Mafia And Me

Mafia And Me
MAFIA AND ME 2(EPS 44)



Kini mereka telah sampai, mereka memang melakukan penerbangan karena perpisahan pulau dengan New York. Dan memakan waktu kurang lebih lima jam perjalanan dan penerbangan hingga sampai di New York.


" Makasih Tuan," ucap Lea yang baru saja turun dari mobil dengan menggendong Hansel.


Eder yang baru saja menutup pintu mobil setelah Lea turun menjadi tidak nyaman akan ucapan Lea padanya. Terlebih sedari tadi Edward hanya terdiam seribu kata.


" Nona, itu sudah kewajiban saya. Saya minta supaya Nona,,"


" Eder, cepat masuk atau kau disini?" Edward membuka suara dengan nada dingin. Seketika ucapan Eder pun terpotong, ia tersenyum kecil pada Lea lalu masuk kedalam mobil.


Setelah memastikan bahwa mobil mereka sudah melaju, Lea segera masuk ke dalam rumah.


Ia membaringkan Hansel di kasur kamarnya kemudian segera membersihkan diri karena gerah.


" Rasanya hari ini adalah hari yang begitu panjang, aku baru saja melangkahkan kaki dari rumah ini tadi pagi tapi kembali lagi dalam hari yang sama, sangat rumit sekali," gumamnya lirih, kini ia tengah berbaring di kasurnya setelah selesai mandi.


"Ternyata sudah pukul 03.19 dini hari. Benar benar sangat melelahkan, badanku seakan ambruk seketika menjalani hari hari ini." Ucap Lea dengan sendu apalagi setelah melakukan penerbangan tadi itu membuat ia tambah kelelahan dan untungnya ia masih dapat memejamkan matanya ketika penerbangan.


Lea mulai memejamkan matanya dan mulai masuk kealam mimpi, hanya dalam beberapa menit ia sudah terlelap.


_______


Esoknya.....


Di apartement Edward, ia sudah bangun dan bahkan sudah terlihat tampan dengan semua perlengkapan setiap hari bersiap siap ke kantor.


" Drtttt,,,, drtt,,,,drt,,,," ponsel Edward bergetar diatas meja.


Tertera nama Elena di sambungan telfon.


" Iya,,," Edward menjawab sambungan telfon dari Elena.


" Kak, Kakak anterin Ele donk ke Kampus" Terdengar suara manja Elena memelas.


" Mobil kamu kan ada sayang, trus kenapa Kakak harus antar Ele?" Edward sedikit heran.


" Mobil Ele masih di servis pagi ini makanya Ele gak ada jalan ke kampus,"


" Emm, Kakak juga harus ke kantor sayang, gini aja ya nanti setelah Kakak sampai kantor biar Eder yang antar kamu ok." Edward harus segera mengakhiri pembicaraan mereka karena banyak proposal dan dokumen yang belum ia periksa dan tanda tangani.


" *Baiklah, Ele bakal nunggu,"


" Udah ya, Daa,,,"


" Tuttt*,,, " Edward langsung mengakhiri sambungan telfon mereka.


Edward segera bergegas keluar dari apartement karena Eder sudah menunggu di bawah.


" Ayo,," mobil segera melaju menuju perusahaan, Eder benar benar focus sekali menyetir.


" Setelah sampai di Kantor, kamu langsung ke apartement Elena. Antar dia ke kampus karena mobilnya masih di servis." Titah Edward pada Eder.


" Baik Tuan,,"


' Ketemu Elena lagi? habis saya di omelin sepanjang jalanan kalau telat sedetik saja,' Batin Eder.


Sesuai yang Edward perintahkan, kini Eder baru saja sampai di apartement Elena.


Elena yang sudah menunggu di depan apartement tampak murung menatap kearah Eder.


Dengan kekesalan ia melangkah menapaki dengan kasar menuju mobil terparkir.


" Silahkan Nona,,," Eder berucap seraya membuka pintu mobil sedikit membungkuk hormat.


Setiap mendapat perlakuan seperti itu dari Eder sungguh membuat Elena tambah manyun dan kesal.


" Bisa gak sih Kak Eder bersikap formal saja?" cebik Elena dengan manyun.


Eder memicingkan mata nya, tidak mengerti arah ucapan Elena.


" Aaaa, Kak Eder sangat menyebalkan! gak pernah ngerti apa maksud Ele," Elena berdecak kesal masuk ke dalam mobil dengan menutup kasar pintu mobil.


Eder mengangkat bahu saja lalu masuk kedalam mobil dan segera menyetir.


' Kenapa sih Kak Eder ini gak peka-an orang nya? dia cowok apa enggak sih? gak ngerti banget mood nya cewek.' Batin Elena.


Sepanjang jalanan Elena terus menekuk muka nya dengan membuang muka menatap jalanan dari kaca mobil.


" Nona,,, apa study anda begitu menyenangkan?" Eder mencoba mencairkan suasana.


" Entah!" Ketus Elena tetap menatap ke arah kaca.


Eder menghela nafas panjang dan kembali terdiam, ia tidak ingin memperpanjang segala nya lagi karena ia pikir mood nya Elena sedang tidak baik.


' Argg, tuh kan, udah di coba untuk sok ketus ke dia tapi malah diem bukannya ajak ngorol lagi biar hati aku lebih enakan. Hatinya dia terbuat dari apaan sih?' Batin Elena.


Sesampainya di kampus, Elena langsung turun dengan tergesa gesa tanpa menunggu Eder membukakan pintu mobil.


" Nona,, mengapa langsung,,,"


" Makasih!" Ketus Elena lalu melangkah pergi menuju kelasnya tanpa menoleh lagi kearah Eder.


Eder memejamkan matanya untuk sesaat, ia sungguh bingung untuk menyikapi Elena yang baginya begitu manja dan sulit ia pahami.


" Gadis yang sangat aneh, di ajak ngobrol salah. Giliran di diemin juga salah, emangnya mau cewek itu apa?" Eder keheranan sendiri untuk memahami jati diri perempuan yang sebenarnya.


______


Mampir yuk di karya author sebelah, akan author usahain up tiep hari:)


" Early Marriage "


" Kisah cinta Aurora "


LIKE KOMEN DAN VOTE


SALAM^^