Mafia And Me

Mafia And Me
Tuduhan!



“Sepertinya berendam air hangat bisa melemaskan otot-otot tubuhku yang terasa tegang ini dan juga rasa


"sakit-sakit ini sekaligus banyak pikiran yang masih memenuhi isi kepala yang terasa penat, agar lebih rileks lagi,” batin Alea setelah sampai di depan kamarnya sendiri.


Sebelah tangan kanannya menyalakan lampu kamarnya.


Baru saja lampu itu menyala, Alea terkejut melihat penampakan ranjangnya yang berlumuran darah serta bangkai ayam hitam di atas tempat tidurnya.


Keadaan kamar Alea, mengenaskan.


Tidak hanya itu saja, semua dinding kamar yang dicat putih pun terlihat jelas tulisan yang menggunakan cairan merah. Darah, dari ayam tersebut dengan tulisan, ‘KAU HARUS MATI, ALEA’


Tubuh Alea meluruh, Alea lemas dengan air mata yang pandangi penampakan kamarnya seraya berpikir akan siapa yang melakukan hal ini.


Mengingat siapa pelakunya, Alea pun beranjak berdiri seraya menyusut air matanya lalu keluar dari dalam kamarnya dengan tenaga yang tersisa.


Alea menuju kamar Antony, karena Berta tentunya tidak akan tidur di kamar bekasnya menunggu kelima wanita jallang tersebut.


“Astaga Alea, ada apa?”


Antony tersentak kaget ketika melihat pintu kamarnya diketuk oleh Alea.


Berta yang baru saja rebahan pun bangkit dan menghampiri pintu.


“Alea. Ada apa?”


“Kenapa malam-malam kamu ke sini?”


“Bolehkan aku meminjam kunci kamar peliharaan tuan, Berta?”


Kening Berta berkerut. “Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Carla, Berta.


"Sebentar saja, setelah selesai aku bertanya aku akan kembalikan langsung padamu,” pinta Alea pada Berta.


Berta hela nafas pelan, “Katakanlah, sebenarnya ada apa, Alea?” ucap Berta seraya mengusap punggung tangan Alea yang terasa dingin.


 “Tidak apa-apa, aku—“


Alea menggigit bibir bawahnya, sebenarnya dia tidak ingin menuduh Carla yang sudah melakukan hal itu.


Dia mendatanginya hanya ingin bertanya saja, tidak menuduh sekalipun dia tahu kalau Carla orang yang paling membencinya.


“Hanya sebentar saja Berta.”


“Ya, sudah hati-hati, Nak. Jangan sampai membuat masalah lagi, kamu boleh mengembalikannya setelah kamu bangun awal,” ucap Berta seraya memberikan kunci tersebut pada Alea.


Wanita senja itu merasa berat hati memberikan kunci tersebut, hatinya mendadak tidak enak ketika Alea datang dengan wajah yang terlihat menangis.


“Terima kasih,” ucap Ale seraya berlalu pergi meninggalkan kamar Antony.


Alea berjalan melewati beberapa penjaga yang sempat bertanya. Di malam yang sepi ini tidak diperbolehkan siapapun berkeliaran.


Tetapi, Alea punya tujuan. Dia ingin bertemu dengan Carla walau hanya sejenak.


“Aku tahu kamu itu benci padaku, tetapi tidak berlebihan seperti ini. Aku bersumpah kalau aku tidak punya perasaan apapun pada taun mu.


"Sikapmu seperti ini yang menuduhku berlebihan itu tidaklah benar. Wanita itu tidak bisa didiamkan meski selama ini aku banyak mengalah.


“Aku harus bicara dengan Carla. Ya, harus itu. kelewatan bukan sikap wanita bar bar itu yang sudah menaruh bangkai ayam mati yang mengenaskan di ranjangku?”


“Car…” Alea mengetuk pintu perlahan.


“Carilah, ini aku. Alea. Aku ingin bicara sebentar denganmu,” kata Alea pelan. Dia tidak mau membangunkan keempat wanita tersebut.


Bisa runyam nantinya. Tidak ada jawaban Alea pun kembali mengetuk pintu kamar Carla.


“Car…”


Kening Alea berkerut ketika melihat pintu itu tidak rapat tertutupnya. Alea membuka perlahan. Namun, begitu pintu terbuka dengan lebar.


“Haaaah….”


“Carla….”


Bola mata Alea membulat sempurna yang diiringi jeritan keras yang membangunkan semua penghuni mansion.


Alea berjalan cepat untuk memastikan wanita itu. Kedua matanya menatap sekeliling kamar Carla,


“Bangun Car… Tolong bangun, Carla…” ucap Alea seraya menepuk pipi Carla.


Wanita itu tergeletak dengan pakaian yang masih sama yang Alea lihat terakhir kalinya. Carla masih memakai jubah mandinya berwarna putih yang kini berganti menjadi merah darah.


“Carlaa….”


“Ya, Tuhan Carla….”


