
Alea berjalan di belakang Mika, setelah wanita cantik itu meminta Alea untuk merapihkan rambutnya yang kusut dengan penampilan yang berantakan akibat ulah Carla.
Bahkan dirinya belum sempat mengobati tangan kanannya yang terdapat darah akibat pecahan kaca yang di sengaja oleh Carla.
Alea melihat punggung wanita cantik itu, kenapa wanita cantik itu kini berubah dingin kembali, tidak ada senyuma ketika Mika selalu menjahilinya yang ada saat ini hanya wajah Mika yang datar seperti pertama kali Alea bertemu dengan Mika.
Mika dan Alea berjalan ke ruang utama. Dengan Alea menoleh ke depan dari jarak yang jauh, melihat seseorang yang terhalang oleh tubuh Mika di depanya.
“Siapa orang itu?” gumam Alea.
“Apa orang itu malaikat yang Tuhan kirim untuk menolongnya?’ tanya Alea dalam hati.
Langkah kaki Alea terhenti melihat sosok orang yang tentu Ale kenal di depan matannya, yang menatap Alea dengan lekat.
Pandangan Alea tertuju pada perut buncit dengan pikiran Alea yang berkecamuk di kepala.
Apa ia akan membebaskanku? Apa ia akan membawaku dari sini? Pertanya-pertanyaan itu kini mengisi kepala Alea.
Bahkan dirinya terlalu senang dengan kedatangan seseorang itu mengabaikan dirinya yang sudah pernah di jual kepada pria tua Bangka, Santhos.
‘Ahh tidak mungkin dia akan membebaskanku dari neraka ini. Karena terakhir kali dia sudah menjualku dan yang akhirnya aku berada di dalam genggaman Evans Colliettie.'
Alea berada tepat di depan wanita itu dengan wanita itu tersenyum simpul melihat Alea yang nampak baik-baik saja di mansion megah ini.
"Akhirnya aku menemukanmu jalang!” ucap wanita itu sedikit bertiak dengan menatap Alea dengan kobaran api yang menyala di kedua mata Gina.
Alea melirik Evans dengan wajah datar devil itu menatap dingin wanita hamil itu.
"Dia ingin membawamu!” ujar Evans dengan memegang dagunya menatap kedatangan wanita bernyali besar.
Alea terbelalak mendengar ucapan Evans, tak percaya.
'Apa Gina ingin membawaku? Terdengar mustahil,' lirih Alea menatap Gina kembali di depanya.
"Namun wanita itu meminta uang padaku. Uang ganti rugi yang mana secara terang-terangan wanita itu menjualmu kembali kepadaku?
"Apa aku harus memberikan uang itu kepadanya? Keputusannya ada di tangangmu Alea?” ucap Evans berdiri di samping kanan Alea yang tatapan menyedihkan.
'Apa? Aku di jual kembali? Dan Gina masih berani menjualku dan sekarang wanita gila uang itu menjualku kepada devil seperti The Black Rose?’ lirih Alea dalam hatinya.
Hatinya sakit mendengarkannya, sungguh menyedihkan hidupnya saat ini. Bahkan mendengarkan perkataan tersebut.
Alea menatap dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang sudah ia perbuat dan apa kesalahan Alea kapada Gina yang sudah berbuat seperti ini kepadanya.
"Kau tega-teganya menjualku kembali Gina! Apa salah ku? Bukanya kau sudah mendapatkan apa yang kau mau dan Mike? Aku sudah mengikhlaskan Mike untukmu apa lagi?” tanya Alea.
"Kau tau, begitu aku sangat membencimu, hmm? Karna Mike selalu memujimu membangga-banggakanmu dan membeda-bedakanmu di depanku? Meskipun Mike tidak pernah menyentuhmu.
"Apa kau ingin tahu kabar Mike saat ini, setelah dia menyelamatkanmu?" gretak Gina pada Alea, yang tentu Gina tahu kelemahan Alea adalah menyakit orang-orang tercintanya.
