
“Astaga, sebenarnya aku kenapa?” gerutu Alea kesal.
Sejak tadi sudah berguling ke sana kemari bahkan sudah memaksakan matanya terpejam. Tetap saja dia tidak bisa tertidur.
Alea dilanda gelisah karena sejak tadi bayangan sosok Evans Colliettie memenuhi kepalanya.
“Tidurlah Alea. Besok kamu akan pergi pagi sekali. Bryan akan mengajakmu pergi menjauh dari Italia.
“Seharusnya kamu mengucapkan selamat tinggal untuk semua kesedihan, ketakutan dan kegelapan hidupmu enam bulan ini bukan?” gerutu Alea dalam hati.
Sekalipun benar begitu, tidak ada hal yang membuat dia senang. Rasa ketakutan itu masih menghantuinya.
Alea sangat yakin kemanapun dia pergi Evans akan menemukannya. Pria itu akan selalu mengawasinya atau mungkin semua resah dan gelisah ini sebagai bentuk ketakutan pada sosok mafia kejam itu?
“Sebaiknya aku tidur. Besok aku tidak mau bangun kesiangan,” kata Alea tidak henti bermonolog sendiri.
Dia membaringkan tubuhnya, lalu memejamkan kedua matanya.
Hembusan nafas nan hangat itu begitu saja menusuk indah penciumannya. Alea dengan begitu senangnya memeluk bantal guling yang terasa berbeda ini.
Sayup-sayup dia membuka kedua matanya perlahan, bola matanya sontak saja tersentak kaget.
Entah ini mimpi atau nyata, Alea menangkap bola mata sendu itu di depannya.
Tubuhnya mendadak membeku, Evans Colliettie kini berada di sampingnya.
“Ka-kamu—”
Alea menelan ludah dengan degupan jantung yang langsung berpacu cepat.
“Kamu tidak bisa pergi dariku, Lea….”
Mulut Alea terbuka lebar, tubuhnya mundur. Dengan nafas yang memburu Alea mencoba menenangkan degupan jantungnya diiringi memejamkan kedua mata.
Alea yakin kalau ini hanya sugestinya yang sejak tadi tak lepas memikirkan pria itu.
Ketika kedua matanya perlahan terbuka, Alea terbangun dengan wajah penuh keringat. Dia kembali menoleh ke samping dan, KOSONG.
Tidak ada Evans yang terbaring di sampinganya seperti yang tadi dia lihat.
Alea mengerjapkan kedua matanya lalu menatap langit kamarnya dengan cahaya minim.
Kepalanya mendadak berdenyut nyeri. Dia pun sedikit memijat dahinya sembari menoleh ke samping.
Alea menjerit keras, dia terkejut ketika melihat seseorang yang berdiri di pintu balkonnya.
Seseorang memakai jubah panjang berdiri mengawasinya. Alea menggeleng, pelan. Dia berharap kalau ini mimpi buruknya.
Tapi, Alea penasaran dan kembali menoleh. Benar, kali ini dia tidak bermimpi. Sosok itu terlihat nyata. Sosok di balik balkon itu, Evans Colliettie.
“Hhhh…. Bry….” Alea berteriak keras.
Dia bergegas turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu, ketika Alea menarik handle pintu dan membukanya.
Dia bertabrakan dengan seseorang di depannya. tubuhnya bertabrakan keras yang diiringi jeritan keras.
Alea hampir saja terjatuh ke lantai bila, seseorang tidak segera menarik tangannya.
“Tenang, Alea… ini aku,” kata Bryan, mencoba menenangkan Alea.
“Bry…. Evans datang—”
“Kita harus pergi sekarang juga, Al,” ajak Bryan.
Alea mengangguk pelan, tanpa di sadari pria itu sudah memegang senjata dengan sikap waspada.
“Orangku melihat Mika berada di sini,” sambung Bryan.
Mulut Alea menganga, reflex pandangannya menoleh ke samping pada balkon kamarnya.
Sosok jubah itu pun mendadak menghilang, tidak ada sama sekali ada orang yang berdiri di mana tadi dia melihatnya.
Bryan membawa Alea pergi, ketika keduanya hendak pergi dari rumah itu. Alea dan Bryan tersentak kaget, Bobby berada di sampingnya menabrak dua orang tersebut.
“Saya melihat anak buah Mika masuk ke dalam pekarangan rumah, Bryan.”
“Ya, aku pun melihatnya. Kita harus secepatnya pergi sebelum Mika muncul. Bila wanita gila itu sudah tiba kita tidak akan memiliki kesempatan untuk pergi lagi.”
“Apa Evans datang ke sini?”
Bobby dan Bryan kompak menatap Alea.
“Apa orangmu melihat Evans di sana?” tanya Alea seraya berjalan mengindap-indap.
Ketiganya penuh waspada.
“Tidak ada,” jawab Bryan.
