Possessive Love

Possessive Love
Curiga



PRAAANG!!


Tiba-tiba bunyi seperti pecahan kaca mengalihkan keduanya, di tengah-tengah perdebatan sengit mereka. Secepat kilat mereka terdiam, lalu saling beradu pandang beberapa saat, seolah saling bertanya dan bertukar pikiran tentang apa yang baru saja mereka dengar.


"Mas, suara apa itu?" tanya Aretha dengan ekspresi yang masih terkejut bukan main.


David hanya diam tak menanggapi. Ia keluar dari kamar, lalu menatap ke atas, tepatnya ke lantai dua, seolah sumber suara berasal dari sana. Tanpa menghiraukan apa yang sedang mereka perdebatkan, David segera berlari menaiki anak tangga, dengan diikuti oleh sang istri.


Setibanya di lantai atas, pria itu tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah. Ia menoleh ke kanan, lalu ke kiri, bahkan ke belakang. Namun, tidak ada apapun yang ia temukan saat itu.


David kembali melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan dan hati-hati Bahkan, tidak terdengar sedikit pun derap langkahnya. Ia berniat untuk segera mengecek setiap kamar di lantai itu.


"Mas." Aretha dengan sigap merangkulkan tangannya pada lengan David dengan begitu erat.


Tidak bisa dipungkiri, suara itu membuat wanita itu merasa cemas dan takut, sehingga secepat mungkin ia mencari perlindungan.


"Kamu kenapa?" tanya David pelan seraya meoleh kepada sang istri yang sudah mengeratkan tangannya. Seketika David terdiam, menghentikan langkahnya.


"Takut, Mas," lirih Aretha sedikit bergetar.


David tak berkomentar. Nampaknya, ia cukup paham dengan apa yang tengah dirasakan istrinya saat itu, karena ia pun sama, merasa sedikit cemas ada sesuatu yang benar-benar terjadi dirumahnya.


Pria itu kembali melangkahkah kakinya ke salah satu kamar di yang ada di sana. Aretha masih tampak mengikutinya dengan segenap ketakukan yang ia rasakan. Namun, hasilnya masih tetap sama, tidak ada apapun di sana. Sementara, pria itu yakin bahwa apa yang ia dengar berasal dari lantai itu.


David beralih ke kamar lainnya. Ia memeriksanya satu persatu, hingga ketiga kamar di sana telah berhasil dicek. Tersisa satu kamar lagi, yang berada tepat dekat pintu utama lantai itu, yang menghubungkan ke balkon depan.


Dengan perlahan, tetapi pasti, David membuka pintu kamar itu. Fokusnya langsung ia alihkan ke arah jendela kamar. Dan benar saja, ada sesuatu yang sudah terjadi di sana. Ia sedikit terbelalak, ketika mendapati kaca jendela kamar itu pecah dan terdapat begitu banyak serpihan kaca yang berserakan di lantai.


Dengan sigap, David segera menghampiri jendela itu, yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri. Dalam hati ia sedikit bertanya, kenapa kaca itu bisa pecah secara tiba-tiba? Namun, sesegera mungkin ia menepis pikiran tentang kemungkinan buruk yang telah terjadi.


Sayangnya, apa yang pria itu pikirkan, nayatanya memang benar. Ia kembali terkejut, ketika mendapati sebuah batu berukuran sedang, berada di dalam kamar itu, tepat beberapa jengkal di bawah jendela.


David segera meraih batu itu, lalu menatap benda keras yang ada dalam genggamannya itu. Seketika rahangnya meregang, menahan amarah. Tentu saja karena ia merasa curiga bahwa itu adalah perbuatan disengaja, dan pasti ulah manusia, tetapi siapa?


Pria itu terlihat begitu geram. Ia mengedarkan fokusnya ke sekeliling kamar, berusaha mencari apapun yang mungkin bisa dijadikan sebuah petunjuk akan kejadian itu. Namun, sayangnya ia tidak menemukan apapun, selain benda keras berwarna hitam itu.


"Mas," lirih Aretha semakin merasa takut, karena melihat apa yang telah terjadi di depan matanya.


"Kamu tenang dulu," ucap David yang seolah mengetahui akan kegelisahan sang istri.


"Aku takut," balas Aretha.


"Tidak akan ada apa-apa, percaya sama aku!" tegas David meyakinkan, meski ia sendiri tidak merasa yakin.


David kembali menatap batu yang berada di genggaman tangannya, lalu mengeratkan genggamannya, seolah menahan amarah.


Siapa yang sudah berani melakukan ini dan mengganggu keluargaku? Aku yakin ini perbuatan manusia, tetapi siapa? Jika memang benar ini karena disengaja, harusnya pa Adhi mendengarnya, atau bahkan melihat seseorang yang masuk ke dalam, bukankah ia selalu berjaga di depan?


"Sayang, aku akan membersihkan kaca-kaca itu dulu," ucap David, seolah meminta Aretha melepaskan tangannya.


Dari nada bicaranya. Nampaknya, mood pria itu sudah kembali membaik terhadap istrinya. Secepat itukah? Entahlah.


"Aku bantu, Mas!" ucap Aretha sedikit antusias.


"Tidak perku, kamu diam saja di sini!" tukas David memerintah.


"Tidak apa-apa, biar kubantu, Mas," balas Aretha memaksa, sehingga membuat David seketika mempertajam tatapan terhadapnya.


Wanita itu tampak dibuatnya menciut. Ia menurunkan tatapannya, lalu menundukkan kepalanya, seolah tidak kuasa membalas tatapan sang suami.


David segera berjongkok, lalu mengumpulkan serpihan kaca itu dengan sangat hati-hati, takut-takut tangannya terpeleset dan malah membuatnya terluka, sama halnya dengan yang ia khawatirkan kepada istrinya.