Hati kecil Alea ingin sekali mengetahui kabar Mike saat ini. Karena peristiwa itu Alea sudah tak mendengar kabar Mike lagi.
"Aku tidak ingin tau Gina, maafkan aku!" ucap Alea berbohong.
Alea tidak ingin menambah daftar masalah dengan devil di sampingnya ini yang menatap Aleasaat ini lekat.
"Lepaskan Dia! Jika kau tidak akan membayarnya karena aku akan menjual wanita jalang itu kepada Tuan Alferdo mafia Inggris yang tentu kau pasti mengenalnya bukan?" gretak Gina menatap The Black Rose, tanpa takut.
"Jika kau tak membayarnya aku akan ambil dia secara paksa!"
Evans menyungingkan bibirnya. Benar-benar wanita pemberani tampa takut masuk ke dalam rumah The Black Rose.
Entah bodoh atau terlalu bodoh hingga tidak memikirkan nyawanya sendiri.
"Sungguh kau akan mengantarkan nyawamu kepadaku?”
Tatapan Evans menghunus pada Gina di depanya.
“Apa kau tidak takut masuk kesarang singa dan mungkin entah kau bisa selamat atau tidak dari tempat ini?!"
Gina mengacungkan senjatanya ke arah Evans.
"Kau lepaskan dia atau kau membayarku?!”
Mika dan beberapa pengawal mengacungkan senjatanya tepat ke arah wanita hamil di depanya.
Alea hanya terdiam dengan mata yang sudah basah. Sesekali Alea menghela napas dengan tatapan sendu pada wanita di depanya yang begitu amat gila akan uang dan tega menjualnya kembali kepada mafia dingin seperti The Black Rose, Evans Colliettie.
"Please…jangan sakiti dia, ia Sedang mengandung!" pintan Alea pada Mika yang berada di belakangnya.
Evans berdecak, sungguh wanita bodoh!
"Ck! Di saat wanita itu akan membunuhmu. Kau masih membela wanita jalang seperti dia? Bahkan wanita itu jauh-jauh kemari untuk menjualmu kembali kepadaku?” ujar Evans heran kepada wanita bodoh di depanya itu.
"Aku bisa menembak dia sampe mati agar kau pun tidak akan memilikinya? Pasti kau sandra dia karna ada sesuatu bukan? Apa kau tak suka kepadanya?"
Gina licik. Menggunakan segala cara agar ia bisa mendapatkan uang kembali, tetapi bukan Evans jika semudah itu di bodohi oleh seorang wanita jalang di depanya.
Evans menyunggingkan sedikit bibirnya ke samping menatap wanita jalang di depanya. Ia tidak pernah takut diacaman dengan siapapun.
"Tembak saja dia! Karena aku tidak peduli! Sudah ada harinya dia akan mati di tanganku tidak usah kau berkata seperti itu karna aku tak ada hati pada wanita, apa lagi padanya?!"
Jelas tidak ada hati pada Alea karena bagi Evans, Alea bukan siapa-siapanya dan tak ada rasa cinta dalam hatinya. Hatinya sudah mati akan namanya cinta. Bagi Evans love is bullshit.
"Baiklah!” ancam Gina.
Alea tak percaya dengan kedua orang di depan dan di sampingnya seolah dirinya benar-benar menginginkan mati atau di jual.
Gina menunggu pergerakan Evans yang hanya menatapnya saja. Pria itu hanya diam dengan menyilangkan kedua lengan di dadanya namun tidak pernah lepas mata elangnya yang siap membunuhnya.
"The Black Rose sungguh tidak bisa dikelabui," lirih Gina menatap The Black Rose di samping sana.
"Selama tinggal Alea. Pergilah ke neraka menyusul kekasihmu Mike Shander!"
Dorr!!!
