
“Sebenarnya apa yang kalian rencanakan ini? Permainan apa yang sedang kalian lakukan pada mafia itu?” tanya Alea penasaran.
Ini seperti sebuah permainan Leo. Pria itu bukan menjawab, Marvio malah memberikan senyuman terbaiknya.
“Ah—just a little game!”
“Please, katakan padaku Mar. permainan apa yang tengah kalian rencanakan.”
Lagi lagi pria itu tersenyum dan sama sekali Alea tidak butuh senyuman itu.
“Tidak ada rencana Alea,” jawab Marvio dengan kerlingan mata.
“You lie, Mar.”
Bibir Alea mencebik dia tau kalau dua pria itu punya rencana tersendiri pada Evans.
Marvio mendekatkan wajahnya begitu dekat dengan Alea, pria itu berbisik di telinga si wanita.
“Kita lihat saja nanti, apakah ada sedikit harapan itu walau hanya kecil untuk Leo dan keluarga?”
Kening Alea mengernyit, Marvio terkekeh gemas. Astaga pria itu bahkan ingin sekali menjadikan wanita cantik di depanya ini sebagai istrinya bila dia tidak mengingat siapa saingan beratnya.
Seorang Evans Colliettie jelas bukan saingan terbaiknya mengingat bagaimana kejamnya pria itu.
“Kalian salah bila berharap dengan cara menjadikan aku umpan kalian.”
“Oh ya? Bagaimana kalau kita mencobanya? Barangkali saja firasat kita ini benar?” tantang Marvio.
Alea diam memalingkan wajahnya sementara Marvio kembali mendekatkan wajahnya.
Hanya berbisik saja seperti ini sudah membuat pria itu melotot tajam bagaimana kalau dia mencium pipi atau bibir Alea?
“Leo sangat menghormati bahkan mengagumi sosok Evans Colliettie sekalipun dia tahu kalau pria itu seorang mafia kejam seantero Italia.
Harapan Leo hanya ingin saudaranya itu bisa keluar dari masa lalunya yang menyakitkan sekalipun dia tahu itu tidak mungkin.
“Baik Massimo dan Leo mereka satu keluarga yang sama, mereka amat merasa bersalah yang mendalam karena dua keluarga itu tidak bisa merangkul dan memeluk Evans dimana pria itu terluka dan kesakitan.
“Evans lebih memilih kehidupannya dengan seorang diri dan mengacuhkan semua keluarganya karena itu Leo ingin Evans bisa memiliki kehidupan yang lebih baik lagi.”
Kening Alea mengernyit lalu mendengus pelan seraya menatap Marvio.
“Hubunganya sama aku apa, Mar? Nggak ada bukan?”
Ah—pangeran itu malam ini banyak tersenyum karena Alea.
“Tentunya ada. Kaulah harapan kita semua saat ini. Keluarga Colliettie bahkan Martinez sangat berharap padamu.”
Bola mata Alea membulat lebar.
“Aku yakin—”
Marvio menoleh sedikit dan menangkap Evans yang tak lepas terus menatapnya.
“Sekalipun pria itu dingin dan terlihat angkuh, tapi aku lihat ada sepotong rasa di hati pria itu untukmu.”
Alea menajamkan dua bola matanya dan kini bibirnya menganga.
“Impossible, Mar. Astaga aku tidak menyangka kalau pikiran kalian itu terlalu kejauhan. Itu sangat tidak mungkin Marvio.”
Sang pangeran Italia pun mengeratkan genggaman tangan Alea dengan bibir yang selalu melukis senyum.
Ah—tidak lupa dengan tatapan Marvio yang nampak memuja wanita cantik yang berdansa dengannya.
Marvio berbisik pelan. “Bersiaplah Alea, dia datang.”
Pria itu mengecup pipi Alea kembali yang langsung dibalas dengan pelototan tajam dan bibir yang komat kamit pada sang pangeran messum di depannya.
