Mafia And Me

Mafia And Me
Pelaku



“Aku dengar, pelaku perusak mawar kesayangan tuan sudah ditemukan siapa pelakunya!”


“Yang benar?” seru beberapa orang dengan ekspresi terkejut.


Antony membuka pembicaraan ketika malam ini mereka berkumpul bersama di dapur.


Alea yang baru saja ikut gabung setelah pekerjaannya selesai pun duduk seraya menikmati cake yang dibuat oleh Joe.


“Siapa orangnya?”


“Masih dirahasiakan!” jawab Anthony seraya menyesap kopi hitam.


“Anak buah Mika belum memberitahukan siapa orangnya, mereka hanya membicarakan kalau pelaku itu sudah ditemukan dan tuan pun sudah tau.”


Saat Antony mengantarkan makanan untuk para anak buah Evans, dia tidak sengaja mendengarkan pembicaraan mereka perihal pelaku perusak mawar tersebut.


“Aku sih yakin banget kalau salah satu dari lima peliharaan tuan lah yang sudah merusak mawar hitam itu.”


Alea masih diam dan sibuk dengan cemilan malam, susu coklat panas dan cake yang baru saja diangkat dari Loyang seraya mendengarkan pembicaraan mereka.


“Tapi untuk apa mereka melakukan hal yang membuat tuan marah?” timpal Joe pada Bryan


Joe menunjuk dengan dagunya pada Alea yang tengah lahap memakan cake.


“Apa kalian tidak menyadarinya?”


“Aku rasa juga begitu,” timbal Romeo ikut bicara.


Alea mengeryit dengan pembicaraan keempat pria di depannya itu.


“Maksud kalian itu aku?” tanya Alea yang dianggukan oleh keempat pria yang duduk saling berhadapan.


Alea mendengus pelan.  “Jadi aku pemicu mereka di sini?”


Alea berhenti mengunyah lalu pandangi satu persatu pria di depannya. Diletakan cake yang baru saja dia gigit itu ke atas piring.


“Apa kamu tidak berpikir kalau kedatangan kamu itu jelas mengganggu para wanita jallang itu?”


Alea menarik napas sejenak. “Bila aku bisa pun aku tidak ingin ada di sini.


"


Aku lebih baik mati saja dibunuh bila pada akhirnya membuat orang tidak nyaman,” kata Alea terdengar pilu.


“Jangan begitu, mereka itu pastinya punya niat bukan?


"Bisa saja mereka ingin menjadikan kamu itu kambing hitam di mansion ini agar tuan mengusirmu, sebelum kamu datang mansion. Dulu sama sekali tidak ada keributan atau kejadian seperti sebulan yang lalu.”


Joe menatap Alea, dia pun duduk di samping Alea lalu merangkulnya.


“Aku hanya menebak saja, Alea. Mungkin semua yang terjadi ini karena mereka tidak suka dengan adanya kamu.


Bryan bersedekap, menatap Joe. Bryan paham akan perkataan Joe.


“Itu benar, Alea. Sebelum kamu datang ke sini, mansion memang selalu aman dan tidak ada keributan apapun. Tapi setelah kamu datang—”


“Sudahlah aku tahu, Bry. Akulah pembawa masalah di mansion ini,” jawab Alea cepat.


“Lebih tepatnya lagi mereka itu iri padamu, Alea. Selain kamu tahanan di sini, tapi kamu diperlakukan berbeda oleh tuan,” sambung Antony.


Alea terdiam seraya teringat dengan perkataan Ruby.


“Sudahlah, nggak usah kamu pikirkan itu, Alea. Anthony benar peliharaan tuan itu hanya iri karena kamu sudah mencuri perhatian tuan,” imbuh Bryan.


“Aku sama sekali tidak melakukan apapun. Aku sama sekali tidak mencuri perhatian tuan,” kata Alea menatap sendu, selalu ini dia harus kembali diingatkan oleh hal yang satu itu.


Joe menggenggam tangan Alea. “Kami tahu itu. Aku hanya ingin kamu berhati-hati saja mulai sekarang ini, Alea,” ujar Joe yang dianggukan Alea cepat.


