
“Ka-kamu—"
Alea menelan salivanya dalam-dalam sebelum Evans membunuhnya.
Alea pun berucap pada Evans, “Duniamu begitu menakutkan, Evans!” gumam Alea pelan seraya memejamkan kedua matanya nan pasrah.
Dor!
Bunyi tembakan begitu yang nyaring itu terdengar keras di telinganya di mana Alea memejamkan matanya, pasrah akan mati di tangan Evans.
Namun, anehnya. Dia merasa tidak ada rasa sakit akan timah panas yang menembus tubuhnya.
Seharusnya yang terjadi dia mati bukan di tangan Evans?
Namun, kenapa ini….
Perlahan Alea mencoba membuka mata. Ketika kedua bola matanya terbuka, sontak dia terkejut akan apa yang baru saja di tangkap.
Evans terluka, pria itu memegangi bahunya yang berdarah akan timah panas yang menembus tubuh pria itu.
‘Jadi Evans tidak membunuhku? Tapi, siapa yang melukai pria itu?’ batinnya.
“Kali ini giliran aku yang akan menghabisimu, The Black Rose.” Suara itu membuat keduanya menoleh ke atas.
Brug!
Suara lembaran nan keras membuat bola matanya mendelik. Alea terkejut ketika tubuh Mika begitu saja dilemparkan dari atas ke bawah dan terhempas begitu saja dengan tubuh yang tak berdaya di atas lantai dingin. Keadaan Mika, sungguh mengenaskan.
Tak lama suara itu terdengar, seseorang mengenakan jubah panjang hitam dengan penutup kepala pun muncul menuruni anak tangga. Baik Evans dan Alea tidak bisa melihat siapa wajah di balik jubah hitam tersebut.
“Ka-kamu—” gumam Alea, tercengang.
Kini sosok itu terlihat dengan jelas bahkan Alea sendiri tidak percaya akan seseorang yang dikenalnya. Terakhir kali Alea melihat seseorang itu, di San Marino.
Seseorang itu berdiri dengan tegak. Wajahnya terlihat angkuh dengan senyuman yang menakutkan.
Seseorang itulah yang dulu pernah Alea selamatkan dari kematian yang mengancamnya, ketika Evans Colliettie hendak membunuhnya.
Bahkan pria itu berikrar janji padanya akan selalu menjaganya dan itu pun terbukti. Pria itu beberapa kali pernah menolongnya hingga harus melawan keinginan tuannya.
Alea anggap pria itu seperti temannya sendiri sama-sama seperti Bryan meskipun akhirnya berbuntut pada kekecewaan karena Bryan punya motif buruk hanya untuk membalas dendam pada Evans.
Pelajaran bagi Alea, dia tidak boleh percaya pada siapapun lagi.
Yang jadi pertanyaan di sini, apa pria itu sama dengan Bryan? Punya motif yang sama?
Dari cara menatap pun sudah terlihat ada dendam yang berselimut di matanya.
Dagunya yang terangkat menunjukkan keangkuhan pun sudah bisa terbaca, pria itu bertujuan sama seperti Bryan tidak lain dan bukan DENDAM pada Evans Colliettie.
Sikap yang ditunjukan pun terlihat jelas kalau pria itu tidak punya rasa takut sedikitpun pada seorang Evans Colliettie dan ekspresi si pria itu pun menampakan kalau pria itu sama seperti penjahat kelas berat dan terlihat sama dengan Evans Colliettie.
Ya, pria itu adalah Bobby.
Tidak hanya Alea saja yang terkejut dengan kedatangan Bobby si pengawal yang lugu dan polos. Tetapi, Evans pun sama terkejutnya.
Bahkan Evans pun mengumpat karena seseorang itu begitu sukses menipunya, penampilan dan fisiknya yang seperti orang bodoh dan tolllol itu kini ternyata…. hanya peran semata.
Tidak lama, beberapa orang berpakain serba hitam dengan jubah yang menutup kepalanya pun berdatangan dan menyebar ke belakang. Simbol yang terdapat di jubah mereka pun sudah jelas menandakan dari mana asal mereka datang.
“Ah—jadi begitu rupanya…”
Akhirnya Evans buka suara seraya melepaskan kaca mata hitam yang dikenakan. Wajah tampannya terlihat begitu tenang dan juga santai dimana pria itu mengatakan bahwa pria itu pun terluka.
Alea pandangi beberapa anak buah Evans yang tersisa, mungkin Evans bisa kalah bila di keroyok meski anak buah Bobby terlihat begitu banyak dan sigap dengan senjata masing-masing yang di pegang.
“Ternyata selama ini aku telah diintai diam-diam oleh pimpinan pembunuh bayaran The Dragon dari Madrid.