Wanita itu menahan sakit, tersenyum tipis dengan air mata yang berjatuhan di pipi dengan sebelah tanganya memegang bagian tubuhnya akan tembakan yang bersarang di perutnya.
Ia melihat darah segar di tangan kanannya. Tubuhnya yang membungkuk melihat ke arah devil itu yang menatap dirinya, tanpa pergerakan.
Brug!!!
Ia tersungkur di lantai, melihat kegaduhan ruang utama itu akan suara tembakan yang masih terdengar menggema.
Darah yang mengalir namun pria itu tetap bungkam tidak ada pergerakan. Ia melihat ke depan sana akan wanita yang sama tengah tersenyum manis ke arahnya dengan sorot mata kebencian yang terpancar.
Dorr!!
Dorr!!!
Wanita dingin di belakangnya pun ikut menembak wanita di depanya dengan tepat tembakan bersarang di jantungnya dan satu lagi tembakan kedua oleh pengawalnya tepat di kepala wanita yang sudah mengantarkan nyawanya sendiri ke mansion The Black Rose.
Karena seseorang yang sudah berada di sini, tidak akan pernah keluar dengan hidup-hidup.
Gina terbaring di lantai dingin itu dengan darah yang mengalir bersamaan dengan Alea yang terbaring akan luka tembak di perutnya oleh tembakan Gina.
Ya, Gina menembak Alea, Ginalah yang hendak membunuh Alea agar mafia kejam itu pun tidak mendapatkan Alea. Sungguh kejam bukan apa yang dilakukan Gina kepada Alea.
Cinta butanya kepada Mike Shander, membuat Gina ingin melenyapkan Alea begitu saja. Mungkin jika Alea mati, Gina akan senang.
Evans menatap wanita bodoh itu dengan diam tanpa pergerakan membuat Mika yang berdarah dingin melihat Alea tak tega.
Dipanggilnya Evans berkali-kali tetapi Tuannya bergeming hanya menatap dengan padangan kosong menatap kea rah wanita bodoh itu.
“Tuan…Tuan…Tuan,” pekik Mika.
Evans tidak suka dan benci akan namanya cinta.
Cinta hanya sebuah omong kosong belaka yang membuat pria seperti dirinya tunduk pada wanita lemah akan sebuah cinta.
Cinta akan membuatnya lemah dan begitu saja orang-orang akan mudah menghabisinya dan menginginkan kematianya.
Tidak ada cinta di hati devil itu pada siapapun. Karena sejak kecil ia hidup tampa cinta.
Satu-satunya keluarganya pun memilih untuk pergi meninggalkan dirinya dari kehancuran cintanya kepada wanita. Evans tidak mau seperti itu. Karena kegelapanlah yang menjadi kehidupanya yang abadi.
“Tuan bagaimana?” tanya Mika melihat Alea merengkuh di depan sana.
“Bawa wanita itu ke ruangan perawatan, jika masih bisa di selamat maka selamatkanlah jika tidak buang mayatnya di belakang tebing?” ucap Evans beranjak pergi dari ruang utama.
“Terus Alea?” tanya Mika kembali kepada Tuannya yang mengabaikan wanita malang itu.
“Jika wanita bodoh itu mati...”
Ada kalimat yang Evans harus berhenti sejenak, menghela napas di depan sana dengan tubuhnya memunggungi Mika dan menatap Alea di depan sana yang masih melihatnya dengan air mata.
“Buanglah mayatnya ke tebing!” Evans melanjutkan kembali langkahnya, melewati Alea di bawah sana menahan kesakitan.
Dengan langkah gontai Evans berjalan namun ada sesuatu yang aneh pada dirinya ketika mendapati sesuatu yang basah. Evans menuju ruang kerjanya dengan santai.
“Kau pantas di bunuh oleh kedua tanganku ini. Bukan orang lain!” gumam Evans menghentakan tubuhnya duduk di kursi kebesaranya, Menengadahkan wajahnya dengan memegang keningnya.
