
Di pagi yang indah ini Ria tampak sedang menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dengan Erdo. Asisten nya ia suruh untuk membersihkan rumah saja, dan kali ini dia yang menggantikan posisi asisten nya dulu.
" Siap deh." Gumam Ria seraya menepuk nepuk nepuk tangan nya.
" Em... bau apa ini? terlihat sedap sekali." Goda Erdo yang kini melangkah mendekat pada Ria.
" Gimana? aroma sedap nya kecium?" Tanya Ria penuh harap.
Erdo tersenyum kecil menatap Ria, seraya mengelus rambut Ria dengan lembut. " Kamu ini, percaya diri sekali." Ucap nya.
" Jadi kamu tidak ingin aku menjadi orang yang percaya diri?" Ketus Ria seraya melipat kedua tangan nya di dada.
" Bukan begitu Ri... sudahlah, ayo kita makan. Aku ingin mencobai rasa makanan ini."
" Pasti sedap donk." Ucap Ria percaya diri, ia duduk di depan Erdo.
" Ayo coba..." Ria menyerahkan piring kaca yang sudah berisi nasi dan lauk pauk.
" Em... okey, akan ku coba." Erdo langsung menyendokkan makanan ke dalam mulut nya. Dengan penuh harap Ria sampai tak mencoba dulu, sampai Erdo memberikan jawaban.
" Bagaimana?" Ria sudah tak sabaran menanti jawaban Erdo.
" Apa nya?" Erdo berpura pura untuk tidak mengerti.
" Er... rasanya bagaimana?" Desak Ria sedikit kesal.
" Em... rasanya?"
" Iya!! rasa makanan nya bagaimana? sedap tak?" Tanya Ria logak logak orang malaysia.
" Nak minta jawab nya kah?" Balas Erdo mengikuti alur bahasa Ria.
" Iye lah, cepat cepat... rasanya cam mana lah?"
" Em... rasa ape?"
" Rasa tu makan lah, tak seronok lah..." Ria mulai kesal.
" Ouh... ouh rasa ni makan... rasanya..... adalah......."
" Ape............" Ria semakin tak sabaran.
" Rasanya..... AH MANTAP!!!!" Erdo mengacungkan jari jempol nya, Ria pun jadi bahagia.
" Yeyy... tak sia sia lah aku masak tu makan dari pagi tadi." Ucap Ria dengan senyum bahagia.
" Em... kamu makan juga lah."
" Okey... aku akan makan." Ria mulai ikut makan juga bersama Erdo.
' Aku mengerti mengapa kamu melakukan hal ini Ri. Kamu pasti ingin selalu berbuat hal manis padaku agar kelak ada kenangan terindah yang akan kamu berikan untuk aku ingat. Seandai nya aku bisa mengganti takdir, pasti aku ingin ikut bersama mu. Aku telah berjanji akan bersama mu melewati setiap badai hidup. Aku tidak tau lagi apa yang akan aku rasakan jika waktu itu akan terjadi. Waktu waktu kita bersama hanya menanti menurut hari kelahiran bayi kita, aku tidak bisa bayangkan itu.' Batin Erdo.
Tanpa sadar air mata Erdo pun menetes, namun dengan segera ia langsung menyeka nya.
Tapi siapa sangka ternyata Ria sudah sempat melihat Erdo yang menitikkan air mata nya.
' Er... kamu mengapa sampai bersedih begitu.Aku paham mengapa kamu begitu, pasti kamu selalu merasa ibah padaku karena semua yang telah terjadi padaku. Jika kamu saja terus bersedih begini, bagaimana caranya aku untuk belajar iklhas untuk melupakan segalanya? padahal aku berharap kamu tidak perlu lagi memikirkan tentang aku. Aku hanya berharap kamu sudah belajar untuk mempersiapkan diri di hari hari mulai sekarang ini. Dan aku akan selalu memberikan kenangan terindah dan termanis untuk mu. Karena aku ingin jika nanti aku sudah tiada, kamu bisa melepaskan kepergian ku dengan lapang dada tanpa rasa keberatan sedikit pun.Aku mengerti pasti itu akan sulit untuk mu, tapi percaya lah Er... aku sudah pasrah menerima takdir ini. Aku tidak akan memperlihatkan sedikit pun kesedihan di depan mu, agar semua kenangan pahit bisa kamu lupakan dan terganti oleh kenangan yang indah.' Batin Ria.
" Sudah selesai?"Tanya Ria dengan senyum semanis mungkin.
" Sudah!" Balas Erdo.
Selang beberapa menit kemudian akhirnya Ria pun selesai membereskan semua.
" Ayo kita berangkat." Eia menarik tangan Erdo dengan bahagia.
" Baiklah," Erdo ikut melangkah bersama Ria.
****
♡ Kediaman Evans & Anyer♡
" Da...." Ria dan Anyer bersamaan melambaikan tangan mereka kepada sang suami masing masing. Mobil Evans pun berangkat meninggalkan perkarangan rumah.
" Masuk yok." Ria menarik lengan Anyer dengan lembut.
" Kamu terlihat bahagia sekali Ri." Seru Anyer ketika mereka telah duduk di sofa ruang tamu.
" Em... tidak juga, hanya saja aku ingin memenuhi hari hari dengan penuh keceriaan." Sahut Ria .
" Ouh... " Anyer mangut mangut.
" Haloo keponakan Aunty, gimana kabar nya di dalam sana?" Ria menyentuh perut buncit Anyer.
" Baik.... Aunty..." Anyer yang memebakas mengunakan bahasa anak kecil.
" Auh..." Rintih Anyer merasakan tendangan dari sang bayi nya.
" Kenapa Nyer?"
" Nngak, Debay nya hanya nendang kecil saja. Mungkin dia nyahut ucapan kamu hehehe..."
" Benarkah? uluh... uluh... ponakan Aunty aktif banget ya." Ria kembali menyentuh perut Anyer.
" Ya bisa dikatakan seperti itu."
" Kamu dah pernah USG blom?"
" Nngak, Hubby sih kemaren minta di USG tapi aku nolak."
" Kenapa? kan bagus jadi kamu bisa tau jenis kelamin bayi nya."
" Emm... menurut ku sih Ri, aku ingin jika kelahiran bayi kami nanti sebuah kejutan, trus jika pun nanti entah perempuan atau laki laki. Yang penting lebih senang gitu loh hhehehe..." Jelas Anyer sedikit terkekeh.
" Ouh... gitu ya. " Ria mangut mangut.
" Hu um... aku berharap bisa melahirkan dengan normal." Ujar Anyer penuh harap.
" Amin.... aku doain." Balas Ria.
" Thank you Ria sayang, kamu sahabat terbaik aku."
" Biasa aja deh."
" Heheh...."
****
Like komen dan vote
SALAM ^^