
“Kau masih di situ, hah?”
“Hm… Saya hanya menyampaikan makan malam anda sudah siap—”
Alea menelan salivanya dalam-dalam, kedua matanya menatap Evans penuh minat.
“Sudah tugas saya menemani Tuan makan dan membantu menuangkan wine seperti biasa.”
Sekali lagi Alea menelan salivanya, sumpah demi apa. Evans berekspresi begitu datar dan dingin.
Tidak ada kesan menggoda apapun di depan sana, yang ada tatapan menghunus yang mematikan bisa Alea lihat.
Tetapi, kenapa tubuhnya ini ingin sekali memeluk erat pria itu.
“Apa anda—”
Alea menjeda menarik nafas sebanyak-banyaknya agar pikiran kotornya tidak terus menghantuinya.
“Saya akan keluar bila anda tidak membutuhkan saya la—”
Evans berikan tatapan, kode agar Alea diam. Itu pertanda dia memang ingin Alea tetap ada di ruangannya seperti biasa melayani dan menemani dia makan malam sekalipun tidak duduk berdua.
Alea hanya akan berdiri seperti patung di sampingnya sampai pria itu benar-benar selesai makan malam.
Alea menatap ke atas tepat pada Ac, walaupun terlihat terbuka tetapi tidak mengeluarkan angin sejuk dari kotak persegi itu.
“Astaga, panas sekali,” batin Alea seraya menyusut keringat yang terus bercucuran.
Tidak hanya itu saja, dia pun menahan mati-matian tubuhnya yang terus bergerak gelisah.
“Maaf, Tuan. Apa anda tidak menyalakan Ac?”
Kening Evans mengernyit. “Sudah,” jawab Evans singkat.
Pria itu pun bangun dari duduknya untuk lekas makan malam.
“Kenapa tidak keluar angin sejuk dari sana?” tunjuk Alea dengan polosnya.
“Apa Ac nya rusak ya, Tuan?”
Alea kembali menyusut keringatnya.
“Panas sekali.”
Alea mengibaskan kedua tangannya di depannya mencari sedikit udara agar menerpa wajahnya yang berkeringat.
Evans langsung berhenti, kedua matanya terangkat dan menatap lekat wanita bodoh yang berdiri tidak jauh dari posisinya.
Perasaan, Ac nya terasa sangat dingin dan dia pun kedinginan.
Tapi, kenapa tubuh Alea justru berkeringat dan bergerak gelisah di depannya?
Evans menatap nyalang pada wanita bodoh di depannya itu. “Kau mau menggodaku, hmm?”
“Hah?” seru Alea.
Wajah polosnya itu menatap Evans seraya menahan kedua tangannya agar tidak bergerak lebih liar lagi.
Alea menggeleng cepat. “Tidak sama sekali, Tuan. Saya hanya kepanasaan.
“Tolong, Ac nya itu di tambah lagi suhunya agar dingin,” ujar Alea meminta pada Evans.
Dia tidak bisa kalau berdiri di ruangan panas tanpa udara. Evans mengusap dagunya memandangi lekat. Itu bukan kepanasan biasa.
“Kau sudah minum apah, hmm?”
Alea mengerjap kedua matanya pelan lalu menatap Evans dengan kebingungan.
Apa hubungannya dengan apa yang baru saja dia minum?
“Apa kau tadi makan sesuatu hmm?”
“Maaf, saya nggak mengerti.”
“Jawab saja,” kata Evans tegas.
Alea menarik nafasnya dalam-dalam.
“Kau habis minum apa, hah?” ulang Evans bertanya lagi.
“Hm—tadi saya hanya minum orange jus saja. Emangnya ada apa? Apa ada yang salah?”
“CK! Apa kau begitu sepolos dan sebodoh ini hah? Tidak tahu kenapa dengan tubuhmu itu yang sudha bergerak seperti cacing kepanasan?” seru Evans, kali ini terdengar sangat marah.
Evans memang banyak diam beberapa hari ini sekalipun dia sangat kesal dengan wanita bodoh di hadapannya itu.
Tetapi, dia tidak akan semarah ini kalau dia tahu kenapa dengan tubuh wanita bodoh itu yang tak henti terus bergerak dan juga berkeringat.
Alea menggeleng kepalanya cepat.
