Possessive Love

Possessive Love
Ngambek



David tampak meletakkan ponselnya di atas meja kerja, lalu ia menyalakan laptopnya. Namun, baru beberapa saat tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. David segera meminta makhluk di balik pintu itu untuk segera masuk.


Ternyata tamu David kala itu adalah Richard dan Rendy. Mereka memang telah memiliki janji untuk bertemu sebelumnya.


"Hai, Bro ... apa kabar lo?" tanya Rendy akrab seraya menjabat tangan David, lalu memeluknya ala sahabat. Pun dengan Richard yang melakukan hal yang sama seperti Rendy.


"Gue baik," jawab David. "Kalian apa kabar?" tanyanya seraya menatap kedua sahabat yang sudah beberapa hari tidak berjumpa.


"Gue juga baik, entah kalau dia," jawab Rendy seraya mengarahkan kepalanya ke arah Richard.


"Baik juga lah, gue ...," timpal Richard.


David segera mempersilakan kedua sahabatnya untuk duduk, lalu menghubungi OB, meminta menyiapkan minum untuk kedua sahabatnya.


Mereka bertiga tampak duduk di sofa yang berada di ruangan itu, lalu memulai berbincang, setelah beberapa hari tidak bisa menghabiskan waktu bersama karena kesibukan masing-masing.


Mereka tampak membicarakan akan kerjasama mereka yang sudah berjalan hampir 70%. David mempercayakan perihal itu kepada kedua sahabatnya karena ia terlalu sibuk dengan kerjaannya sendiri.


Setelah pembahasan tersebut dirasa sudah jelas, mereka tampak mengakhirinya, lalu mengobrol santai sebagai teman.


"Dave, weekend minggu depan ke pantai, yuk!" Tiba-tiba Rendy mengajak David ke pantai.


"Untuk apa?" David mengerutkan dahinya.


"Refreshing-lah, Dave ...," jawab Rendy. "Setuju gak, Bro?" tanyanya kepada Richard.


"Gue sih, yes!" jawab Richard.


"Lain kali saja, minggu depan gue enggak bisa!" tegas David.


"Ayolah ... Bro!" ucap Rendy memohon. "Lagian, cuma satu atau dua hari saja," imbuhnya.


"Enggak bisa, Ren ... sepertinya minggu depan gue akan sibuk persiapan tunangan gue sama Aretha," jelas David yang sontak membuat kedua sahabatnya terkejut, terlebih lagi Richard.


Jleb!


Rendy menoleh ke arah Richard sejenak yang kala itu terlihat tertegun mendengar kabar pertunangan sang mantan kekasih dengan sahabatnya sendiri, lalu memfokuskan kembali pandangannya ke arah David.


"Lo mau tunangan sama Aretha, Dave?" Rendy tampak membulatkan matanya seolah tidak percaya.


David mengangguk. "Kenapa, lo enggak senang?" tanyanya seolah tidak suka melihat ekspresi Rendy.


"Se—senanglah, Bro ...," jawab Rendy seolah terpaksa.


Richard masih diam tidak berkomentar. Mulutnya terasa kaku untuk sekadar mengucapkan selamat. Kabar itu sungguh menyakitkan baginya. Terlebih lagi, ketika David memberi tahu bahwa ia telah mengungkapkan perasaannya terhadap Aretha dan gadis itu menerimanya.


Disaat Richard berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Aretha, tiba-tiba ia mendengar bahwa Aretha akan bertunangan dengan David. Lantas, apa maksud pernyataan Aretha waktu itu yang menyatakan bahwa dirinya akan berusaha membatu Richard mewujudkan mimpinya?


Jadi, untuk apa aku terus bertahan kalau ternyata sudah ada orang lain dihatinya? Aku hanya butuh waktu yang singkat untuk mewujudkan semua mimpiku, bisa kembali dengannya. Namun, sepetinya semua akan sia-sia.


***


Setelah hari sebelumnya Aretha diberikan kejutan dengan tujuh bunga mawar yang berbeda warna oleh Samuel. Kini, Samuel memberikan kejutan lain dengan membawakan sebuah kotak berwarna merah.


Samuel memberikan kotak berwarna merah itu secara langsung kepada Aretha dengan tangannya sendiri, tepat di hadapan David. Seeprtinya Samuel memang sengaja ingin menunjukkannya di depan David.


Aretha tampak ragu dan tidak enak hati untuk menerima pemberian dari Samuel di depan David sehingga gadis itu tidak langsung meraih kotak merah itu dari tangan Samuel.


Aretha menoleh ke arah David, tampak David yang mengangguk pelan seolah memberikan ijin kepada Aretha untuk menerimanya, meski sebenarnya hati David sangat tidak rela.


"A-apa ini, Sam?" tanya Aretha sedikit gugup, lalu meraih cokelat itu dari tangan Samuel.


"Cokelat?" Aretha tampak memastikan kembali, semetara David masih memperhatikan keduanya, tanpa berkomentar sepatah kata pun.


"Ya, katanya cokelat bisa mengatasi badmood," jawab Samuel sedikit memberi jeda. "So, jika hidup kamu terasa penuh dengan tekanan, makanlah cokelat ini. Setidaknya bisa mengurangi rasa badmood kamu karena tekanan dari seseorang," sindirnya seraya mendelik ke arah David sembari menyunggingkan senyumnya.


