
"Tidak! Ambil ginjal saya saja!" sela David menimpali.
Seketika Aretha dan David beradu pandang. Tatapan mereka terkunci beberapa saat. David menatap tidak suka Aretha, seolah ia tidak rela jika gadis itu melakukan hal tersebut.
"Masalahnya ... pasien menolak untuk melakukan itu," lirih dokter menjelaskan yang sontak membuat David dan Aretha keheranan.
"Kenapa begitu?" tanya David heran.
"Kalau saja Richard bersedia, sudah dilakukan dari jauh-jauh hari, Dave," ucap Rendy menambahkan.
"Ya, tetapi kenapa?" David seketika geram.
Kalau memang masih ada upaya yang bisa dilakukan, kenapa tidak? pikrinya.
"Richard hanya tidak ingin menghancurkan hidup seseorang dengan mengambil salah satu organ tubuhnya. Selama ini, dia selalu yakin bahwa dia akan sembuh tanpa harus melakukan pencangkokkan ginjal." lebih lanjut Rendy menjelaskan.
David melengos sembari berdecak kesal. Ia tampak benar-benar frustasi dengan semua itu.
"Bodoh saja kita, jika mengikuti apa keingininannya disaat situasi sudah seperti ini!" umpatnya penuh emosi. "Itu sama saja dengan membunuhnya secara perlahan," gumamnya.
"Ya, lo benar! Sepertinya kita memang harus mengambil jalan itu," lirih Rendy.
"Dok, lakukan apapun yang terbaik untuk sahabat saya! Saya siap untuk mendonorkan ginjal saya untuknya!" tegas David memohon.
"Saya juga siap!" timpal Aretha yang lagi-lagi mendapat tatapan tidak suka dari David.
"Saya juga!" Renata pun ikut membuka suara di tengah isak tangisnya yang sontak membuat Felix menoleh ke arahnya.
Ada rasa khawatir di benak laki-laki paruh baya itu. Demi menyelamatkan anak pertamanya, apakah harus ia juga mengorbankan anak keduanya? Itu sungguh pilihan yang sulit baginya.
Golongan darah mereka sudah pasti cocok. Namun, Bagaimana jika setelah operasi, Renata justru mengalami gangguan kesehatan? Terlebih lagi, Richard begitu menyayangi Renata.
Andai saja ia tidak menderita penyakit jantung, mungkin ia sendiri yang akan melakukan itu, pikirnya.
Itu bukan kali pertama Renata berniat mendonorkan ginjalnya, melainkan sudah yang ketiga kalinya, setelah ia mengetahui penyakit yang diderita oleh Richard. Namun, Richard selalu menolak. Bahkan, pria itu selalu berkata jika ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri, jika Renata nekad melakukan itu.
"Tidak, Rena! Aku tidak setuju! Richard akan marah jika sampai kamu mendonor—"
"Aku tidak peduli, Kak! Yang terpenting bagiku sekarang adalah keselamatan kak Richard!" sergah Rena memotong pembicaraan Rendy sembari masih menangis.
Seketika Rendy tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika sampai itu terjadi, maka Richard akan marah besar terhadapnya karena tidak bisa mencegah itu.
"Kamu yakin, Nak?" tanya Felix menatap cemas putri bungsunya itu.
"Aku yakin, Pa!" jawab Renata.
"Baiklah." Felix pun tidak memiliki pilihan lain, selain menyetujuinya. Ia tampak menghela napas, berusaha menetralkan perasaanya.
"Baiklah, jika kalian memang sudah bersedia, maka kami pihak tim medis akan segera melakukan pemeriksaan, untuk mengetahui siapa yang cocok sebagai pendonor untuk pasien," ucap dokter Hadi.
"Saya juga mau diperiksa, Dok!" ucap Rendy.
"Baiklah," jawab dokter Hadi. "Sus, tolong segera periksa mereka!" titahnya kepada seorang perawat yang baru beberapa menit berada di belakangnya.