“Kamu seharusnya tidak mencium pipiku lagi, Mar!” bisik Alea, lalu berikan senyuman pada sang pengeran.
“Maafkan, aku. Mencuri kesempatan yang tidak akan datang dua kali.
“Pura-puralah kamu tidak mengenalnya Alea dan acuhkan saja kedatangannya,” bisik Marvio lagi.
Alea menoleh sekilas, benar saja sang devil yang sejak tadi dia bicarakan kini turun kelantai dansa.
Evans dan wanita itu berdansa tidak jauh di mana posisi mereka berada.
Tatapan itu, sungguh membuat Alea tidak bisa mengacuhkan pria itu. Alea sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya pada sang Devil yang begitu dekat dengannya.
Marvio tersenyum, dia menyadari kalau Alea pun punya hati yang sama pada mafia kejam itu sekalipun mulutnya mengelak, entah Alea tidak sadar dengan perasaannya sendiri.
Marvio mengurai pelukannya dan sengaja memutar tubuh Alea untuk wanita itu bergerak mengikuti alunan music piano yang dimainkan oleh salah satu pianis ternama.
Tubuh Alea berputar gemulai di samping Evans dengan kedua mata mereka saling bertatapan.
Tidak hanya kali ini Alea tidak melihat Evans, namun seolah tatapan yang sulit diartikan itu tak putus menatapnya.
“Ini rasanya aneh. Dia melemparkan diri pada wanita itu dan mengajaknya ke acara ini.
“Dia pun mengajak wanita cantik itu berdansa, tetapi kenapa tatapan itu tak pernah lepas.
“Sorot matanya terlihat begitu jelas penuh emosi sekalipun ekspresinya selalu sama,” batin Alea ketika menangkap sosok Evans di sampingnya.
“Aaaahh…. Ma—” seru Alea keras.
Alea sontak kaget ketika Marvio melepaskan genggamannya, sumpah demi apa Alea ingin menangis karena dia memalukan pesta Leo dengan keadaan terjatuh di tengah lantai dansa.
Nyaris, tubuh kuru situ berbenturan dengan lantai dingin bila tidak ada lengan seseorang yang bergerak cepat meraih pinggangnya.
“Ev…” lirih Alea. Wanita itu menarik salivanya dalam-dalam dimana dua mata mereka beradu.
Lelaki itu membantu tubuh kurus itu berdiri lalu melepaskan tangannya dari tubuh wanita bodoh tersebut.
“Kalau kau tidak bisa berdansa maka seharusnya kau tidak memaksakan diri untuk berada di pesta orang!” cicitnya.
Alea menarik napas dalam-dalam, tubuhnya membeku dengan perkataan Evans.
“Kau tidak pantas berada di sini, bodoh!” desisnya tanpa memutuskan manik matanya yang tajam.
Pria itu begitu saja pergi setelah menyematkan perkataan yang tajamnya.
Marvio kembali melingkarkan lengannya di pinggang Alea.
“Maafkan aku, Alea. Kamu tidak apah?”
Evans yang tidak jauh pun berbalik badan dan melemparkan tatapan nyalang pada sang pangeran muda di depannya itu.
“Jaga dirimu sendiri pun tidak becus apalagi menjaga peliharaanmu!”
Bola mata Alea membulat, Marvio hanya menghela nafas pelan.
“Jagalah peliharaanmu itu dengan baik jangan sampai memalukan acara saudaraku!” decak Evans teruntuk Marvio.
Pangeran tampan itu berikan senyuman ramah dan selangkah maju mendekati Evans tanpa takut.
“Seharusnya anda tidak menolongnya, Dude!”
Terdengar nada bicara Marvio mengejek sang devil, tetapi itu memang benar adanya. Marvio mengejek Evans.
“Tapi, boleh juga gerakan mu yang cepat menolong wanitaku,” sambung Marvio.
“Ck!”