Mafia And Me

Mafia And Me
Perfect



“Aku tidak biasa memakai gaun kurang bahan itu apa lagi jika aku tidak mengenakan sesuatu di dalamnya yang akan tercetak jelas di dadaku” ujar Alea.


“Untuk semalam ini saja, toh tidak akan ada orang yang akan mengenalmu di sana, lepaskanlah biarkan seperti itu,” ujar Mika santai.


“What? Aku jadi aneh kepadamu. Sekilas kau baik, sekilas kau menakutkan, sekilas kau perhatian kepadaku, sekilas kau galak dan jutek dan sekilas kau sangat jahat.” Alea mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya kepada Mika.


Mika tersenyum simpul, dia tidak ingin terbawa suasana karena benar yang Alea ucapakan kepadanya, dan ia pun sama bingungnya akan dirinya saat ini.


“Kau harus tahu sifatku memang seperti itu. Aku harus bisa bersikap professional Ale dan aku tidak ingin terlihat lemah seperti itu di depanmu lagi. Aku wanita jahat yang tidak bisa luluh akan kepolosanmu,” ujar Mika menatap Alea dengan tatapan tidak biasa.


Alea menghela napas dalam, melihat Mika yang benar-benar berubah, wanita dingin itu kembali ke asalnya, dingin dan kejam.


Alea berdiri dari duduknya dan mengambil alih gaun di tangan Mika dengan kasar.


“Aku harap bisa segera lepas dari cengkraman Tuanmu yang menakutkan itu dan aku pun tidak ingin berurusan kembali dengan Tuanmu dan juga kau!”


“Kau mungkin akan memiliki kesempatan itu nanti Alea. Sekarang, pakai gaun itu dan aku akan menunggumu di luar. Aku akan memberitahumu jika Tuan Evans datang.”


Alea memberikan Mika berlalu pergi, menatap punggung wanita itu dengan dada yang sesak. Alea kehilang Mika yang dulu hangat kepadanya, bahkan Alea merindukan senyuman manis Mika.


Tetapi wanita cantik itu kini sudah berubah kembali ke asalnya dan Alea paham itu akan ucapan Mika yang baru saja ia dengar.


Alea memadangi gaun itu sekali lagi dan menghela napas panjang. Ia tidak memiliki pilihan lain, selain memakainya dan menuntaskan urusan ini malam ini.


Alea berjalan mendekati jendela yang menyuguhkan keindahan kota Madrid di malam hari, berdiri membelakangi pintu masuk dengan membuka jubahnya setelah ia memakai gaun hitam yang begitu pas dengan tubuhnya.


Model gaun selutut yang memilki belahan panjang di salah satu bagian kirinya dengan menonjolkan area dadanya yang memaksanya untuk tidak mengenakan bra seperti saran Mika, begitu terbuka bagian dada itu seperti ingin melesak keluar.


Berkali-kali Alea bergumam sendiri akan gaun kurang bahan pilihan Evans Colliettie yang begitu mengekspos jelas punggungnya.


Semakin Alea berpikir, ia semakin menyadari Evans begitu menakutkan dan tidak bisa dilawan dengan apapun, bahkan kelemahan devil itu pun Ale tidak tahu.


Mencoba melawan devil seperti Evans?


Tidak mungkin! Karena Evans begitu sangat menakutkan untuknya. Alea berharap semoga ia akan menemukan jalan keluar dan ada seseorang yang baik menolongnya membawanya pergi dari jangkuan Evans Colliettie.


Krek!


Alea mengesampingkan uraian rambutnya menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang daun telinganya sesaat sedang berusaha mengancingkan bagian belakang gaun itu yang belum terkait. Alexmundur hingga punggungnya menabrak jendela akan keterkejutanya melihat Evans dari pantulan jendela itu yang sudah berdiri di depanya dengan tatapan tajam.


“Kenapa kau kemari tampa mengetuk pintu?! Kau tidak sopan! Aku sedang ganti baju! Keluarlah!” pinta Alea, kesal.


Alea merasa tidak nyaman dengan kehadiran Evans secara tiba-tiba seperti tadi mengejutkan dirinya tampa mengetuk pintu di saat dia semuanya belum siap.


Alea mendengus kesal akan wanita dingin itu. Kemana Mika yang mengatakan menunggunnya di depan pintu dan akan memberitahukan jika Evans akan datang. Sial!!


“Kenapa aku harus mengetuk pintu terlebih dulu? Kenapa aku harus sopan kepadamu? Semua ruangan yang berada di sini bukanya sudah menjadi milikiku dan aku bebas keluar masuk?


"Aku melihat apa yang ingin aku lihat dan aku melakukan apapun yang aku mau jadi siapapun tidak boleh protes termasuk kau,” ucapnya angkuh


“Tapi kau sudah melanggar privasiku saat ini! aku belum siap dengan gaun yang kurang bahan ini,” decaknya.


“Bukanya aku sudah mengatakan kepada Mika jika aku akan menemuimu? Apa dia belum menyampaikanya kepadamu hmm?”


