Mafia And Me

Mafia And Me
Hidup Baru!



“Kamu tidak apa?”


Alea menoleh sejenak di mana pria itu bertanya. Alea berada di dalam kamar Bryan, duduk di lantai dingin seraya pandangi sinar rembulan melalui jendela kamar.


Alea menangis, dadanya terasa sesak ketika mengingat ke belakang kejadian demi kejadian yang dialami. Kalimat Evans serupa ancaman di setiapnya sudah jelas selalu membuatnya ketakutan.


Yang jadi pertanyaan hukuman apa lagi yang akan dia dapatkan dari kejadian ini.


“Kamu tidur kamarku saja malam ini. Aku akan menjagamu,” kata Bryan seraya menenangkan Alea.


Alea menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. jujur, dia memang membutuhkan tempat untuk menenangkan diri dari rasa takut berada di dalam kamarnya sendiri.


Alea takut kalau orang yang meneror itu datang kembali ketika dia tidur.


“Tidak. Terima kasih, Bry. Aku tidak mau merepotkan kamu lagi. Aku juga punya kamar sendiri,” kata Alea menolak. Tentunya dia tidak enak kalau harus tidur di kamar pria.


“Alea…”


“Ya,” jawab Alea seraya pandangi pria muda itu berjalan mendekat.


“Aku tahu kamu ketakutan. Tapi kamarmu kali ini tidak aman, Alea. Aku takut orang itu akan datang dan menerormu lagi.”


Alea diam seraya pandangi Bryan.


“Aku takut kamu kenapa-napa. Kematian Carla aku percaya padamu kalau kamu bukanlah pelakunya seperti yang orang tuduhkan termasuk tuan.


"Aku tahu ada orang lain di sini yang kembali menjadikan kamu kambing hitam.”


Itu benar, tetapi dia tidak mau berada di dalam kamar dengan pria asing sekalipun Alea mengenal Bryan.


“Aku berpikir sejak tadi ketika mendengarkan ceritamu. Ada seseorang yang sudah merencanakan hal ini dengan rapi hingga kamu kembali dituduh membunuh Carla.”


Bryan menggenggam erat tangan Alea, kedua matanya pandangi wanita yang terlihat masih syok.


“Aku hanya takut kamu kenapa-napa, Alea. Aku tidak mau kamu terluka, Alea.”


“Mungkin lebih baik seperti itu, Bry. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi berada di sini. Entah kapan waktuku mati di tempat ini.”


“Astaga. Jangan putus asa, Alea. Aku tidak mau kamu mati,” seru Bryan membuat Alea yang duduk pun terkejut dengan suara lantang pria tersebut.


“Aku tidak mungkin membiarkanmu mati. Aku tidak mau kamu mati di tangan iblis seperti Evans Colliettie.”


Alea dan Bryan saling bersitatap, keduanya saling menatap manik mata masing-masing sampai Alea memalingkan wajahnya menjauh dari pandangan Bryan.


“Kenapa kamu begitu percaya dan peduli padaku, Bry?” tanya Alea.


Aneh bukan, ketika semua orang mengunduhnya pembunuh, tetapi pria itu justru mempercayainya.


Bryan ikut menyandarkan punggungnya, dia hela napas di depan sana seraya menatap langit-langit kamarnya.


“Kamu tahu. Tempat ini begitu seperti di neraka. Aku selalu tahu di setiap keheningan yang terjadi di mansion itu selalu ada hal-hal yang menyakitkan yang tersembunyi.


"Sudah sejak lama aku tidak peduli dengan hidupku lagi terlebih lagi di luaran sana. “


“Aku tidak memiliki siapapun sekarang ini. Aku hidup hanya seorang diri.”


Alea diam seraya berpikiran akan perkataan Bryan dan entah apa maksud perkataan Bryan sebenarnya?


Bryan kembali menatap Alea diraihnya telapak tangan Alea untuk digenggam erat lalu pria itu tanpa seizinnya mencium punggung tangannya.


“Satu-satunya hal yang membuatku hidup kembali dari kegelapan, adalah ketika aku bertemu denganmu, Alea.”


Bola mata Alea melebar.


“Aku tidak pernah menyangka kalau tuan akan membawa pulang seorang wanita secantik dirimu.


