Mafia And Me

Mafia And Me
Rencana Busuk!



“Astaga….”


Alea terbangun dengan mengusap keningnya yang terkena pinggiran bathup. Alea tertidur di dalam kamar mandi Evans.


“Astaga, aku pikir aku sudah ada di kamarku, ternyata aku ketiduran di sini.”


Dilirknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, melihat jam mendekati pertengahan malam.


Alea pun langsung bangkit dari duduknya setelah dia memastikan semuanya telah siap dan tidak ada yang kelewat.


Buru buru dia keluar dari dalam kamar mandi sebelum Evans masuk. “Ini efek aku makan cake kebanyakan jadi kekenyangan sampai aku ketiduran di dalam kamar,” gerutu Alea dalam hati.


Ketika, dia membuka pintu kamar yang terhubung dengan walk in closet, kedua mata Alea terbelalak ketika melihat Evans berdiri dengan posisi yang memunggunginya satu hal lagi yang membuat Alea harus menyertakan pikirannya untuk berpikir.


‘Dia sudah mandi atau belum? Kenapa itu handuk sudah nyantol saja di situ?’ batin Alea menatap bagian bawah.


 “Kau masih ada di sini, hmm?”


Pertanyaan itu membuat Alea tersentak dari lamunannya. Dia pandangi Evans sejenak lalu menundukkan pandangannya.


“Maaf, Tuan.”


Mendadak hatinya berdebar, ketika melihat wujud Evans yang rupawan tanpa cela. Namun, sangat disayangkan kalau pria itu…


“Saya permisi, Tuan. semuanya sudah siap,” kata Alea seraya menunduk, dia berjalan cepat dan melewati Evans yang berdiri di ambang pintu.


“Arrrgghhh…” seru Alea keras, terkejut.


Lebih terkejutnya dengan apa yang dilakukan pria itu, dengan gerak cepatnya Evans mencengkram tangannya lalu menyentakan tubuhnya dengan punggung yang menghantam dinding tembok.


Evans mengurung tubuhnya diantara kedua lengan yang disandarkan ke dinding tembok. Tubuh Alea bergetar dengan nafas yang tercekat. Jarak keduanya begitu dekat hingga Alea tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan Evans.


“Sa-saya minta maaf. Saya tadi ketiduran, Tuan.”


Satu alis Evans terangkat dengan sorot mata yang tajam.


“Ketiduran, hmm?” desisnya.


Alea mengangguk cepat kesalahan yang malam ini dia lakukan yaitu ketiduran setelah apa yang diperintahkan pria yang menatapnya nyalang padanya.


“Saya minta maaf sekali lagi,” kata Alea menundukan pandangannya.


“Apa pekerjaanmu sebagai pelayan sangat melelahkan hingga membuatmu kelelahan hm?”


“Aku hanya menyuruhmu melakukan sesuatu di tengah malam, menyiapkan air untuk berendam dan wine. Apa itu berat bagimu?”


“Tid—” Alea menelan salivanya dalam-dalam.


“Tidak. Saya salah, maafkan saya tuan. Tolong izinkan saya kembali ke kamar saya,” mohon Alea.


Evans mencengkeram dagu Alea, hingga mau tidak mau di kedua matanya menatap manik mata hijau keemasan.


“Bagus kau menyadari kesalahanmu. Jangan pernah berpikir aku mengerjakannya di pabrik akan mengurangi kewajibanmu sebagai pelayan pribadiku di mansion, Alea!”


Evans menatap lebih jeli lagi, satu alisnya terangkat lalu sekian detiknya Evans tersenyum mengejek.


“Jadi selama ini kamu selalu memakai softlens, hmm? Lepaskan!”


Bola mata Alea membulat besar.


“Ap—”


“Lepaskan soflance itu!”


Alea menggeleng pelan, Evans semakin keras mencengkeram dagu Alea.


“Ini hanya untuk—”


“Buka atau aku akan mencongkel kedua mata indahmu ini!” tegas Evans tak ingin dibantah lagi.


Evans berikan ruangan, pria itu mundur setelah melepaskan cengkeramannya.


Pria itu bersedekap menunggu wanita bodoh itu untuk melepaskan softlens yang dikenakan itu.


“Kenapa anda ingin tau semua? Bukannya ini tidaklah penting?”


“Lepas!” tekan Evans.


Alea membuang napas berat, perlahan dia pun menundukan kepalanya lalu melepaskan softlens yang dia kenakan.


“Sudah?”


Alea mengangguk pelan. Evans berkacak pinggang.


“Dua-duanya, Alea Anjanie!” seru Evans.


Alea berdecak lidah, lalu kembali melepaskan satu softlens yang masih menempel di matanya. Evans selangkah maju dan pandangi bola mata Alea.


“Rupanya kau bukan asli orang Asia, hmm?”


“Itu bukan urusan anda, Tuan.”


Evans menarik sudut bibirnya ke samping.


“Ck! Tidak ada satu hal pun yang bisa kau sembunyikan dariku, Alea.


Alea diam dan menatap kesal, entah apa pentingnya Evans harus tahu semua ini.


“Ya. Anda selalu bisa mengetahuinya tetapi anda sendiri tidak tahu siapa musuh dalam selimut yang berada di mansion anda dan juga tikus yang sudah merusak pabrik anda,” jawab Alea dengan tegas.


Mengingat pembicaraan di dapur, Alea bingung dengan pria itu.


Bila pria itu tahu siapa yang telah membuat mawarnya rusak, tetapi kenapa tidak cepat dalam bertindak, begitu juga dengan tikus di pabrik tua itu.


