
‘Ingat-ingat dengan menu sarapan pagi Tuan, Alea.’
‘Kamu harus bangun lebih pagi lagi, karena tuan terbiasa bangun pagi.
'Setelah dari sini menyiapkan sarapan pagi untuknya, jangan lupa kamu siapkan air hangat untuk tuan mandi dan juga beberapa aromat terapi yang ada di sana.
‘Jangan lupa dengan handuk, pakaian tuan dan…. Siang nya kamu harus… malamnya kamu harus….’
Alea mendesah berat ketika mengingat perkataan Berta perihal kebiasaan Evans.
Di sinilah Alea berada, di dalam ruangan yang sangat besar ruangan pribadi Evans Colliettie, Mafia Napoli kejam.
Alea berjalan seperti arahan yang sudah Berta berikan, menuju kamar mandi pribadi di mana kata Berta, Evans sering menghabiskan waktu untuk berendam di sana.
Satu hal lagi yang Berta katakana, Evans tidak pernah membawa wanita peliharaan ke dalam tempat pribadinya.
Hanya, wanita tua itulah yang selama ini masuk keluar ruangan pribadi Evans. Semua hal yang menyangkut kebutuhan Evans, dialah yang mengurusnya dan itu Berta lakukan sudah sangat lama.
“Sudahlah Alea sebaiknya kamu cepat menyiapkan semua alat tempur Evans Colliettie untuk ritual paginya.
"Jangan sampai tuanmu itu terus bergerutu dan juga kesal karena kamu salah menyiapkan seperti yang di intruksi,” kata Alea pada dirinya sendiri.
Mulai, hari ini dia akan memotivasi dirinya sendiri agar tidak terus membuat kesalahan pada Evans dan tentunya bersemangat dengan tugas barunya.
Mendengar suara pergerakan di ruangan sebelah, Alea buru-buru keluar dari dalam kamar mandi dan segera keluar untuk melakukan pekerjaan lainnya.
Di samping sana, Evans terbangun. Pria itu turun dari atas ranjangnya dan bergegas ke dalam kamar mandi.
Satu hal yang Evans lihat saat ini, semua keperluan mandinya, air hangat dan juga aroma terapi kesukaannya sudah disiapkan oleh wanita bodoh itu.
“Perfect seperti yang Berta lakukan,” gumam Evans seraya membuka pakaiannya untuk segera berendam di air hangat.
“Apa jangan-jangan ini Berta yang melakukannya bukan wanita itu?” batin Evans.
Sementara Alea, berjalan menuju kamar pribadi Evans. Baru saja membuka handle pintu, kedua mata Alea terbelalak dengan apa yang baru saja dia lihat.
Semau interior di dalam kamar pribadi The Black Rose semua bernuansa putih dan itu jauh dari kepribadian Evans sendiri.
“Putih? Maksudnya? Terlahir kembali?” tanya Alea pada dirinya sendiri.
“Bukannya dia gelap, bahkan sangat gelap sekali?” tanya Alea lagi pada dirinya sendiri.
Di kamar itu hanya ada Alea sendiri, tetapi bila ada Evans pun tidak mungkin bukan kalau Alea akan bertanya pada devil itu kenapa kamarnya semua berwarna putih?
Cari mata entah akan menggali kuburannya sendiri.
“Sudahlah Alea, sebaiknya kamu cepat rapikan. Jangan sampai tuan mu itu murka padamu yang selalu membantah,” kata hati Alea untuk menyadarkan akan hal yang baru saja melihatnya.
Alea bergegas merapikan tempat tidurnya, selain sprei yang harus di ganti dengan warna putih lagi Alea pun merapikan seperti sedia kala.
“Rupanya kau di sini.”
Alea tersentak kaget, suara itu selalu mengejutkan dirinya. Alea hanya berikan anggukan tanpa menoleh Evans.
Dari anak matanya saja dia tahu kalau Evans yang baru saja keluar dari dalam mandi.
Ya, kamar mandi itu punya pintu penghubung dalam dan juga luar jadi pria itu bisa masuk sesuka hatinya sedangkan khusus pelayan seperti Berta dan juga dirinya harus melalui pintu depan.
“Saya merapikan kamar anda, Tuan.”