Tapi, bukan dijadikan wanita jallang nya melainkan hanya untuk dijadikan seorang pelayan.


“Kamu wanita kuat yang bertahan sampai sekarang ini di neraka The Black Rose, Alea.


“Kamu terlalu berlebihan Bryan. Tuan membawaku ke sini karena satu alasan. Aku ada disini karena aku menghilangkan kalung tuan, tidak ada yang lain. Aku di sini hanya sebagai umpan pria itu.”


“Meskipun begitu, tetap saja berbeda Alea. Kau tahu bukan bagaimana kelima peliharaan tuan? itulah salah satunya mereka iri padamu,” jawab Bryan diiringi senyuman.


“Apa kamu tahu, aku seperti pertama kalinya melihat harapan di depan mataku.


“Ketika dulu aku terlihat putus asa dengan hidupku di dalam kegelapan mansion ini, setelah kamu datang.


“Aku melihat matahari yang menerangi dari kegelapan di mansion ini. Aku seperti memiliki sesuatu yang harus aku perjuangkan.”


Alea tercengang mendengarkan perkataan Bryan.


Namun, tatapannya seolah membius manik matanya seakan mengisyaratkan kalau seperti itulah yang tengah dirasakan pria itu.


“Maksudmu apa, Bry?”


Bryan selangkah lebih dekat lagi, dibelainya lembut pipi Alea sebelah tangannya menarik pinggang Alea lebih dekat lagi.


Kedua saling bersitatap di bawah terpaan sinar rembulan yang terang.


“Kali ini aku seperti memiliki tujuan hidup lagi. Aku sungguh berharap jika suatu hari nanti aku bisa membawamu keluar dari sini.


“Aku ingin bebas dan hidup baru bersama denganmu.”


Tatapan Alea semakin tajam, otaknya mendadak berpikir keras.


Hidup baru?


Bersama?


Bryan tersenyum lembut, pria itu mencondongkan tubuhnya dengan wajah yang ikut mendekat. Bryan mencium bibir Alea membuat sang empu pun terbelalak ketika merasakan bibir tebal itu mendarat, dengan gerakan kecilnya bibir itu menyelusup untuk memperdalam ciumannya sekalipun sang empu hanya diam seperti patung dan tak membalasnya.


Alea syok, wanita itu masih diam dengan mata menatap Bryan.


“Please, izinkan aku masuk dan balaslah ciumanku, Alea,” kata Bryan lirih, ketika Alea sama sekali tidak memberi respon.


Akhirnya Alea menutup mata, dia terdiam tanpa menggerakan apapun. Alea masih tidak merespon membalas ciuman Bryan.


Bayangan itu, sekilas seperti menghantamnya, nafas Alea cepat dengan bola mata yang mengerjap.


Alea mendorong dada bidang Bryan dengan keras hingga pria itu terpental. Alea tersadar.


Bryan terkejut pandangi raut wajah Alea yang terlihat syok.


“Kenapa, Alea?” Bryan ikut panik.


Alea menatapnya dengan tatapan kosong.


“Alea…” Bryan memegang lengan Alea, wanita itu menatap lalu menarik napas dalam-dalam.


“Maaf, Bryan. Aku tidak apa-apa.”


Bayangan itu rasanya nyata, Alea yakin kalau itu bukanlah mimpi ketika Evans menciumnya di taman mawar hitamnya.


Bayangan itu tidak pernah bisa Alea hilangkan dari kepalanya, dia berharap kalau itu bukan sekedar mimpi tapi kenyataan.


Terlebih lagi semua perkataan Bryan ingin keluar dari dalam neraka ini dan hidup bersama tak Alea tanggapi dengan serius.


Dia tahu konsekuensinya keluar dari kegelapan yang menakutkan ini. Pria itu dengan segala kegelapan yang menyiksa tidak akan begitu saja mengizinkannya pergi, devil rupawan seperti Evans Colliettie akan menjaganya sampai kemana pun dia berada.


Itulah, janji Evans yang pernah dia dengar. Itu bukan sebuah gertakan atau ancaman.


Tetapi, itu kenyataannya kalau Evans tidak akan pernah membiarkan dirinya lari dengan mudah.


 “Siapa Tuan Leo dan juga Tuan Gabriel?”