Apa yang sebanarnya Evans pikirkan?
Jatuh cintakah kepada wanita bodoh seperti Alea?
Namun Evans rasa tidak. Karena devil seperti dirinya tidak bisa luluh dengan wanita seperti Alea.
***
Ketegangan para pelayan yang berada di dapur dibuat heboh. Apa lagi mendengar suara tembakan di ruang utama yang terdengar keras itu membuat seisi mension terkejut.
Karena sudah cukup lama rumah itu tidak terdengar kembali suara tembakan itu setelah kematian Nyonya Colliettie.
Kabar Alea tertembak pun terdengar pada orang dapur yang mengenali Alea.
Bahkan mereka berlima, Berta, Antony, Romeo, Bryan dan Juga Joe menunggu kabar kepastian akan kabar burung itu dan semoga bukan Alea korban penembakan itu yang diharapkan kelima orang di sana yang sedang menungu wanita dingin itu muncul ke dalam dapur.
Wajah dingin tampak ekspresi melangkahkan kakinya menuju ruangan yang sudah kelima orang itu menyambut dirinya.
“Mika. Apa benar Alea tertembak?” tanya Bryan memegang tangan wanita dingin itu.
Mika mendengus dengan lirikan tajamnya duduk di kursi kayu itu.
Berta memberikan segelas air putih pada Mika yang kembali dingin tampa ekspresi, bahkan serasa Berta baru kemarin-kemari dirinya melihat senyuman manis dari wanita dingin yang pendiam itu.
“Ceritakanlah kepada kami. Siapa yang tertembak di ruang utama itu?”
Berta menatap Mika yang terlihat santai, menegak habis air putih yang berada di tanganya itu.
Mereka belima harus sabar menunggu jawaban dari wanita dingin itu.
“Alea tertembak.”
“Apaaah….” Jawab mereka bersamaan.
“Jadi benar Alea yang tertembak. Lalu bagaimana keadaanya saat ini?” tanya Bryan terlihat terkejut, bahkan sejak peristiwa itu Bryan selalu berdoa semoga Alea baik-baik saja. Namun kenyataanya lain. Alelah yang tertembak.
“Bagaimana keadaan Ale, Mika?” tanya Berta terlihat cemas, keempat pria itu pun menunggu jawaban dari Mika yang selalu singkat.
"Alea tidak apa-apah. Pelurunya sudah berhasil di keluarkan walau tidak menembus lambungnya. Namun Alea masih belum sadarkan diri,” ucap Mika menjelaskan kepada orang dapur yang mengenal Alea lebih dekat.
Berta mengelus dadanya terlihat lega akan keadaan Alea yang saat ini dikatakan seperti Mika katakan dan keempat pria di depanya itu pun sama terlihat lega.
Mereka berlima mulai mengenal sosok Alea dengan baik walau belum genap sebulan Alea berada di mansion ini namun kelima orang itu sangat mengenal Alea.
Wanita malang yang ceria, sopan dan baik yang mampu menyihir pada orang-orang di sana yang terlihat cuek dan tidak peduli menjadi peribadi yang hangat dan bahkan mereka terlihat bergitu senang akan kedatangan malaikat berhati baik seperti Alea.
"Sungguh kasian wanita malang itu. Mana tadi pagi kau sudah menjahili sampai makananya keluar semua dan siang ini ia sudah tertembak,” gerutu Berta.
“Tidak hanya itu Berta tadi siang para wanita jalang itu sudah melakukan kekerasan juga pada Ale,” ujar Mika membuat wanita paru baya itu terlihat kesal dengan wajahnya yang terlihat memerah.
"Terus bagimana dengan wanita yang menembak Alea?" tanya Bryan.
"Mati aku tembak tepat di jantungnya!"
Mereka semua terlihat kaget jika Mika membunuh banyak penjahat atau wanita jalang sudah biasa bagi wanita dingin kepercayaan Tuanya itu.
