Possessive Love

Possessive Love
Pesona Jingga



"Ngapain lo di sini?" ketus Diandra seraya menoleh, menatap nanar pria di sampingnya.


Samuel menghela napas, dengan pandangan yang masih fokus ke ujung laut sana, yang berada tepat di bawah kaki langit.


"Cobalah berdamai dengan hati. Berusaha mengerti, meski terkadang itu sulit. Mencoba memaafkan, meski itu terasa berat. Dan berusaha lapang menerima apa yang sudah digariskan. Sebab, hidup tak cuma mikirin hati. Banyak hal yang bisa kita lakukan dari pada sekadar memikirkan rasa sakit, kekecewaan dan kepedihan. Sepahit apapun alurnya, tetap libatkan logika di dalamnya. Sampai di sini paham?" Samuel menoleh pada akhir kalimatnya, lalu menatap intens wajah Diandra sembari tersenyum lebar.


Diandra menatap kesal wajah Samuel, karena selain ia merasa terganggu, ia juga merasa tersindir akan ucapan pria itu. Sungguh aneh, Samuel seolah tahu apa yang sedang ia hadapi saat itu, pikirnya.


"Sok bijak lo! Tahu apa lo tentang gue?" Diandra berniat untuk berdiri, lalu beranjak dari tempat itu. Namun, secepat kilat Samuel menarik tangannya hingga wanita itu seketika terduduk kembali di sampingnya.


Samuel masih menatap sama wajah Diandra. "Lo bisa saja bohongi gue atau siapapun. Tapi, perlu lo tahu satu hal. Sehebat apapun lo dalam hal berbohong, tetap saja hati lo tidak akan pernah bisa dibohongi," ucapnya yang entah memberi tahu atau mengingatkan.


Diandra bungkam. Ia sadar apa yang baru saja pria itu ucapkan kepadanya. Bahkan, tanpa Samuel ingatkan pun, ia sebenarnya sudah tahu betul perihal itu. Hanya saja, terkadang ia sulit mengakui apa yang ada di dalam hatinya. Sebab, apapun itu dan sepahit apapun rasa yang ia miliki, ia selalu berusaha mengendapkannya di dalam sana.


"Kenapa? Adakah yang salah dari ucapan gue?" Samuel tampak mempertajam tatapannya. Namun, seketika menyeringai, lalu mengalihkan fokusnya ke deburan ombak yang datang dan pergi begitu cepat.


"Ibarat ombak di tepi pantai yang terkadang pasang surut. Pun dengan hidup. Masalah akan datang silih berganti dengan jenis dan bentuk yang berbeda-beda, dari level teringan hingga level terberat." Samuel sedikit memberi jeda akan ucapannya.


"Namun, percayalah, akan ada masa dimana semua itu akan pergi dengan sendirinya, layaknya ombak. Tidak selamanya ia menetap di tepi pantai," sambungnya, lagi-lagi Samuel mengeluarkan kata-kata bijaknya.


Diandra seketika terenyuh. Baru saja ia membuka mulutnya akan menanggapi. Namun, Samuel telah lebih dulu membungkam kembali mulut Diandra dengan ucapannya.


"Hidup itu berat, Ra. Dan akan terasa lebih berat, ketika kita menganggapnya berat. So, relax! Akan ada masa dimana semua itu akan berubah menjadi ringan." Samuel menolehkan wajahnya kepada Diandra.


Diandra yang kala itu tengah menatap wajah Samuel, tiba-tiba menurunkan tatapannya beberapa saat, lalu mendongak kembali dalam hitungan menit.


"Lo sejak kapan ada di sini?" tanya Diandra penuh selidik.


Samuel tidak mungkin mengucapkan kalimat itu kepadanya, kalau ia tidak mendengar atau tidak mengetahui apapun tentangnya, pikir Diandra.


"Dari sejak lo duduk di sini, lalu menangis, angkat telepon, berkeluh kesah dan menangis lagi, lalu marah karena tahu ada gue di—"


"CUKUP!" Diandra memotong pembicaraan pria itu.


Samuel benar-benar menyebalkan, pikirnya. Bagaimana tidak? Pria itu terlihat begitu santai meledeknya di tengah-tengah kesedihan yang sedang ia rasakan, dengan kepala yang meliuk-liuk ke kiri dan kanan, sebagai mimik dari setiap kata yang ia ucapkan.


"Haha!" Samuel tertawa puas menatap ekspresi Diandra yang sama sekali tidak ada menakutkannya sama sekali.


Alih-alih mendapat respon positif akan ketegasannya, Samuel malam menertawakannya. Masih kurangkah ia berbuat menyebalkan terhadapnya? Batin Diandra saat itu.