“Orang ku hanya melihat ada anak buah Mika, tidak dengan Evans,” sambungnya.
Alea membulatkan matanya, lebar. Apa yang tadi dia melihat bukan Evans?
‘Astaga, bahkan sosoknya begitu nyata,’ batinnya.
Dor!
Dor!
Dor!
Suara tembakan pun terdengar, entah di bagian mana rumah yang terdengar saling bersahutan.
Tubuh Alea sontak bergemetar, dia kembali berada di fase ketegangan antara hidup dan mati.
“Siaal!” umpat Bryan.
Persembunyiannya sudah diketahui oleh anak buah Mika yang kini berjalan mengikutinya.
“Mereka sudah menemukan kita. Benar-benar iblis itu dengan gencar mengejar kita untuk di lenyapkan,” gerutu Bryan, muak.
Evans benar-benar iblis yang tidak ada kata ampun. Pria itu benar mengejarnya sampai ke tempat kecil ini.
“Bob. Beri kami jalan untuk sampai ke mobil itu?” tunjuk Bryan.
“Aku dan Alea akan pergi, helicopter ku sudah menunggu di landasan.”
Bryan memberi perintah pada Bobby dengan sigap pria itu pun mengikuti perintah Bryan.
Suara tembakan terdengar lebih dekat lagi dan kini kearah ketiganya. Alea pun harus merunduk dan berlindung di tubuh Bryan.
Dor!
“Siala! Itu Mika,” desis Bryan.
Alea mengangkat wajahnya ke atas, kedua matanya mendelik dan benar saja di depan sana munculah Mika tengah melawan anak buah Bryan.
“Habisi Mika, Bob!” perintah Bryan lagi.
Pria itu hampir dekat dimana mobil berada. “Astaga. Kenapa kamu sejak tadi terus memerintahku, hah?
“Apa kamu tidak lihat aku sedang apa sejak tadi?” Bobby protes.
Sejak tadi dia pun membawa kedua orang itu menuju mobil dengan harus melumpuhkan beberapa anak buah Mika.
“Ck! kau terlihat sengaja tidak menembaknya, Bob!”
“Terserah kamu, Bryan. Sejak tadi aku ingin sekali wanita dingin itu bisa mati di tanganku. Tapi, wanita itu begitu pandai menghindar serangan.”
“Tetap, saja dia itu wanita dan punya kelemahan!”
Bobby mendengus pelan. “Kalau begitu, maka kau lah sendiri yang menangani wanita itu. Kau pun bisanya merintah. Lakukanlah sendiri, sana.”
Alea mendengus jengah, di situasi genting seperti ini bisa-bisanya kedua pria itu malah berdebat. Kalau situasinya tidak segenting ini sudah dipastikan keduanya sudah berkelahi.
“Itulah tugasmu sekarang! Aku akan membawa Alea ke tempat yang lebih aman. Aku tidak ingin ditangkap oleh wanita gila itu.”
“Ck! Sungguh licik sekali kau ini, hah?” berang Bobby.
“Kau itu pengecut Bryan!"
Bryan hanya mendengus, pria itu pun membawa Alea untuk masuk ke dalam mobil di mana pria itu pun ikut menembak di mana Mika berada.
Ketiganya begitu saja pergi meninggalkan kekacauan yang terjadi di rumah itu, sementara Alea mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang hilang, yang entah apa.
‘Jadi, Evans benar-benar mengirim Mika untuk membunuhnya, lalu kemana dia pergi? Berpangku tangan?
‘Tidak ikut turun sendiri ikut membunuhku?’ batin Alea masih melirik ke kanan dan kiri.
‘Bukanya itu artinya, Evans benar-benar tidak akan membiarkannya lolos kali ini.’
Alea menyandarkan punggungnya pada sadarna kursi.
‘Seharusnya aku tetap ada di mansion.
‘Tidak ikut ide Bryan yang dengan harapan semu itu. Sudah jelas kalau keluar dari mansion tanpa seizin berarti kematian akan mendekat dan mengejarnya.’
‘Benar-benar, Evans adalah pimpinan mafia berpuasa. Tanpa harus repot turun tangan sendiri untuk melenyapkan tiga tikus sepertinya,’ kata hatinya.
Alea mengernyit. ‘Tapi—’
Alea menarik nafas pelan tanpa memusingkan perdebatan dua orang pria yang tak henti.
‘Aku yakin, aku melihat Evans berada di samping tempat tidur dan berdiri di pintu balkon. Itu sangat jelas dan tak mungkin berhenti bukan?’ batinya, lagi.
Tak sadar sejak tadi terus berperang diri. Mobil yang membawanya kini berhenti di sebuah landasan. Helikopter sudah menunggu dan siap lepas landas.
Bryan menarik Alea untuk keluar bersama dan pergi menuju helicopter tersebut.