Alea terkejut, jadi Bobby selama ini pimpinan pembunuh bayaran?
Bobby tersenyum miring mengisyaratkan jika itu memang benar adanya.
“Sepertinya kedatanganku tidak begitu mengejutkan untukmu,” decak Bobby saling bertatapan dengan Evans.
Pandangan Bobby berpindah dan tertuju pada Alea yang diam dan membeku di tempatnya.
Yang Alea lihat dari senyuman Bobby kali ini begitu menakutkan penuh dengan tipu daya.
“Ah—sepertinya hanya Nona Alea saja yang nampak terkejut dengan kedatangan ku.
“Sayang sekali, aku sudah mengecewakan anda saat ini karena anda dulu pernah percaya padaku.”
"Mungkin sebelumnya anda berpikir kalau aku sudah mati ketika berada di San Marino ketika pria brengsek itu sudah meninggalkanku.”
Ekspresi Bobby terlihat menjijikan di mata Alea. Kedua pria itu sama-sama sudah menipunya.
Bobby selangkah maju, di mana anak buahnya dari belakang pun mengikutinya.
Sepuluh dari anak buah Bobby turun dengan cara meloncat dari atas dan menyebar. Evans yang sendirian sudah bergerak dengan waspada tidak jauh darinya.
“Pria brengsek ini tidak tahu diri, padahal selama ini bantuan yang dia dapatkan berasal dariku!
“Ck! betapa bodohnya pria brengsek itu justru membuangku dan malah membunuhku!”
Bobby berdiri di samping mayat Bryan. Dia menginjak kepala Bryan dengan gelengan kepala.
“Siapa pelanggan vvip yang kau layani untuk membunuhku dengan cara menguntitku selama ini?” tanya Evans menatap Bobby.
“Ck! Begitu pintarnya kau bersembunyi di mansionku untuk mencari informasi dan menggunakan Bryan sebagai budak yang kau korbankan untuk maju menghabisiku di akhir?”
Alea ketakutan dengan tubuhnya sedikit bergemetar. Bukan karena melihat kedua pria yang terlihat tangguh dan kuat berdiri saling berhadapan di depan sana.
Tetapi akan pertarungan sengit yang terjadi. Saat kini pertarungan ini terlihat tidak seimbang.
Anak buah bobby terlihat bukan lawan yang mudah, sementara Evans berdiri tanpa ada Mika yang tidak sadarkan diri dan tergeletak di ujung sana. Alea mencemaskan Evans.
Perkelahian ini tidak bisa terhindarkan dan bisa saja dialah yang mati duluan karena tidak bisa melepaskan diri dari belenggu rantai besi ini.
“Seseorang yang akan kau tahu nantinya. Karena bukan pekerjaan mudah untuk membunuh seorang The Black Rose—” Bobby menarik ujung bibirnya.
“Tapi bukan berarti itu semua tidak mungkin. Aku sudah di bayar mahal dan itu setimpal!
“Tentunya, aku akan menggunakan cara lain untuk mencari celah. Tapi, aku tidak menyangka drama di kehidupan mansion mu yang memperhatikan.”
Bobby menoleh pada Alea yang sejak tadi tidak bersuara.
“Bukan benar begitu Nona Alea?”
“Kenapa kamu bisa—" Perkataan, Alea terhenti.
“Tentu aku bisa. Begitulah sebuah permainan, Nona Alea. Jika bukan karena kamu menolongku waktu itu.
“Mungkin aku sudah mati karena ketahuan dan tidak aku sangka Bryan dan anda berguna juga untuk rencanaku.
"Tetapi aku sudah membalas budimu dengan cara aku membantumu beberapa kali. Bahkan aku mengambil resiko menentang The Black Rose. Namun saat ini aku bukan Bobby yang anda kenal lagi.”
"Sungguh cara yang licik…” sela Evans.
“Marilah kita lihat, seberapa tangguhnya kau bisa membunuhku.”
Evans menentang Bobby agar tidak banyak berbicara.
“Ck. Kau begitu sombong. Apa kau mau bertarung denganku?”
Bobby menarik kuncian senjatanya dan menghunus ke arah Alea yang menegang di depanya.
“Kamu tunggu aku Nona, setelah aku menghabisi Evans dan mengambil kepala The Black Rose.
"Setelah itu aku akan membawamu pergi dari sini dan menjual tubuhmu di luaran sana.
“Predikat mu sebagai kekasih The Black Rose pasti akan membuatku untung besar.
“Anggap saja ini sebagai bonus karena aku tidak akan membunuhmu Nona. Tetapi dia—" tunjuk Bobby pada Evans.
Alea hanya bisa menangis dalam diam, kedua matanya menatap Bobby yang begitu sengit menatap dirinya.
"Harus mati di tanganku!