelima wanita jalang Tuan Evans. Mereka lebih mengerikan ketika lapar!”
“Tinggal satu menu lagi kok Ale.”
Berta dan Antony yang berada di depan sana pun melihat Alea dan Bryan yang terlihat dekat. Keduanya bahkan mengira jika anak sulungnya itu sedang mendekati Alea.
Ya, walau Antony tahu Berta istrinya amat peduli kepada wanita malang itu, mungkin rasa rindunya Berta kepada anak perempuanya yang meninggal dua puluh tiga tahun yang lalu.
“Kalian kenapa berbisik-berbisik dan senyum-senyum seperti itu? Mencurigakan!”
“Kau jangan kepo Berta!” ujar Bryan pada Berta di depan sana.
Alea mencubit pinggang Bryan pelan, karena pria itu sudah tidak sopan kepada orang yang lebih tua, apa lagi Berta adalah ibu kandungnya.
“Awww sakit Ale!” rintih Bryan memegang pingganya dengan wajah yang meringis.
“Kenapa kau mencubit pinggangku?”
Bryan melihat Alea dengan wajah yang tak berdosa, wanita itu masih saja terlihat sibuk mentata makan siang di trolinya.
“Kau sudah tidak sopan kepada orang tua, Bryan! Panggilah mereka berdua ibu dan ayahmu, karena memang sebenarnya mereka adalah orang tuamu bukan?” tanya Alea pada Bryan di depannya dengan wajah pria itu yang masih meringis kesakitan.
“Cubitanmu sungguh sakit Ale!”
“Hikss...Aku hanya pelan Bryan. Kau jangan sok lebay! Seperti itu saja kau kesakitan.”
Antony dan Berta di depan sana yang sedang menikmati makan siang pun tersenyum pada anak sulungnya dan wanita malang itu.
Alea benar-benar merubah semuanya. Merubah keluarga kecilnya yang dingin dan acuh kembali hangat akan kedatangannya.
“Baiklah aku akan sopan kepada mereka, kau senang?” jawab Bryan cemberut, dengan wajah yang terlihat terpaksa.
“Seharusnya kau lakukan itu bukan untukku, tetapi untuk kedua orang tuamu. Hiksss dasar anak nakal kau ini Bryan?” pukul Alea lagi pada tangan kekar dengan otot-ototnya yang terlihat.
“Sudah-sudah, kalian tadi saja tampak romantis sekarang seperti kucing dan tikus!” gerutu Berta tersenyum mengejek pada keduanya.
“Apaahh?” jawab keduanya terlihat kompak.
“Tidak begitu Berta?!” tolak Alea dengan kedua tanganya menggerakan tidak.
Karena ia dan Bryan hanya sekedar teman.
Bersambung...