Evans berdecak lidah, Alea memang selalu membuatnya darah tinggi.
“Kau sudah meminum air yang sudah di kasih obat perangssaang!”
“Apaah?” seru Alea keras, hampir saja dua bola matanya terlepas dari rongganya saat mendengarkan perkataan Evans.
‘Ternyata tubuhku kayak cacing ini karena efek obat sialan itu?’ batin Alea.
“Astaga, siapa yang sudah menaruh obat itu pada minuman itu?” sambung Alea dalam hati.
“Siapa—”
“Ehm,” ucap Alea seraya berdehem pelan.
“Siapa yang sudah men-camp—”
Alea ingin sekali menjerit keras, dia kesal dengan tubuhnya yang tidak karuan. Tidak ingin Evans lebih murka lagi padanya, Alea menengok ke belakang.
Satu hal yang ditangkap dua bola matanya dan juga otaknya yang seolah bekerja sama itu adalah pintu. Alea harus keluar dari ruangan ini.
Alea ingin sekali berlari kencang dan lekas masuk ke dalam kamarnya sendiri—menenangkan diri agar obat sialan itu lekas menghilang dari tubuhnya.
“Ma—”
Alea menelan salivanya dalam-dalam seraya menundukan pandangannya di mana Evans begitu terlihat menakutkan menatapnya.
“Maafkan saya tidak bisa menemani anda makan mal—”
Masa bodoh kalau Evans murka dan marah-marah padanya. Dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Alea butuh pelampiasan dan pelepasan agar bisa menuntaskan sesuatu yang ingin sekali meledak di dalam tubuhnya.
Alea berlari cepat menuju arah pintu. Namun, sayangnya dia malah dikejutkan dengan seseorang yang membawa tubuhnya ke dalam gendongan.
Bukan gendongan ala bridal, melainkan ala kuli mengangkut karung beras.
“Hhhh…. Ev….” Seru Alea seraya memejamkan kedua matanya.
“Tolong turunkan saya, Tuan,” pinta Alea.
Dia sudah tidak tahan lagi, jangan sampai Evans semakin murka padanya dengan kebodohannya ini.
“Tuan, please turunkan aku—”
Alea menggigit ibu jarinya sekeras mungkin agar bisa menghilangan rasa itu—sayang itu sama sekali tidak berpengaruh.
Sialnya, semua yang dikatakan Alea sama sekali tidak didengar oleh Evans.
Pria itu tidak menurunkan tubuhnya dan memilih diam tidak mempedulikannya sama sekali.
Evans terus berjalan yang entah akan membawanya kemana.
“Astaga. Apa dia akan membawaku ke tempat bermainnya?” batin Alea, cemas.
Dia tidak mau menjadi wanita jallang Evans, tidak sekalipun dia telah berjanji pada pria itu.
Alea mendelik ketika matanya menangkap dua pintu besar yang menjulang tinggi. Evans membawanya ke dalam ruangan pribadinya.
“Ev… please…”
“Turunkan aku—”
Pria itu masih sama tidak mendengarkan perkataan dan tidak lama setelah sampai di suatu tempat.
Evans menurunkan Alea dengan perlahan dan membawa wanita itu ke dalam kamar mandinya.
Evans menahan tubuh Alea di bawah guyuran air shower dengan mode air dingin.
“Ev—”
Pria itu menahan perutnya dengan satu tangannya agar wanita itu tidak lari dan tetap berada di sana, di bawah derasnya air dingin yang membasahi semua tubuh wanita bodoh itu dengan tujuan lain dia ingin obat itu lekas hilang.
“Ev—tolong aku—” seru Alea semakin gelisah.
Entah permintaan tolong apa yang dimaksud Alea. Tapi, Evans hanya diam menahan Alea sekalipun tubuhnya ikut basah.
Dia tidak peduli apa yang Alea rasakan yang dia inginkan wanita bodoh itu tetap diam karena Evans sadar kalau wanita bodoh itu bukan siapa-siapanya.
Alea menangis dan menggeram keras, bahkan wanita itu menggigit lengannya agar mengurangi hal yang menyiksakan ini.
Bibir bawahnya sudah berdarah, Alea menggigit dengan keras dan tak peduli lagi. Alea sudah sangat tersiksa.
“Hmps…”
"Ev...."