
Alunan music yang terdengar merdu di dalam aula, membuat semua tamu undangan pun dibuat tercengang.
Seorang pangeran tampan duduk bersanding dengan wanita cantik di kursi yang sama.
Jemari lentiknya berada di atas nut memainkan sebuah irama yang merdu dan cantik yang kini berubah menjadi irama yang merdu didengar.
Sebuah irama piano dari Carter Burwell berjudul Bella’s Lullaby mampu membuat semua tamu yang berada di aula tersebut pun seolah berada di drama romance romantic, Twilight.
Lantunan piano nan merdu seolah mengiringi langkah dua pasang sepatu pantofel menuju kearah sang suara berada.
“Apa kini sisi gelapmu sudah menjadi terang, Van?” batin Massimo seraya memandangi saudaranya yang berjalan bersamaan.
Sekalipun, dia melihat sejenak bagaimana ekspresi, Evans. Yang bisa, Massimo katakan wajah bengis itu begitu sulit dibaca.
Tidak terlihat sama sekali kekhawatiran dan juga cemas, yang ada seperti Evans Colliettie biasanya, melangkah tenang dan entah apa yang sebenarnya pria itu pikirkan.
Gerbang tinggi yang menjulang tinggi pun terbuka lebar, Evans menuruni anak tangga.
Namun, seketika anak matanya melihat seseorang di seberang sana. Pria itu pun berhenti melangkah.
Betapa terkejut ketika dia melihat seseorang di seberang sana, tubuhnya mendadak membeku ketika kedua matanya menangkap sosok wanita yang tengah bermain dengan seorang pria.
“CK! Sudah bisa ditebak, kalau ini pasti permainan, si Leo,” decak Massimo, pria itu selalu membuatnya serangan jantung.
Namun, pertanyaan Massimo pada Evans tidak di jawab sama sekali. Evans masih sama diam dengan sorot mata yang tajam memandangi Alea yang berada di atas podium.
Sebuah keganjilan un muncul, kenapa wanita yang mendadak hilang dan sulit ditemui itu kini sudah berada di depan sana?
Massimo memang tidak tahu rencana apa yang tengah dilakukan saudaranya pada Evans. Tetapi, hal seperti ini seharusnya tolong di pikirkan lagi.
Evans bukan membuka hatinya tetapi murka pada orang-orang yang secara sadar mempermainkan mafia kejam seantero italia itu.
Seuran tepuk tangan dari para tamu undangan seolah menarik Evans dari lamunannya sejenak, pria itu kembali memalingkan wajahnya yang diiringi hembusan nafas panjang.
Marvio dan Alea berdiri diatas podium. Dua orang di atas sana pun memberikan senyuman hangat pada tamu undangan yang sudah memberikan tepukan tangan yang meriah.
“Permainanmu sangat bagus, kamu pantas menjadi pianis terkenal, Alea.”
“Kamu selalu berlebihan, Mar.”
Marvio berikan senyuman, lalu mengulurkan tangannya untuk di genggam Alea menuruni anak tangga dan meninggalkan podium dengan Mc untuk melanjutkan acaranya.
Genggaman tangan itu membuat Evans yang melihat pun mengetatkan rahangnya. Tak lepas sang devil itu menatap Alea.
“Kita mau kemana?”
“Menyambut rekan bisnisku yang lain. Aku ingin mengenalkanmu, Alea.”
“Tidak. Aku di sini saja, aku tidak mau bertemu dengan yang lain. Aku malu, Mar,” pinta Alea.
Wajahnya bersemu merah, pangeran itu selalu memaksanya untuk bermain piano di acara kecil ini.
“Kamu punya banyak bakat, kenapa harus malu, hmm?”
“Sudahlah Mar, tidak harus dibahas.”
Marvio mengecup punggung tangan Alea. “Baiklah. Tunggu di sini saja, aku akan bertemu sebentar,” kata Marvio.
Pandangannya turun kebawah, ketika melihat sesuatu pada Alea pria itu pun menarik pandangannya dan menatap Alea.
“Kenapa tanganmu memerah, Alea?”
Alea menarik tanganya untuk terlepas lalu menyembunyikan dari hadapan Marvio.
“Tidak apa.”
Alea tersenyum pelan, seraya menyesap orang jus yang baru saja dia ambil.
“Baiklah kamu tunggu sebentar, aku cuman sebentar kok sekalian aku memanggil Leo untuk menemanimu,” ujar Marvio.
