
“Kau akan menyesali semua ini Alea. Camkan itu!”
Evans menghempaskan cengkeramannya hingga tubuh kecil itu mundur. Beruntung Alea bisa menyimbangi tubuhnya agar tidak jatuh di aspal panas.
Alea pandangi sang devil di mana pria itu terlihat menyusut jejak darah yang terdapat di tangannya dengan sapu tangannya yang diambil dari coatnya.
Pria tampan berwajah datar itu mengambil ponsel di saku celananya lalu meletakan benda persegi itu di telinganya.
Evans menghubungi seseorang, yang tentunya Alea kenal. Alea berusaha tetap berdiri dengan tegap sekalipun denyutan di kepalanya kembali terasa.
“Mika…”
“Ya, Tuan…” jawab Mika yang masih berdiri diambang pintu private jat.
Jarak yang lumayan jauh antara Evans dan Mika berdiri, keduanya berbicara melalui panggilan selulernya.
“Lekaslah hubungi kau hubungi Abraham di depan sana,” tunjuk Evans pada pria tua yang masih setia berdiri di dekat pintu mobil hitam. Pria itu nampak sengaja tidak mencegah wanita bodoh itu.
“Katakan pada pria tua itu ada pekerjaan untuknya.”
Mika berikan anggukan pelan yang dilihat oleh Evans. Wanita cantik yang sama persis dengan Evans itu pun lekas menghubungi Abraham sesuai dengan perkataan Evans.
Alea berseru lega, ketika Evans pada akhirnya mengabulkan permintaanya. Dengan tertatih, Alea menghampiri Evans.
“Kenapa kita tidak pergi ke sana langsung, Evans?”
Alea pandangi wajah yang menyeramkan itu yang sama sekali tidak menatapnya.
“Aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Please, izinkanlah aku untuk bertemu dengan mereka untuk terakhir kalinya, Evans,” mohon Alea, bersemoga Evans masih murah hati mau mengabulkan satu keinginannya.
Evans mendengus jengah. Pria itu marah hingga satu tangannya kembali mencengkram lengan Alea hingga tubuh kuru situ tersentak dan bertuburukan dengan bidang dadanya.
“Tentu saja, Alea,” jawab Evans dengan ekspresi dingin. Alea tidak peduli itu, dia hanya tersenyum sebagai ucapan terima kasih.
“Dalam mimpimu malam ini kau bertemu dengan mereka!” sambung Evans yang membuat senyuman yang melengkung itu memudar.
“Jangan pernah melunjak Alea kuperingatkan padamu!” Evans menatap nyalang pada wanita bodoh di hadapannya itu.
“Kita akan tetap kembali ke Napoli, urusanmu dan juga permintaan bodohmu itu sudah Abraham urus! Jadi kau sekali lagi kau jangan banyak bertingkah!”
“Itu bukan permintaan bodoh, Evans!” sela Alea tidak terima bila Evans terus menghinanya.
“Ck! Pakai otakmu sekali lagi dengan permintaanmu. Apa permintaanmu itu tidaklah bodoh?”
“Semua yang aku lakukan ini hanya sebagai bentuk rasa bersalahku pada mereka, Evans. Aku ingin menebus semua kesalahanku dan juga dosaku pada mereka,” hardik Alea tegas.
“Bagiku itu sama saja, bodoh! Apa yang kau lakukan ini hingga kau rela mengorbankan hidupmu sendiri apa itu tidaklah bodoh, hmm?”
Evans dan Alea saling pandang, keduanya masih bersikeras berdebat dengan permintaan Alea yang seperti Evans katakana, wanita itu bodoh menukar segalanya demi orang lain.
Angel dan Devil itu sama-sama bersikeras dengan pikiran masing-masing yang berseberangan.
“Kamu memang tidak punya rasa empati, Evans. Rasa empatimu mungkin sudah kau kubur dalam-dalam hingga kau tidak punya hati! Sudah lama ini hatimu memang sudah mati!”
Evans tersenyum miring. “Ck! Omong kosong. Orang-orang sepertimulah yang pada akhirnya lebih banyak mati sia-sia! Jangan pernah kau menentangku lagi, Alea! Ingat itu!” decak Evans seraya menarik lengannya untuk segera berjalan.