“Ya sudah habiskan cake dan juga susu hangatnya setelah itu kami kembali ke kamar dan istirahat tidur, jangan lupa minum obatnya.


"Bukannya kamu harus bangun lebih awal untuk menyiapkan kebutuhan tuan lagi?” kata Joe mengingatkan pekerjaan Alea.


Tidak besok, tetapi malam ini pun jam kerjanya belum selesai. Evans masih memintanya itu dan ini.


Sementara di samping Alea, Bryan tahu kalau Alea kini punya banyak tugas entah pria itu sengaja memberikan wanita malang itu banyak tugas agar tidak bisa bersama-sama.


Di pandangi wajah Alea yang tampak lemas dan juga tubuhnya yang kini terlihat kurus.


Apa sebenarnya tugas baru yang Evans berikan sampai dia tidak bisa sedekat dulu dengan Alea.


“Jangan pergi.”


Bryan menahan Alea agar tidak pergi, dia masih ingin duduk bersama dengan Alea sekalipun tidak ada obrolan apapun. Cukup memandang saja bagi Bryan itu lega kalau Alea baik-baik saja.


“Kamu belum cerita sama aku, sebenarnya tuan kasih tugas baru apa?”


Ya, masalah itu Alea belum menceritakannya.


“Ya begitulah kayak kamu nggak tahu tuanmu saja,” jawab Alea malas-malas.


“Tunggulah sebentar lagi. Aku merindukanmu, Alea.


"Sudah sebulan ini kita cuman berpapasan doang nggak ada waktu buat kita ngobrol gitu? Aku ingin ngobrol denganmu.


Antony mendengus pelan dengan sikap Bryan yang terdengar pria itu jatuh cinta begitu juga Alea, sementara Joe dan Romeo tertawa pelan.


“Aku tahu kalau tuan itu begitu pandai bukan membuat kita seperti ini.


"Lagian, tuan kalau sudah berada di ruang permainan itu suka lama bila belum puas dia masih betah di ruangan tersebut.”


“Kamu tahu bukan dengan kebiasaan tuan, dia akan pergi begitu saja meninggalkan peliharaannya.


"Sudahlah mumpung ada waktu sebelum kamu kembali direpotkan oleh pria itu,” ungkap Bryan terdengar kesal.


“Itu sudah hal yang tidak aneh lagi bukan? Tidak mungkin seorang Evans Colliettie memeluk wanita jallangnya sampai pagi buta lalu mengucapkan kalimat manis yang membuat hati wanita berbunga?”


“Ck! Impossible,” ungkap Joe sudah tahu dengan kebiasaan Evans.


“Ya, juga sih. Itu tidak akan mungkin. Jadi di sini saja, Alea. Please,” mohon Bryan.


Pria itu masih rindu.


Joe menarik lengan Bryan agar tidak selalu menempel pada Alea.


“Sudahlah jangan banyak pikiran, setidaknya kini mansion sudah tenang dan para wanita peliharaan pun tidak akan mengganggumu lagi.”


Alea mengangguk pelan, mungkin beruntungnya menjadi pelayan Evans salah satunya adalah hal itu.


“Tapi, kamu harus tetap waspada. Bila ada suatu hal yang mencurigakan jangan pernah pendarahan.


"Cukup kamu diam dan tidak ikut campur masalah orang lain.


"Jangan membuat tuan marah, kamu paham Alea?” ungkap Joe seraya mengusap tangan Alea.


Wanita itu mengangguk paham. “Aku tidak mau sampai tuan membunuhku bila kamu melakukan kesalahan kembali.”


Joe tersenyum lebar, bersyukur Alea paham dengan perkataan.


Bryan di depan pun tersenyum seraya bertopang dagu pandangi ALea lekat.


“Alea…”


“Apa.”


Melihat ekspresi Bryan membuat Alea bergerutu di dalam hati, Bryan sok ketampanan dan juga sok kepedean.


Dia tidak ada perasaan apapun pada pria. Sikap Bryan seperti itu sudah bisa di tebak.


