Mafia And Me

Mafia And Me
Sesuatu Tempat!



 “Kau telat satu men—”


Bola mata Evans membulat lebar, dengan kata-kata yang menggantung ketika melihat penampilan Alea sekarang ini.


“Kau mau pergi kemana?”


Evans menatap marah, wanita itu mengenakan celana panjang berbahan kain katun berwarna gading dan juga di padukan dengan kaos pendek hitam dan outer hitam panjang ditambah sepatu cats berdiri di depan Evans.


“Aku tidak mengajakmu berlibur, Alea! Aku mengajakmu ke suatu tempat!”


Alea pandangi penampilannya sendiri, dari penampilannya bukannya pakaiannya ini sopan bukan? Lalu salahnya di mana.


“Katanya anda akan membawaku ke suatu tempat. Saya nggak tahu suatu tempat itu kemana. Ada namanya kan Tuan tempat itu?”


Evans berdecak lidah. “Pakaianku ini terlihat sopan juga. tidak salahnya bukan?”


Alea tersenyum lembar pikirannya mendadak sok suci. “Apa anda akan mengajakku berlibur ke pantai, Tuan? Aku baca di internet pantai di Napoli begitu indah.”


“Ck! Holiday dalam mimpi. Ganti!” titah Evans, keras.


Alea mendengus pelan, lalu menatap sip ria yang menyebalkan di depannya itu. seenaknya saja main ganti. “Terserah anda. Suka tidak suka mau tidak mau saya akan pergi dengan pakaian ini.”


Gigi Evans bergeretak. “Saya tidak punya pakaian yang pantas untuk pergi. Hanya ada beberapa kaos dan juga baju tidur, anda juga tahu barang-barangku bukan?”


Evans hela nafas panjang dan lelah. Dia terpaksa harus membawa Alea dengan penampilan seperti gembel.


Pakain yang kenaikan Alea itu semua pakaian murahan sama sekali tidak bermerek sekalipun begitu, tetapi dia melihat ada sesuatu yang beda pada wanita bodoh itu.


“Terserah kau, mau pakai apapun. Pakai bikini pun boleh!” ujar Evans malas berdebat.


Dia sudah tidak punya banyak waktu untuk berdebat dengan pakaian Alea, dia pun berjalan sementara Alea langsung mengekor kemana langkah sang majikan.


Kini tibalah Alea dan Evans berada di mansion utama di mana di depan sana sudah ada Mika yang berdiri menunggu tuannya.


Kedua wanita itu berjalan berdampingan dan mengikuti langkah kaki Evans hingga keduanya masuk ke dalam mobil yang tentunya berbeda dengan Evans.


Alea berada di mobil belakang bersama dengan Mika. Semenjak kejadian terakhir itu, Alea dan Mika memang terlihat tidak pernah berbicara.


Apa lagi bila keduanya bertemu di dapur pun, Mika selalu pergi setiap kali ada Alea di sana.


“Baru kali ini aku berada di dalam neraka Black Rose. Aku baru melihat Napoli seindah ini,” kata Alea pelan, namun terdengar oleh Mika yang duduk bersebelahan dengannya.


“Sebenarnya Tuan akan membawaku kemana, Mika? Dan apa tugas baru yang harus aku lakukan?” tanya Alea seraya menoleh pandangi Mika.


“Apa aku harus menggoda pria lagi seperti yang sudah-sudah?”


“Kenapa kamu tidak bertanya langsung pada tuanmu, hmm?”


Alea menoleh ke samping dengan bibir yang memberengut, sepertinya bertanya pada Mika itu sama saja, wanita itu memang menyerupai tuannya.


“Jika tuanmu menjawab, aku tidak akan bertanya padamu dan aku yakin kamu pasti sudah tahu lebih dulu kan?”


Mika menggendikan bahu tidak tahu, karena sama sekali dia pun tidak tahu alasan apa yang membuat Evans membawa Alea kembali keluar.


