
“Jadi kenapa harus aku yang repot-repot untuk menyelamatkan dia, hmm?”
Bibir Alea langsung mengatup rapat ketika perkataan Evans itu begitu menyakitkan.
“Ah, bukan menyakitkan tapi Alea lah yang tidak tahu diri devil seperti dia mana mungkin mau menolongnya. Bukannya sang devil lebih menyukai bila Alea mati perlahan-lahan.
“Dan lagi pula. Aku sudah tahu wanita bodoh ini pastinya akan bertahan hidup dan selamat dari apapun.”
Evans menghempaskan cengkramnya di dagu Alea diiringi seringaian devil.
“Dugaanku benar bukan? Dia akan tetap hidup sekalipun sudah beberapa kali berada di jurang kematian.”
“Apa anda pantas memperlakukan wanita seperti itu, Tuan?
“Sekalipun dia pelayanmu tapi dia itu wanita. Apa hatimu semati ini pada wanita, hah?”
Tentu cengkeram kuat hingga tubuh Alea tersungkur ke belakang membuat Marvio tak terima.
“Ck! Itu bukan urusanmu, pangeran. Lebih baik kau pergi dari ruangan ini dan tinggalkan kami berdua.
“Aku ingin berbicara penting dengannya!” tegas Evans.
Kedatangannya ke rumah sakit memang ingin berbicara penting dengan Alea.
“Apa hakmu untuk mengusirku pergi hah? aku tidak mau!” tolak Marvio.
Membiarkan Evans berduaan dengan Alea, takutnya pria kejam itu melukai Alea.
“Aku tidak akan pergi dari ruangan ini karena aku takut anda berbuat kasar pada Alea!”
Evans bersedekap seraya menatap nyalang sang pangeran yang sepertinya punya stok nyawa banyak.
“Aku tidak perlu izin pada siapapun untuk semua hal yang aku lakukan. Sebaiknya kau pergi karena aku tidak ingin memakai cara yang kasar untuk menyeretmu keluar sekalipun para pengawalmu di depan sana akan membantumu!”
“Kau tahu bukan kalau perkataanku ini tidaklah main-main hah? Bagiku mudah membunuh pangeran sepertimu.
“Aku yakin pewaris kerajaan italia pasti kelabakan mencari sang pangeran yang hilang tanpa jejak sekalipun ya aku tidak peduli bila berita kematianmu di sebar ke seluruh negeri pun!”
“Ck! Apa kamu pikir aku takut dengan ancaman itu? Tidak Evans.
“Aku tidak takut, sekalipun kamu mafia penguasa di negara ini, aku tidak pernah takut padamu!” decak Marvio, tak gentar dengan segala bentuk ancaman Evans Colliettie.
“Ah—kalian memang terlihat seperti sepasang kekasih yang terlihat serasi.
“Ya, mungkin bagimu tidak akan takut dengan ancaman. Tapi, bagaimana dengan wanita bodoh itu bila aku membunuhmu secara live di depannya, hmm?”
Alea mendelik, hal itu jangan sampai terjadi. Ia sudah tidak ingin ada korban lagi.
“Pengertian Marvio, bolehkah anda pergi sebentar dan tinggalkan kami berdua?”
Alea buka suara, dia tidak ingin ada yang terluka karenanya lagi.
Evans tersenyum puas ketika melihat Marvio menatapnya bengis.
Tapi, bukan Marvio si keras kepala yang terus menolak permintaan Alea, sekalipun bujukan Alea membuat sang pangeran pada akhirnya menyetujui permintaan Alea.
“Bila dia melukaimu, berteriaklah yang kencang aku akan langsung datang menyelamatkanmu, Al.”
“Hm, terima kasih. Mar.”
Sebelum Marvio benar-benar keluar dari dalam ruangan Alea, pria itu mengusap kepala Alea lembut lalu melayangkan tatapan berupa ancaman pada Evans dan pergi begitu saja keluar.
Menit berikutnya hening, setelah Marvio keluar dari dalam ruangannya Alea pikir pria itu akan bicara di mana Alea mengumpulkan keberanian dan juga kesabaran extra untuk menghadapi sang iblis yang nampak murka.
Sembari menunggu kalimat apa yang terucap, sejak tadi Alea yang gugup dan panik pun hanya bisa meremas ujung pakaian rumah sakitnya dengan kepala menunduk.
“Aku tidak menyangka kalau kau begitu cepat mendapatkan sekutu. Bahkan tak tanggung-tanggung sekutumu itu bukan orang bisa.