"Baik, Dok," jawab perawat bernama Eka itu, dilihat dari name tag yang menempel di dada sebelah kanannya.
Dokter Hadi tampak berlalu dari hadapan mereka, sementara perawat itu meminta mereka untuk mengikutinya.
"Om berterima kasih, karena kalian sangat peduli kepada Richard," lirih Felix.
"Om tenang saja, semua pasti akan baik-baik saja," ucap Rendy menenangkan.
Mereka berempat mengikuti perawat itu untuk melakukan berbagai pemerikasaan yang dapat menilai kecocokan ginjal antara si pendonor dengan penerima.
Mereka berjalan melewati koridor rumah sakit menuju ke ruang laboratorium. Rendy dan Renata telah berjalan lebih dulu, tepat di belakang perawat itu, sementara Aretha dan David berjalan kurang lebih dua meter di belakang mereka.
Aretha dan David tampak berjalan beriringan. Seketika David menoleh ke samping, lalu menghentikan langkah Aretha dengan memegang tangan gadis itu, sontak Aretha pun menoleh ke arahnya. Mereka beradu pandang beberapa saat. David menatap lekat gadis di hadapannya, ada segurat kesedihan di wajah pria itu
"Jangan lakukan ini, please!" ucap David memohon.
Ya, ia tidak rela jika Aretha mengorbankan ginjalnya untuk Richard. Bukan karena apa-apa, hanya saja ia terlalu khawatir dengan kesehatan gadis itu, jika ternyata ginjalnya lebih cocok dengan Richard, lalu ia menjadi pendonor itu. Ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Aretha.
"Tidak, Mas! Aku akan tetap melakukan pemeriksaan ini!" tukas Aretha.
"Please, Re ... biarkan aku saja yang melakukan ini," ucap David.
"Mas, tolong, tolong ... banget, untuk kali ini saja, jangan paksa aku mengikuti kemauan kamu! Bagaimana kalau ternyata ginjal kamu tidak cocok?" geram Aretha.
"Tapi masih ada Rendy dan Rena," kekeh David.
"Mas! Aku mohon!" pinta Aretha. Tanpa disadari air mata telah membanjiri pipi gadis itu.
"Kamu yakin?" tanya David lirih seraya memastikan.
"Aku yakin, Mas," gumam Aretha.
Secepat kilat David menarik tubuh Aretha ke dalam pelukannya, lalu mendekapnya beberapa saat. Seketika pria itu meneteskan air matanya.
"Maafkan aku," lirihnya.
***
Mereka mulai melakukan pemeriksaan itu diawali dengan tes darah, lalu berbagai tes kesehatan yang lainnya. Walau bagaimanapun kondisi kesehatan pendonor juga sangat penting bagi pasien penerima ginjal tersebut.
Setelah selesai dengan tes itu, mereka kembali menemui Felix yang masih berada di depan ruang ICU. Mereka masih harus menunggu hasil tesnya.
Setelah beberapa lama menunggu, hasil tesnya pun telah keluar. Dari keempat calon pendonor itu, dokter menyampaikan bahwa hanya ada satu ginjal yang cocok dengan Richard. Ya, ia adalah Renata, adik kandung pasien.
"Pa, Papa tenang saja, aku dan kak Richard akan baik-baik saja," ucap Renata, setelah kabar tersebut tampak membuat Felix terlihat pucat pasi karena semakin merasa khawatir.
Jadwal operasi transplantasi ginjal sudah ditetapkan, yaitu pukul 21.00, sehingga mereka masih harus menunggu beberapa jam lagi.
Seketika dering ponsel mengalihkan perhatian mereka. Mereka tampak menoleh ke arah David yang tak lain adalah pemilik ponsel tersebut.
David menerima telepon tersebut yang tak lain dari papanya yang menanyakan keberadaannya dengan Aretha. Tak berlangsung lama, setelah memberikan pengertian kepada sang papa, David pun segera mematikan telepon tersebut.