“Mika…”


“Aku tidak tahu, Alea. Dia tidak mengatakan apapun. Memangnya kau pikir aku cenayang yang tahu dengan isi pikiran tuanmu itu, hmm?”


“Ah, dia juga tuanmu Mika. Tuan yang sangat menyebalkan!” sahut Alea.


Tak lama, empat mobil itu sudah berhenti di sebuah gerbang besi nan tinggi bercat hijau pekat. Alea penasaran, dia pun tak lepas pandangi luaran sana.


“Pabrik tua?” ucap Alea.


Alea kembali pandangi Mika. “Untuk apa tuanmu membawaku ke pabrik ini, Mika?”


“Aku sudah katakan aku tidak tahu!”


Alea kembali memalingkan wajahnya, di luar sana sudah ada beberapa orang yang berdiri di depan sebuah kantor dan berjajar rapih, semua orang menyambut kedatangan Evans Colliettie.


Alea bergegas turun dan berdiri bersama dengan Mika, sementara seseorang di depan sana itu membukakan pintu belakang dan muncullah Evans.


“Selamat pagi, Tuan. silahkan,” ucap seseorang.


Alea tebak kalau pria muda itu adalah salah satu orang kepercayaan. Tapi, tunggu. Apa ini salah satu bisnis Evans?


Tapi apa yang dilakukan seorang mafia itu dengan pabrik tua ini?


‘Apa Evans membuat senjata ilegal? Atau dia produksi obat terlarang di gedung tau itu, atau… atau…’


“Ayo masuk. Jangan melamun terus dan jangan berpikiran yang tidak-tidak Alea,” kata Mika seraya menyentakan wanita bodoh itu dari lamunannya.


Dia tahu apa yang baru saja di lamunkan wanita bodoh itu. Alea mengangguk dan kembali berjalan mengikuti Mika sementara Evans sudah berada di depan bersama dengan pria muda itu.


“Kau sudah mengumpulkan semua orang?” tanya Evans.


“Sudah, Tuan. Semua sudah ada di ruangan meeting.”


‘Sebenarnya ada apa ini? Apa ada masalahkah dengan gedung tua ini?’


‘Oh, astaga. Aku jadi penasaran kan dengan bisnis apa yang pria itu jalankan di gedung tua ini.


Sayup-sayup Alea menguping pembicaraan kedua pria itu sekalipun mereka menggunakan bahasa italia. Alea paham, bahasa italia apa lagi dia tau apa yang tengah dibahas.


“Mr Colliettie, silahkan.”


Evans seperti biasa tidak pernah merespon dengan baik bentuk sapaan orang. Pria itu hanya diam dan menatap sebagai jawaban.


“Oh. Jadi gedung ini pabrik?” batin Alea. Dari apa yang dibahas pria muda itu yang menunjukan presentasi Alea paham dengan grafik pabrik tersebut.


“Jadi pabrik ini mengalami kebangkrutan.”


“Saya akan tutup pabrik ini!” kata Evans, santai.


Alea di depan sana pandangai wajah iblis itu, sudahlah jangan ditanya ekspresi Evans memang selalu dingin dan juga datar. Kendang sorot matanya itu membuat orang-orang takut.


Tetapi, ada sesuatu pandangan yang berbeda. Dia tidak tahu kalau Evans punya pabrik tua dengan bisnis halalnya.


Rasanya, Alea tidak percaya dengan tampan Evans yang menyeramkan itu ternyata dia seorang Ceo. Pimpinan perusahaan pabrik tua tersebut.


Seruan semua orang menolak keras membuat Alea tersadar dari lamunannya. Ternyata, perkataan Evans yang ingin menutup pabrik tua ini ditolak keras oleh banyak orang.


“Pabrik ini sumber mata pencaharian kita untuk sesuatu nasi, Tuan. tolong jangan di tutup,” seru seorang pekerja di balik pintu.


“Bagaimana dengan anda Pak Direktur?” Evans bertanya pada pria yang sejak tadi berdiri menyampaikan presentasinya.