“Carla…”


Mansion kembali gempar. Paviliun tengah kembali dikejutkan dengan tubuh Carla yang kini meregang nyawa. Sang empu pun menginterupsi anak buahnya untuk menginterupsi membawa mayat Carla.


Semua mata menatap menuju Alea yang duduk di single sofa yang masih terdiam dengan memeluk kedua lututnya sendiri, tubuh kurus yang lelah itu bergetar.


“Siapa yang membunuh Carla?” batin Alea.


Pandangannya masih teringat, bagaimana cara wanita itu menatapnya. Sungguh wajah Carla masih membekas di ingatannya meski kini jasadnya sudah tidak ada di kamar tersebut.


‘Siapa yang tega melakukan itu?’ batin Alea bertanya lagi.


“Kau membunuhnya, Alea?”


“Sudah jelas wanita itulah yang membunuhnya!” tegas Ariana, menuduh kalau Alea lah yang sudah membunuh Carla.


“Dia pastinya sakit hati akan sikap Carla waktu itu,” tuduh Carla lagi.


“Kamukan yang balas dendam akan kejadian Carla memukulimu?”


Alea diam, dia mengangkat pandangangnya untuk melihat keempat wanita itu dan Evans duduk saling berhadapan.


Alea tidak peduli dengan orang-orang yang kini menunduhnya pembunuh Carla. Wanita malang itu kembali dituduh akan tindakan yang sama sekali tidak diperbuat.


Dari cara Juliana  dan Ariana yang menatapnya penuh kebencian kedua wanita itu tak lepas terus mendesaknya untuk mengakui perbuatannya, sedangkan dua wanita lainnya, Kelly dan Ruby. Entahlah. Alea bingung mengartikannya, raut wajahnya sulit diartikan.


“Mengakulah, Alea!”


Alea menarik nafas pelan. Dia kembali dipaksa mengaku.


Dia hanya meminjam kunci pada Berta untuk bertemu dengan Carla di kamar dan hanya ingin bertanya dan setelah dia di sana Carla sudah meninggal dengan mengenaskan.


‘Apa mungkin Berta?’ batin Alea bertanya. Pandangannya tak lepas menatap satu persatu orang yang kini berdatangan dan ikut duduk di ruang tengah.


Alea mencoba menerawang siapa sebenarnya yang membunuh Carla. Tapi bila Berta yang melakukannya sepertinya tidak mungkin.


Dua orang tua itu sangat menyayanginya, tidak mungkin mereka berbuat jahat padanya.


Apa lagi Antony dan Berta selalu mengatakan untuk berhati-hati dan inilah bila dirinya begitu penasaran dengan siapa pelaku yang sudah merusak kamarnya.


“Aku sudah tahu siapa musuhku selama ini yang menusukku dari belakang dan siapa yang sudah berhianat di mansionku.


"Tetapi, tidak asik bila aku tidak memberikan umpan agar dia keluar dengan sendirinya, cukup asik bukan rencanaku. Setelah dia keluar aku dengan mudah mengirimnya ke neraka dan, selesai!”


“Apa Evans yang membunuh Carla?” batin Alea bertanya.


Semua ini bukannya rencana Evans bukan?


“Tetapi untuk apa Evans membunuh peliharaan kesayangannya dan mengotori mansionnya sendiri kalau pria itu sudah tahu siapa pelakunya. Ah, sepertinya tidak mungkin!” batin Alea lagi.


Kedua matanya menangkap Mika yang baru saja membereskan jasad Carla yang mati di bunuh.


“Sungguh disayangkan bila Carla tersayang harus mati mengenaskan seperti itu,” ucap Evans terlihat acuh dan setengah terlihat tidak peduli.


Pria itu duduk di single sofa dengan melipat tangannya di dada. Kini pria itulah menjadi pusat perhatian dari semua yang hadir di pavilion tengah ini.


“Padahal Carla wanita yang agresif yang bisa menenangkanku di ranjang.”


Perkataan Evans membuat Alea jijik dan ingin muntah, disaat genting seperti ini iblis itu masih memikirkan ranjang. Alea


“Tidak usah khawatirkan hal itu, Tuan. Saya bisa menggantikan Carla lebih dari Tuan mau, saya yakin anda tidak akan menyesal,” ucap Juliana dengan percaya diri.


Alea mendengus pelan, kenapa wanita itu malah promosi jasa ranjang di tengah ketegangan malam ini?


“Saya pun bisa menggantikan Carla, Tuan. Saya yakin anda tidak akan berdaya bila bersama dengan saya,” sahut Ariana tidak ingin kalah dengan Juliana.


Kini saingannya sudah hilang satu, dan itu baginya mudah untuk mendapatkan gelar Nyonya Colliettie.


“Ah, tentu saja. Itu harus.”


Alea memalingkan wajahnya, dia mencoba menulikan telinganya karena yang dia dengar di tengah kejadian yang tengah tegang ini, bisa-bisanya orang di sampingnya itu masih saja promosi jasa.


“Masalahnya di sini, diantara kalian. Siaplah yang sudah membunuh Carla?”