Bobby yang berada di belakang penuh kesiangan pun, ikut naik. Namun, sayangnya, ketika satu kakinya hendak menaik. Bryan dengan cepat menendang perut pria itu dengan keras hingga pria itu terjatuh.
“Bryan…. Apa yang kamu lakukan?”
“Tugasnya sudah cukup sampai di sini! Kau habisi Mika sementara aku akan menjaga Alea.”
“Brengsek kau, Bryan!”
“Bry—”
Alea mencoba turun, namun Bryan menghadangnya. “Kita harus pergi bersama-sama, Bry.”
Alea berusaha memberontak. Namun, Bryan mencekalnya hingga meninggalkan jejak merah di lengan Alea.
“Kamu tidak boleh meninggalkan, Bobby. Bryan. Please, dia harus ikut.”
“Tidak, Alea. Dia harus mengurus Mika,” seru Bryan keras.
“Apa kau tidak tahu kalau pria itu adalah di pihak Evans?” seru Bryan lagi. Alea bungkam seraya menatap Bobby.
“Apa kamu tidak berpikir, kenapa dia bisa tahu posisi kita berada kalau tidak Evans yang memintanya dan dengan begitu Mika datang kemari untuk membunuh kita dan itu karena dia, Alea.”
“Tidak, Nona. Saya tidak—”
Dor!
“Arrrggghhh….”
“Bry….” Teriak Alea keras.
“Dialah pengacau nya Alea. Dialah yang sudah merusak rencanaku.”
Bobby menggeleng, pelan di bawah sana. “Bukannya seminggu ini kita masih baik-baik saja dan ketika dia datang—”
“Ck! Kau begitu picik, Bryan!”
Bobby bangkit lalu menghunuskan senjatanya. Sayangnya, terlambat. Bryan lebih dulu menembak Bobby tepat di dadanya.
Jerit Alea pun semakin keras. Bobby terjatuh dengan timah panas yang menembus dadanya.
Bryan memberikan perintah pada pilot untuk lekas lepas landas dan tidak menghiraukan pekikan Alea.
Pria itu menutup pintu helikopter dan perlahan helikopter yang ditumpangi Alea dan Bryan lepas landas.
Mika menatap sejenak dari bawah, wanita itu hanya diam memandangi kepergian Bryan dan Alea tanpa menembak.
Kedua mata Alea basah, dia mencari keberadaan Bryan yang tidak ada di mana pun.
“Dia yang memulai curang, maka itulah konsekuensinya mati ditangan Mika,”desis Bryan
Bryan menatap ke bawah di mana dia melihat Mika berdiri memandangnya.
“Dasar Evans Colliettie brengsek! Dia tidak datang untuk membunuh kita, tetapi pria menyedihkan itu hanya mengirim kaki tangannya untuk membunuh kita. Sialan!” umpat Bryan keras.
Alea tidak mengerti dengan umpatan Bryan yang bisa wanita itu lakukan hanya diam dengan air mata yang berderai.
Dia mencoba memalingkan wajahnya ke samping memandang keluar jenda pintu helicopter semenatra Bryan di sampingnya terdengar sibuk menghubungi seseorang yang entah siapa.
Di saat Alea menatap ke sebuah rumah di sana. Sinar matahari pagi pun mulai nampak ke permukaan membuat langit gelap kini berubah terang dan begitu cantik.
Ketika helicopter mereka berada di ketinggian dan melewati bangunan rumah besar bergaya klasik di mana di rumah tersebut terdapat Menara yang begitu tinggi. Mulut Alea menganga dengan mata yang membulat lebar.
Bisa-bisanya, Alea melihat Evans Colliettie berdiri di sana. Pria itu berdiri di satu balkon Menara dengan pandangan lurus ke arahnya.
Arah helicopter yang membawanya pergi. Sekalipun jarak mereka semakin menjauh.
Alea bisa jelas melihat kalau itu Evans Colliettie. Pria itu ada di sini, tidak seperti yang Bryan kira kalau hanya Mika yang datang memburunya, tetapi Evans pun ikut memburunya sampai sejauh ini.
Evans datang mencarinya, bahkan dia datang sendiri mencari nya. Alea yakin kalau orang di pintu balkon itu adalah Evans.
Tetapi, kenapa ketika di saat ada kesempatan untuk membunuhnya di dalam kamar, Evans tidak melakukannya?
Tidak mungkin bukan bila iblis seperti Evans tengah bermurah hati padanya?
Alea mengusap air matanya, pandangan sosok pria itu pun kini terlihat mengecil bahkan tidak terlihat lagi.
Alea tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Kedatangan pria itu sejauh ini hanya sekedar menonton saja?
Tidak mungkin bukan? Bahkan, Evans tidak ada pergerakan sama sekali.
“Bry—aku meli—”
Bug!
Sebuah pukulan keras mengenai pundaknya, wanita itu dengan cepat tidak sadarkan diri.
“Wake up, Jallang!”