
“Alea….”
Alea langsung berbalik badan dan pandangi pria yang memanggilnya.
“Ada apa Bryan?” tanya Alea.
Pria itu nampak menarik napas dalam mengatur nafasnya yang memburu karena berlari mengejar wanita pujaannya.
Ya, bagi Bryan Alea kini wanita pujaanya. Bryan akui kalau dia telah jatuh cinta pada mataharinya.
Pria tampan itu berikan senyuman tampannya. “Kenapa senyum-senyum kayak orang gila?”
Bryan mendengus pelan. “Astaga. Aku mengataiku orang gila?”
“Ya, kamu tersenyum tidak jelas. Ada apa Bry. Aku lelah ingin istirahat sebentar sebelum aku kembali bekerja jadi pelayan tuanmu,” kata Alea.
Bryan mendengus pelan seraya meraih dua tangan Alea.
“Kini kamu sudah tidak punya waktu untukku. Apa kamu tidak tahu kalau aku merindukanmu, Alea?”
Alea memutar bola matanya jengah lalu menghempaskan kedua tangan Bryan.
“Aku lelah. Kalau ada hal yang ingin kamu bicarakan lekaslah. Aku nggak punya banyak waktu lagi,” pinta Alea. Dia tidak mau Bryan bertele-tele.
“Astaga kamu ini tidak sabaran sekali.”
Bryan kembali meraih tangan Alea. Tetapi, gerakannya pun melambat ketika melihat tangan Alea yang terlihat melepuh.
“Ini kenapa lagi?”
Alea menarik kedua tangannya dan menyembunyikannya di belakang.
“Tidak apa-apa.”
Bryan menarik paksa, wajah pria itu pun berubah dan nampak terlihat marah.
“Ini melepuh Alea. Siapa yang melakukan ini. Apa tuan lagi?” seru Bryan.
Alea kembali menarik tangannya. “Nanti aku akan meminta cream di ruang kesehatan. Sudahlah jangan berlebihan dan jangan punya hati jelek pada tuan. Ini murni kesalahanku.”
Bryan berdecak lidah, tidak percaya. “Aku nggak sengaja ketumpahan air mendidih jadi kayak gini waktu aku lagi buat kopi.”
“Baiklah, nanti aku akan mengompresnya kamu harus datang ke dapur aku akan membawakan obatnya.”
Alea mengangguk pasrah. “Lalu apa yang ingin kamu sampaikan?”
“Ah, aku terlupa jadinya kan. Ikutlah denganku,” ajak Bryan seraya menarik tangan Alea dan membawanya setengah berlari.
Bryan memang gila buka, mengajaknya berlari di mana Alea mengenakan rok span dan juga heels.
“Astaga kamu gila, Bryan. Aku bisa jatuh kalau seperti ini.”
“Tidak. Aku akan menopang tubuhmu agar tidak jatuh,” kata Bryan tersenyum senang.
Di seberang sana Mika yang melihat sepasang kekasih itu pun mendesah pelan. Alea dan Bryan nampak seperti sepasang kekasih.
Alea terkesiap kaget ketika melihat begitu banyak barang branded di atas tempat tidurnya.
Bola mata Alea tak lepas menatap paper bag hitam dan orange tersebut.
“Ini dari siapa, Bry?”
Bryan yang berdiri di ambang pintu menatap senang ketika melihat Alea terlihat begitu bahagia walau hanya melihat barang-barang mahal di atas tempat tidurnya.
“Ayo, tebak dari siapa?”
Alea berbalik badan lalu menatap Bryan seraya berpikir.
“Tidak mungkin bukan dari tuanmu?”
“Ck! Apa kamu berharap semua ini dari tuanmu, hm?”
Alea mendengus pelan seraya duduk di atas tempat tidurnya.
“Apa ini darimu? Tentu bukan kan? Kamu pun tidak bisa pergi dan berbelanja banyak barang seperti ini.”
Bryan menghela nafas pelan. “Jadi menurutmu ini tuan lah yang memberikanmu ini?”
Alea mengkendihan bahu tidak tahu. Dia pun perlahan membuka tiga paper bag tersebut.
Bola mata Alea membulat lebar-lebar begitu juga mulutnya yang tak mau kalah ikut membulat.
“Gaun?” seru Alea.
“Ya Tuhan, Bry. Gaunnya cantik sekali. Ya, Tuhan. Apa ini untukku?” tanya Alea lagi dengan ekspresi terkejut.
“Katakan padaku, ini dari siapa?”