“Hebatnya, sekutumu itu seorang bangsawan bergelar pangeran.”
Evans menjeda seraya melirik ke samping di mana Alea terdiam.
“Hebatnya lagi hanya dengan air mata kesedihan itu mampu menjerat banyak orang.”
Perkataan Evans yang terdengar santai itu begitu menusuk hatinya.
“Kau tahu bukan apa kesalahanmu?”
Alea hanya diam dengan menundukan kepalanya.
“Kau sudah meninggalkan mansinoku tanpa seizinku dan kau sudah keluar dari ruanganku di mana Mika sudah menyampaikan padamu kalau kau tidak boleh ada di pesta itu.”
Evans menarik napas sejenak dengan tatapan yang menghunus sekalipun wanita itu tidak melihatnya.
“Gelarmu menjadi wanita bodoh akan selamanya melekat, hingga bodohnya aku mengikuti permainan konyol saudaraku untuk sesuatu yang menjijikan.”
Evans tertawa seolah meremehkan, siapa yang tidak tahu dengan permainan yang dibuat saudaranya sekalipun ingin sekali dia menghabisi orang-orang yang senang bermain-main dengannya.
“Untuk membuktikan kalau dugaan mereka benar? Sesuatu hal yang omong kosong itu?”
“Maaf, Tuan.”
Alea mulai menyanggah pembicaraan Evans. Wanita itu pun mengangkat wajahnya untuk menatap Evans.
“Tuan Leo sudah meminta izin pada anda sebelumnya meminta pada anda agar aku datang ke pesta itu.
“Bila, anda tidak memperbolehkan kenapa anda tidak meminta penjagaan yang ketat untukku dan tidak mengizinkan orang lain datang ke mansion anda hanya untuk menjemputku. Dan masalah siang itu—”
Alea kembali menundukan pandangannya dengan helaan napas pelan.
“Seharusnya anda menjelaskan sendiri alasanya kenapa saya tidak boleh ada di sana agar saya bisa menolak ajakan Tuan Leo yang ingin aku berada di sana.”
Ya, harusnya Evans menegaskan dan memberikan alasanya padanya. Mungkin bila Evans sendiri yang bicara dia pasti akan menolak.
Evans tersenyum miring. “Jadi sekarang kau sudah pintar menjawab semua pertanyaanku rupanya, hmm?”
Evans menarik nafas pelan. “Ah, baiklah kalau begitu aku harus menghukum Lucas untuk semua kesalahanmu dan juga aku akan menghukum Bobby karena dia tidak melaporkan apapun padaku.”
Alea mendelik. “Jangan Tuan—”
Evans mencengkram dagu Alea membuat Alea terkesiap. Di dekatkan wajahnya agar wanita bodoh itu menatapnya dengan dekat.
“Aku akui, kau memang wanita pemberani Alea.
“Harus ada hukuman untuk orang yang sudah melanggar perintahku. Kau pun tahu bukan kalau aku tidak suka dibantah?”
Tubuh Alea bergemetar, takut. “Saudaraku sangat mengecewakan bukan ketika tahu kalau aku mempertahankanmu hanya untuk memanfaatkanmu saja untuk menjadi umpan yang cantik karena urusanku masih belum selesai.”
Alea melebarkan bola matanya. “Aku masih membutuhkanmu, Alea.”
Alea tahu itu kalau dia hanya dijadikan umpan saja seharusnya Leo tidak sepenasaran ini.
Pria itu tersenyum lebar sekali pun begitu namun tak mengurangi ekspresi wajah tampannya yang terlihat menakutkan lebih dari biasanya.
“Dan apa kau pikir permainanmu malam itu akan membuatku berkesan? Ck! yang ada menjijikan. Apa kau pikir aku akan peduli hmm?”
“Ev…”
Alea menjeda, ia menarik nafas untuk menguatkan dirinya. “Aku mohon berdamailah dengan hatimu yang keras ini.
“Saudaramu hanya ingin kamu bahagia, mereka melakukan itu karena mereka peduli padamu.”
“Dan aku sama sekali tidak peduli, Alea!”
Cengkeraman di dagunya terasa begitu erat, namun Alea tak peduli rasa sakit yang kembali terasa.
Dia hanya melihat bagaimana kegusaran di bola mata indahnya itu sekalipun tatapannya begitu mematikan.
Ketika beberapa menit berlalu dengan keduanya saling bersitatap, Evans dengan keras menghempaskan dagu Alea dan pria itu begitu saja menghindar dan memilih selangkah menjauh.