"Bisa nggak sih, lo nggak usah galak-galak?" tanya Samuel seketika menghentikan tawanya. "Bisa-bisa, nanti gue terpincut lagi, karena wajah cantik lo saat ini," imbuhnya yang seketika membuat jantung Diandra berdebar kencang. Ia menatap kembali deburan ombak yang terus menerjang karang.


Diandra mematung, mendengar dan merasakan setiap debaran yang seakan membuatnya susah untuk bernapas. Antara percaya atau tidak. Namun, itulah yang ia dengar langsung dari mulut Samuel.


Dalam hitungan detik, wajah Diandra berubah bersemu merah. Antara malu, kesal, juga tersanjung. Semua rasa seketika bercampur menjadi satu. Ah, Samuel benar-benar telah membuatnya seperti melayang di awang-awang. Sesederhana itukah cinta?


Rasanya sepi, sunyi, ketika tidak ada Samuel yang selalu membuat bising telinganya, dengan teriakan, juga celotehan, atau bahkan bentakan pria itu. Samuel seakan telah berhasil mengeluarkannya dari rasa sepi yang selama ini ia pendam sendirian.


"Ehem!" Diandra berdeham kasar, berusaha menetralkan perasaanya kembali.


Sebagaimana yang dilakukan Samuel, ia memfokuskan pandangannya ke depan.


Ah, Samuel benar-benar telah membuatnya seperti orang bodoh, yang tidak tahu bagaimana cara menghadapi lelucon macam itu.


Ya, lelucon. Seketika ia sadar bahwa Samuel hanyalah menganggap dirinya sebagai lelucon. Pria itu tidak mungkin serius dengan kalimat terakhirnya.


Sadar, Ra ... mana mungkin dia serius dengan ucapannya. Bukankah selama ini dia menganggap lo tidak lebih dari sekadar musuhnya? Lantas, untuk apa lo mikirin lelucon dia yang unfaedah itu?


Mungkin, tahu diri adalah satu cara yang bisa membuatnya tersadar bahwa Samuel tidak akan mungkin memiliki rasa untuknya.


"Kenapa lo? Lelah? Butuh minum? Atau ... tersanjung dengan ucapan gue?" cerocos Samuel yang langsung membuat Diandra mendelik kesal kepadanya.


"Sebaiknya lo pergi dari sini, gue butuh waktu untuk sendiri. Lo paham, kan?" kesal Diandra seraya menatap sinis wajah Samuel.


Samuel terdiam sejenak, lalu tersenyum jahil, sebelum akhirnya ia menanggapi.


"NGGAK!" ucapnya penuh penekanan, seraya mencondongkan kepalanya ke depan, sehingga terlihat sangat dekat dengan wajah wanita itu.


"Heeuuh Samuel ... kenapa sih, lo itu menyebalkan banget, ha?" Diandra tampak mengepalkan kedua tangannya di depan wajah Samuel dengan begitu gemas, sekaligus kesal bukan main.


Samuel hanya terkekeh melihat aksi Diandra yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan, lalu meraih satu lengan wanita itu, sehingga membuat Diandra seketika tertegun memandangnya.


"Sudah, diam!" titah Samuel seraya menurunkan lengan Diandra yang ia pegang, lalu menatap cakrawala di ujung laut sana. Namun, tidak berniat melepaskan tangan Diandra dari genggamannya.


"Lo nggak mau menyaksikan betapa indahnya matahari terbenam di lautan?" tanyanya tanpa menoleh.


Diandra yang kala itu masih tengah memandang Samuel, seketika ia alihkan fokusnya menuju objek yang menjadi fokus pria di sampingnya.


Ia baru sadar, kalau ternyata langit sudah tak biru lagi. Langit yang abu-abu bersemu hitam, nampak indah dengan guratan merah kekuning-kuningan yang menyebar luas ke permukaannya. Seketika pesona jingga membuatnya semakin fokus, lalu melebarkan senyumannya. Ketika pesona jingga menghangatkan luka, sesederhana itukah kebahagiaan?


Berbeda dengan Diandra. Disaat di hadapannya nampak sebuah kekuasaan Tuhan yang begitu mengagumkan, Samuel justru mengalihkan fokusnya ke samping, menatap mahakarya sang Mahakuasa yang menurutnya jauh lebih indah daripada sekadar senja. Bahkan, ia hampir lupa bagaimana caranya mengedipkan mata.


Diandra yang cantik dan memesona. Meski terkadang memiliki sisi singa, tetap saja selalu membuatku terpana.


Di tengah euforia-nya, tanpa disadari Samuel mempererat genggaman tangannya, sehingga membuat Diandra tersadar, lalu menoleh ke arahnya, menatapnya beberapa saat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=