"Kamu bisa bantu aku?" tanya David menoleh ke belakang. Tampak Aretha yang sedari tadi memperhatikannya.


"Apa, Mas?" tanya Aretha dengan sigap.


"Ambilkan aku kantong plastik!" titah David yang sudah fokus kembali ke serpihan-serpihan kaca itu.


"Kemana, Mas?" tanya Aretha sedikit bingung. Bukan karena ia tidak tahu letak kantong plastik dimana, hanya saja ia sedikit khawatir jika beranjak dari sana, jika hanya sendirian.


Pertanyaan Aretha sontak membuat David menoleh ke arahnya. "Kamu biasa menaruhnya dimana?"tanyanya heran.


"Mm ... di dapur, Mas," jawab Aretha.


"Jadi?" David tampak menggantungkan pertanyaan, berharap sang istri akan memahaminya.


"Lalu, tunggu apa lagi?" tanya David.


"Tapi, Mas," jawab Aretha ragu.


"Kenapa? Kamu takut?" tanya David yang tentu saja itu benar, lalu membuat Aretha menganggukkan kepalanya seraya memberengut.


"Baiklah, biar aku yang ambil sendiri."


David tampak bangkit, berniat segera beranjak dari sana. Namun, secepat kilat Aretha menahannya.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Aretha cemas.


"Ke dapur," singkat David.


"Lalu, aku?"


"Ya kamu, tinggal pilih, mau tetap di sini atau pergi ke dapur untuk mengambil kantong plastik?"


"Aku tidak mau sendirian, Mas," rengek Aretha yang sontak membuat David bingung harus berbuat apa. Ia tidak menyangka jika kejadian itu akan membuat istrinya begitu ketakutan.


Setelah berpikir beberapa saat, David pun memutuskan untuk pergi ke dapur berdua dengan Aretha dan kembali ke kamar sebelumnya bersama-sama sang istri.


Tak menghabiskan waktu lama, David telah dapat menyelesaikan ketidak-beresan itu. Mereka segera kembali ke lantai bawah. Beruntung seluruh jendela rumah itu di lengkapi dengan teralis, jadi tidak terlalu membuat David merasa khawatir, meski kaca jendela itu pecah. Terlebih hari yang sudah semakin gelap. Rasanya tidak mungkin juga jika harus membetulkan kaca malam hari seperti itu.


Tidak hanya sampai di situ. Karena David masih penasaran dengan siapa pelaku itu, ia segera menemui satpam yang selalu berjaga di rumahnya sembari berniat membuang serpihan kaca itu ke tempat sampah yang berada di depan rumahnya.


Tampak Adhi yang tengah ngopi di pos. David segera menghampiri pria paruh baya itu. Dengan penuh hormat, Adhi menyapa sang majikan.


"Ada apa, Pak?" tanya Adhi.


"Mungkin Bapak melihat ada seseorang yang masuk ke mari?" tanya David.


"Tidak, Pak! Memangnya ada apa?" Adhi tampak penasaran.


"Kaca jendela kamar yang itu pecah, dan saya menemukan batu di dalamnya, saya pikir pak Adhi tahu," jelas David seraya menengadah, lalu menunjuk kamar yang dimaksud dari bawah.


"Wah ... saya tidak tahu, Pak! Kebetulan saya juga baru saja dari kamar kecil, jadi tidak mendengar apapun," balas Adhi sedikit menyesal karena tidak bisa menjaga rumah majikannya dengan baik.


"Baiklah, kalau Bapak memang tidak tahu. Lain kali tolong lebih hati-hati lagi!" perintah David dengan nada yang masih menghargai orang yang lebih tua darinya.


"Baik, Pak. Maaf kalau saya telah lalai. Saya janji ke depannya akan lebih memperketat keamanan lagi," balas Adhi tidak enak hati. David hanya mengangguk menanggapi. Ia segera beranjak masuk kembali ke dalam rumah.


***


Malam semakin larut. Namun, Aretha masih terjaga dari tidurnya. Kejadian tadi sore membuat wanita itu benar-benar kepikiran. Ia takut ada seseorang yang dengan sengaj melakukannya, demi mencelakainya atau bahkan mencelakai suaminya.


Wanita itu tampak membolak-balikkan tubuhnya, ke kanan dan ke kiri, sehingga membuat David yang telah tidur beberapa menit yang lalu, kembali terbangun, karena pergerakan tubuh sang istri.


"Kamu belum tidur?" tanya David parau, sontak membuat Aretha sedikit tersentak. wanita itu hanya menoleh, lalu menggeleng.


"Kenapa?" tanya David.


"Aku masih kepikiran yang tadi, Mas. Aku takut kalau ada orang yang mau berbuat jahat kepada kita," jelas Aretha.


"Tidak ada! Sudah, ayo tidur!" ajak David seraya mendekap sang istri ke dalam pelukannya.


Aretha hanya menurut. Namun, kendatipun begitu, ia tetap tidak bisa dengan mudah memejamkan matanya, meski wajahnya sudah ia benamkan di dada bidang sang suami.


"Mas," lirihnya tanpa menatap sang suami yang telah memejamkan matanya. Nampaknya David begitu lelah malam itu. Namun, bagaimanapun ia msih tetap bisa mendengar suara sang istri.


"Hmm ...." David menanggapi.


"Apa kamu masih marah?" tanya Aretha.


David membuka matanya, lalu tertegun beberapa saat. Nampaknya, kejadian itu membuatnya lupa akan perdebatan sebelumnya dengan sang istri.


"Sudahlah, jangan bahas itu lagi! Aku minta maaf soal yang tadi," jawab David seraya semakin mempererat pelukannya terhadap sang istri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE AND COMMENT


HAPPY READING