Mafia And Me

Mafia And Me
Rencana Gina



Apartemen William, London.


 


Gina memeluk tubuh William, di mana keduanya berbaring terlentang bersamaan dengan keduanya yang terdiam menatap langit-langit kamar William. Sudah beberapa hari ini Gina tidak pulang ke apartemenya karena ia masih takut jika Mike akan datang ke rumahnya dan melakukan aksi bejadnya kembali, ia tahu iblis seperti Mike akan berbuat apa kepadanya, yang mana ia sudah mempermainkan Mike Shander.


 


Sudah beberapa hari ini pun dirinya selalu terdiam dan sering banyak melamun akan pikiranya yang kacau bila mengingat Mike dengan sikapnya yang tidak biasa. Gina tahu bagaimana Mike, namun kali ini ia tahu betapa Mike sangat marah kepadanya karena sudah merusak hubungan Mike dengan wanita bodoh itu.


 


William yang beberapa hari ini melihat keadaan Gina yang tidak seperti biasanya pun dibuat bingung sendiri, pasalnya Gina selalu terdiam dan jika ia bertanya wanita itu kan menjawab dengan singkat meski dalam hati William ia ingin tahu kenapa wanita itu berubah seperti ini.


 


Kalah berjudi?


 


Sepertinya bukan Gina namanya, jika wanita itu memikirkan sampai seserius ini jika kalah berjudi. Wanita itu mempunyai sikap yang masa bodoh dan tidak peduli bila wanita itu kalah dalam hobynya itu. Namun apa yang kini mengusik pikiran Gina?


 


Apa Gina ada masalah dengan Mike Shander?


 


William bertanya-tanya di dalam hatinya akan diamnya Gina di rumahnya yang tidak biasa ini, biasanya wanita itu tidak akan berhenti mengajaknya bercinta, tetapi kali ini wanita itu terlihat tidak begitu bergairah untuk menghabiskan malam yang penuh peluh dan kenikmatan itu.


 


Gina pun tahu jika William pasti bertanya-tanya akan sikapnya saat ini, ia yang tidak banyak bicara meski dirinya selalu bersama dengan kekasih candanganya pun. Tetapi Gina masih ragu untuk menceritakan semua yang Mike perbuat kepadanya. Namun diamnya dirinya selama ini ia bertekad untuk membalas dendam akan kesakitanya pada Mike Shander.


 


Ya, ia harus membalas dendam pada Mike Shander, lebih dari apa yang akan Mike Shander lakukan kepadanya. 


 


'Mike harus menderita, ia harus merasakan apa yang aku rasakan saat ini dan satu-satunya yang  membuat Mike menderita itu hanya satu, melukai wanita bodoh itu,' lirih Gina dengan rencan-rencana yang sudah berada di kepalanya.


 


“Kau tak apah?”


 


“Aku baik-baik saja, tenang saja honey.”


 


Sedangkan Mike di seberang sana menyapu bersih apa yang ada di meja kerjanya. Berteriak seperti orang gila dengan wajahnya yang merah padam seperti kobaran api yang menyala. Sesekali mengumpat kesal akan kebodohanya yang ia ciptakan sendiri. Membalas perbuatan Gina akan pertengkaran dirinya dengan Ale yang mana saat ini Ale sudah mengetahui semuanya.


 


Semuanya  akan kebusukanya, dan apa yang harus ia katakan kepada Ale kali ini. Karena semua sudah terjawab sudah oleh wanita yang ia cintai itu dengan menyaksikan sendiri oleh mata sendiri.


 


Ale wajar ketakutakan melihat dirinya yang seperti devil ini melakukan hal kurang pantas itu pada Gina yang ternyata sudah di saksikan sendiri oleh kekasih tercintanya dan bodohnya ia tidak menyadari hal itu secara cepat jika Ale melihatnya perbuatannya.


 


'Bodoh bodoh bodoh,' gumam Mike memukul kepalanya sendiri karena ia tak bersih bermain dengan Gina. Merutuki kebodohanya karena Ale melihat sisi buruk dari seorang Mike Shander walau hanya sebagain namun lambat laun pasti mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


 


Mike tak ingin Ale mengetahuinya. Ia hanya ingin melihat Mike Shander pria baik yang mencintainya dengan tulus, walau ia tahu merubah hal yang sudah terjadi terasa sulit, apa lagi jika Mike harus meyakinkan kembali pada kekasihnya itu.


 


Mike jadi teringat bagaimana dulu ia mendekati Alea Anjanie wanita cantik berhati baik dengan kepolosanya yang tak bisa ia taklukan begitu saja. Wanita pekerja keras dengan keperibadian yang baik, tak bisa luluh akan gombalan Mike untuk mendapatkan hati Alea.


 


Menyakinkan Alea Anjanie itu tak semudah ia merayu para wanita di luaran sana. Bagi Mike, Alea adalah wanita yang selama ini ia cari, kesetiaanya dan perhatian wanita itu yang tulus kepadanya selama ini runtuh seketika melihat akan kecerobohanya. Wajar jika Alea ketakutan melihat iblis seperti dirinya. Apa ia bisa meyakinkan kembali Ale setelah apa yang kekasihnya lihat akan dirinya bersama Gina?


 


 


Mike Shander message.


- Bee.


- Nanti malam aku menunggumu di club pukul delepan malam kau bisa datang?


- Aku menunggu Bee


- Ada sesuatu hal yang aku mau bicarakan kepadamu.


 


Ale membaca chat dari Mike mengajak bertemu di sebuah Club pukul delepan malam. Ale merasa heran karena Mike tak pernah mengajak dirinya ke club seperti ini.


