
Esoknya......
"Mommy, Mommy,,," Hansel yang baru saja keluar dari kamar langsung berlari memeluk Lea yang tengah menghidangkan makanan.
" Ada apa Hans?" Balas Lea seraya mengangkat Hansel untuk duduk di kursi.
" Apa Hans boleh bertanya pada Mommy?" Tanya Hansel langsung to the point.
Lea menautkan kedua alisnya atas pertanyaan Hansel yang terlihat seperti serius sekali.
" Memangnya Hansel mau tanya apa?"
" Apa Hans punya Daddy, Mom?"Tiba tiba pertanyaan itu meluncur seketika Hansel ucapkan. Dengan suara lirih dan tatapan penuh harap Hansel tunjukan pada Lea.
Sungguh, Lea benar benar tidak kuasa lagi untuk membuka suara. Pertanyaan yang selama ini tidak pernah Hansel ucapkan ternyata kesampaian juga. Lea belum siap untuk itu, sangat tidak siap.
Daddy? jelas Hansel punya Daddy-nya, tapi apakah Lea akan mengucapkan bahwa dia adalah anak dari benih Pria brengsek itu? Lea tak kuasa untuk itu. Lantas, jawaban apa yang harus ia berikan? benaknya berkecamuk. Disaat pagi pagi begini ia sudah di sungguhi dengan kelemahan dirinya sendiri yaitu pertanyaan Hansel.
" Mommy, jawab,,, apakah Hans punya Daddy?" Tanyanya lagi, Lea mengangguk. "Lalu dimana Daddy Hans, Mom? mengapa Daddy tidak pernah datang menemui kita?" Ucap Hansel lagi.
Lea menggeleng, matanya berkaca kaca bahkan butiran bening jatuh seketika tanpa seizin dirinya. Ia mengerti pasti Hansel membutuhkan jawaban yang tepat namun jawaban apa?Lea juga mengerti bagaimana rasanya hidup tanpa seorang Ayah. Bahkan sampai tumbuh sebesar ini, tidak ada sedikitpun kasih sayang dari seorang Ayah yang Hansel rasakan kecuali dari Lea seorang.
" Mommy, tolong jawab Hansel. Mengapa Daddy tidak pernah ada bersama kita?apa Daddy tidak sayang sama Hans?" Kata Hansel lagi.
" Hans,,,," Lea langsung memeluk Hansel dalam dekapannya. Ia benar benar mengerti perasaan anaknya itu.
" Apa Daddy memang tidak sayang pada Hans, Mom?" Tanya Hansel kembali.
" Daddy, Daddy kamu sayang kok sama Hans. Hanya saja, hanya saja Daddy Hans sudah pergi jauh. Tapi pasti kembali kok, jadi Hans jangan berkecil hati ya." Jawab Lea meyakinkan Hansel. Kebohongan pun adalah sebuah sasaran yang harus ia ciptakan demi ketenangan Hansel.
Hansel pun akhirnya percaya pada ucapan Lea, ia kembali lagi tersenyum puas akan penjelasan dari Lea.
" Mommy gak bohong kan? Daddy pasti akan datang temui Hans dan Mommy kan?" Tanya Hansel meminta kepastian lagi.
" I,iya Hans, lebih baik Hans langsung makan saja ya biar gak telat ke sekolah ya." Ungkap Lea agar Hansel tidak terfokus lagi pada pertanyaan nya.
" Baik Mom." Raut wajah Hansel langsung berubah menjadi bahagia, dengan lahapnya ia menghabiskan makanan tanpa ampun.
Baginya setelah mendengar penjelasan Lea maka ia percaya bahwa Daddy-nya pasti akan datang menemui mereka.
' Maafin Mommy ya Hans, Mommy terpaksa mengucapkan kata itu. Bukan bermaksud untuk menyembunyikan kebenarannya, hanya saja Mommy takut karena kamu masih kecil dan belum sepantasnya menerima kenyataan Hans. Mommy minta maaf, harapan Mommy hanya satu jika suatu hari nanti ada Pria lain yang menemani hidup Mommy. Mommy harap kamu mau menerima dia menjadi Daddymu.' Batin Lea.
______
Disisi lain....
" Kak,,,," Elena melangkah mendekat pada Edward yang tengah duduk di bangku sofa.
Ya, Elena memang menginap di apartemen Edward tadi malam karena ia sudah malas kembali ke apartemennya.
" Hari ini Ele gak masuk kuliah ya Kak," ucap Elena dengan manja.
Edward menatap tajam kepada Elena menandakan ketidaksetujuan. " No!jangan bolos kuliah sayang, Kakak tidak suka adik cantik Kakak jadi malas begini. Percuma donk Ele sampai nekad kuliah disini biar gak manja lagi sama Daddy dan Mommy kalau ternyata Ele jadi pemalas begini. Bagaimana dewasanya kalau malas begini sayang? ingat, sewaktu Kakak kuliah dulu Kakak gak pernah bolos sampai menyelesaikan pendidikan. Jadi Ele harus bisa seperti Kakak, utamakan pendidikan sayang." Seru Edward sedikit tegas, jika sudah seperti itu maka Elena tidak dapat berbuat hal lain lagi selain mengangguk setuju.
" Huff, baiklah." Elena langsung memeluk Edward dengan manja.
" Harus terus kejar pendidikan ya sayang, ingat! keluarga Scirth tidak ada yang pemalas apalagi mengabaikan pendidikan. Ele tahu itu kan?" Kata Edward seraya mengusap lembut rambut Elena.
" Iya Kak, Ele mengerti." Elena tersenyum manis kepada Edward.
" Oh iya Kak, Ele mau ngomongin sesuatu sama Kakak." Kata Elena terlihat serius.
"What?"
" Jadi semalam itu Ele,,,," belum sempat Elena menyelesaikan ucapannya tiba tiba ponsel Edward berdering.
" Sebentar ya," Edward langsung mengangkat sambungan telepon.
" Hallo,,,"
"Tuan bisa segera ke kantor hari ini?" Suara Eder dari seberang sana.
" Ada apa?"
" Informasi terbaru terkait mengenai orang baru itu."
" Hm, tunggu disana."
" Tutt,,,"
" Kak,"
" Ele, Kakak gak bisa lama lama lagi. Kakak pergi ya ke kantor, Ele langsung siap siap aja ya ke Kampus ok." Sela Edward seraya mengecup kening Elena.
" Huf,, baiklah! hati hati ya Kak,,,"
" Iya, jangan lupa makan ya sayang." Pesan Edward.
" Iya Kak,"
*****
LIKE KOMEN DAN VOTE
SALAM ^^