Alea yakin kalau Evans pun sudah tahu semuanya. Entah apa sebenarnya rencana, Evans. Alea merasa di sini dia hanya jadi umpan untuk musuh-musuh yang tidak suka pada Evans itu keluar.


Lagi, pria itu tersenyum miring. “Bagus kalau kamu sudah tahu.”


Evans mengelus dagunya tanpa mengalihkan tatapanya nyalangnya.


“Bila anda menjadikan aku umpan seperti rencana busuk anda, kenapa anda tidak membunuh saya saja. Kenapa anda begitu ingin membuat saya mati perlahan?”


Evans tersenyum simpul pandangi wanita itu.


“Aku sudah tahu siapa musuhku selama ini yang menusukku dari belakang dan siapa yang sudah berhianat di mansionku.


"Tetapi, tidak asik bila aku tidak memberikan umpan agar dia keluar dengan sendirinya, cukup asik bukan rencanaku. Setelah dia keluar aku dengan mudah mengirimnya ke neraka dan, selesai!”


Alea meremas kedua tangannya erat. “Aku tidak akan membunuhmu secara langsung Alea karena aku masih membutuhkanmu. Mati perlahan di mansionku itulah rencanaku!” ungkapnya.


Evans mengibaskan tangannya mengisyaratkan Alea untuk pergi. “Pergilah aku mau berendam dan suruh wanita jallang itu untuk kembali ke dalam kamarnya!” tegas Evans.


Alea masih diam dengan mata yang menatap marah pada devil itu, meski dia tahu hidupnya kali ini dimanfaatkan oleh devil itu tapi bila Evans membunuhnya sekalipun dia sudah ikhlas.


Pria itu berjalan kearah mandi, tersadar seseorang masih diam di tempatnya membuat pria itu kembali membalikan badannya. Alea masih menatapnya.


“Apa kamu mau aku lempar ke dalam bathup dan kita mandi bersama hmm?


"Sepertinya tidak salahnya kalau kita mandi untuk menghilangkan penat di kepala. Bagaimana?” ajak Evans pelan, namun terdengar merinding di telinga Alea.


“Saya permisi, Tuan.”


Secepat kilat ALea keluar dari dalam kamar Evans sebelum dia benar-benar dilemparkan ke dalam air.


“Apa, mandi bersama?” tanya Alea dalam hati.


Tubuh kurus itu bergidik ngeri mengingat perkataan tadi. Tak ingin memikirkan hal seperti itu, dia pun lekas berjalan cepat menuju kamar bermain untuk membangunkan salah satu peliharaanya Evans.


“Carla, lekaslah bangun. Kamu harus pindah dari kamar ini.”


Carla mengerjapkan matanya menatap Alea dengan tatapan benci.


“Kau—“ desis Carla.


Memiliki kesempatan bertatap muka dengan Alea kembali, Carla berniat akan membalas semua kebenciannya pada pelayan tak tahu diri itu.


“Dengar Alea, aku pastikan kau tidak akan bertahan lama di sini.”


Lelah, sudah pukul dua belas lewat dia harus berdebat dengan Carla.


Tugas mala mini benar-benar membuat dia harus mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya dan juga lelah.


“Sudahlah, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu sekarang juga itu perintah langsung dari tuan, Carla. Bukan aku!”


“Apaah?” seru Carla dengan bibir yang menganga.


Wanita itu tidak terima. ‘Seandainya aku bisa menampar atau memukul seperti waktu itu tidak di larang oleh tuan. Akulah orang pertama yang maju untuk membalas semua sikap licikmu!”


“Ayolah, ini sudah sangat malam. Aku ingin istirahat,” ucap Alea.


“Ck! Sombong sekali kau, mentang-mentang aku bisa bersama dekat dengan Tuan, kamu kini ikut memerintah padaku!”


“Astaga, itu tidak benar Carla. Sudahlah, aku malas berdebat denganmu.”


“CK! Sombong sekali!” gerutu Carla kesal. Wanita itu bukannya lekas bangun dan pergi menuju kamar, tetapi Carla benar menguji kesabarannya.


“Ayolah Carla. Aku mohon, ini sudah malam.”


Dengan terpaksa dia bangun dengan wajah masam. “Aku pastikan akan membalas semua perbuatanmu, Alea. Camkan, itu!”


Carla akhirnya bangkit dari ranjangnya dan berjalan mendekati Alea. Hatinya masih diliputi kebencian yang mendalam.


Carla dengan kebenciannya menunjuk-nunjuk tepat di wajah Alea dan tidak lupa dengan sumpah serapah yang dilontarkan Carla padanya.


“Kau akan mati ditanganku, Alea. Ingat itu!”


Alea menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, makian dan sumpahan itu sudah sering dia dengar.


Dari posisinya dai pandangi punggung wanita itu dengan perasaan sedih, semua wanita Evans selalu mengunduhnya merebut hati Evans, dan itu sesuatu hal yang tidak mungkin baginya.


Dia tidak bisa melakukan hal itu untuk menarik mafia kejam itu, tetapi kenapa masih saja mereka menuduhnya?


“Ingat itu, Alea. Kau akan mati!”


“Ya, ya ya, Carla. Lekaslah masuk,” pinta Alea seraya membuka pintu paviliun tengah.


Sebelum Carla benar-benar masuk, wanita itu menatap Alea dengan tajam dan tak lama berlalu pergi menaiki anak tangga.


Alea menghembuskan napas pelan, akhirnya pekerjaan malam ini selesai.