"Mas, aku boleh menemui kak Richard di dalam?" tanya Aretha sedikit ragu.
"Masuklah," lirih David tidak masalah.
Aretha memasuki ruangan ICU itu. Namun, sebelumnya ia memakai jubah protektif luar berwarna biru yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Tampak Richard yang sedang terbaring lemah tak berdaya di ranjang pasien. Wajahnya pucat. Bahkan, bibirnya pun sudah berubah mejadi berwarna putih pucat. Ya, sudah satu hari satu malam ia mengalami koma.
Beberapa alat medis nampak menempel di tubuhnya. Jarum infus tampak tertusuk di tangan kirinya, sebagai alat untuk memasukkan nutrisi ke dalam tubuh pasien. Tak ketinggalan selang urine yang juga terpasang apik di tubuh pria itu.
Seketika suasana ruangan itu terasa begitu mencekam, tatkala terdengar suara alat monitoring yang juga terpasang di sana untuk memantau denyut nadi dan juga detak jantung serta pernafasan pasien.
Aretha menatap sendu tubuh yang terbaring itu. Seketika air matanya luruh kembali, melihat ketidakberdayaan pria itu. Pria yang pernah mengisi hatinya dulu, sebelum ada David.
Dengan sedikit gontai, gadis itu mendekati tubuh Richard yang kala itu masih setia memejamkan matanya.
"Maaf, Kak. Bahkan, di situasi seperti ini pun, aku tidak bisa membantumu," lirihnya terisak. "Aku yakin, kamu adalah orang yang kuat. Kamu tidak mungkin kan membuat papa dan adikmu bersedih?" imbuhnya lirih.
Dengan perasaan sedikit ragu, Aretha menggenggam tangan Richard. "Bertahanlah! Kami di sini menunggumu, hiks," ucapnya semakin tidak tahan menahan isak tangisnya.
Karena waktu yang sangat terbatas, Aretha segera keluar dari ruangan itu, setelah beberapa menit kemudian.
Di luar ruangan, nampak dokter dan yang lainnya tengah berbincang. Aretha segera mendekat, lalu mendengarkan perbincangan mereka.
"Operasinya akan dilaksanakan satu jam lagi, tetapi ada yang perlu saya sampaikan kepada keluarga pasien," ujar dokter Hadi.
"Apa itu, Dok?" tanya Felix sedikit terlonjak.
"Ada seseorang yang bersedia mendonorkan ginjalnya, dan kebetulan ginjal beliau sangat cocok sekali dengan pasien. Jadi, sepertinya kami pihak rumah sakit akan memilih ginjal orang tersebut," jelas dokter Hadi yang seketika membuat semuanya terbelalak.
Bagaimana bisa tiba-tiba ada seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya begitu saja? Kalaupun memang ada, tetapi siapa orangnya? Mereka tampak memiliki pemikiran yang sama.
"Siapa dia, Dok?" tanya David ingin tahu.
"Maaf, kami tidak bisa memberi tahu siapa orangnya," jawab dokter Hadi.
___________________
Hai Readers ... masih setiakah menunggu?
Meski beberapa part ini mungkin cukup mengecewakan bagi kalian, semoga kalian tetap suka dengan alur ceritaku.
Sejatinya, hidup itu tidak selalu mulus tanpa hambatan. So, hal yang wajar bukan, jika seseorang dihadapkan dengan segudang ujian dalam hidupnya? Yakinlah, bahwa ujian itu akan menjadikan kita semakin kuat nantinya. Sabar dan tawakal, itu kuncinya.
Belajarlah untuk tetap bersabar dalam menghadapinya. Sebab, tanpa belajar, nayatanya sabar pun tidak akan bisa.
Semoga kalian bisa mengambil sisi positif dari novel ini, dan tentunya membuang jauh-jauh sisi negatifnya. 🙏🙏
Yang emosinya sempat meradang, silakan tarik napas dulu, lalu tahan sampai update chapter terbaru dari possessive love🤭🙏
HAPPY READING!
TBC