Awalnya, David tidak ingin terpancing oleh tingkah Samuel kala itu. Namun, menyadari akan sindiran Samuel yang ditunjukkan kepadanya membuat David seketika mempertajam tatapan kepada Samuel. Terlebih lagi karena ia mengakui bahwa selama ini sering sekali memaksa Aretha. Apa benar dirinya sudah membuat Aretha merasa tertekan? Pikirnya.


David tampak melipatkan kedua tangannya di atas dada sembari menatap sinis Samuel. Namun, ia masih diam tidak mau berkomentar. Kendatipun begitu, Samuel tetap bersikap santai seperti biasanya seolah tidak peduli akan semarah apa David kepadanya. Jika melihat David lebih marah dari sebelumnya, justru itu akan membuatnya semakin senang.


"Ya sudah, aku duluan ya, Re ... jangan lupa makan cokelatnya," pamit Samuel yang langsung mendapat anggukkan kepala dari Aretha. Samuel segera beranjak dari tempat itu, setelah ia tersenyum getir kepada David.


Baru beberapa langkah Samuel meninggalkan tempat itu. David segera mengambil paksa kotak warna merah berisi cokelat itu dari tangan Aretha yang seketika membuat Aretha sedikit memberengut tidak senang, padahal gadis itu suka sekali dengan cokelat.


"Jangan banyak makan cokelat, nanti kamu gendut!" ketus David, sementara Aretha hanya bisa gigit jari. Ia tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah melihat ekspresi marah sang kekasih.


Pada waktu bersamaan, nampak seorang gadis yang tengah berjalan melintas di hadapan mereka. Gadis yang tak lain adalah mahasiswi di kampus itu dan Aretha juga mengenalnya, meski tidak terlalu dekat.


"Untuk apa dia memanggil Cecil?" gumam Aretha dalam hati.


Gadis bernama Cecil itu memiliki tubuh yang gemuk, kira-kura berat badannya sekitar 90 kilogram dengan tinggi badan yang tidak seimbang dengan fostur tubuhnya yang sudah tidak karuan, jauh dari body gitar spanyol.


Seketika David menyeringai senang. Mulai terpikir ide jahil di otaknya. "Mbak!" panggil David yang sontak membuat Cecil menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Iya, Mas?" Cecil seketika termangu menatap David. Sepertinya ketampanan David telah menghipnotisnya dalam waktu singkat.


Waaaah ... perfect! Ini sih, ganteng pake banget!


David segera menghampiri Cecil beberapa langkah, sementara Aretha yang sedari tadi memperhatikannya tampak heran, apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh David?


"Mbak, ini ada titipan dari pria itu, buat Mbak," ucap David seraya memberikan kotak itu sembari menunjuk ke arah Samuel yang masih terjangkau oleh netranya.


Pandangan Cecil tampak mengikuti arah telunjuk David. Betapa Cecil sangat terlonjak, tatkala mendapati sosok Samuel yang selama ini ia dambakan.


Ya, Cecil adalah salah satu mahasiswi yang selalu mengejar cinta Samuel tanpa henti, Aretha tahu itu. Bahkan, seantero kampus juga tahu perihal itu.


"Ini beneran dari dia?" tanya Cecil menatap David tidak percaya.


"Tentu," singkat David.


"Kyaaa ... Bang Sam?" teriaknya memecah di udara yang sontak membuat Samuel yang belum terlalu jauh tampak menoleh ke arahnya.


"Ebuseeeeed ... ada gentong!" kaget Samuel seraya membeliak. Tanpa menunggu lama lagi, Samuel segera lari terbirit-birit menghindari kejaran Cecil. Sudah dapat dipastikan bahwa Cecil akan mengejarnya dan itu ibarat mala petaka bagi Samuel.


Benar saja, Cecil mengejar Samuel, meski larinya tidak secepat Samuel. Namun, gadis itu nampaknya tidak ingin menyerah. Berat badannya yang jauh dari kata ideal membuat gadis itu terlihat sangat berat membawa tubuhnya sendiri sehingga ia tampak kesulitan untuk berlari. Baru beberapa langkah saja, napasnya sudah sangat terengah-engah, tetapi baguslah, barangkali bisa membakar lemak ditubuhnya.


Sementara David menyeringai penuh kemenangan. Aretha pun sedikit terkekeh melihat aksi itu di depan mata, lalu menoleh ke arah Aretha.


"Mas, kamu keterlaluan," ucap Aretha pelan.


David menatap sinis. "Belain saja terus fans kamu itu!" ketusnya seraya masuk ke dalam mobil tanpa pamit terlebih dahulu sehingga membuat Aretha seketika termangu heran.


"Dih, ngambek!" ucap Aretha, sementara David telah berhasil menyalakan mesin mobilnya, lalu berlalu melajukannya keluar dari area kampus, tanpa memberi Aretha kesempatan untuk berbicara lagi.


"Yah, dia beneran ngambek, bisa ribet nih urusannya!" Aretha mulai bermonolog.


_____________


Jangan kupa like and comment


HAPPY READING!