Mafia And Me

Mafia And Me
Jatuh Lebih Dalam Lagi



Pria bermata hijau keemasan itu menghela napas lirih. Ia duduk di kursi kebesaranya dengan wajah datar


dan dingin.


Kini Evans menatap wanita kepercayaanya yang kini berdiri tepat di hadapanya.Tatapan sendu milik wanita dingin sepertinya pun tersentuh akan kehadiran wanita bodoh itu di mansionya.


Sedikitnya orang kini merasa nyaman akan kedatangan Alea di mansionya namun tidak dengan dirinya.


“Apa yang mau kau sampaikan kepadaku?” tanya Evans, dengan jemarinya yang mengetuk


mejanya.


“Kita butuh darah untuk menolong wanita bodoh itu!”


Mika menghela bertatapan dengan wajah Evans yang sudah datar kembali. Seperti tidak tersentuh akan keadaan Alea saat


ini.


“Ada beberapa orang yang cocok dengan golongan darah Alea. Tetapi mereka tidak bisa


mendonorkan karena keadaan orang itu sedang terpengaruh alcohol dan wanita itu akan mati jika tidak ditolong!” ujar Mika.


Evans terdiam dengan pikiranya. Bahkan raut wajahnya kni terlihat menakutkan lebih dari biasanya, membuat Mika heran akan sikap Tuannya saat ini.


“Biarkan ia menjemput ajalnya sendiri!" Evans menjawab santai tidak ada ekspresi di wajahnya.


Evans pun meminta Mika untuk pergi dari hadapanya, namun Mika masih berdiri di depan Tuannya, menatap Tuanya.


“Setidaknya Tuan bisa bantu untuk menyelamatkan wanita bodoh itu dan setelah itu, kembalikan wanita itu ke negaranya.


"agar tidak membuat masalah di mansion anda. Jangan bermain dengan api Tuan, jika Tuan


tidak ingin jatuh lebih dalam lagi,” tegas Mika.


Evans mengetatkan giginya terlihat marah, baru pertama kalinya wanita kepercayaanya itu berbuat seperti ini. Mika tidak pernah sekalipun berkata seperi ini kepadanya, bahkan terdengar sekali orang kepercayaanya itu terluhat membela wanita bodoh seperti Alea.


“Kau memerintahku, hah?” rahang Evans mengetat dengan sorotan mata elangnya menatap Mika tajam.


 “Karena anda terlihat berbeda Tuan! Maka saya menyarankan agar anda kembalikan wanita bodoh itu ke negaranya, jikaTuan tidak ingin jatuh lebih dalam lagi!”


Kata-kata itu yang Mika lontarkan itu, terdengar penuh penekanan pada Tuannya yang sudah


berdiri tegak menatap dirinya.Tentu Evans mengerti akan maksud dengan ucapan Mika.


Tidak ada respon sama sekali dari Evans, hanya sebuah tatapan tajam. Mika membungkukan tubuhnya untuk pamit pergi dari hadapan Evans.


 Mika membalikan tubuhnya sekilas, sebelum pergi dari hadapan tuannya itu dengan sedikit terkejut akan prilaku


Tuannya yang terlihat tidak penduli seperti itu. Bahkan sudah beberapa kali ia mengingatkan Tuannya, akan sebuah permainan yang sedang Tuannya itu ciptakan saat ini.


Dengan langkah cepat Mika pergi untuk mencari orang kembali yang bersedia mendonorkan


darahnya untuk wanita bodoh yang terbaring lemah di sana.


 


“Astaga aku tidak percaya semua ini,” gumam Mika mendengus nafas kasar berjalan di lorong


untuk mencari orang yang belum mendorokan darah.


“Maafkan aku yang tidak bisa menolongmu Ale?!” batin Mika.


Entah dorongan apa. Mika ingin sekali menolong wanita bodoh itu, bahkan Mika sendiri terlihat kacau saat ini berdiri di sudut lorong yang gelap. Sedikit mengacak-acak rambutnya dengan tingkah Mika yang jauh lebih aneh saat ini dari pada Tuannya.