Namun ini, wanita hamil? Kadang Mika dan Tuannya sungguh mempunyai sifatnya yang sama-sama kejam tidak ada kata ampun.
"Dasar kau ini, wanita hamil kau tembak juga?!" tanya Berta memukul lengan Mika dengan serbetnya.
Wanita dingin itu yang tadinya datar kembali terkekeh seperti dirinya amat senang membunuh orang-orang dengan kebiasaanya semenjak dulu.
“Wanita itu sudah menembak Alea dan untungnya hanya Alea yang terluka jika Tuan? Apa Tuan Alberto tak akan membunuhku? karena aku telah gagal melindunginya?” tanya Mika.
“Tuanmu itu tak bisa mati walau hanya satu peluru yang menembus tubuhnya, pria jelamaan iblis seperti The Black Rose tak bisa mati semudah itu, Mika,” ujar Jonathan yang menghampiri meja kitchenya.
Semua yang di depan sana pun mengangguk setuju dengan ucapan Jonathan yang mana mereka sudah mengetahui Tuannya yang kejam dan tak berperasaan.
Bahkan Anaconda Raja itu sudah melilit tubuh Tuannya pun.
Namun Pria jelaam iblis itu masih bisa lolos dengan tak terluka sedikit pun, hanya saja binatang kesayanganya itu terdapat tanda dari Tuannya di bagian matanya, akibat melepaskan lilitan dari binatang buas yang sudah lama dirawat olehnya.
Hal itulah yang masih terekam jelas oleh Berta, Antony, Romeo dan juga Joe yang menyaksikan kejadian yang menimpa Tuannya sewaktu masih Evans berusia enam tahu.
Ketiga orang tua itu sudah mengabdi lama kepada Keluarga Colliettie.
“Dasar wanita malang, kasian sekali nasibmu,” ucap Berta.
Antony melihat Romeo yang tampak tenang di sana. Bahkan pria tua itulah yang selalu mengeksekusi mayat-mayat untuk santapan para binatang buas Tuannya.
"Bersiaplah kau memotong daging kembali, untuk ternakmu!” sindir Antony tetawa kecil.
Romeo mendesah, ia sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu. Namun saat ini apa ia bisa melakukanya, karena mayat itu adalah wanita, dan keadaan hamil.
"Huuffttt! Saya belum pernah melakukanya jika itu wanita. Bagaimanapun aku masih mempunyai hati,” cakap Romeo yang sudah menjadi tugasnya.
Mika menerima sambungan telpone. "Baik Tuan!" hanya jawaban itu yang terdengar oleh mereka.
Mika bengkit dari duduknya untuk segera menjalankan perintah Tuannya.
"Mika. Apa Tuan menunggu Alea di ruangan perawatan?" tanya Berta penasaran.
Mika menggeleng pelan bahkan Tuannya sama sekali tidak peduli dengan keadaan wanita itu.
Alea yang tergelatak bersimbah darah pun Tuannya hanya terdiam saja tidak ada pergerakan, seolah meyakinkan jika Tuan sama sekali tidak peduli kepada wanita bodoh seperti Alea dan pikiran Mika akan Tuannya pun sudah terjawab dengan kejadian itu.
Boro-boro Tuannya menemani Alea di dalam sana, menanyakan akan keadaan wanita itu hidup atau matipun, Mika tidak mendengar sendiri oleh telinganya. Namun kenapa peristiwa di taman itu? Apa salah Mika mengartikan Tuannya?
Mika dan Romeo berada di dalam ruang perawatan.
Romeo melihat sejenak keadaan Alea yang terlihat pucat di ranjang kecil itu dengan selang infus yang menggantung di samping bednya.
“Lekaslah kau bawa. Tuan akan marah jika tugasmu tidak dilaksanakan!” decak Mika melihat Romeo menatap Alea di ujung sana.
“Baiklah.”
Bersambung...