Alea mengangguk pelan dan menggak minuman itu hingga tandas tak bersisa. Anak matanya menoleh ke samping, Alea tertunduk sejenak sebelum mengalihkan pandangannya.
Dia melihat Evans yang berdiri di pintu keluar menatapnya dengan lekat. Ketika keduanya saling bersitatap, Alea justru memalingkan wajahnya ketika ia menangkap manik mata sendu pada Evans padanya.
Alea mencoba menarik nafasnya dalam-dalam, lalu kembali menoleh dan Evans masih ada di sana masih mentapnya.
Alea berdehem untuk melegakan tenggorokannya, namun rasanya ini tenggorokannya terasa terbakar.
Dia memukul pelan tenggorokannya dengan rasa terbakar pun kini turun sampai Alea memegang perutnya yang sama terasa panas dan terbakar.
“Ya Tuhan… A-aku ini—”
Bunyi gelas terjatuh dan terpecah belah di lantai pun menarik perhatian banyak orang termasuk Leo dan juga Marvio yang langsung menoleh ke sumber suara tersebut.
Alea mengerjapkan mata, di mana manik sapphire itu masih menatap lurus pada sang pemilik mata elang yang tak lepas.
Tak tahan dengan perut yang semakin bergejolak, Alea tak tahan lagi hingga dirinya terbatuk-batuk.
Dengan reflek satu tangannya menutup mulutnya agar tidak memuntahkan apa yang ingin keluar dari mulutnya. Dengan tubuh yang bergetar, dia merasakan sesuatu keluar dari dalam mulutnya.
“Ini—”
Bola mata Alea pun membulat lebar-lebar di saat ia melihat banyak darah yang terdapat di telapak tangannya.
Alea batuk darah—
“Ya Tuhan aku kenapa,” batin Alea.
Rasa gatal di dalam tenggorokannya membuat Alea terus bantuk-batik. Dan ketika tangan itu kembali dibuka, darah segar kembali keluar dari dalam mulutnya.
Sejenak, sebelum pandangannya berkabut dan berganti menjadi gelap. Alea mencoba melihat lurus ke depan, dia melihat ekspresi wajah sang devil yang nampak terkejut.
Evans terlihat syok melihat keadaanya.
Perlahan, pandangannya mengabur dengan nafas yang terasa pendek. Samar-samar dia mendengarkan suara teriakan orang-orang di sampingnya.
Itu suara Leo dan Marvio yang menopang tubuhnya ketika hendak terjatuh.
“Ev—” gumam Alea pelan seolah memanggil sang devil
Sebelum dia menutup mata, Alea seolah bermimpi ketika melihat sesuatu yang membuat perasaannya menghangat sekaligus menangis bersamaan sekalipun dia didera kesakitan yang menjalar di tubuhnya.
Alea melihat sang devil meloncat dari atas tangga ke bawah hingga dia tidak percaya kalau wajah sang devil itu begitu jelas berada di depannya menopang kepalanya.
‘Ya Tuhan, apa aku mimpi?’ batin Alea seraya menatap lemah pada wajah tampan yang menatapnya nanar.
Alea mengangkat satu tangannya yang terasa begitu berat, dia mengusap pipi pria itu yang berjatuhan air mata.
‘Kenapa kamu menangis, Ev—’ batin Alea.
Ya, ini percaya tidak percaya. Alea melihat Evans menangis di hadapannya.
“Alea sadar, Alea….”
“Bertahanlah, kita ke rumah sakit….”
‘Alea…” teriak ketiga orang di sampingnya. Mereka ingin tetap Alea membuka mata jangan sampai menutup mata.
Kelima lelaki di depan pun ingin Alea bertahan. Tetapi, wanita itu tersenyum samar memandangi orang-orang yang berada di depannya.
“Please, bertahanlah, Alea….”
“Cepat siapkan helikopter….” Teriak Leo pada anak buahnya.
Rumah sakit dari pabrik tua itu cukup jauh, bila harus dilewati dengan mobil entah dia akan bisa menyelamatkan nyawa Alea atau tidak.
“Aku akan menghubungi tim medis di sana,” kata Lucas ikut panik.
Wanita itu terbatuk-batuk dan memuntahkan banyak darah.
“Bertahanlah, Alea. Kau akan selamat,” ucap Massimo seraya mengusap air mata yang berjatuhan.
Alea menggapai uluran tangan dia menggapai bayangan itu sebelum kesadaran benar-benar hilang.
‘Ev—'