“Tadi ada seseorang yang mengantarkannya kiriman hadiah ini untukmu.”
Alea mendengus pelan, entah Bryan memang menyebalkan kali ini.
“Ya ampun heelsnya cantik sekali,” ucap Alea ketika membuka satu kota berwarna oranges.
Alea kembali membuka satu paper bag dan ketika dibuka, Alea menangis mendapatkan barang yang cantik dan mahal ini. “Kamu nggak mau katakan padaku ini dari siapa?”
“Aku akan membelikannya kalau kita berhasil keluar dari neraka ini, Alea. Aku janji padamu.”
Alea mendesah pelan. “Aku nggak bertanya tentang itu.”
“Tapi perkataanmu membuatku sakit hati karena aku jelas tidak bisa pergi keluar untuk membelikan barang mewah seperti itu.”
Alea berjalan mendekat. “Sudahlah. Kita sudah tahu posisi kita di mansion ini seperti apa.
"Jadi maafkan perkataanku yang kurang pantas yang membuatmu sakit hati, Bry,” ucap Alea bersunggung-sungguh.
Dia tidak bermaksud menghina Bryan atau apa. Tidak ada. Dia hanya ingin tahu saja barang itu dari siapa dan Bryan seolah enggan menyebutkan orang yang sudah memberikannya gaun, heels dan tas cantik dengan harga mahal tentunya.
“Itu dari Tuan Leo,” jawab Bryan pada akhirnya.
“Astaga, Tuan Leo?” seru Alea mengulang perkataan Bryan.
Pria itu berikan anggukan pelan. Tentunya, Alea terkejut dengan hadiah mewah dari saudara Evans.
“Sepertinya Tuan Leo benar serius mengundangmu ke pesta pertunangannya,” ujar Bryan menatap Alea yang tak henti tersenyum bahagia.
“Sepertinya begitu.”
Alea menghembukan napas pelan seraya pandangi dua barang cantik di depan matanya.
“Tapi yang jadi pertanyaan. Apa aku pantas untuk datang ke acara itu?”
Bryan berjalan mendekat. “Hai, dengarlah.”
Bryan kembali menggenggam tangan Alea.
“Tuan Leolah yang langsung mengundangmu secara langsung. Bahkan dia memberikan banyak barang untuk kamu datang ke pestanya. Jadi jangan berkata seperti itu.”
Alea menghela nafas panjang.
Alea mengangguk. “Iyah. Apa aku pantas untuk datang ke sana?”
“Datanglah karena kamu pantas datang ikut bersama dengan tuan ke pesta itu.”
Alea menatap Bryan. Pikirannya mendadak padat kali ini dengan pria itu. Sudah bisa di tebak kalau pria itu tentunya tidaklah sudi mengajaknya ke acara pertunangan saudaranya sendiri.
“Lekaslah bersihkan diri, Joe sudah menyiapkan makan malam untuk tuan. jangan sampai terlambat karena aku tidak mau kamu kena omel tuan lagi.”
Bryan melepaskan genggamannya. “Baiklah. Terima kasih, Bryan…”
“Ah, satu lagi.”
“Apa?”
“Berta memanggilmu, katanya ada suatu hal yang penting yang ingin dikatakan padamu.”
Alea menatap lekat pada Bryan. Entah, hal apa yang ingin dikatakan Berta biasanya wanita senja itu selalu mendatanginya.
Pria itu berikan anggukan sebelum benar-benar pergi dari dalam kamar Alea.
Alea bergegas membersihkan diri dan siap dengan baju pelayan mansion untuk menuju dapur menyiapkan makan malam untuk Evans.
“Hai, Berta…” sapa Alea seraya mengambil troll dan langsung menyiapkan beberapa menu yang sudah tertulis di selembar kertas.
“Kata Bryan katanya ada hal yang penting yang ingin kamu bicarakan padaku?” tanya Alea lagi.
Berta pandangi wanita malang itu dengan tatapan tak biasa.
Alea mengernyit bingung ketika Berta justru malah menatapnya seperti itu tanpa membicarakan langsung apa yang ingin dia sampaikan padanya.
“Kita bicara di luar saja,” ucap Berta seraya menarik tangan Alea untuk pergi menjauh dari pria yang memandangnya dengan tatapan aneh.
“Ada apa, Berta? Sepertinya ada hal yang serius.”
Wanita senja itu menarik napas sejenak.
“Ruby ingin bertemu denganmu.”
“Ruby?”