“Kapan kamu akan masak nasi goreng untukku yang sudah di rusak oleh tuan waktu itu?”


Melihat samping Alea kosong dan Joe kembali membersihkan dapur, Bryan berpindah dan duduk di samping Alea.


“Ck! Wajahmu jangan seperti itu, Bryan. Aku tidak suka.”


“Emangnya wajahku seperti apa?”


“Menyebalkan pokoknya.” Alea kembali memakan cake nya.


“Lalu bagaimana, nasi gorengnya. Aku kesel saat kamu cerita kalau nasi goreng yang kamu berikan untukku dirusak oleh tuan.”


“Aku yakin dia pasti iri sama aku karena sepanjang hidupnya tuan itu sama sekali tidak pernah dibelikan sesuatu oleh wanita jadi merusak milikku!


"Begini nih kalau jadi mafia yang nggak punya kekasih, menderita kan. Kayaknya tuan itu tidak akan pernah menikah dan selamanya akan seperti itu,” ungkap Bryan kesal.


Alea pandangi Bryan yang terus bergerutu. “Sudahlah jangan berkata seperti itu, suatu saat nanti tuan harus menikah dan mendapatkan penurusnya.


“Penerus? Dari para wanita jallang di pavilion tengah itu?” seru Bryan.


Alea menggendikan bahu tidak tahu dari mana, tetapi setiap manusia yang hidup tentunya ingin mempunyai rumah tangga dengan pasangan yang dicintainya dan hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.


“Aku ragu, Alea. Melihat sikapnya saja aku yakin kalau pria itu tidak akan pernah menikah sampai akhir hayatnya. Penurus The Black Rose pastinya tidak akan karena pria itu begitu menggilai wanita jallang.”


Bryan menghela pelan. “Dia akan mengubur semua kekayaan dan juga kejayaanya sebagai Evans Colliettie di makamnya sendiri untuk selamanya.”


“Astaga kenapa kamu berkata seperti itu? Nggak boleh dendam Bryan. Nggak baik,” decak Alea yang dianggukan Anthony.


“Sudahlah bila ada waktu nanti aku akan membuatkannya untukmu. Hari-hari ini aku sibuk.


"Tapi kalau tidak kamu bisa sendiri membuatnya bukan? Kamu kan chef di sini pastinya makananmu lebih lezat daripada buatanku.”


“Astaga, tentunya beda rasanya Alea kalau aku yang membuatnya sendiri dan dimakan untukku sendiri,” gerutu Bryan tidak terima.


Alea mendengus pelan sementara Bryan lebih dekat lagi untuk menatap Alea.


“Wajah Asia mu begitu cantik dan itu mengganggu penglihatanmu, Alea,” ucap Bryan yang langsung ditertawakan oleh Joe dan Romeo sementara Antony hanya menggeleng kepala melihat tingkah putranya.


“Ck! Rayuan kuno. Tidak kreatif, Bryan. Sungguh menjijikan,” decak Anthony.


Alea memutar bola mata jengah dengan sikap Bryan. Pria itu kini terang-terangan menggodanya.


“Maksudmu mengganggu apa?”


“Wajahmu sulit untuk dilupakan, Alea,” jawab Bryan dengan kekehan.


Berta yang baru saja masuk mendengar hal itu pun menggeleng pelan, tapi ketiga pria yang lainnya pun sama menertawakan sikap Bryan yang sepertinya pria itu memang jatuh cinta pada wanita malang itu.


“Aku suka dengan warna mata mu yang hitam pekat, ciri khas Asia sekali.”


“Sudahlah jangan menggombal ku, aku tidak suka,” kata Alea seraya pergi dari dapur dan menuju ruangan pribadi Evans.


Sekali lagi tugasnya, kamar mandi. Evans ingin berendam di air dingin dengan sebotol wine yang kini sudah dipegang olehnya.


“Sebentar lagi, Alea. Setelah ini kamu bisa rebahan. Cukup menyiapkan air untuk berendam dan sesuai instruksi,” batin Alea.