**


“Bagaimana dok?” tanya Mika pada dokter dengan posisi Mika menatap keadaan Alea yang


terpasang selang infus dan tunggu—


Mika melihat selang infus dengan dua labu kantung darah yang sudah mengalir melalui selang


infus ke tubuh wanita malang itu dan satu lagi masih menggantung di sebelahnya.


Sejam sudah Mika berkeliling untuk mencari para pengawal yang dalam keadaan sehat, namun


sejak tadi ia tidak mendapatkanya.


Lalu darah itu?


Siapa yang mendonorkanya? Batin Mika melihat darah yang sudah menggantung di tiang impusnya.


“Keadaanya sekarang stabil, hanya menunggu waktu saja dia tersadar dan lukanya pun sudah saya jahit kembali."


“Siapa yang mendonorkan darah itu, dok?” tunjuk Mika pada tiang infus. Penasaran.


“Seseorang pelayan di mansion ini yang sudah mendonorkan darahnya untuk Alea,” jawab dokter.


Mika mengangguk mengerti, karena belum semua pelayan yang Mika kumpulkan untuk membantu Alea. Setidaknya kali ini Alea selamat. Masalah Alea, yang Mika ingin wanita itu di kembalikan ke negeranya.


Sepertinya terdengar mustahil tuannya mengabulkannya.Bahkan perkataanya tadi itu sama sekali tidak menentangnya. Ia hanya tidak ingin melihat wanita itu mati saja.


**


Evans berdiri tegap di depan bercermin melihat penampilanya saat ini. Sebelah tangannya mengancingkan kemeja panjangnya.


 


“Anda ada pertemuan hari Tuan!”


Evans hanya berdeham menjawab pertanyaan Mika yang berada di belakangnya. Sebenarnya, tampa diingatkan oleh Mika pun, Evans sudah tahu jadwal dirinya hari ini.


“Apa Tuan yang sudah mendonorkan darah itu?” tanya Mika.


Ia penasaran sejak semalam, akan siapa orang yang sudah mendonorkan darah untuk Alea. Meski Mika rasa tuannya tidak mungkin mendonorkan darah untuk wanita bodoh itu.


Sungguh terdengar mustahil.


Tetapi entah kenapa hatinya berkata lain, dan tuannyalah yang sudah mendonorkannya.


Evans berbalik dengan pelayan tua itu sudah berdiri melebarkan jasnya, dengan santainya Evans memasukan tangan kanan dan kirinya lalu merapihkan sendiri jasnya.


“Bukannya kau tau aku tidak peduli dengan wanita bodoh itu, hmm? Bahkan mati sekali pun?!”


Mika padangi wajah tuannya yang saat ini terlihat sulit dibaca olehnya, bahkan Mika melihat tuannya itu begitu terlihat kembali seperti semula, dingin dan kejam.


“Kau sudah mendapatkan kabar akan tugasmu? Karena tugasmu bukan mengurusi wanita bodoh itu saja?”


“Saya sedang menunggu informasi dari anak buah kita Tuan, mungkin beberapa hari lagi kita bisa mendapatkan informasinya.”


 “Baiklah aku tunggu!”


Evans kembali keluar untuk menghadiri salah satu pekerjaanya. Seperti biasa langkahnya dan ekspresinya selalu terlihat menakutkan hingga semua pengawal dan beberapa pelayan yang berdiri di sana pun,membungkukan tubuhnya seraya memberikan hormat.


Evans duduk di kursi penumpang dengan iPad yang sudah ia pegang, di lihatnya grafik perusahanya yang selalu  bekembang pesat.


“Tuan tidak akan menanyakan akan keadaan wanita bodoh itu?” tanya Mika memberanikan diri bertanya dengan menoleh ke belakang melihat Tuannya yang terlihat focus.


Tau maksud Mika bukan? Untuk sebuah kepastian.


Evans menghembuskan napas pelan, ia lalu membuang muka seolah muak dengan Mika yang selalu terus mengusiknya dan menanyakan tentang wanita bodoh itu. Bukannya sudah jelas buka kalau ia sama sekali tidak perduli?


“Apa pentingnya dia untukku, Mika? Baik tidaknya bukan urusankku! Sebaiknya kau kerjakan tugasmu dan jangan pernah kembali mengusikku dengan keadaan wanita bodoh! Aku tidak pernah peduli, sekalipun wanita bodoh itu mati!”