 


'Apa Mike sudah mengetahuinya jika aku mengintip dia yang sedang bercinta dengan Gina? Lalu kenapa Mike tak datang kemari untuk bertemu langsung padaku dan kenapa harus di club?' batin Ale merasakan keganjilan pada Mike.


 


Tampa berpikir panjang Ale terpaksa mendatangi club yang sudah ditunjuk oleh Mike yang mana dirinya masih bingung akan kekasihnya yang mengajak ke tempat seperti ini.


 


'Sebenarnya ada apa dengan Mike? Kenapa Mike mengajaknya kemari,' lirih Ale yang masih terbayang di kepalanya.


 


Ale menginjakan kakinya di depan club itu meraih ponselnya dan memberitahukan kepada Mike jika ia sudah berada depan club. “Ale kau sudah datang rupanya. Aku di suruh Mike untuk menemanimu dan menjagamu ayo,” ucap Gina menarik tangan Ale dengan paksa membawa masuk ke dalam club.


 


Dentuman music yang di mainkan oleh dj pun terdengar cukup keras di telinga dengan music beatnya yang memadati ruang dansa di depan sana. Sejujurnya Ale baru pertama kali ke tempat seperti ini. Ia merasa pusing akan lampu kelap kelip dan dengungan suara keras yang menyakitkan telinga. Maklum Ale anak rumahan yang mana kantor, café dan rumah yang selalu ia datangi tak pernah ke tempat seperti ini.


 


“Mike bilang akan kemari jadi kita tunggu saja di sini, oke?” tanya Gina mengedipkan sebelah matanya kepada Ale yang pergi entah ke mana. Ale mengamati club ini duduk sendiri di kursi menunggu Mike yang belum juga menunjukan batang hidungnya.


 


“Haii Ale, akhirnya kita bertemu lagi dan kita akan dobel date juga kali ini, mana Mike?” tanya pria bertama biru yang tentu Ale pernah bertemu dengan pria itu, William.


 


 


“Ohh…” lirih William tersenyum pada Ale.


 


“Hai lama yah,” tanya Gina membawa beberapa botol minum yang ia letakan di atas mejanya lalu duduk di pangkuan William mencium bibir William penuh nafsu.


 


Ale yang berada di depanya pun melihatnya jijik, membuang muka dengan ia melihat sepenjuru ruangan.


 


'Apa Gina baik-baik saja setelah apa yang Mike lakukan kepadanya?' lirih Ale menatap wanita sexy di depanya yang terlihat santai dan seperti tak ada beban sepertinya masalah siang itu bagi Gina mungkin menganggap itu semua seperti angina lalu saja.


 


“Baiklah kau mau minum apa? Kau suka minum ini?” tanya William memberikan segelas vodka untuk Ale.


 


Ale menggoyangkan kedua tanganya untuk menolak, karena ia tak bisa meminum hal seperti itu.


 


“Tidak Will terima kasih, aku tunggu Mike saja di sini," jawab Ale melihat keseluruh penjuru ruangan yang pada dan berharap ia Mike akan datang menemuinya.


 


Gina menyodorkan orange jus pada Ale, ia tahu jika Ale tak pernah meminum minuman seperti ini, dasar wanita sok suci. “Aku pesan orange jus untukmu, kau sudah menghubungi Mike kembali?” tanya Gina.


 


Alea menerima segelah orange dan memegangnya dengan wajahnya yang terlihat cemas akan Mike yang tidak kunjung datang.


 


“Terima kasih Gina, aku sudah Telpone Mike namun tidak diangkat olehnya, ia hanya mengechatku jika ia masih di jalan dan kejebak macet.”


 


“Pasti malam minggu di sini memang seperti itu, macet karena banyak orang yang keluar untuk weekend melepas penat usai bekerja,” kata Gina santai meneguk vodka yang ia genggam di tanganya. Ale mengangguk paham dengan kota besar ini.


 


Lelah menunggu Mike, Ale pun meninum orange jus yang ia pegang, dengan sedikit rasa cemas yang melanda dirinya saat ini akan Mike yang belum juga sampai.


 


Brug!!


 


Tubuh Ale tergeletak begitu saja di kursi panjangnya, tidak sadarkan diri membuat William terbelalak menatap Gina yang tersenyum miring.


 


“Kau menaruh obat tidur kepada Ale, honey?” tanya Will tak percaya jika wanita itu benar-benar menjalankan rencana jahatnya.


 


“Iyah, Mike bisa jahat kepadaku, aku pun sama bisa jahat kepadanya. Kita impas saat ini,” decak Gina dengan sebelah tanganya melambaikan kepada pria di depan sana seraya isyarat.


 


“Terus apa yang akan kau lakukan kepadanya Gina ia tak salah. Ia pun sama korban di sini,” tanya William.


 


“Kau tak usah ikut campur denganku honey, kau menikmati saja minumanmu aku ada sedikit urusan,” ucap Gina mencium bibir Wiiliam pergi meninggalkan William begitu membuat William amat penasaran kepada Gina.


 


"Gina, kau sudah membangunakan singa yang tidur, kau tak takut jika kau akan di bunuh oleh Mike Shander hah?"


 


"Tidak!!!"


 


**


 


“Itu wanita yang sudah aku janjikan. Aku harap hutangku lunas dan kau jangan menggangguku lagi," ucap Gina pada pria tua di depanya.


 


“Baiklah, kita impas sayang. Kau jamin kan wanita itu masih perawan?” tanyanya.


 


“Kau boleh menagihku jika aku tak memberikan yang masih perawan kepadamu,” ucap Gina pergi dari hadapan pria tua.


 


 


Bersambung...