“Apa anda tidak bisa memberikan kesempatan pada kami sekali lagi ini, Tuan? Saya minta kepercayaan, Tuan.


"Saya harap Tuan Evans mau menyokong dana lagi untuk kemajuan dan perkembangan pabrik kita ini. Bila di tutup, kasihan dengan banyak orang yang bergantung dengan pabrik ini,” ucapnya.


Evans hela nafas panjang seraya berpikir dengan kedua mata pandangi ruangan kecil yang berisi banyak orang. Sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk menyuntik dana pabrik tua ini. Tetapi, selama ini hasilnya nihil.


“Saya bosan mendengarkan hal itu. Selama ini tidak ada hasilnya bukan? Setahun, dua tahun saya pantau perkembangannya tidak ada peningkatan yang ada terus menurun!” kata Evans.


“Untuk yang terakhir kalinya, Tuan. Saya yakin saya bisa mengatasi masa sulit pabrik ini!”


‘Duh. Aku pikir Evans itu bisanya cuman tembak-tembakan doang. Bunuh sana bunuh sini, tetapi penampilannya kali ini begitu keren,’ gumam Alea dalam hati, tak lepas kedua matanya pandangi gaya bicara pria itu.


Tidak terlihat sama sekali kalau di balik wajah tampan itu, dia adalah pria berbahaya.


“Ck! Kesempatan hm? Aku bosan mendengarkannya Lucas! Kau apakan pabrikku ini sampai pabrik ini hampir bangkrut?”


Lucas hanya menunduk. Evans begitu saja pergi meninggalkan rapat lalu berpindah pada ruangan kerjanya yang ditutur oleh Mika dan juga Alea.


Lucas berdiri menghadap Evans, lagi. Dia akan berjuang untuk yang terakhir kalinya.


Sebenarnya Evans tahu kemampuan pria muda itu yang pandai berbisnis sehingga dia menitipkan pabrik ini pada Lucas. Mendadak pria itu banyak diam di mana ada di dalam pabrik miliknya ini tentunya ada seseorang yang berulah.


“Sebenarnya aku tahu kau sudah tahu kenapa pabrik ku jadi seperti ini. Apa kau akan diam saja dengan tikus yang menggerogoti pabrikku ini hm?”


“Maafkan saya, Tuan,” ucap Lucas dengan kepala menunduk.


“Kau—“ tunjuk Evans wanita bodoh yang terlihat melamun.


Mika menyenggol lengan Alea agar wanita itu tidak banyak melamun di dalam keadaan yang genting seperti ini.


“Hm?” jawab Alea seraya menatap Mika.


“Tuan memanggilmu, bukan aku,” balas Mika seraya berbisik.


Alea seperti orang bodoh menoleh ke kanan kekiri di mana sang empu dari depan menatapnya nyalang.


“Kau melamun, hmm?”


 “Maafkan saya, Tuan.” Evans mendengus pelan, entah apa yang tengah dipikirkan wanita bodoh itu. Apa wanita bodoh itu tengah berencana untuk melarikan diri?


“Dia akan membantumu di pabrik ini dan aku akan kembali menyuntik dana kembali agar pabrik ini kembali bangkit.”


Lucas tersenyum senang. “Tapi ada satu syarat.”


“Jika dalam tiga bulan hasilnya tetap sama. Kau—”


Evans mengetatkan rahangnya dengan mata menatap nyalang pada pria muda di depannya itu.


“Mati di tanganku sendiri. Kau paham Lucas?!”


Dengan satu tarikan, Lucas mengangguk paham. “Siapkan surat wasiat sekarang juga untuk keluargamu sebelum kau mati ditanganku. Aku tahu ini tidak akan berhasil,” sindir Evans.


Alea hanya bisa diam dengan tubuh yang bergetar. Jadi, ini tugas baru yang diberikan Evans padanya. Dia harus membantu pria bernama Lucas itu untuk memulikan pabrik tua yang diambang kembangkrutan ini.


Yang jadi pertanyaan, apa Alea bisa memulihkan pabrik tua ini?