Alea berbalik badan untuk pandangi pria itu yang masih berdiri di ambang pintu, baru saja kedua mata itu menatap. Alea dibuat freeze ketika melihat pahatan ciptaaan Tuhan di depannya itu.
Evans hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggulnya saja dengan bagian atasnya masih terlihat basah. Satu lagi, Evans begitu—
SEXY.
“Astaga pikiran apa itu?” batin Alea.
“Pantas bukan kalau peliharaanya berkompetensi di sini?” batin Alea, lagi.
Ah, mata. Sepertinya harus segera diperiksakan. Kenapa sejak tadi kedua matanya yang berkhianat ini terus melihat Evans dari atas hingga ujung kaki.
Sialnya, kedua mata Alea masih saja melotot menatap delapan roti sobek itu.
Evans menghampiri wanita bodoh yang membeku, di mana Alea masih betah menatap tubuhnya.
“Apa kau suka dengan tubuhku, hmm?” bisik Evans di dekat telinga Alea. Sangat dekat, bahkan jarak wajah Evans dengan Alea hanya beberapa inci.
“Aku tahu kalau tubuhku ini begitu seksi sampai kamu tidak lepas menatap ku,” bisik Evans lagi.
Alea menajamkan pelototanya, beberapa detik kemudian dia tersadar.
Sialnya, dia terlalu bodoh hingga entah sejak kapan Evans begitu dekat dengan dada bidang yang sejak tadi ditatap itu, kini sudah ada di hadapannya.
“Pantas saja mereka berkompetisi ingin menjadi Nyonya Colliettie,” kata Alea lirih, namun terdengar oleh Evans dan pria itu tersenyum tipis.
“Kau tidak ikut seperti mereka berkompetisi, hmm?”
Alea seolah tersihir, sejak Evans keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk saja di pinggangnya, kedua matanya masih pandangi bagian tubuh delapan roti sobek itu.
Padahal, selama dua tahun berpacaran dengan Mike Shander dia sudah tiga kali melihat tubuh kekasihnya itu seperti ini.
Tetapi, kenapa dia merasa tidak berdaya dengan mantra yang diciptakan oleh Evans.
“Apa kau tidak ingin menjadi Nyonya Colliettie, hmm?”
Alea menggeleng kepala pelan, dia lalu mengangkat pandangannya dan menatap Evans.
“Maafkan saya, kalau saya tidak sopan. Ev,” kata Alea setelah dirinya benar-benar sadar.
Evans tersenyum tipis pandangi wanita bodoh yang kini mendadak saling tingkah.
“Bagaimana kalau aku meminta—”
Alea langsung menoleh dan menatap Evans sejenak.
“Saya minta maaf saya sudah lancang melihat tubuh anda,” sela Alea cepat.
Pandangan Alea pun kembali menunduk, dia tidak mau menatap Evans karena tubuh seksi itu masih terlihat jelas.
Alea segera membawa sprei yang kotor lalu meninggalkan ruangan tersebut, namun seketika Evans berjalan cepat dan mencengkeram lengan Alea agar wanita bodoh itu tidak pergi.
“Kenapa hari pertamamu itu membuatku jengkel Alea,” serunya.
Alea masih di tempatnya, wanita itu tidak membalikan badan untuk menjawabnya.
“Saya salah lagi?” tanya Alea, polos.
Evans mendengus pelan. “Ya. Saya meminta kau ambilkan pakaianku untuk bekerja. Lalu apa yang kamu pikirkan, hah?”
Di depan sana, Alea tersenyum malu. Ah. Dasar sepagi ini otaknya mendadak tercemar walau hanya lihat bagian dada basah Evans.
“Astaga. Alea, kamu sungguh memalukan. Hanya melihat dada basah sang devil saja otakmu sudah traveling bagaimana kalau bagian bawah yang mendadak melorot? Sudah pasti otakmu mendadak ngelag.
‘Dia itu minta mengambilkan pakaian kenapa mendadak otakmu pada ranjang, hah?’ kata hati kecil Alea.
“Oh, Maaf. A-Aku—” suara Alea terbata.
Evans menghempaskan kasar cengkeramannya.
“Ambilkan apa yang aku minta, Alea. SEKARANG!”
“Siap, Tuan!”