Dia sudah tidak mau membuang waktunya yang berharga hanya mendengarkan bualan wanita bodoh ini. “Ck! Sok mengajarkan empati padaku. Dasar wanita bodoh!” decak Evans dalam hati.
Alea menatap kesal pada mafia kejam yang menariknya begitu keras bak seperti anak kucing.
‘Hatimu memang sudah lama mati, Evans. Hingga kau selama ini tidak punya rasa belas kasih pada orang.
‘Aku tidak tahu kalau Ryander melakukan semua ini selain butuh uang tapi dia pun membalas dendam atas perbuatan Mike. Astaga. Aku benar salah sudah jatuh cinta pada Devil seperti Mike Shander,’ batin Alea.
Evans menarik Alea yang jalan begitu lambat seperti kura-kura, dia menghela nafas pelan dengan pikiran yang penuh. Evans baru tahu kalau wanita bodoh itu selain bodoh Alea pun keras kepala.
Alea terlalu polos, terlalu baik pada teman sampai wanita itu tidak bisa membedakan mana teman yang suguhan dan mana yang hanya toxic saja baginya.
Tidak hanya itu, Evans kini tahu kalau Alea mempunyai solidaritas tinggi pada teman-temannya meski Alea selalu dimanfaatkan.
Apapun yang menyangkut nyawa seseorang, Alea rela mengorbankan dirinya sendiri.
“Evans…” panggil Alea pelan.
Pria itu diam tanpa menjawab apa lagi menoleh ke belakang.
“Apa aku boleh meminta satu permintaan lagi padamu?” pinta Alea dengan harap-harap cemas.
Dan lagi, wanita bodoh itu ber semoga Evans tengah dirasuki malaikat agar keinginannya yang satu ini bisa dikabulkan.
Evans menghentikan langkahnya mendadak hingga tubuh kecil itu otomatis menubruk tubuh kekar Evans.
“Tidak! Tidak ada lagi permintaan, Alea!”
“Please, Evans. Aku mohon satu ini lagi,” rengek Alea seraya mengatupkan kedua tangannya mohon kemurahan hati Evans untuk mau mendengarkannya.
Evans menatap nyalang, benar-benar wanita bodoh itu setelah diberi hati langsung minta jantung.
“Sekali tidak, tidak, Alea!” tegasnya.
“Aku tahu karena permintaan kedua mu itu sama bodohnya lagi bahkan bodohmu itu sepertinya sudah mendarah daging,” sambung Evans seraya mencengkram tangan Alea dan kembali menarik keras untuk berjalan menuju private jatnya.
“Cepatlah berjalanlah, Alea. Kamu membuang banyak waktuku!”
“Arghht…”
Alea merintih satu tangannya memegang kepalanya yang berdenyut keras di kepalanya begitupun rasa perih di perutnya yang kini sudah terasa.
Satu tangan kecilnya Alea tarik dari genggaman Evans. Alea memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Wanita bodoh itu memejamkan kedua mata dengan kening yang berkerut. Tak bisa menahan lagi rasa nyeri di kepalanya, Alea kehilangan kesimbangan hingga tubuhnya terhuyung dan—
Gap!
Evans dengan cepat menopang tubuh Alea yang hendak terjatuh. “Ah, kepalaku sakit. Ini sakit,” rintih Alea seraya meremas erat rambutnya.
“Astaga. Apa kau kini berakting lagi, hah?”
Kening Alea masih mengernyit keras hingga Evans melihat sendiri pegangan kedua tangan Alea begitu erat di rambutnya. Alea setengah menjambak rambutnya sendiri.
Tidak terlihat kalau Alea tengah berakting di sini. Wanita bodoh itu memang kelihatan kesakitan. Namun, sikapnya bodohnya lah yang membuat Evans geram sendiri pada Alea.
“CK! Dasar sok kuat padahal kau itu lemah, Alea!”
“Di mana kamu menyimpan obatmu, hah?” seru Evans, lama-lama dengan Angel membuat darah tingginya naik.
“Ada di dalam tasku, Ev,” lirih Alea seraya menunjuk di mana letak tasnya.
“Dasar wanita bodoh!”