Evans menarik nafas dalam di depan sana. “Kedatanganku kemari hanya ingin mengatakan satu hal padamu, setelah tujuanku tercapai aku tidak yakin kau bisa kembali ke mansionku!”
Alea tersentak kaget. Entah apa maksud Evans. “Setelah semuanya selesai, aku tidak membutuhkanmu lagi.”
Wajah Alea seketika nampak senang. Wanita bodoh itu pun tersenyum lebar.
“Apa itu tandanya kamu akan membiarkan aku pulang, Ev?” tanya Alea, hatinya sudah senang.
Nafasnya pun mendadak lancar dan pikirannya sudah tidak sabar dia ingin bertemu dengan keluarganya, kakak angkatnya begitu juga teman-teman yang lainya.
“Pulang?”
Evans membalikan tubuhnya cepat, bibirnya pun tertarik membentuk senyuman seringai.
“Aku tidak membutuhkanmu lagi bukan berarti kau akan pulang bodoh! Kau harus ingat dan paham kalau kau tidak ada tiket emas untuk kedua kalinya.
“Kau sudah menggadaikan semua kebebasanmu padaku dan kau selamanya tidak akan bisa pulang, kecuali aku yang mengizinkannya langsung!”
“Lalu kemana kamu akan membuangku bila kamu tidak membutuhkan aku lagi, Ev?”
Alea menatap bingung, entah apa lagi rencana sang devil itu.
“Pilihanmu hanya satu—"
Evans mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka begitu dekat hingga wajah tampannya berada di sampingnya tepat di depan telinga Alea dengan satu tangannya mengusap pipi Alea dengan lembut membuat wanita bodoh itu membeku. Sesaat nafasnya pun tertahan.
“Membunuhmu atau menjualmu,” ucap Evans, pelan.
Alea terkesiap. Wajahnya begitu pias ketika mendengarkan perkataan sang devil.
Bola matanya yang terkejut itu pun tak lepas memandangi Evans seraya Alea menahan air mata untuk tidak jatuh.
Alea menarik nafas panjang lalu memalingkan wajahnya ke arah lain untuk tidak melihat bagaimana pria itu berkata demikian.
Bodohnya, Alea mengira kalau Evans akan membebaskannya begitu saja padahal dia sudah tahu kalau iblis itu tidak mungkin akan melepaskannya.
“Namun sebelum itu—”
Alea menoleh, menatap Evans dengan tatapan nanar.
“Kau harus tetap hidup sampai aku menyelesaikan urusanku.”
“Urusan apa lagi, Ev?”
“Kau akan tahu nanti, Alea.”
Evans selangkah maju ke depan, kedua tangan itu begitu saja terulur merapikan pakaian rumah sakit yang dikenakan oleh Alea dimana satu kancingnya terbuka.
Jejak merah di tubuh wanita itu masih terlihat, Evans pun hanya diam dengan ekspresi yang sama.
“Nikmatilah waktu yang berharga ini sebaik mungkin selagi masih bisa bersantai bersantai lah.”
Evans merapikan anak rambut Alea yang menghalangi wajahnya.
“Dan ingat pesanku, kamu harus tetap sehat dan jangan lagi membantah apa lagi menantangku.”
Kedua mata Alea basah, kenapa pria itu tidak langsung membunuhnya saja dari pada harus mati perlahan pada akhirnya.
“Jangan lemparkan tatapan sedihmu karena air mata kesedihanmu tidak bisa membuatku iba padamu.
“Aku tetaplah Evans Colliettie The Black Rose yang mematikan!”
Evans kembali mundur selangkah. “Kenapa kamu begitu kejam padaku, Ev? Sebenarnya apa salahku?
“Kalau kamu ingin membunuhku kenapa tidak hari ini saja. Kenapa harus selalu aku yang menjadi umpan lagi sampai urusanmu selesai?”
“Bunuhlah aku, Ev. Sumpahnya, aku rela mati di tanganmu karena aku tidak sekuat seperti apa yang kamu duga.
“Cukup kejadian ini membuatku tersadar terluka dan bila kamu ingin kembali memberikan aku luka, lebih baik aku mati saja, Ev!”
Evans bungkam mendengarkan perkataan Alea. “Ah. Jadi pilihanmu ingin aku membunuhmu.”
“Pilihan yang tepat!” jawabnya.
“Baiklah, karena kau tahu aku bukan orang baik maka tunggulah hari kematianmu dan nikmatilah waktu berhargamu ini sebelum alammu berganti dan berkumpul dengan para wanita jallang di alam barzah!”