“Sudah, tapi…” Sela Alea terhenti.


‘Mika benar-benar menyebalkan.’


Tidak mau buang waktu dengan gerakan cepatnya Evans menarik tanganya, hingga tubuh Alea terdorong ke depan menuburuk tubuh atletisnya, memutar tubuh kecil itu dengan cepat tanpa memberi kesempatan Alea untuk mengedipkan mata lentiknya dan juga bernapas.


“Kau selalu menyusahkan!” ujarnya dengan kedua tanganya bekerja di depan punggungnya.


Alea mengatupkan bibirnya ketika tangan kekar itu mengancingkan gaun belakangnya tanpa permisi kepadanya.


‘Benar-benar menyebalkan!’


Evans menarik pinggang Alea mendorong ke belakang membuat punggungnya menabrak dada Evans, lagi.


Alea berdiri kaku di depanya dengan nafas tertahan saat merasakan hembusan napas lelaki itu terasa di bahunya.


“Kau umpan yang sempurna untuk malam ini, Alea.”


“Apa maksudmu?“ Alea menelan salivanya. Tidak mengerti akan kata-kata Evans.


Umpan? Ia akan menjadi umpan siapa malam ini?


Sekali sentak, Alea berbalik saling berhadapan dengan Evans. Wajah tampanya dengan seringaian dengan jarak yang begitu dekat membuat Alea membeku.


Mata hijau keemasan milik Evans yang indah itu membuat Alea sulit bernapas, apa lagi wajah yang rupawan di depanya, Alea tidak sanggup memikirkan apapun.


Evans seperti memiliki mantra yang kuat membuat siapa saja wanita di dekatnya terpikat akan wajah yang menyerupai angel yang begitu berbahaya dengan semua yang dia miliki. Alea harus menjauh dan menghidari Evans agar ia tidak terpedaya.


Evans memajukan kepalanya dengan Alea sedikit memalingkan wajahnya, menghindar. Bisikanya di dekat telinga membuatnya merinding.


“Apa kau belum melihat bagaimana penampilanmu saat ini?” tanyanya dengan kedua tangan kekar itu berada di bahu Alea.


“Aku tidak mau melihatnya, karena pasti sangat mengerikan.”


Evans menarik tangannya, paksa membawa Alea hingga kedepan cermin dan memaksa Alea untuk melihat ke depan cermin yang tingginya sama dengan tinggi tubuh Alea.


Alea tercengang melihat pantulan akan dirinya di depan cermin itu.


Sial, siapa wanita seksi yang begitu sangat menggoda?


Alea bukan wanita polos seperti apa kata orang, ia pernah memakai gaun yang sexy walau yang ia kenakan saat ini amat begitu sexy dan sungguh ke kurangan bahan menurut Alea.


Karena definisi sexy menurut Alea berbeda dengan pendapat orang. Namun melihat dirinya saat ini di pantulan cermin itu Alea bergumam sendiri akan sosok wanita di pantulan cermin itu bukan dirinya, dan tepatnya pantas di sebut seperti wanita jalang yang menggoda.


Apa kini ia sudah sama dengan para kelima perliharan Evans di mansionya? Alea tentu menjawab,Ya.


“Kucing mana pun akan sangat tergoda dengan ikan salmon segar seperti ini. Kau umpan yang begitu mahal, untuk kucing sekelas rendahan seperti mereka.”


Evans memaksa membuka kedua tangan Alea yang sejak tadi menutupi dadanya. Begitu melihat dengan dekat, Evans menyunggingkan bibirnya.


“Perfect!”


Evans mundur dari hadapan tubuh Alea yang saat ini berdiri di depanya, tampa kedua tangan itu menutupi dada ranumnya yang begitu terlihat melesak di depanya, menggoda dengan keseluruhan yang selalu Evans gumam dalam hatinya, perfect!


“Aku butuh penjelasan akan semua ini!”


Alea memberanikan diri meminta penjelasan pada Evans dengan memperhatikan Evans yang duduk santai dengan menyilangkan sebelah kakinya yang tidak jauh darinya.


Evans bergeming masih betah menatap Alea di depan sana, matanya selalu menatap penampilan Alea.


“Kenapa kau tidak menggunakan wanita jalangmu untuk menjadi umpanmu itu? Kenapa harus aku?”


Evans menyandarkan sebelah sikunya di pinggiran sofa, terlihat santai.


“Tentu saja tidak! Karena kau yang harus melakukaknya.”


Alea menyilangkan kedua lenganya di dadanya, sejak tadi devil itu terus menatap dirinya lekat membuat Alea risih akan tatapan devil itu. Karena saat ini Alea butuh penjelasan lebih dan jelasnya akan maksud Evans kali ini yang menjadikannya umpan.


“Sebenarnya apa rencanamu Evans?”


Evans masih tersenyum menatap Alea. Bahkan kali ini wanita bodoh itu sudah bisa mengucap namanya.


Bersambung...