 Mika menghela napas, tapi Mika tetaplah Mika si orang kepercayaanya yang kini sangat penasaran pada sikap tuannya yang berbeda.


Meski kali ini masih samar, tetapi Mika yakin suatu saat nanti pasti akan terlihat dan terjawab akan kegusaraanya itu.


“Maaf tuan. Apa Tuan akan memulangkan wanita bodoh itu untuk kembali ke dalam sel tahanan?"


Evans menarik napas lirih. “Tidak untuk sekarang ini. Aku akan memberikan dia beberapa hari untuk sembuh terlebih dulu. Mungkin dua atau tiga hari untuk dia sudah cukup. Aku tidak ingin di repotkan kembali dengan urusan wanita bodoh itu." Evans menjeda sejenak.


"Jika sudah tiga hari kau masukan kembali wanita bodoh itu ke dalam sel tahanan dan satukan wanita bodoh itu dengan anak pelayan itu!” perintah Evans.


Mika mengangguk di depan sana.


“Dan satu lagi fokuslah kau kepada tugasmu itu!” decak Evans.


Mika paham dengan tugasnya. Ia pun akan berusaha mencari apa yang Tuannya inginkan.


**


 Alea menggerakan tubuhnya, membuka perlahan matanya. Melihat langit-langit yang asing di atas sana. Tangan kecilnya itu terasa berat akan sesuatu yang menimpahnya.


Benar saja, ada sepasang tangan keriput yang kini sedang menggenggam tanganya.


Wanita paruh baya yang selalu baik kepadanya, membantu dirinya untuk duduk dan bersadar di sadaran kepala rajang kecil itu.


“Kau pasti haus kan? Minumlah,” wanita yang tak lain lagi Berta memberikan segelas air kepada Alea..


“Terima kasih bu. Bolehkah aku memanggilmu ibu? Karena kau mengingatkanku kepada Ibuku. Kau begitu baik dan perhatian kepadaku Berta,” ucap Alea mengenggam kedua tangan keriput itu erat.


“Kamu ini Alea. Aku sangat malu kamu memanggilku dengan panggilan Ibu. Karena aku tidaksebaik apa yang dipanggil Ibu, Ale,” lirih Berta mengusap lembut tangan Alea yang menggenggamnya tampa terasa sebening cristal jatuh dipelupuk mata Berta.


Alea menggeleng dengan mengulum senyum, menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.


“Kau wanita baik Berta. Kau pantas dipanggil ibu!” Alea menghela menepuk lembut tangan wanita tua itu.


“Izinkan aku memanggilmu Ibu, Berta. Karena aku sudah tidak punya Ibu yang melahirkanku.”


Berta mengangguk pelan, air matanya tidak bisa di bendung walau sudah beberapa kali wanita malang itu menghapusnya.


Antony yang melihat istrinya di depan sana pun ikut meneteskan air mata, melihat istrinya yang amat begitu merindukan sosok anak perempuannya.


“Kau boleh memanggilku ibu, bila kita di dapur yah?” Alea mengangguk pelan memeluk Berta.


“Aku tidak mau Tuan marah lagi dan menghukummu seperti kemarin,” pinta Berta yang dianggukan kembali oleh Alea.


“Ibu…kenapa aku hidup kembali dari peristiwa waktu itu! Seharusnya aku sudah mati karena pobiaku yang takut pada ular.”


Alea masih berpikir, karena setiap detiknya ia menangis dan tak kunjung henti hingga ia lelah dan merasa sakit hingga ia tidak sadarkan diri.


Berta menempuk tangan Alea pelan, terlihat kesal dengan Alea yang berbicara seperti itu.


“Kau ini bodoh apah?!” Berta kesal, tetapi wajah wanita malang itu tertawa kecil di depannya.


“Kau selamat itu sudah buatku senang Alea. Kau ingin mati sia-sia? Hmm?” decak Berta.


“Dasar gadis bodoh!” desah Berta yang disambut keduanya tertawa kecil.


“Makanlah! Joe membuatkan soup untukmu. Katanya soup ini yang Bryan suka buatkan untukmu!”


Alea mengangguk, ia pun sangat lapar sudah beberapa hari tidak makan.


Bersambung...